Sweet Cake Memories

Sweet Cake Memories
Perkelahian Tak Di Duga



...Bab 29...


...Perkelahian Tak Diduga...


Pagi yang cerah, secerah wajah Tasia pada waktu itu. Gadis itu telah sampai di Cafenya, dan dia lekas turun dari motor ojeg langganannya.


"Terimakasih ya mas.. " jawab Tasia.


"Ya mbak, sama-sama" jawab si tukang ojeg itu. Lalu si ojeg kembali pergi ke tempat mangkalnya.


Di depan pintu Cafe tampak Rizal sudah berdiri memandanginya dari kejauhan. Tasia membalikkan badannya ke depan Cafe. Pandangannya yang cepat menangkap pada sosok pria di depannya, seketika itu juga bola matanya berbinar terang karena sang pujaan hati tengah menunggu kedatangannya dari tadi. Dari jauh Rizal melambaikan tangannya padanya.


Seketika itu juga gadis itu tersenyum lebar kearahnya sehingga tampaklah gigi-giginya yang berjejer rapi dan putih, serta pipinya yang memerah di atas lesung-lesungnya. Sehingga kecantikannya teramat jelas yang membuat para pria manapun melihatnya semakin tergila-gila.


Tasia menaikkan satu langkah kakinya, lalu berlari kecil mengarah kepadanya. Rizal segera merentangkan kedua tangannya, sehingga gadis itu bisa merangkul bebas pundak kekasihnya yang tinggi, dengan kaki berjinjit. Diangkatnya tubuh ramping gadis cantik itu ke atasnya lalu mendekapnya erat ke dalam pelukannya. Mereka pun saling berpeluk kasih dan berputar-putar lama di taman halaman Cafe yang luas itu sambil bergurau ria.


Seharian tak bertemu rasanya seperti setahun, itulah yang tengah dirasakan dua sejoli itu. Rizal mengusap-usap rambut dan wajahnya Tasia penuh kelembutan lalu menyentuhkan hidungnya yang mancung dengan hidung gadis pujaan hatinya juga.


"Selamat pagi putriku.. " tuturnya lembut.


"Selamat pagi juga pangeranku!" balasnya tersenyum merekah.


"Ayo, kita pergi ke pasar!" ajaknya tiba-tiba menarik dan menggenggam jari jemari Tasia yang halus dan putih. Pria itu pun menutup pintu Cafe dan segera menguncinya.


"Sekarang?" tanyanya seraya mengangkat kedua alisnya.


"Iya..sekarang, karena aku tidak punya kendaraan...tidak apa ya jika kita naik bus?" sahutnya. Tasia memanggut tidak mempermasalahkan hal itu. Lalu mereka berjalan berdua ke jalan raya, dan menunggu bus lewat di halte.


Tidak berapa lama, bus itu datang dan menghampiri mereka, lalu mereka berdua segera menaikinya. Rizal menyilakan Tasia untuk duduk duluan, setelah itu dia pun menyusul duduk di sampingnya.


Mereka memandangi kota dari jendela bus, dan saling berbincang lama.


"Memangnya kamu mau beli apa tiba-tiba pengen ngajak aku ke pasar? " tanya Tasia membuka pembicaraan.


"Aku mau..kamu buatkan sarapan untukku.. " tuturnya, menoleh ke samping Tasia, yang akhirnya pandangan mereka saling bertemu.


"Terus... kamu mau sarapan pakai apa hari ini?" tanyanya lagi.


"Itu terserah padamu saja..."


"Emh...Rizal, aku jadi teringat...pada waktu itu, kudengar Lia tahu semuanya yang kamu sukai.. " gumamnya tiba-tiba jadi terdiam dan tertunduk ke bawah sambil memainkan jari-jari tangannya sendiri.


Rizal mengerutkan alisnya lalu perlahan dia menyentuh jari-jemari Tasia lagi dan memainkannya dengan lembut. Seketika itu juga jantung Tasia berdegup kencang dan tiba-tiba saja ada perasaan aneh yang menjalar ke seluruh wajahnya hingga naik ke ubun-ubunnya, ketika tangan Rizal mulai mengelus nakal bagian telapak tangannya.


