Sweet Cake Memories

Sweet Cake Memories
Ku Tahu Siapa Diriku?



...Bab 62...


...Ku Tahu Siapa Diriku?...


Tasia berjalan menuju ruang tamu setelah selesai mengobrol dengan Tania dan Neneknya Rizal, dia bermaksud ingin ke kamarnya yang berada di belakang sebelah ruang tamu. Namun seketika itu Tasia tidak sengaja mendengar pembicaraan seorang wanita yang sedang menelepon disana. Dia berdiri dekat pintu depan, sementara posisi Tasia ada di bawah dekat loteng yang menuju kamarnya Rizal.


"Kau jangan khawatirkan masalah itu, aku yakin sekali setelah Rizal tahu ini semua..dia pasti akan memutuskan mana yang terbaik, dan dia akan segera menikahimu.." sahutnya.


Mendengar menyebut nama Rizal, dia jadi terkejut dan kepalanya tidak sengaja membentur hiasan rumah di rak dinding atas. Sehingga hiasan-hiasan kayu itu berjatuhan ke lantai.


"Aduh" rintihnya pelan, sambil mengelus-ngelus atas kepalanya.


Terdengar suara menggaduh, wanita itu segera menyelesaikan pembicaraannya di telepon.


"Ya sudah nanti kita lanjutkan lagi obrolannya. Sekarang Tante harus pulang dulu.." sahutnya, segera menekan tombol untuk menyelesaikan panggilannya.


"Siapa disana?" teriaknya lalu dia segera berjalan menghampiri arah suara tadi, dan dia sudah melihat Tasia ada disana sambil memunguti hiasan dinding yang berjatuhan olehnya lalu menyimpannya kembali rapi di rak mini yang tergantung di samping dinding.


"Siapa kamu?" tanyanya kaget.


Tasia tergugup dan langsung memberi salam pada wanita itu.


"Emm...Selamat siang Tante, saya Tasia.." ucapnya kikuk.


Mira melihat ke arahnya dan langsung teringat akan namanya.


"Tasia, kau...bukankah kau pacarnya Rizal?" mengingat nama Tasia yang selalu di ceritakan Lia terus padanya.


Tasia memanggutkan kepalanya. Mata Mira mengarah ke Tasia dilanjut senyuman tipis.


"Kau barusan sudah mendengar pembicaraanku di telepon?" terkanya.


Tasia menggelengkan kepalanya. "Emm..maaf Tante, a-aku tidak sengaja mendengarnya" terus terang.


"Baguslah jika kau sudah mendengarnya.. Ini berarti kesempatanku untuk berbicara kepadamu. ikutlah denganku" ajaknya tiba-tiba.


Lalu Tasia di bawa ke kamar Mira dulu sewaktu dirinya masih belum menikah.


Mira menyuruh Tasia untuk duduk di kursinya. Lalu menunjukkan poto dirinya dan kedua temannya ke Tasia.


Tasia masih bingung, dengan apa yang ingin Tante Mira sampaikan padanya.


"Ini..potonya Tante?" tanya Tasia.


"Iya...itu adalah poto Tante waktu masih remaja, bersama kedua sahabat Tante." singkatnya.


"Dan kedua sahabat Tante itu adalah ibunya Rizal dan juga Lia!" ungkapnya lagi.


Mendengarnya, hati Tasia perlahan berdesir merautkan kekhawatiran di wajah manisnya. Ada kecurigaan yang mulai mempengaruhi dirinya.


Tak lama kemudian Mira mulai mengungkapkan semua kejadian demi kejadian kepada Tasia dan sekarang akhirnya dia tahu semuanya. Dibalik kenapa Rizal dan Lia harus segera di nikahkan oleh kedua orangtuanya itu, dan hal yang paling disayangkan Tasia adalah bahwa ternyata Tania bukanlah ibu kandungnya Rizal yang sebenarnya.


#######


(Setelah selesai perbincangan dengan Mira)


Tasia berjalan memasuki kamarnya dengan tubuh yang lemas seperti kehilangan tenaga. Kakinya mengarah pada kasur empuk di depannya, lalu dia duduk perlahan di tepian kasur dan mulai meremas seprei kasur itu dengan telapak tangannya. Air bening mulai bergulir di pelupuk matanya. Lalu berlinangan dan membasahi kedua pipinya.


