
...Bab 82...
...Surat Wasiat Asli...
**Pov Mira**
Kediaman Mira setelah tahu Hendra masuk ke Rumah Sakit pada malam harinya.
"Apa kau yakin dengan penglihatanmu itu?" sahut Mira cemas.
"Iya Nyonya betul, aku sangat yakin sekali...lalu bagaimana selanjutnya ini nyonya? bisa-bisa perbuatan saya bisa ketahuan.." suara wanita muda, terdengar panik di ponselnya Mira.
Mira mondar-mandir di ruang tidurnya itu dengan masih memakai piyamanya, menampakan kegelisahan di raut wajahnya sambil berpikir, tak lama muncullah ide gila yang ada dipikirannya.
"Baiklah...begini saja, hari sabtu malam nanti sebelum acara itu berlangsung...barang itu harus segera kau simpan di kamar gadis itu. Simpan di tempat dia selalu menyimpan barang-barang pentingnya..nanti setelahnya, kau tinggal ikuti saja intruksi dariku selanjutnya..kau mengerti" tegasnya.
"Ba-baik Nyonya...saya mengerti" sahutnya terbata-bata.
Lalu Mira segera menutup kembali teleponnya. Pandangannya melihat ke arah jendela malam itu dengan mendengus kasar.
"Ini semua salahmu sendiri Hendra, kenapa kau diam-diam membiarkan Rizal menikahi gadis itu..? Tidak akan kubiarkan dari kalian semua menggagalkan rencanaku untuk merebut perusahaan Wijaya...satu-persatu aku harus segera menghancurkan kalian semua dari dalam hidupku..." geramnya, seraya menggenggam erat-erat ponsel di tangannya itu.
Mira kembali duduk di tepi kasurnya, lalu membuka-buka map berisi sertifikat-sertifikat pentingnya yang ada di laci nakasnya, dan dia mengambil surat wasiat Audi yang asli yang terselip rapi di dalam map itu yang selama bertahun-tahun ini dia simpan sendiri. Surat pernyataan Audi yang mengatakan bahwa Rizal adalah hak asuh dirinya setelah dia meninggal dunia.
Mira memegang erat dan mengusap surat pernyataan itu pelan.
'Rizal adalah pion ku satu-satunya yang harus bisa aku kendalikan. Aku takkan pernah membiarkan satu persen pun anakmu Raffi mendapatkannya, Tania...dan kau Hendra... mungkin kali ini aku telah gagal untuk mengirimmu ke neraka..tetapi aku tidak akan pernah menyerah dengan keinginanku sendiri...Semua aset perusahaan Ayah, harus bisa jatuh ke tanganku..' becik Mira di dalam hatinya, tersenyum meringai dengan menampakkan kelicikan di wajahnya.
###
Tasia mencoba melelapkan matanya untuk tidur siang hari itu. Tapi ucapan Yogi padanya tadi siang membuat hatinya tidak nyaman dan hanya meresahkan dirinya saja.
Setelah selesai makan siang itu, Tasia diantarkannya pulang, lalu Yogi menyatakan perasaannya lagi di depan gerbang rumah Hendra, dengan terang-terangan.
"Apa kamu sudah gila? Begitu banyak wanita di dunia ini? Kenapa kau hanya mengejarku? Aku sudah menikah...dan selamanya akan tetap menjadi istrinya Rizal!" bentak Tasia jengkel menepis tangan Yogi yang menahan erat tangannya.
"Aku tidak peduli..aku akan tetap menunggu dirimu sampai kapanpun.. pikirkan itu baik-baik" bantahnya lagi.
"Dasar kau keras kepala!" pekik Tasia. Namun Yogi tidak menghiraukan perkataan Tasia, dia langsung menyalakan mesin motornya lagi lalu melajukannya pulang ke apartemen Ramond.
**
'Apa yang kau harapkan dariku dasar pria aneh? kenapa kau begitu mudahnya mengungkapkan rasa cinta itu padaku?' tutur hatinya menghembus nafas pelan.