"Makanya itu, aku ingin hanya kaulah yang tahu semuanya yang kusukai. Mulai sekarang dan seterusnya mau kan kamu memasak makanan buatku saja?" pintanya tiba-tiba mengedipkan matanya pada gadis di sampingnya genit. Tasia menelan salivanya dan wajahnya kembali memerah.


Pria itu kembali memasukan jari-jemarinya ke sela-sela jari-jari Tasia lalu mempereratnya dalam sehingga posisi tangan Tasia di bawah dan tangan Rizal diatasnya.


"Hmm...ya tentu saja.. jika itu memang maumu..." gumam Tasia malu-malu, karena pengalaman ini baru pertama kalinya dia alami.


Rizal memandangi Tasia yang wajahnya di sembunyikan karena malu rasanya ingin sekali dia merasakan mengecup pipinya yang terlihat lembut itu, tapi dia mencoba untuk menahannya karena mereka sedang berada di dalam bus.


Akhirnya bus yang mereka naiki sampai di terminal pasar tempat dimana mereka bertemu untuk yang pertama kalinya itu. Di setiap jalan tangan mereka selalu tak lepas saling menggenggam. Sehingga semua mata memandang ke arah mereka. Tasia baru menyadarinya, berontak ingin melepas tangannya sendiri namun tangan Rizal memegangnya terlalu erat sekali, dan sulit untuk dilepas.


"Hei...lepaskan tanganmu, ini di pasar banyak orang yang melihat ke kita..." bisiknya sambil menarik lengan bajunya Rizal.


Rizal baru tersadar juga, wajahnya jadi tersipu lalu dia segera menuruti perkataan Tasia.


"Maaf.." kekehnya.


"Ayo kita kesana, aku tahu dimana tempat yang paling murah.. " ajak Tasia. "Itu tempat dimana Ibuku dan aku sering berbelanja!" tuturnya lagi.


Lalu mereka berhenti di sebuah ruko sayuran. Seorang ibu paruh baya yang menjual sayuran itu sudah mengenal baik Tasia dan Ibunya lama.


"Oh, nak Tasia.. lama sekali tidak pernah ke pasar ya...sekarang kenapa tidak berjualan lagi di sini?" tanya Ibu penjual sayuran itu.


"Tidak bu... sekarang aku sudah bekerja di tempat lain..." jawabnya sambil memilih-milih sayuran segar dibantu Rizal. Ibu itu melihat pria di sampingnya Tasia, dan bertanya.


"Hem...ngomong-ngomong mas ini, pacarmu ya Tasia?" celetuknya tiba-tiba melirik Rizal ke arah Tasia. Tasia terbelalak langsung tersipu dan gugup tak bisa menjawab. Tasia hanya tersenyum-senyum malu.


"Iya bu...saya memang pacarnya he he..." jawab Rizal santai, refleks pundak pria itu di pukul di belakang oleh tangannya.


"Apaan sih nih?!" tambah malu. Rizal hanya terkekeh saja dibuatnya. Ibu itu pun ikut terkekeh dengan pasangan muda di depannya.


"Tasia... kamu kemana saja?" tiba-tiba saja seorang pria muncul di belakang mereka berdua, seorang pria muda penjual sepatu yang hendak melewati mereka langkahnya terhenti seketika melihat Tasia disana. Tasia spontan menengok ke belakangnya.


"Mas Adrian?" serunya terkejut. Dia melihat Tasia bersama lelaki yang tak dikenalinya. Lalu bertanya-tanya kepadanya.


"Emm... dia Rizal, bos ku hee~ " sahut Tasia tersipu malu memperkenalkan Rizal kepada Adrian.


"Aku kekasihnya Tasia!" jawab Rizal tiba-tiba saja terus terang, mengulurkan tangannya ke Adrian hendak berjabat tangan. Tasia tercengang dan langsung menutup matanya sendiri karena Rizal yang berbicara blak-blakkan.


"Ooh, benarkah itu?" sahut pria itu terkejut mendengarnya belum percaya. "Aku temannya Tasia...!" seraya membalas jabat tangannya Rizal.


Pria yang bernama Adrian itu memperhatikan Rizal seksama dari ujung bawah kakinya sampai ke ujung atas kepalanya, lalu matanya melirik ke arah jam tangan yang dipakai Rizal, merknya pun terkenal mewah, sepatu yang dikenakan Rizalpun tak kalah bagusnya. Serta wajah Rizal yang tampan dan menawan terlihat pemuda dari keturunan bangsawan.


