Sweet Cake Memories

Sweet Cake Memories
Satu Masalah Terpecahkan



...Bab 88...


...Satu Masalah Terpecahkan...


Tasia berbaring menyamping di kasurnya sambil mengelus-elus perutnya yang masih terlihat rata. Dia mencoba untuk tidur malam itu walaupun malam belum begitu larut. Tapi matanya tak jua terlelap. Dia masih teringat dengan ucapan dokter padanya tadi.


"Selamat ya Bu...anda tengah hamil 3 minggu.."


"Tasia...ibu senang sekali mendengarnya sayang...kamu hamil nak?! Cepat kau harus segera menghubungi Rizal..beritahukan kabar gembira ini...!"


"Waaah mbak Tasia..ini kabar bagus..Selamat ya mbak sebentar lagi kamu bakalan jadi ibu muda...ha ha ha"


Bulir-bulir air mata kembali berjatuhan di pipinya.


"Hamil? Hhhh sekarang aku sedang hamil....Rizaal...apa kau tahu? sebentar lagi kita akan segera punya bayi.." lirihnya tersenyum pahit. "Sebentar lagi kita akan jadi Mama Papa...Rizal...kita akan punya bayi..." kembali meneteskan air matanya.


"Ibu...maafkan Tasia, Hiks...Ibu..apa yang harus aku katakan kepadamu? sebenarnya kami sudah berpisah..." lirihnya lagi sambil terus terisak-isak menahan sedih dan luka.


Semenjak pulang dari Jakarta itu, Tasia sama sekali belum menceritakan apapun pada ibunya soal perpisahan mereka. Tasia sengaja untuk menyembunyikan dan memendam masalahnya sendiri, dia hanya tidak ingin ibunya jadi ikut khawatir terhadapnya.


#


#


#


#


#


Keesokan harinya...


"Jadi... ternyata kalian sudah bercerai?" gumamnya masih belum percaya dengan semua berita yang di dengarnya itu, Yogi mengusap bibir bawah hingga ke dagunya sambil menatap penuh ke layar komputer di depannya.


Yogi kembali mengingat perkataan Rizal semalam tadi di telepon. Rizal berkata terus terang kepadanya bahwa dirinya sudah menceraikan Tasia kemarin. Namun Rizal tidak menjelaskan apapun alasannya kenapa mereka bisa berpisah. Yogi menerkanya sendiri mungkin perceraian mereka karena Tasia yang sudah tidak tahan lagi melihat Rizal yang sebentar lagi akan menikahi Lia.


"Pantas saja kau terlihat sangat murung kemarin..dan tidak mau menceritakan semuanya kepadaku.."


Yogi beranjak berdiri dari tempat duduknya lalu hendak pergi berniat ke rumahnya Tasia pagi itu.


Saat membuka pintunya dia kaget ternyata Tasia sudah berada di depan pintu ruang kerjanya.


"Tasia?" serunya. "Ka-kamu kesini, ada apa? harusnya kamu tengah istirahat di rumah..."


Tasia memoles senyuman pahit padanya hari itu wajahnya terlihat lesu dan masih pucat sekali karena semalaman itu dirinya memang tidak bisa tidur pulas karena terlalu banyaknya masalah yang tengah dipikirkannya. Yogi pun bisa mengerti dengan kondisinya saat itu.


"Aku datang kemari hanya ingin menyampaikan sesuatu kepadamu..." sahutnya pelan.


Tasia tidak ingin banyak basa-basi lagi dengan Yogi pagi itu. Dia lekas mengambil secarik surat di dalam tasnya dan memberikannya kepada Yogi.


"Su-surat apa ini?" Yogi menjengak kaget saat menerima surat resign dari Tasia.


"Aku ingin berhenti bekerja..." ucapnya tiba-tiba.


Yogi menggelengkan kepalanya. "Tidak bisa..maaf aku tidak akan pernah mengijinkanmu berhenti bekerja disini..Dapur Cafe masih sangat membutuhkanmu!" pekiknya.


Lalu Yogi kembali ke ruangannya berjalan ke arah meja kerjanya.


"Yogi...aku mohon ijinkan aku, aku benar-benar ingin berhenti..." sahutnya lagi yakin.


"Katakan alasannya kenapa tiba-tiba kamu ingin berhenti bekerja disini?" gerutunya sedikit kecewa, kembali menoleh ke arah Tasia di belakangnya.


Tasia memalingkan wajah sedihnya dari Yogi, dia tidak ingin Yogi tahu masalah yang dia hadapi bersama Rizal.


"Aku...aku hanya ingin istirahat saja karena kehamilanku.." sangkalnya beralasan.


Dengan cepat Yogi memegang kedua pundak Tasia erat dan menatap matanya yang masih diliputi kesedihan. Tasia perlahan mengerutkan dahinya seketika itu juga karena melihat mata Yogi yang dipenuhi rasa kecemasan terhadapnya.


"Jangan berbohong lagi kepadaku.." sahutnya. "Apa karena kalian sudah bercerai?"


Tasia menjengak kaget matanya membulat besar ke arah Yogi yang ternyata dia sudah tahu permasalahannya.


"Da-darimana kamu tahu kami sudah.." Tasia kembali menitikkan air matanya.


"Tidak ada yang tidak aku ketahui tentang dirimu..!" ujarnya.


Yogi tidak tahan lagi melihat Tasia yang terus saja bersedih karena Rizal. Dia refleks menarik lengan Tasia dan merangkulkan kepala gadis itu ke dalam pelukannya itu.


"Yogi.." lirihnya mendorong Yogi agar tidak memeluknya.


