Sweet Cake Memories

Sweet Cake Memories
Sulit Di Hubungi



...Bab 90...


...Sulit Di Hubungi...


Setelah mendengar penjelasan Raffi, Hendra dan Tania akhirnya terbuka dan mau menerima Nadia sebagai calon menantu mereka. Hendra telah sadar dari keegoisannya selama ini yang hanya akan mengakibatkan banyaknya musibah. Sekarang dia tidak mau lagi memaksakan putra-putranya tersebut dan membiarkan mereka memilih dengan pasangan pilihannya sendiri. Dan dari kejadian ini dia akhirnya mendapatkan pelajaran berharga dalam hidupnya.


Inilah awal kebahagiaan untuk Raffi karena telah kembali dipertemukan dengan cinta sejatinya yang dulu sempat terpisah.


Pada akhirnya mereka juga akan merencanakan pernikahannya itu di pertengahan bulan depan, Rizal yang mendengarnya ikut senang dengan kebahagiaan kakaknya.


Saat makan malam bersama, mereka semua berkumpul bahagia membicarakan pernikahan Raffi dan juga saling bercanda ria.


"Selamat ya kak Raffi..akhirnya kak Raffi akan menikah juga, dan tidak akan jadi bujangan tua..." celetuk nya sambil terkekeh-kekeh meledek kakaknya.


"Wah...wah.. sekarang kau berani menghina aku ya ..dasar adik tidak tahu diri! hemmm..hemm..." geram Raffi sambil melingkarkan tangan di lehernya Rizal dan memberi jitakan di kepalanya.


"Tolonng aku ibu...ibu..lihatlah kakak.. sekarang dia berani memukulku!" teriak Rizal mengadu pada Tania.


"Sudah, sudah hentikan...kalian sudah besar masih saja bertengkar! malu-maluin keluarga saja..." gerutu Tania.


"Dasar namanya anak-anak, ya tetap saja anak-anak.. tidak usah kau pedulikan kakak-beradik ini ya Nadia..dari dulu memang mereka selalu begitu.." sahut Nenek yang juga ikut serta di meja makan itu diiringi tawa yang menggelegak.


Nadia ikut menertawai mereka, melihat pemandangan keluarga bahagia itu dia jadi teringat akan keluarganya yang tinggal di Riau sana. Dia merantau di Jakarta karena status pekerjaannya sebagai salah satu karyawan Toserba yang ada di Jakarta.


"Oh ya ngomong-ngomong dimana istrimu?" tanya Raffi, tiba-tiba mereka akur kembali.


Karena heran sedari tadi dia tidak melihat Tasia, dulu tidak sempat hadir ke pernikahan adiknya itu karena sedang berlibur di luar negeri.


"Dia di Yogyakarta kak..besok aku mau pinjam pesawat kakak lagi ya untuk beberapa hari...!" cengirnya.


"Terserah padamu.." jawabnya ketus.


#


#


#


#


#


Setelah selesai makan malam.


Nadia membuka kopernya untuk mengambil baju tidur. Lalu mengganti pakaiannya dengan baju tidurnya itu. Tiba-tiba terdengar suara pintu kamarnya di ketuk.


tok tok tok


"Apa kau sudah tidur?" tanya Raffi dari luar kamarmya.


"Ah Raffi...belum..tunggu sebentar aku sedang ganti baju dulu..." teriak Nadia.


Nadia lekas mengganti pakaiannya dan merapikan kembali kopernya. Lalu di bukanya perlahan pintu kamarnya itu.


Raffi berdiri di depan pintu sambil menyedekapkan kedua tangannya dan menyederkan sisi bahunya di dinding. Sekilas mengulas senyuman bahagia memandang kekasihnya itu.


Nadia tersipu-sipu melihatnya.


"Ada apa? kenapa kamu juga belum tidur?" tanya Nadia.


"Aku tidak bisa tidur...teringat kamu terus..boleh aku masuk?"