Karena Tasia benar-benar tidak bisa tidur siang itu dia lalu beranjak dari kasurnya, setelah dia teringat kalau sore ini Hendra akan pulang dari Rumah Sakit. Dia bergegas menuju dapur membantu para koki yang ada disana.
"Mungkin sebaiknya aku buatkan sayuran untuk Ayah, sayuran yang baik bagi kesehatan jantungnya.." gumamnya sendiri.
Selang beberapa jam kemudian, Tasia selesai menghidangkan beberapa masakan untuk Ayah mertuanya di meja makan di bantu mbok Darmin dan pelayan lainnya.
"Mudah-mudahan Ayah menyukainya..." gumamnya pelan dan tersenyum.
Seorang pelayan tukang bersih-bersih ruangan tiba-tiba saja memanggil Tasia dan memberitahukannya untuk segera ke depan rumah, kalau Rizal dan kedua orangtuanya saat ini sudah sampai rumah.
"Nona...mereka sudah pulang..!" sahutnya.
"Benarkah..ya sudah aku akan bersiap kesana.." Tasia lalu membukakan celemeknya yang terpasang di badannya dan diberikannya kepada pelayan tersebut. Lekas dia bergegas ke luar rumah.
Seorang pelayan bersih-bersih itu menengok-nengok ke arah Tasia yang sudah berlari ke arah depan dengan tingkah mencurigakan. Ketika ruangan makan keluarga mulai sepi orang, entah apa yang dia lakukan dengan hidangan Tasia di meja makan tersebut.
Di depan rumah tampak Rizal membopong Ayahnya untuk duduk dikursi rodanya di bantu pak Mamat. Tasia lekas membantu Tania mengambilkan barang Hendra di dalam mobil.
"Terimakasih Tasia..." sahut Tania senang.
Tasia tersenyum memanggut. "Sama-sama bu.."
Rizal mendorong Ayahnya masuk ke ruang makan sore itu.
"Setelah makan malam selesai, nanti Ayah langsung istirahat saja..ya.." titah Rizal.
"Hmm.." Hendra memanggut.
Setelah sampai ruang makan. Tania mempersiapkan piring dan memasukkan nasi dan sayuran ke piring Hendra.
"Waah..dilihat dari aromanya sepertinya sayur ini sedap sekali.." seru Tania sambil sibuk menyiduk sayur ke piring Hendra.
"Iya..Nyonya ini yang masak semua non Tasia, katanya khusus buat Tuan besar.." sahut mbok Darmin terkekeh kecil.
"Benarkah itu...kamu memang menantu pintar Tasia.." puji Tania.
"Ah ibu..ini bukan apa-apa kok.."
Tasia tersenyum tersipu dipuji ibu mertuanya seperti itu, Rizal sekilas melirik istrinya yang sudah duduk di samping kanannya, melemparkan senyuman manis padanya.
Hendra begitu terlihat lapar setelah pulang dari Rumah Sakit matanya langsung tergugah saat melihat makanan di atas meja makan, dia dengan lahapnya memasukkan nasi dan sayur di sendok pertamanya ke dalam mulutnya tersebut.
"Uhuuk...owekkk" tiba-tiba Hendra terperanjat langsung memuntahkan makanannya kembali.
Semua terkejut dan melihat ke arah Hendra.
"Kamu kenapa Ayah?" tanya Tania mengerutkan dahinya.
"Apa kau sengaja merancuniku heh?" geramnya marah membentak Tasia.
Tasia tercengang melihat Ayah mertua di depannya, dia menggeleng-gelengkan kepalanya terheran dengan ucapan apa yang Hendra sampaikan padanya. Rizal pun terkejut dan menatap Tasia penuh tanda tanya.
"Ada apa Ayah?" tanya Rizal terbelalak kaget karena tiba-tiba memarahi Tasia seperti itu.
