
...Bab 41...
...Tempat Kelahiran...
Setelah perjalanan lama selama 12 jam, akhirnya Rizal telah sampai di kota Jakarta tempat kelahirannya itu. Dia mengklakson di depan gerbang rumah megah milik Ayahnya yang seperti Istana itu. Terdengar oleh si penjaga halaman rumah, pak Mamat yang berusia kurang lebih 50 tahunan, dia yang masih setia bekerja mengabdi di rumah Ayahnya Rizal.
"Iya sebentar.." teriaknya, sambil berlari tergesa-gesa membukakan pintu pagar besinya yang besar dan tinggi itu, lalu dia melirik ke jendela mobil Rizal yang masih tertutup, Rizal lekas menurunkan jendela kaca mobilnya perlahan dan menyapanya.
"Pagi pak Mamat, ini aku Rizal, apa kabarmu pak?" sahut Rizal melemparkan senyumnya pada pak penjaga rumah itu, sebentar-bentar dia mengingat tampang wajah di mobil itu, yang sudah sangat lama sekali mereka tak bersua.
"Ri-zal?" ucapnya sambil mengingat-ngingat lagi, dengan pandangan mata yang turun ke bawah sambil menggaruk kepala, maklum karena usianya yang sudah tidak muda lagi ingatannya juga tak setajam dulu.
"Ooh..Den Rizal tooh!" baru teringat setelah sekian detik, dia tersenyum lebar membuat kumis uniknya juga ikut melebar ke samping, ekspresi wajahnya sangat lucu sekali kala itu. Rizal terkekeh-kekeh melihat tingkah pak Mamat.
Pak Mamat sangat terkejut hampir saja dia tidak mengenali Rizal, karena anak majikannya itu sudah lama sekali tidak pulang ke rumahnya yang hampir 7 tahun itu. Rizal pergi merantau ke kota orang setelah lulus SMA, dia hanya membawa sepeda motornya dahulu, dan sekarang sudah pulang kembali ke rumahnya dengan membawa mobil barunya.
Pak Mamat terkagum melihat sosok anak majikannya dulu kini berubah menjadi pria dewasa yang tampan dan mapan. Pak Mamat segera membuka lebar-lebar pintu pagarnya, dan menyilakan Rizal masuk ke dalam.
Rizal segera memasuki mobilnya ke dalam halaman rumah tempat tinggalnya dulu. Masih seperti biasa, suasana yang dingin tampak di dinding-dinding luar tembok rumahnya, 'sama sekali tidak ada kehangatan di dalamnya' batinnya dan dia hanya memandangnya dengan wajah masam.
Lalu Rizal keluar dan turun dari mobilnya, dan Pak Mamat membantu mengeluarkan koper bawaan Rizal di bagasi mobilnya, ketika Rizal hendak masuk ke dalam rumahnya.
Pembantunya, mbok Darmin yang belum selesai menyapu teras rumah juga ikut terkejut ketika melihat Rizal anak majikannya sudah ada berdiri tegak di depan teras rumah, dengan koper besar yang dia bawa.
"Ini Den Rizal benar kah?" serunya kaget dengan mulut yang menganga lebar. Masih belum percaya dengan kedatangan anak kedua majikannya itu.
"Hallo mbok, apakabar?" jawab Rizal melemparkan senyumannya.
"Waahh...Den Rizal semakin ganteng aja, sudah hampir 7 tahun ini tidak bertemu, sudah kayak artis-artis korea di TV den, wah badannya juga semakin tinggi dan gagah..." celoteh mbok Darmin sambil berkeliling memutari Rizal, bak seorang fans yang tengah mengagumi idolanya. Mbok Darmin adalah pembantu wanita yang berusia 50 tahunan itu memang sudah bekerja selama 15 tahun di rumah Rizal. Jadi dia sudah hafal betul dengan sosok Rizal dulu.
"Mbok ini bisa saja..." sipu Rizal. Lalu Rizal bertanya tentang yang lainnya.
"Ayah, ibu dan nenek mana mbok?" tanyanya.
"Tuan masih di ruang kerja, sedangkan nenek den Rizal sekarang masih di tempat tidurnya lagi ditemani Nyonya.. sudah hampir satu minggu ini Nenek den sakit-sakitan.. " keluh mbok Darmin kalut. Rizal menundukkan kepalanya ikut sedih.
"Aku segera kesana untuk melihatnya" sahutnya.
"Iya Den, mbok bilang ke Tuan dulu ya..kalau den Rizal sudah pulang" sambung pembantu rumah tangga itu.
Rizal mengiyakan mbok Darmin dan dia pun segera berjalan menuju kamar neneknya terlebih dulu, tapi langkahnya seketika itu terhenti karena di didepannya sudah ada seorang wanita paruh baya berdiri dan memanggilnya, itu tak lain adalah Tania ibunya Rizal.
"Rizal" sahutnya singkat matanya mengarah ke Rizal di depannya. "Kau kah itu?" matanya mulai berkaca-kaca menatapnya lama. Rizal terkesiap dan membalas pandangan ibunya.