"Em em..ta-tapi aku tidak enak dengan kedua orangtuamu lagian.. kita belum menikah..tidak pantas kau masuk ke kamar seorang gadis.."


"Sebentar saja...ya...cuma satu menit...! pliesee..." rayunya memohon.


"Raffi nanti orang rumah melihat kita dan mengatakan yang tidak-tidak tentang kita.."


Raffi melirik samping kanan-kirinya, setelah merasa aman dia gesit menarik tangan Nadia dan masuk ke dalam kamarnya. Cepat-cepat Raffi menutup pintu kamar itu kembali.


"Raffi? apa yang..ka!!!"


"Ssstttttttt...."


Raffi langsung menutup bibir Nadia agar tidak bersuara. Mata Nadia membulat besar ke arah Raffi. Karena wajah mereka begitu sangat berdekatan sehingga kedua mata mereka saling bertemu. Raffi perlahan memutar tubuh Nadia dan membiarkan wanita itu menyenderkan punggungnya di dinding dekat pintu.


Jantung Nadia tiba-tiba berdegup kencang saat di tatapi Raffi begitu lekat, seketika itu juga wajahnya merona merah semakin terlihat cantik saja dan entah apa yang akan dilakukan kekasihnya itu padanya tiba-tiba.


"Berjanjilah...berjanjilah padaku..jangan pernah kau tinggalkan aku lagi..." gumam Raffi pelan. Nadia terharu dengan permintaannya dan dia memanggutkan kepalanya cepat.


Raffi menurunkan perlahan tangannya yang masih menutupi bibir Nadia. Pelan-pelan Raffi mendekatkan wajahnya dan mengecup keningnya Nadia dengan lembut lalu berakhir dia mengecup bibirnya Nadia yang berwarna merah muda itu tanpa lipstik.


Nadia memenjamkan matanya dan mulai merasakan sentuhan indah itu. Mereka saling melekatkan kedua bibirnya, dan melepas semua kerinduan yang selama ini terpendam begitu lama.


"Hah..Raffi..." desahnya pelan.


"Aku mencintaimu Nadia..."


"Aku juga mencintaimu..."


Mereka saling melempar senyum bahagia dan kembali melanjutkan cumbuan mesra itu.


Selang beberapa menit kemudian mereka berdua berdiri di atas balkon dan sambil memandang keatas langit malam penuh dengan bintang. Raffi melingkarkan kedua tangannya di perut Nadia sambil mengecup-ngecup bagian sisi belakang telinga Nadia.


"Hentikan...itu geli..Raffi.." pekiknya tertawa kegelian.


"Sayang..apa kau ingat pertama kali bertemu?"


"Hmm..tentu saja ingat saat itu kau sedang berbelanja di Toserbaku membeli cukur kumismu..saat itu kau kesulitan mencari benda itu..setelah kejadian itu..kau sengaja terus datang ke Toserbaku dan akhirnya kita jadi sering bertemu..."


"Ternyata kau masih ingat dengan semua tingkahku waktu itu.." terkekeh-kekeh teringat kejadian itu lagi.


"Tentu saja siapa lagi kalau bukan Raffi namanya, seorang Tuan Muda yang pura-pura menjadi supir pribadi, demi mendapatkan cinta seorang karyawan biasa sepertiku, kau harus mencari alasan setiap hari untuk membeli barang hanya untuk bertemu denganku.." ungkap Nadia.


"Haaa...siapa bilang? ngarang ..itu kamu tahu.."


"Tidak itu kamu..."


"Kamu kamu kamu"


"Ya sudah aku ngaku...kita berdua..."


"Aaaahh...! itu kamu tahu.."


Nadia memukul-mukul Raffi kesal tapi Raffi senang mencandainya lalu di peluknya calon istrinya itu erat. Mereka lalu tertawa riang bersamaan.


#


#


#


#


#


Malam itu Rizal membuka kontak nomer Tasia untuk menghubunginya tapi nomernya tidak tersambung-sambung terus.


"Kenapa nomernya tidak aktif?" tanyanya sendiri mulai cemas.


