
...Bab 7...
...Pencarian seorang juru masak 2...
Ketika itu Rizal dan Yogi baru saja sampai di Pasar dekat terminal bus. Disana terlihat hiruk pikuk keramaian orang yang tengah berkerumunan.
"Zal, lihat disana ada kejadian apa ya?" sahut Yogi menunjuk ke arah kerumunan orang.
"Coba kita cek kesana dulu.."titah Rizal, bergegas mereka pun berdua turun dari motornya lalu pergi lari menghampiri sudut keramaian itu.
Tampak seorang ibu paruh baya menangis sesegukan karena telah kehilangan tas yang berisi uang dan beserta surat penting lainnya. Beberapa ibu yang lainpun hendak menenangkan keadaan si ibu korban pencurian itu.
Ketika itu Rizal tak bergeming tatapannya tiba-tiba mengarah pada keranjang besar berwarna merah tua di samping ibu korban pencopetan.
Dia jadi teringat kalau keranjang besar berwarna merah tua itu adalah keranjang dagangan milik Tasia. Dia lalu mencoba memeriksa dagangannya untuk memastikannya.
'Benar ini kepunyaan Tasia' pikirnya tersenyum tipis.
"Ternyata ini kasus pencurian!" sahut Yogi pada Rizal. Namun Rizal tidak fokus mendengarnya. "Hei apa yang kau lakukan?" tanya Yogi ketika melihat Rizal membuka-buka isi keranjang dagangan itu.
"Maaf Bu, pemilik keranjang jualan ini, sekarang sedang pergi kemana ya?" tanya Rizal pada ibu-ibu disekitar situ.
"Oh.. tadi dia lari mengejar pencuri itu nak!" jelas ibu penjual "Tadi dia titip barang dagangannya itu ke saya!" katanya lagi.
"Apaa?!" sahut Rizal dan Yogi serentak membulatkan mata-mata mereka dengan mulut yang menganga.
"Kemana arahnya mereka lari bu?" tanya Rizal lagi yang merasa khawatir.
Ibu itu lalu menunjuk ke arah luar pasar dekat jembatan sungai.
"Kalau tidak salah tadi mereka lari ke arah sana, nak!" jelasnya Ibu penjual sayur itu.
"Terimakasih Bu..., Yogi! ayo kita harus segera mencari Tasia! sebelum terjadi apa-apa dengannya!" sahut Rizal cepat-cepat mereka pergi dan mencari keberadaan Tasia.
Ketika sampai di sebuah jembatan. Lari mereka terhenti karna kelelahan.
"Tasia? bukankah dia nama si penjual kue yang kau maksud itu kan?!" kata Yogi memastikan "Hah hahh...sudah lama sekali aku tidak olahraga lari, haahh uhuk-uhukk..jadi rasanya sesak sekali.." ujar Yogi terengah-engah batuk dengan nafasnya yang agak tersengal-sengal.
"Sebaiknya aku kontak dia dulu. mungkin dia belum jauh disekitaran sini!" Rizal segera membuka ponselnya dan segera memanggil nomer Tasia.
Setelah terhubung, suara nada dering handphone Tasia terdengar tidak begitu jauh dari arah mereka.
"Kau dengar suara dering?!" tanya Rizal ke Yogi.
Yogi mengangguk, lalu mereka berdua segera mencari arah sumber suara tersebut, dan samar-samar mereka mendengar percakapan orang di sebuah gang buntu.
Handphone Tasia berbunyi lalu dia hendak mengangkat teleponnya. Namun dengan cepat, si perampok itu merebut handphonenya dari genggaman Tasia. Dengan segera si perampok itu me riject panggilannya tadi.
"Kembalikan Handphoneku!" teriak Tasia. Karena dia takut Handphonenya di rusak atau diambil mereka.
"Ha ha ha ha.." semua perampok itu tertawa mengacuhkan perkataan Tasia.
Lalu salah satu dari mereka menghampiri Tasia dengan memutar-mutar pisau lipatnya di tangannya, dan mencengkram pipinya Tasia hendak mengancam Tasia itu dengan pisau.
"Heeh, kamu tadi berani ganggu anak buahku! sekarang karna kamu sudah ikut campur dengan pekerjaan kami. Jadi aku harus mengeledah dan mengambil semua barang berharga milikmu juga, mengerti! Atau tidak nanti pisauku ini bisa menggores wajahmu yang manis itu?!" ancamnya pada Tasia. "Ha ha ha" tawanya kencang terbahak-bahak.
"Dasar brengsek, para lelaki bajingan kalian, beraninya kalian mengeroyok perempuan!" teriak Tasia kasar, karena perkataan kasarnya sehingga membuat perampok itu tersinggung.
Plaaaak
Perampok itu menampar keras pipinya Tasia sehingga tubuhnya ikut terlempar dan dahinya membentur keras ke kayu yang ada di atas tumpukan barang bekas di sana. Sehingga dahi Tasia sedikit memar dan berdarah.
Lelaki jahat itu tidak puas, lalu dia hendak memukul Tasia lagi. Namun tidak sempat karena Rizal dan Yogi tiba-tiba datang menghentikannya. Rizal memukul balik muka perampok itu dengan kencang. Yogi pun membantu Rizal menghajar teman-temannya.
Mereka berdua tiba-tiba muncul entah darimana datangnya dan menolong Tasia yang sudah terluka.
"Beraninya hanya sama wanita!"
Buuugh buuggh
Serangan keras dari Rizal lagi, dan di bantu oleh Yogi dari belakangnya dengan tendangan kencangnya sehingga wajah-wajah mereka babak belur di buatnya.
Tasia hanya menjengak kaget melihatnya. Setelah mereka selesai menghabisi perampok-perampok itu.
Tasia lalu berdiri dan dipapah Rizal dan Yogi samping kanan- kirinya.
Keadaannya saat itu sangat menyedihkan sekali, ikatan rambut panjangnya Tasia jadi berantakan dan pakaiannya pun lusuh terkena tanah basah, bekas air hujan. Pipinya yang lebam bekas tamparan keras, hingga darah muncul di sudut bibirnya yang mungil itu serta kondisi dahinya yang berdarah akibat benturan keras tadi.
"Terimakasih banyak.." ucap Tasia pada kedua pria itu dan akhirnya dia bisa bernafas lega.
bersambung...
...***...
Jangan lupa like dan komentarnya ya...
...🌺🌺🌺...