
...Bab 89...
...Bertemu Mantan Kekasih...
Raffi baru saja sampai mendarat di bandara Soekarno-Hatta sore itu, dengan masih naik pesawat pribadinya, setelah satu bulan lamanya ini dia pergi berlibur ke Tiongkok.
"Silahkan Tuan.." ucap pengawal pribadinya Raffi untuk menyilahkannya masuk ke dalam mobil jemputannya Raffi.
Raffi masuk ke dalam mobil, dan mobil akan dijalankan supir itu pulang menuju rumah kediaman Hendra, Ayahnya.
Masih di sekitar gedung parkir bandara tiba-tiba mobil Raffi nyaris saja menabrak seorang wanita yang sedang membawa kopernya.
Ckiiiiiiiitttttt ....
"Ah maaf Nona.." teriak supir itu panik, langsung mengeremnya cepat-cepat.
"Ada apa? tanya Raffi kaget.
"Maaf Tuan...di depan saya ada seorang wanita hampir saja saya tabrak, Tuan" sahutnya mencemaskan wanita itu.
Raffi lalu mendongakkan kepalanya melihat keluar jendela mobilnya. Telah berdiri seorang wanita anggun dan cantik disana, matanya Raffi seketika itu membulat dan berbinar ke arahnya.
"Na-Nadia?" serunya terbelalak kaget.
Raffi bergegas turun dari mobilnya. Wanita itu juga terkejut melihatnya.
"Raffi?" sontaknya dia lalu pergi menarik kopernya lagi dan lari menghindari Raffi.
"Tungguuu..." teriak Raffi dengan cekatan langsung di cekalnya tangan wanita itu.
"Lepaskan aku...Raffi!" teriaknya.
"Kemana saja kamu selama ini? aku terus mencarimu...kenapa setelah kejadian itu kamu tidak pernah menghubungiku lagi!" pekik Raffi terlihat marah.
Nadia tidak berani memandang ke arah Raffi, dia merasa malu karena telah membohongi mantan kekasihnya itu.
"Buat apa kamu masih menungguku?" sahutnya sambil menangis. "Aku sudah jahat padamu..aku sudah mengkhianati kamu!"
"Aku belum percaya itu, aku yakin itu tidak benar..kamu darimana saja? aku merindukanmu.." sahut Raffi menangis terharu dan di peluknya wanita itu ke dalam dadanya erat.
Setelah lama memeluknya akhirnya Raffi bisa merayu Nadia dan membawa Nadia masuk ke dalam mobilnya dan diantarnya pulang wanita itu olehnya. Di perjalanan mereka akhirnya berbicara dari hati ke hati.
Nadia jujur dan berterus terang padanya kalau selama ini dia tidak pernah keluar negeri dan selingkuh, dia terpaksa membohongi Raffi karena dulu sangat benar-benar membutuhkan uang saat itu.
Keluarganya harus di usir dari rumah karena Ayahnya terjerat hutang banyak dari pihak bank, sedangkan ibunya harus segera di operasi.
"Kenapa kamu tidak pernah cerita soal itu padaku? aku juga bisa menolongmu jika soal itu...?" gerutu Raffi.
"Aku tidak mau menyusahkanmu..aku malu pada keluargamu termasuk Ayahmu, aku tahu aku hanya wanita miskin Raffi...dia pernah mengusirku saat pertama kali aku datang ke rumahmu.." sahutnya tersedu-sedu.
"Ada yang perlu kamu ketahui, aku sama sekali tidak mengambil uang perusahaan milik Ayahmu..Aku hanya di suruh Tantemu Mira untuk pura-pura menghianatimu dan menipumu, sebenarnya uang perusahaan Tantemu lah yang mengambilnya.." lanjutnya lagi.
Raffi terbelalak kaget mendengar cerita Nadia. Matanya membulat ke arah Nadia tidak percaya.
"Tanteku? maksudmu? Tante Mira?" serunya.
Nadia mengangguk-nganggukan kepalanya mengiyakan.
"Iya...dia menyuruhku untuk pergi darimu dan dia akan membayar semua kebutuhanku untuk operasi ibu dan memberikan keluargaku tempat tinggal.." ungkapnya jelas.
"Jadi selama ini..Tante Mira?"
Raffi mengusap seluruh mukanya sendiri. Jadi selama ini dulu dia tertipu dengan orang-orang suruhan Mira yang mengambil sebagian surat penting perusahaan Hendra dan di jual itu, hanya untuk kepentingan Mira sendiri. Sampai harus memfitnah mengambing hitamkan Nadia sebagai pelakunya.
Raffi menghembuskan nafasnya kasar. Dan dia meminta supirnya mempercepat jalannya.
"Aku harus segera memberitahukan pada Ayah..Nadia ikutlah bersamaku.." ajak Raffi.
"Tapi..Raffi?" Nadia jadi gugup tiba-tiba.
"Aku akan menjelaskan semua kesalahpahaman ini,..selain itu aku akan melamarmu di depan kedua orangtuaku.." ungkapnya tiba-tiba.
Nadia menggelengkan kepalanya tiba-tiba saja air matanya menetes jatuh di kedua pipinya.
"Raffi.." lirihnya.
"Menikahlah denganku.." pintanya.
"Nadia menunduk malu dan juga terharu mendengar ajakan itu.
Raffi memegang erat tangan Nadia lalu di dekapnya dia dalam pelukannya lagi.
Setelah Luna ditangkap polisi siang tadi. Hendra benar-benar menyesalinya.