Karena penasaran dia kembali menghubungi Tasia tapi nomernya tetap saja tidak terhubung.


Rizal membuka-buka medsos milik Tasia dan dicari di pencarian pun juga sudah tidak ada namanya.


"Apa aku di blokir?" sahutnya. "Ah kemana dia?" gerutunya semakin gelisah.


Rizal berpikir mungkin Tasia marah dan kecewa terhadapnya karena terlalu lama tidak menghubunginya. Rizal lalu menghubungi Yogi dan ternyata Yogi pun tidak punya nomornya. Yogi menceritakan kalau Tasia sudah tidak bekerja lagi di Cafenya. Dan sampai saat ini diapun sulit untuk menghubunginya. Sudah beberapa hari itu Yogi tidak berjumpa dengan Tasia. Di rumahnya pun dia tidak ada, rumahnya kosong sama sekali tidak ada siapapun.


"Kau tidak membohongiku kan?" teriak Rizal semakin gundah tidak karuan.


"Buat apa aku berbohong? tidak ada gunanya aku berbohong padamu..!" gerutunya. "Ini semua akibat kesalahanmu sendiri..terakhir dia berpesan padaku.. kalau dia hanya akan fokus dengan masa depan anak dalam kandungannya itu sendirian.." jelas Yogi.


Mendengar penjelasan dari sahabatnya sendiri seketika itu juga hatinya Rizal jadi sakit dan rapuh lalu ponsel yang ada di genggaman tangannya itu terjatuh ke lantai bersamaan dengan lututnya yang terasa lemas untuk ditegakkan kembali.


"Hahhh...Tasia...maaf, maafkan aku yang sudah banyak menyakitimu...sekarang kamu kemana?" lirihnya menangis sesegukkan.


#


#


#


#


#


Keesokan harinya. Pagi itu Dian telah sampai di Yogyakarta dan kembali bekerja di butiknya. Karena belum sempat sarapan lalu dia memesan makanan di sebuah restorant untuk di antar ke butiknya itu di telepon.


"Hmm...saya pesan Nasi rames dan minuman juga ya mas.." sahut Dian. Lalu Dian melihat Wiwin yang di ruangannya dan menawari karyawannya itu.


"Eh Win..kamu sudah sarapan belum? mau pesan juga tidak?" tawarnya.


"Hmm...boleh Bu..kebetulan aku juga belum makan...he he.." celotehnya.


"Ya sudah...baiklah pesan nasi rames dua porsi ya mas...jangan pake lama nih ditunggu...yokk.." sahutnya.


Lalu Dian menutup kembali ponselnya lalu dia dan Wiwin kembali bekerja menata pakaian-pakaian disana, sambil menunggu pesanan itu datang.


Selang 15 menit kemudian makanan yang mereka pesan akhirnya datang.


"Permisi...pesanan datang...!" teriak seorang wanita memakai helm di luar pintu kaca butik memanggil yang punya butik.


"Eh...Win itu pesanan kita.."


"Iya Bu..."


"Silahkan bawa kesini masuk!" teriak Wiwin.


Lalu dia masuk dan menghampiri Dian yang masih memegang jarum pentul di pakaiannya.


"Ini bu...pesanannya.."


"Iya simpan saja di meja sana...jadi berapa semua?" tanya Dian masih sambil fokus ke arah pakaiannya yang di patung bajunya.


"Semuanya 50 ribu..." sahutnya.


Dian lalu mengambil dompetnya dan memberikan uang pas pada wanita itu.


"Terimakasih bu..." ucapnya.


"Sama...sa-ma..." Dian terkejut saat melihat wanita tukang antar itu walaupun memakai helm, dia tetap ingat dan mengenali wajahnya.


"Permisi bu.." Lalu wanita itu kembali keluar butiknya Dian dan mengendarai motor maticnya.


"Bukankah dia...istrinya Rizal itu?" gumamnya sendiri.


bersambung...


...***...


jangan lupa like dan komentarnya ..yaa


...🌺🌺🌺...