"Tasia, boleh ikut dulu denganku.. ada sesuatu yang ingin kuperlihatkan padamu!" sahutnya tiba-tiba mengajak Tasia. Dia melegang duluan berjalan ke seberang toko sepatunya.


"Emm baiklah.."sahutnya, lalu dia menoleh pada Rizal. "Rizal kamu tunggu sebentar ya disini!" pintanya.


"Kau tidak akan lama kan?" sahutnya khawatir. Tasia menggelengkan kepalanya.


Tasia lalu melangkah cepat menyusul Adrian mampir ke toko sepatunya, dan disana Adrian mengambil kotak sepatu yang dia simpan di raknya khusus, lalu memberikannya pada Tasia.


"Ini... aku sudah temukan sepatu yang kamu cari-cari dari dulu!" sahutnya.


Tasia sontak terkejut padahal itu sudah sangatlah lama, tapi Adrian masih mengingatnya. Saat itu Tasia yang baru saja lulus SMK dia meminta Adrian untuk mencarikan sepatu kerja yang tanpa high-heels, tapi terkesannya bagus untuk di pakai kerja.


"Itu sudah sangat lama sekali mas... sekarang kan aku sudah tidak menginginkannya lagi" jawabnya terus terang.


"Ambil saja...ini buatmu... " tiba-tiba dia memberikannya cuma-cuma untuk Tasia. Gadis itu memegang kotak sepatu itu erat lalu membukanya perlahan.


"Tidak usah repot-repot mas!" tolak Tasia merasa tidak enak setelah melihat sepatu cantik di kotak itu.


"Tidak apa-apa itu memang kusimpan buatmu.." tuturnya.


"Ta-tapi mas.."terbata-bata.


"Kenapa menolak pemberianku? Apakah karena ada pacarmu?" tanyanya tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.


Tasia terkejut dengan pertanyaannya lalu dia menundukkan kepalanya. Pria itu kembali menoleh ke arah Rizal yang di seberangnya.


"Jawab aku Tasia! apa benar dia itu pacarmu?" tanya dia lagi tegas.


Tasia memanggut jujur.


"Brraaaaak!! "


Pria itu langsung memukul mejanya kencang. Tasia terkesiap jadi takut.


"Aku sudah lama mengenalmu... dan sudah beberapa kali juga mengatakan perasaanku kepadamu.. tetapi kamu selalu saja menolakku. Sekarang kulihat kamu bawa lelaki baru yang belum ku kenal, dan kau begitu cepat dan mudahnya menerima dia..." geramnya terlihat kecewa dan marah.


"Mas Adrian.., aku meminta maaf tapi aku tidak bisa mencintaimu.., selama ini kamu sudah terlalu baik kepadaku...namun aku hanya menganggapmu sebagai teman tidak lebih dari itu..."


Matanya Rizal memperhatikan gerak-gerik mereka dari jauh. Lelaki yang bernama Adrian itu tiba-tiba mendekati Tasia dan berlutut memeluk kakinya Tasia. Dia tercengang melihatnya dari kejauhan.


"Tasia, kenapa kamu tidak pernah memberiku kesempatan... kumohon menikahlah denganku, dan putuskan pacarmu itu!" pintanya memohon sambil meraih dan mengecupi punggung tangan Tasia.


"Mas Adriaan, kamu jangan begini maas...tidak enak di lihati orang... ini di pasar!" sahut Tasia menarik tangannya kembali yang dipegang erat Adrian.


Adrian adalah lelaki yang selalu mengejar Tasia, sejak Tasia masih di bangku SMK, dan hubungan mereka semakin akrab ketika Tasia mulai berjualan di Pasar tersebut. Lelaki berusia 25 tahun itu sudah mengenal dekat Tasia gadis seperti apa, sehingga beberapa kali ingin mengajak gadis itu menikah dengannya, sampai pernah merayu Ibunya Tasia untuk menerimanya sebagai menantunya. Tetapi Tasia juga selalu menolak cintanya. Karena melihat Tasia bersama dengan pria lain di depannya, dia merasa tidak terima, hatinya seketika itu juga hancur berkeping-keping.