Hendra dengan cepat melemparkan sendok makannya kencang di atas meja makan dan berbenturan dengan gelas yang di sampingnya. Semua terkejut melihatnya.
"Coba cicipi saja masakannya oleh kalian!" sahutnya lagi datar. "Aku sudah tidak ingin memakannya lagi!" Lalu Hendra kembali ke kamarnya, dibantu pelayan mendorong kursi rodanya.
Tania dan Rizal mencoba mencicipi sayuran yang dibuat Tasia. Mereka pun sama-sama memuntahkannya lagi. Tasia terkejut karena mereka juga memuntahkan makanannya.
"Ada apa?" tanyanya masih bingung dengan apa yang terjadi, namun Rizal tidak menoleh ke arahnya.
"Tasia...aku tahu kamu sangat membenci Ayahku...tapi tidak seharusnya juga kau mengerjai Ayahku dengan memberikan terlalu banyak garam pada sayurannya." ujar Rizal tiba-tiba menatap tajam ke arah Tasia. Lalu Rizal lekas berdiri dan pergi ke atas loteng kamarnya dan meninggalkan Tasia sendirian di meja makannya.
"Apa?" sontaknya terkejut. Tasia terdiam mencerna ucapannya Rizal tadi "Garam?" gumamnya masih bingung. Tasia dengan segera menyiduk sayur dengan sendoknya dan menyicipinya untuk memastikannya sendiri.
"Week, ini...aku yakin sekali tadi tidak seasin ini kok.." pekiknya. Lalu dia menoleh kepada mbok Darmin. Mbok Darmin juga sempat terkejut dan menyahutinya juga, kalau tadi dia juga sudah menyicipi masakan Tasia dan tidak ada yang salah dengan makanannya itu.
Tasia menggeleng-gelengkan kepalanya memandang penuh kecurigaan pada masakannya sendiri.
"Apa ada yang sengaja memberikan garam itu pada sayuranku mbok?" tanya Tasia sedikit khawatir dan kesal.
Mbok Darmin pun berpikiran sama dengan Tasia. Mereka saling memandang dengan raut penuh kecemasan dan kecurigaan. Tasia menekan keningnya sendiri dengar raut wajah yang sedih. Lalu dia kembali duduk memandang kosong ke arah panci sayur itu dan bertanya-tanya dalam pikirannya.
"Siapa yang telah melakukan itu padaku?" tanyanya sendiri seraya menutup matanya yang hampir saja menangis.
"Sabar..ya Non..mbok juga tidak tahu siapa yang tega melakukan itu pada Non" sahut Mbok Darmin sambil mengelus-ngelus pundak Tasia yang mulai menangis terisak sambil menundukkan kepalanya di atas meja makan.
###
Yogi menaiki motor sore itu dia pergi ke toko bunga dan membeli sebuket bunga mawar putih dan juga sekotak coklat di toko kue. Dia nekad ingin memberikan itu pada Tasia besok malam di pesta ulangtahunnya Rizal saat dia tengah sendirian.
'Aku yakin Rizal akan sibuk dengan Lia, dan Tasia akan di biarkannya begitu saja sendirian...ini adalah kesempatanku untuk memberikan perhatian lebih padanya...' ucapnya dalam hati senang.
Yogi segera membayar harga bunga itu dan saat dia ingin keluar dari toko tersebut dia tidak sengaja menabrak seorang wanita di depannya.
Mereka saling tabrakan di tengah-tengah pintu keluar-masuk toko.
"Aduuuh..."rintih wanita itu mengelus bahunya.
"Apa kau tidak lihat-lihat kalau jalan?!" jengkel Yogi, tapi amarahnya terhenti tiba-tiba saat melihat siapa orang yang bertabrakan dengannya.
"Kamu? Dian..!" ucap Yogi melohok.
Wanita itu juga terbelalak kaget melihat Yogi.
