Sweet Cake Memories

Sweet Cake Memories
Kepergian Kakak



...Bab 12...


...Kepergian Kakak...


Setelah selesai sarapan Tasia masuk kamarnya duluan dan memeriksa handphonenya sambil bersantai ria.


Setelah membukanya, Tasia melihat ada dua pesan masuk dari Rizal lagi. Tasia sedikit jengkel sebab perhatiannya yang agak berlebihan itu.


Di dalam pesannya Rizal, berkata.


pukul 05.00


Pagi..Tasia?! sudah bangun?


pukul 06.25


Jangan lupa sarapan dan minum obatnya ya..


"Maksudnya apaan sih, ini orang? kok jadi sering hubungi aku terus. Padahal kan sikapku gak baik sama dia. Huh emang kalau orang ada maunya pasti ngeburu terus. Cuekin saja lah..!" ocehnya sendiri menggerutu tak mau membalas pesannya Rizal. Lalu dia membuka aplikasi gamenya dan mulai memainkan game itu.


Maya yang baru saja lewat kamarnya tidak sengaja melihatnya menggerutu dan mendengarnya lalu menghampiri dan masuk ke kamar adiknya tersebut.


"Ada apa sih..? ngedumel sendiri gitu?" tanyanya Maya penasaran, dia langsung menjatuhkan dirinya menelungkupkan tubuhnya di kasur Tasia yang tengah asyik main handphonenya sendiri.


Tasia menyunggingkan sudut bibirnya ke atas, dan merebahkan punggungnya ke dipan kasur.


"Gak ada apa-apa kok kak! lagi malas balas pesan orang aneh saja!" ketusnya.


"Oh, gitu ya..eh kakak punya kabar bagus buat kamu!" seru Maya tiba-tiba, dia membuka isi dompetnya itu lalu menyodorkan sebuah kartu pengenal ke adiknya.


"Ini lihatlah, kamu pasti tertarik dengan pekerjaan ini!" sahutnya lagi. Lalu Tasia meraihnya dan melihat tulisan kartu itu.


"Itu adalah tempat kerja sahabatnya mas Supri. satu kuliahan sama kakak juga, dia orangnya baik. Tapi saat ini kondisi usahanya sedang menurun drastis. Kakak jadi berinisiatif sendiri kalau kamu pasti suka dengan pekerjaan itu. Dan kakak sudah berjanji padanya kalau kamu akan ikut kerja di Cafenya." sambungnya lagi.


Tasia melihat nama dan alamat dari kartu tersebut dengan serius.


Setelah tahu Tasia terbelalak kaget, itu adalah alamat tempat kerjanya Rizal.


'Pantas saja kenapa dia terus saja menghubungiku' batinnya Tasia 'jadi selama ini kakaklah yang memberitahukan tentangku padanya' kesal Tasia di hatinya.


"Kakak kenapa tidak bilang dari awal?!" bentaknya tiba-tiba kesal pada Maya.


"Harusnya kakak minta ijin dulu sebelumnya sama Tasia, Tasianya mau apa gak bekerja disana?! ini malah main janji-janji saja sama oranglain!" gerutunya lagi.


"Lho kan kakak gak tahu kamu bakal nolak, kakak pikir kamu bakalan suka dengan pekerjaan itu?! Lagian kan kamu belum ketemu dia, jadi kamu juga bisa menolaknya kapan saja!" ucap Maya.


"Aduuh kak Maya, siapa bilang aku belum ketemu yang namanya Rizal itu?! Kakak tahu orang yang nabrak Tasia di pasar dulu? yang hancurin dagangan Tasia, ya Rizal itu orangnya.." geramnya terus terang. Maya langsung melongo mendengar cerita adiknya.


"Gak cuma itu..di pernikahan kakak juga aku sudah ketemu dia..katanya dia sahabatnya Kak Supri. Maaf baru cerita ini ke Kak Maya.." jelasnya lagi. "Lalu kemarin dia dan temannya menemuiku di pasar, dan mereka sudah menawariku kerja di tempat itu!" sambungnya.


"Ah bagus dong kalau begitu, kalian kan jadi semakin akrab!" ujar Maya ikut senang.


"Itu berarti kalian memang berjodoh, bisa bertemu berapa kali tanpa sengaja. ibarat pribahasa 'dunia ini memang tak selebar daun kelor..' kalian pertama dipertemukan tidak saling mengenal, tak tahunya orangnya itu, adalah sahabat kakak iparnya sendiri hi hihi....!" cengir Maya meledek adiknya sendiri.


"Maksud kak Maya apaan sih gak ada hubungannya sama jodoh kali?" kesalnya.


"Lalu kenapa, kamu kok kayak gugup gitu ngehadapinnya? lihat wajahmu saja sudah merah merona, itu artinya kamu tertarik kan dengan yang namanya Rizal?!" goda Maya seraya mencolek hidung adiknya sendiri.


"Kak Maya bukan begituuu...!!" teriak Tasia sambil memegang bahu dan menggoyang-goyangkan badannya Maya. Supaya dia mau berhenti meledeknya.


"Aduuuh- duuuh Tasia, hentikan kepala ku pusiinng ini! iya iya kakak diam sekarang diam...!" sahutnya kapok. Tasia segera melepaskan tangannya di bahunya Maya.


"Dengarkan Tasia dulu kak, yang aku khawatirkan itu bukan itu...tapi aku sudah terlanjur bohongi dia, kalau aku bukanlah yang membuat kue-kue jualan itu!" terangnya jelas.


"Nah loh..salahmu sendiri, kenapa kamu suka bohong. Ya kakak gak tahu soal kamu membohongi Rizal. Lebih baik kamu terus terang dan menerima permintaan pekerjaannya!" saran Maya.


Tasia tertegun mendengar perkataan kakaknya, yang di ucapkan kakaknya memang ada benarnya.


"Tapi, kak Maya tidak tahu..di hari pernikahan kakak kemarin dia sudah menyinggung Tasia. Katanya Tasia gadis matre, soal Tasia meminta ganti rugi jualan yang rusak itu." gerutuannya lagi sambil mengerucutkan bibirnya.


"Memang kamu mintanya berapa? jelas kalau minta kebanyakan ya pasti orangnya juga bakal kesal, kamu pasti di bilang materialistis!" sahutnya sambil mencubit hidung adiknya yang bandel.


"Hee_" Tasia terkekeh-kekeh sendiri sejenak menyadari kesalahannya yang sudah menjahili pria itu.


Setelah saling bercanda mereka lalu berpelukan lama. Dua kakak beradik itu selalu tampak akur dan bahagia. Mereka selalu saling dukung satu sama lainnya.


Tak lama menjelang malam pukul 21.00, ini adalah malam terakhir Maya menginap dirumah orangtuanya. Tasia menghela nafas panjangnya lalu menghirup udara malam dingin itu seraya dudukkan di teras halaman rumahnya kala itu.


"Malam ini malam terakhir kakak tidur di rumah, besok sudah tak ada lagi kak Maya...aku bakal sendirian dan kesepian lagi.." ujarnya sedih dan murung.


Maya yang tidak bisa tidur pun dia keluar ingin mencari udara dingin. Sedangkan Supri dan ibunya sudah tertidur pulas, padahal hari belum terlalu larut. Saat ingin membuka pintu depan Maya sudah melihat Tasia berada disana, sambil dudukkan termenung seorang diri.


Maya tertegun menatapnya di balik pintu dia sudah bisa menebaknya, kalau adiknya pasti tidak rela karena kepergiannya besok ke Bogor.


bersambung...


...***...


Jangan lupa like dan komentarnya yaa ..


...🌺🌺🌺...