Rizal langsung menghampiri mereka, dan bertanya.


"Ada apa ini, maaf ya mas tolong lepaskan kakinya! " pinta Rizal sedikit kesal dengan sikapnya.


Adrian hanya terduduk diam dan tidak mau melepaskan pegangannya di kaki Tasia. Rizal memaksanya dan menarik lengannya yang kuat menahan pelukannya.


"LEPASKAN DIA!" pintanya lagi tegas, menepis tangan Adrian untuk tidak menyentuh Tasia.


Adrian terhenyak dan lekas berdiri dan menghadap Rizal di depannya, dengan cepat kepalan tangannya memukul pipi Rizal kencang. Rizal tak bisa menghindarinya karena gerakannya begitu cepat, hingga sudut bibir Rizal lecet dan berdarah.


Buugh


Semua orang di pasar berdusun menghampiri mereka, dan bertanya-tanya dengan tentang keributan itu.


Tasia langsung teriak kaget, hendak mencegahnya namun sudah terlambat. Tasia tidak menyangka kecemburuan Adrian sampai berani memukul Rizal di tengah massa. Tasia tahu sifat Adrian dia berwatak keras kepala tapi perhatian, dia benar-benar lelaki yang kuat pendirian dan bertahan dengan komitmennya.


"Mas Adrian jangan pukul dia lagi!!" cegah Tasia, merenggangkan kedua tangannya di depan pria itu, mencegahnya untuk tidak berbuat kasar lagi pada Rizal.


"Tasia, tidak ada pria baik dimana pun ini selain diriku! Apa kau tidak lihat tampangnya?" sahut Adrian menunjuk ke arah Rizal.


"Maksudmu apa sih Mas?" Tasia menggelengkan kepalanya tidak mengerti dan bertanya kembali padanya.


"Lihatlah dia lagi Tasia, aku yakin dia bukanlah pria baik-baik! " ungkapnya. "Pria baik hanyalah dia yang benar-benar nyata sepertiku" sahutnya.


Rizal tersinggung dengan ucapannya lalu dia hendak membalas pukulannya itu.


"Apa maksud perkataanmu itu! apa kau berpikir aku bukan yang terbaik buat Tasia? apa maksudmu aku tidak nyata, heh?" geramnya tidak terima, dan tidak mengerti dengan ucapan pria di depannya itu.


"Aku tahu kau bukan orang biasa!" ungkap Adrian tiba-tiba. Setelah Adrian melirik jam mewah milik Rizal dia sudah bisa menebaknya Rizal bukan dari keluarga biasa.


"Mas Adrian sudah cukup, kalau sikap kamu begini terus, aku tidak bisa menerima hadiah pemberianmu ini!" tiba-tiba Tasia membalikkan kotak sepatu itu ke Adrian.


"Tasia aku tulus mencintaimu, aku berjuang demi kamu, aku sudah bekerja keras dan menabung dengan hasil jerih payahku, aku sudah tidak bergantung lagi kepada orangtuaku...semuanya aku lakukan demi dirimu... aku sudah berusaha menunggumu selama 3 tahun ini! tapi aku tidak menyangka kamu begitu cepat bersama dengan pria lain!" ungkapnya pada Tasia di depan semua orang.


Rizal mematung mendengar dan memahami yang dia katakan kepada Tasia.


"Mas Adrian, aku mohon kamu jangan bersikap seperti ini.. tidak enak dilihatin orang mas!" sahut Tasia. "Maafkan aku mas, aku benar-benar tidak bisa menerima cintanya mas, tolong ikhlaskan aku, mas bisa mencari wanita lain yang lebih baik dariku... aku berterimakasih banyak atas ketulusan mas selama ini kepadaku...tetapi maaf, Rizal adalah pria pilihanku!" ungkap Tasia pada pria itu. Lalu Tasia pergi bersama Rizal meninggalkan Adrian disana.


Adrian memandangi mereka dengan darah yang sudah mendidih sampai ke kepalanya. Tangannya mengepal kencang, geram belum bisa menerima kebersamaan mereka.


bersambung...


...***...


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya...like dan komentar yang banyak...


...🌺🌺🌺...