"Berhentilah menolakku...biarkan aku memelukmu seperti ini...untuk kali ini dengarkanlah perasaanku! dan rasakanlah detak jantungku.." ujarnya.


saja mendekap tubuhnya.


"Sampai kapan kamu akan bertahan dengan pria itu Tasia? sampai kapan?!" bentaknya.


Kali itu Yogi mendekatkan wajahnya begitu dekat dengan wajah Tasia. Sehingga kedua matanya saling berpandangan lekat. Tangan Tasia bahkan dipegangnya erat dan tak dibiarkannya sampai terlepas.


"Apa lagi yang kau harapkan padanya, setelah tahu, dia sudah banyak menyakiti dan mengecewakanmu? apa kau tidak tahu bagaimana perasaanku terhadapmu selama ini? aku sudah cukup lama untuk menunggumu..aku tidak peduli dengan bayi dalam perutmu itu...aku siap dan bersedia menjadi ayahnya!" ungkapnya lagi sangat di luar nalar Tasia sendiri.


Mata Tasia kembali membulat besar menatapi Yogi, mulutnya sampai menganga karena tuturan perkataan Yogi yang membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


Yogi kembali memeluk Tasia tapi kali itu Tasia dengan sekuat tenaga berhasil mendorongnya, dan spontan menampar pipi kirinya Yogi.


Plaaak


"Lepaskan aku Yogi! Sadarlah! Walaupun aku sudah berpisah dengan Rizal...aku tetap tidak bisa menerimamu...aku tidak ingin memikirkan apapun saat ini..yang tengah kupikirkan hanya masa depan anakku sendiri!" bentaknya tegas.


Tasia lalu berlari pergi meninggalkan Yogi di ruangannya.


Yogi berdiri termangu menatap jejak bayang Tasia di depannya.


"Maaf sobat...kali ini aku tidak bisa berdiam diri lagi..sekaranglah saatnya giliranku untuk mendapatkan hatinya Tasia.." gumam Yogi.


#


#


#


#


#


Pagi itu Rizal meminta mbok Darmin memanggil Luna agar dia menemuinya di ruang kerja Hendra.


Luna membuka pintu ruangan Hendra perlahan. "Iya Tuan a-ada apa?"tanyanya terlihat gelisah tiba-tiba yang dirasakan pagi itu.


Rizal sudah bersama Hendra dan juga Tania disana.


"Sekarang kami ingin tahu apakah benar kaulah yang menabur garam di sayuran Tasia waktu itu?" tanya Hendra langsung berkata pada intinya. Setelah dia mendengar penjelasan dari putranya sendiri.


Badan Luna tiba-tiba bergetar ketakutan. Wajahnya menjadi pucat pasi, ternyata majikannya telah tahu dengan apa yang dia perbuat selama ini.


"E-emm itu Tuan..aku-aku.." gelagapnya karena panik.


"Jawab pertanyaanku atau tidak kau akan aku pecat sekarang juga!" bentak Hendra. "Dan nasib keluargamu akan sengsara setelah tahu dirimu tidak mempunyai penghasilan lagi!" tambahnya lagi geram.


"Ah..i-iya Tuan Besar maaf, maaf saya mengaku salah.." pasrahnya akhirnya dia mengaku setelah di ancam dan di gertak oleh Hendra. Luna langsung berlutut di bawah kakinya Hendra.


"Jadi benar semua yang kau katakan itu! Dasar pembantu kurang ajar!" bentak Hendra lagi marah besar. Jantung Hendra nyaris saja kumat lagi saat dia naik darah karena marah. Dia ingin sekali memukul Luna waktu itu juga. Tapi Rizal keburu mencegahnya dengan cepat.


"Sabar Ayah...sabar .." cegah Rizal menahan Ayahnya untuk meredam emosi.


Tania sontak ikut terkejut juga dengan pengakuan Luna, matanya membulat besar ke arah Luna belum percaya dengan semuanya namun akhirnya semua lega karena satu masalah telah terpecahkan dan Luna pun mengaku salah dan menyerah atas semua kesalahannya. Mau tidak mau dia harus menceritakan soal Mira juga yang selama ini telah menyuruhnya menaruh obat berbahaya itu di botol obat milik Hendra.


"Kita telah salah menuduh Tasia..Ayah..." sahut Tania seketika itu juga dia menangis menyesal mengusapkan tisu di pipinya.


Hendra memandang ke arah Rizal dan Tania ikut menyesali perbuatannya.


Dan pagi itu Rizal memanggil polisi untuk membawa Luna untuk menjadi saksi di pengadilan nanti.


"Tidak Tuan...kumohon jangan penjarakan saya Tuaaan .." teriak Luna memohon-mohon sambil berlutut di bawah kakinya Hendra.


"Bawa dia pak polisi!" gertak Hendra menyuruh para polisi untuk segera membawa Luna.


"Baik Pak!" dengan segera polisi menangkap Luna dan memborgol tangannya lalu di giringnya ke kantor polisi.


"Jangaaannn.....Tuan Besar...saya mohon jangan penjarakan sayaaa....." teriaknya meronta-ronta.


"Kau harus menerima hukumannya! gara-gara ulahmu itu, menantuku jadi terkena imbasnya !" geramnya masih emosi. Hendra menghembus nafas kasar lalu dia duduk perlahan di kursinya kembali dengan nafas yang masih tersendat-sendat.


Rizal pun segera memberikan semua barang bukti pada pak polisi tadi untuk di periksa lebih lanjut lagi. Dan rencana kedua mereka tinggal menyelediki dan mengawasi Mira, yang sekarang ini dia masih di Negara Dubai bersama suaminya itu.


bersambung...


...***...


Jangan lupa like dan komentarnya yaa...


...🌺🌺🌺...