Perkataan itu masih terngiang di telinganya.


"Aku sarankan kamu, lebih baik hubunganmu dan Rizal segera di akhiri."


Pesan terakhir Mira kepadanya tadi, sangat jelas mengguncang hati Tasia. Tasia dibebankan pilihan yang sulit dia atasi sendiri. Mencintai dan memilih Rizal adalah hal yang mustahil bagi dirinya.


'Aku sudah tahu bahwa ini pasti akan terjadi padaku setelah aku tahu kamu siapa...Rizal, maafkan aku...aku tidak bisa mempertahankan cinta kita lagi...aku takut nanti akan bernasib buruk seperti Ibuku sendiri, jika kita memaksakan harus menikah...bagaimana ke depannya kita nanti? aku tahu siapa diriku...aku tahu, kita takkan mungkin bisa bersatu karena adanya dinding pembatas menghalangi kita, kau akan tetap berjodoh dengan Lia, dia yang lebih sejajar dengan dirimu..." lirihnya terisak-isak, lalu tangannya mengusap-ngusapkan air matanya yang terus mengalir dan dia mulai membaringkan diri di tempat tidurnya, mencoba untuk menenangkan hatinya dengan tiduran.


Waktu menjelang malam, hari menunjukkan pukul 17.00 petang. Rizal baru pulang, dan telah sampai rumahnya. Dia bergegas lari dengan sudah ada bunga yang ada di tangan kanannya, lalu dia langsung memasuki kamarnya Tasia yang tidak terkunci.


Rizal bermaksud ingin mengejutkan dia dengan membawa sebuket bunga Lili yang cantik untuknya. Tapi, Rizal mendapati Tasia yang masih tertidur pulas di ranjangnya. Di dekatinya perlahan gadis pujaan hatinya itu. Matanya terus menelitik wajah cantik gadis yang ada di depannya, tangan kuatnya mulai membelai manja pipi lembut dan putih kekasihnya, lalu dia terkejut saat melihat ada garis sembab di bagian bawah matanya.


Tasia terkejut dan langsung terbangun karena ada rasa geli yang menjalar di wajahnya. Matanya di bukanya perlahan, dan Rizal sudah ada dekat di depan matanya.


"Kapan kau ada disini?" tanyanya.


"Barusan...Kenapa matamu bengkak? apa kau habis menangis?"


"Tidak kok...aku cuma kangen Ibu.." sangkalnya.


"Sabar yaa...setelah Ayahku putuskan kita boleh menikah, kita baru pulang ke Yogyakarta lagi dan aku akan menikahimu disana!" ujarnya, Tasia mengerutkan dahinya kencang dan bibirnya juga ditutup rapat-rapatnya.


"Kenapa, wajahmu seperti tidak senang?" tanya Rizal heran. Lalu dia menyodorkan bunga Lili ke Tasia.


"Ini untukmu...tersenyumlah" rayunya. Tasia tersentuh saat melihat bunga itu, lalu di peluknya erat-erat pria itu, dengan cara mengalungkan tangan di lehernya. dan tiba-tiba saja dia menangis di pundaknya itu.


"Hei...kau kangen ibumu sampai menangis seperti ini" di balasnya pelukan Tasia dengan senang hati.


"Rizal...jika aku katakan yang sejujurnya apa kamu mau mematuhi keinginanku?" ujarnya memberanikan diri.


"Katakanlah...jika itu memang membuatmu tenang..."


"Rizal..aku bukan menangis karena ibu.." Rizal mengernyit.


"Lalu, kau menangis karena apa?"


"Tadi...Tante Mira menyampaikan sesuatu hal penting padaku, dan ini semua mengenai keluargamu..aku tidak mau menjadi perusak hubungan keluarga kalian."


"Apa maksud perkataanmu, siapa yang kau sebut perusak?"


"Kau sudah di takdirkan hidup bersama Lia...aku tidak mau menjadi penghalang di antara kalian berdua.." ungkapnya.