"Kamu..?" jelasnya, dan tak lama wanita itu tersenyum ke arah Yogi. "Sedang apa kamu disini?" tanyanya.
Yogi juga tersentak kaget. "Aku sedang..." matanya memandang bunga yang dia beli.
Dian juga memandang bunga yang di beli Yogi. "Bunganya cantik sekali...buat pacarmu ya..." celetuk Dian tertawa kecil sambil menggoda pria itu.
Yogi menggeleng-gelengkan kepalanya. "Bukan...ini untuk temanku..."jawabnya tergugup.
"Emm, beneran nih..?" ulas Dian dia jadi teringat kemarin dia tidak sengaja melihat Yogi bersama seorang wanita di depan Rumah Sakit tempat Hendra di rawat. "Teman, atau teman?" sindir Dian lagi.
Yogi memanggutkan kepalanya lagi kalau bunga itu memang untuk temannya.
"Yaa..untuk teman, teman spesialku.." jelas Yogi sedikit ragu-ragu untuk menjawabnya jujur.
"Hemm..gitu ya.." Dian hanya menganggukan kepalanya tak percaya. "Teman spesial itu pasti seorang gadis kan.." sindirnya lagi. Yogi hanya tersenyum tersipu tak menjawabnya lagi dia hanya menggelengkan kepalanya saja.
Mereka terhening sejenak lalu..
"Kenapa kamu bisa berada di sini?" tanya mereka serentak, seketika itu juga mereka saling pandang dan tertawa bersamaan. Karena melontarkan pertanyaan yang sama.
"Kamu saja duluan.."sahut Yogi. Dian memanggut tersipu malu.
"Aku di sini karena ada acara penting keluarga...ya acara ulangtahunnya sepupu tiriku.." jelas Dian.
Yogi mengernyit dan bertanya heran kepadanya.
"Hari ulangtahun? memangnya kapan ulangtahun sepupumu itu?"
"Besok malam..."jawabnya. Yogi sontak terkejut lagi.
"Besok malam?" tanya Yogi lagi belum percaya, Dian memanggutkan kepalanya.
"Kenapa bisa barengan ya..Besok malam juga temanku akan merayakan hari ulangtahunnya..." jawab Yogi.
"Masa...benarkah itu? kok bisa kebetulan begitu ya...?"sahut Dian tersenyum lebar. "Memangnya nama temanmu siapa?"
"Rizal..."
"Apa? Rizal? ha ha ha ha" Dian terkejut mendengar namanya, lalu dia malah tertawa-tawa kecil di depan Yogi, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kenapa kamu tertawa?" tanya Yogi heran.
"Aku lupa kau kan bekerja di Cafe Bean milik Rizal di Yogyakarta...ternyata dunia ini tidak selebar daun kelor ya...Rizal itu sebenarnya adalah sepupu tiriku.." sahut Dian menjelaskan.
"Oh ya...?" sahut Yogi mengernyit sambil menggaruk pelipisnya dengan jarinya pelan. Masih belum percaya dengan sebuah kebetulan. "Lalu... kenapa kalian bisa disebut sepupu tiri?" tanyanya lagi masih belum paham.
"Jadi begini..Tantenya Rizal sebenarnya sudah menikah dengan Ayahku, dan sekarang tantenya itu menjadi ibu tiriku.. makanya aku dan Rizal adalah sepupu tiri..." jelas Dian.
"Ohh...begitu..." ujarnya manggut-manggut. "Apa kau sedang sibuk hari ini?"
"Tidak terlalu sih, aku kesini juga ingin membeli hadiah untuk Rizal.."
"Ya sudah kalau begitu bagaimana kalau kita cari hadiah sama-sama..." ajak Yogi
"Boleh.." jawab Dian mengiyakan.
Mereka pun akhirnya pergi bersama-sama mencari hadiah ulangtahun Rizal untuk esok malam nanti.
bersambung...
...***...
Jangan lupa tinggalkan like dan komentnya ya ..
...🌺🌺🌺...