Ketika hendak makan malam. Hendra mengutarakan penyesalannya itu pada putranya itu di ruang tamu.
"Rizal...Ayah meminta maaf kepadamu karena terlalu cepat mengambil keputusan waktu itu sehingga kalian berpisah gara-gara Ayah..." gumam Hendra dengan menampakkan raut muka sedih. " Untuk menebus semua kesalahan Ayah selama ini kepadamu dan juga Tasia...Ayah akan membatalkan pernikahanmu dengan Lia..."
Rizal sontak terkejut dengan perkataan Hendra, dia spontan langsung tersenyum lebar, yang akhirnya Hendra mau memutuskan untuk membatalkan pernikahan mereka.
"Benarkah itu Ayah?" tanyanya lagi belum percaya.
Tania ikut tersenyum bahagia. Dia tak henti-henti meneteskan air matanya karena terharu. Hendra memanggutkan kepalanya yakin akan keputusannya sendiri.
Rizal cepat-cepat memeluk Hendra yang duduk di sofa tamu itu.
"Terima kasih banyak Ayah...terimakasih.." ucapnya tersenyum terharu.
Hendra menepuk-nepuk punggung Rizal. "Ayah dan Ibu akan ke rumah keluarga Lia nanti, jadi biar Ayah yang membicarakannya pada mereka.." jelasnya.
Rizal mengangguk-anggukkan kepalanya setuju.
"Sekarang lebih baik kau pergi ke Yogyakarta dan selesaikan masalahmu dengan Tasia, dan meminta rujukan kembali hubungan kalian..." terangnya memberikan saran.
"Ayah serius kan?" tanya Rizal sangking bahagianya Rizal terus saja bertanya.
"Iya...tentu saja..soal Mira kau tidak perlu mengkhawatirkannya.. biar Ayah yang menangani masalahnya sendiri disini.. kau, pergilah temui istrimu saja..dan bawa dia pulang lagi kemari..." jelas Hendra lagi tersenyum ke arah putranya itu.
Rizal menundukkan kepalanya sebentar dan bergumam pada mereka.
"Sebenarnya...Ayah...Ibu...ada kabar baik untuk kalian yang ingin Rizal sampaikan.."
"Kabar baik apa itu sayang?" tanya Tania penasaran.
Rizal menoleh ke Tania yang sedang berdiri di samping Hendra dan melempar senyum bahagia kepada kedua orangtuanya itu.
"Saat ini Tasia sedang mengandung anakkuAyah..Ibu.."
Tania terkejut mendengarnya dan langsung kegirangan. "Aaaaahh! Benarkaaah itu?!" teriaknya. "Sayang..sebentar lagi kita akan jadi Kakek-Nenek!" sahutnya mengecup pipi Hendra di sampingnya. Hendra tertawa terkekeh-kekeh juga ikut bahagia mendengarnya.
Rizal tidak berhenti bersyukur atas semuanya dan tersenyum ke arah mereka semua yang dia lakukan selama ini akhirnya tidak sia-sia belaka, walaupun awalnya begitu banyaknya rintangan dan cobaan pada hubungan rumahtangga mereka tapi pada akhirnya Rizal bisa membuat Ayahnya membatalkan pernikahannya dengan Lia.
Mbok Darmin tiba-tiba muncul mendorong Neneknya Rizal ke ruang tamu dengan kursi rodanya menghampiri mereka yang sedang mengobrol serius.
"Ibu?" sahutnya berbarengan. Hendra dan Tania terkejut karena Neneknya tiba-tiba keluar dari kamarnya.
"Kenapa, kalian sama sekali tidak ada yang mengabarkanku apapun? bahkan Tasia pergi pun kalian tidak menceritakan itu padaku?" gerutunya kesal.
Semua terkejut mendengar nenek yang mendadak berbicara jelas.
"Ibu...sekarang sudah bisa bicara?" sahut Tania tersenyum terharu menghampiri Ibu mertuanya ke depan.
Nenek memanggut-manggut.
"Selama ini Tasia lah yang selalu mengajakku berbicara, setiap hari dia selalu ada waktu untuk menghiburku. Kau jahat sekali Hendra karena telah mengusirnya dari sini!" geram Nenek emosi.
Hendra tertunduk malu di bentaki ibunya sendiri. "Iya bu..ini semua karena Mira dia yang berawal ingin mencelakaiku.." jelasnya.
"Dia memang tidak jera dengan apa yang sudah dia perbuat,.Ibu sudah berulang kali mengingatkan anak itu..Namun dia bersikeras ingin mengambil hak perusahaan Wijaya seorang diri. Dia jadi begitu karena dia tidak bisa mempunyai anak.." ungkap nenek.
Semua mendengar seksama penuh ke arah Nenek. Nenek menjelaskan kalau dulu dia jatuh dari tangga karena Mira tidak sengaja menepis tangannya saat nenek sedang menasehatinya. Sehingga nenek mengalami lumpuh dan dia tidak bisa berbicara karena trauma kecelakaan itu.
Akhirnya jelas sudah semua peristiwa itu terungkap. Kesedihan dan keterpurukkan Mira selama ini berujung malapetaka bagi keluarga Hendra satu persatu. Dia menjadi gila akibat di vonis mandul dan selamanya tidak akan pernah mempunyai anak. Sehingga dia ketakutan karena tidak akan mendapat satupun warisan perusahaan Wijaya.
bersambung...
...***...
Jangan lupa like dan komentarnya yaa...
...🌺🌺🌺...