Rizal langsung melepas pelukan Tasia dan meraih bahunya Tasia untuk menghadap ke arahnya.


"Apa maksud perkataanmu itu?"


Tasia memalingkan wajahnya ke samping bawah Rizal, bibirnya bergetar dan nafasnya terputus-putus karena tekanan hatinya.


"Aku tidak bisa meneruskan hubungan kita ini...Ayah dan Tantemu itu tidak akan pernah menerimaku walaupun sekuatnya kita berusaha, karena kau dan Lia memang sudah di takdirkan bersama sebelum kalian terlahir ke dunia ini..."


Rizal menatap tajam ke arah mata Tasia. Antara percaya atau tidak dengan apa yang di ucapkannya padanya.


"Siapa yang mengatakan itu? siapa yang menyampaikan itu kepadamu?" bentaknya. "Aku tahu Tante Mira hanya mengakal-ngakali keadaan supaya aku tidak jadi menikahimu saja.." Lalu dengan cepat dia beranjak berdiri, dipenuhi emosi yang meledak-ledak, dan hendak keluar dari kamar Tasia.


Tapi dengan cekatan di tahannya tangan Rizal oleh Tasia supaya jangan sampai dia bertengkar dengan keluarganya gara-gara dirinya.


"Kamu mau kemana? jangan begitu..aku tidak mau kamu bertengkar dengan keluargamu gara-gara aku?" sahut Tasia mencegah Rizal pergi.


"Tapi ini harus segera di selesaikan Tasia...aku tidak mau kalau mereka terus-terusan mempersulit hubungan kita!" kesalnya.


Tasia lagi-lagi mengeluarkan air di matanya dengan nafasnya yang sedikit sesak sehingga mulutnya sedikit terbuka, karena isakan tangisnya.


Rizal ikut menahan kesedihan, dan merana menatapinya. Tanpa ijin dahulu, dengan cepat tangannya meraih dan mendekap wajah Tasia ke arahnya lalu di ciuminya bibir yang basah itu dan seluruh wajah Tasia yang sudah di penuhi oleh air mata.


Tasia tercengang dan mecoba melepaskan ciumannya itu namun Rizal sama sekali tidak mau melepas ciumannya walaupun Tasia berusaha mendorong pautannya dan mencoba memalingkan wajahnya ke samping.


"Hentikan..Rizal" ucapnya lirih.


Tapi Rizal tak mendengarnya dia terus saja menciumi Tasia tanpa jeda. Yang membuat Tasia berdegup kencang hingga tubuhnya jatuh terdorong sampai ke ranjangnya.


Rizal juga ikut tertelungkup di atas tubuh Tasia, dan tetap melanjutkan ciumannya dan menikmatinya sampai benar-benar dirinya merasa puas. Tasia memejamkan matanya rapat-rapat, tak membalas apa yang dilakukan Rizal terhadapnya. Air matanya terus bergulir keluar, dia sebenarnya menikmati ciuman mesra Rizal juga padanya namun hatinya merasa mengambang di tengah-tengah lautan, dia tak bisa keluar dari dalam air yang telah menghanyutkannya namun dia juga akan mati jika masuk tenggelam ke dalamnya.


Hubungannya bersama Rizal hanya seperti partamorgana baginya, yang menghanyutkan cintanya tapi tidak akan nyata dalam hidupnya.


Setelah lama mereka melekatkan dan memainkan kedua bibirnya bersamaan, Rizal berucap pelan di telinganya Tasia, hembusan nafasnya begitu hangat menjalar ke seluruh wajah dan tubuhnya. Tangan Rizal membelai lembut wajah kekasihnya itu.


"Dengarkan aku baik-baik aku akan tetap mempertahankanmu walaupun mereka menentangku., karena sekali aku mencintai seseorang... aku takkan pernah melepaskannya" bisiknya pelan tapi jelas, dan kedua mata mereka akhirnya saling memandang lekat penuh makna.


"Tasia...hanya dirimulah yang aku cintai..." ucapnya lagi.


bersambung...


...***...



Jangan lupa like dan komentarnya...yaa...


...🌺🌺🌺...