"Rizal, ibu kangen padamu.." sahutnya lekas menghampiri Rizal yang masih diam berdiri dan langsung dipeluknya pemuda itu. Rizal terbungkam yang belum bisa mengucapkan sepatah katapun pada Ibunya. Setelah Rizal tahu dulu ibunya itu, selalu membedakan antara dirinya dan Raffi. Rizal dipeluk erat oleh Tania, namun Rizal masih bersikap dingin menghadapinya sama seperti dulu. Padahal sikap Tania kali ini tampak berbeda sekali dengan sikapnya dulu.
'Ada apa dengan ibu? kenapa sikapnya sekarang lembut padaku?' bertanya di hatinya sendiri.
"Ibu apa kabarmu?" tanya Rizal mulai bersuara.
Tania memegang wajah Rizal dengan kedua tangannya. "Ibu baik nak, tapi kondisi nenekmu sekarang benar-benar tidak baik.. dia masih terus berbaring di kasurnya" keluhnya gundah.
Tania menghentikan niat Rizal menemui neneknya dulu. "Iya tapi nenekmu baru saja tidur dan selesai sarapan barusan, sebaiknya kamu temui dia nanti setelah bangun lagi" cegah Tania. Rizal menghelakan nafasnya.
"Baiklah bu.. " mengikuti saran ibunya.
"Sebaiknya kamu masuk ke kamar dulu dan istirahat sebentar, habis perjalanan jauh...pasti masih lelah kan?" rujuk Tania sambil mengandeng tangan kirinya Rizal.
Tiba-tiba Ayahnya Hendra, datang menghampiri Rizal putra keduanya dengan di dorong mbok Darmin memakai kursi rodanya. Setelah Ayah dan anak itu saling pandang lama lalu Ayahnya hendak bangkit dari kursinya itu perlahan.
"Ka-kau sudah pulang Rizal? syukurlah" ujarnya terbata-bata.
"Ayah..bagaimana kabarmu?" langsung membantu Ayahnya berdiri dan memeluknya. Ayahnya menepuk-nepuk punggung Rizal.
"Yah..kau lihat sendiri, masih seperti biasa.." jawab Ayahnya berkaca-kaca, jadi terharu bahagia dengan kepulangan putra keduanya.
#
#
#
Malam hari mereka bertiga berkumpul di meja makan. Hendra mulai menceritakan perihal perusahaannya yang sekarang mulai menurun drastis setelah di kelola Raffi. Hendra dan Tania mulai menyesali tindakan mereka dahulu, yang sudah banyak menyinggung Rizal. Raffi tidak amanah dalam pekerjaannya.
Setahun setelah perusahaan Hendra di serahkan sepenuhnya kepada Raffi, Raffi berencana melamar kekasihnya tapi kekasihnya Raffi malah berkhianat dan berselingkuh yang membuat Raffi jadi gila. Wanita itu selain berselingkuh dia juga sudah memanfaatkan Raffi agar menguras dan menghabiskan banyak uang perusahaan, habis semua di foya-foyakannya. Sudah ketahuan bersalah dan berselingkuh sekarang wanita itu malah kabur ke luar negri.
Sementara Raffi sendiri jarang sekali pulang ke rumah setelah kejadian dikhianati kekasihnya sendiri. Terkadang kalau dia pulang bisa sampai larut dan sambil mabuk-mabukkan. Hendra dan Tania sangat prihatin dengan sikap Raffi akhir-akhir ini, yang membuat nenek mereka pun jadi sakit-sakitan. Wajar saja karena nenek merasa kalau cucu yang paling di sayangnya hanyalah Raffi.
Selain itu Hendra dan Tania juga sudah mengetahui bahwa Rizal telah mendirikan sebuah Cafe di kota Yogyakarta, karena diberitahu oleh Mira, tantenya. Dan sekarang Cafe mewah Rizal semakin berkembang pesat dan mulai terkenal di kota sana. Rizal terkejut dan tidak menyadarinya bahwa Tante Mira ternyata diam-diam pernah menguntitnya di Yogyakarta. Tetapi Hendra memberi alasan lain padanya bahwa tante Mira ke Yogyakarta hanya untuk menemui putri tirinya saja.
'Pantas saja ibu bersikap baik padaku, ternyata ini alasannya, mereka sudah mengetahui sejak awal kalau aku sudah membuka usaha di sana' pikirnya
#
#
#
Di kamarnya Rizal, masih sama seperti yang dulu. Kamar yang masih bercat hijau tosca, dan poster pemain sepakbola dunia yang sudah terkenal itu masih setia terpampang di dinding kamarnya, di meja belajarnya mainan kesayangannya pun juga masih tersimpan rapi tak kalah setianya dengan poster pemain bola.
Setelah makan malam selesai dia menidurkan sejenak pikirannya, dia jadi teringat dan lupa bahwa dia belum menghubungi Tasia. Tapi ini sudah pukul 23.00 malam, mungkin kekasihnya sudah tertidur pulas. Dia hanya meninggalkan pesan whatsapp dan mengucapkan selamat tidur padanya. Tunggu besok untuk menghubunginya lagi.
bersambung...
...***...
Jangan lupa like dan komentarnya ya...
...🌺🌺🌺...