Sweet Cake Memories

Sweet Cake Memories
Pencarian Seorang Juru Masak 3



...Bab 8...


...Pencarian seorang juru masak 3...


"Apa kau tidak tahu dengan perbuatanmu ini?!" sahut Rizal, sedikit marah.


"Ini hanya akan mencelakai dirimu sendiri saja, coba saja kalau tadi tak ada yang menolongmu? nyawamu mungkin sudah tak tertolong. Bolehlah kalau kau ingin berniat baik menolong ibu tadi, tapi caramu salah dan kau itu cuma seorang perempuan. Sekuat apapun kekuatan perempuan tetap akan kalah menghadapi kekuatan lelaki" tegur Rizal menceramahi Tasia.


Tasia menunduk dan terdiam saja mendengar nasehatnya Rizal.


"Ayo kita segera kembali, lupakan saja..yang penting kamu tidak apa-apa kan?" tanya Yogi.


Tasia menggelengkan-gelengkan kepalanya memberitahu kan bahwa dia baik-baik saja.


"Sebaiknya sembuhkan dulu lukamu, nanti kita bicarakan kembali!" ujarnya Yogi lagi, dia tidak tega melihat gadis manis dengan wajah penuh luka itu.


Lalu dia berjalan duluan sambil membawa tas milik ibu tadi.


Setelah sampai di puskemas terdekat, Tasia di obati lukanya oleh perawat disana.


Rizal dan Yogi menunggu di ruang tunggu. Setelah selesai Tasia keluar dari kamar periksa lalu menghampiri mereka. Entah apa yang dipikirkan Tasia, setelah mendengar kekhawatiran dari ucapan Rizal tadi, seakan dia merasa seperti ada yang memperhatikannya kembali, setelah sekian lama dia tak pernah merasakan perhatian dari Ayahnya itu.


Tasia jadi teringat masa kecilnya yang selalu ceroboh, entah dia bermain kebut-kebutan sepeda dengan teman-temannya hingga terjatuh, ataupun berantem dengan teman sekelas gara-gara dia membela temannya yang cupu. Demi belain temannya itu Tasia juga sempat terluka karna berantem dengan anak lelaki.


Dan setiap kali ayahnya harus dipanggil ke sekolah karna ulahnya.


Tapi ayahnya tak pernah membenci sikapnya Tasia, namun dia begitu peduli. Seperti apa yang dikatakan Rizal waktu tadi, ucapannya itu telah mengingatkannya kembali kepada sosok Ayah yang bijaksana di hatinya.


"Sudah selesai?"tanya Rizal lekas berdiri dari duduknya, setelah melihat Tasia keluar dari kamar periksa. Dia menganggukkan kepalanya.


"Sini kan resep obatnya! biar aku yang ke apotek mengambilkannya" pintanya tiba-tiba, mengambil kertas resep di tangan Tasia.


"Ee..ehh tidak perlu, biar nanti aku ambil sendiri saja!" sahut Tasia. Tapi Rizal tidak mendengar perkataannya, dia terus berjalan menuju apotek dan membayar tagihannya.


"Biarkan dia yang urus saja! tenang saja, dia orangnya memang begitu suka membantu teman-temannya.." gumam Yogi tiba-tiba menghentikan Tasia untuk mengejarnya.


"Tapi aku kan bukan teman kalian?!" cebik Tasia ketus.


"Yaa., tapi sekarang kita sudah berteman bukan? semenjak kau kesulitan tadi pagi! terang Yogi tersenyum manis pada Tasia.


"Dan seterusnya nanti kita juga akan berteman baik!" lanjutnya lagi.


"Apa maksudmu?" Tasia masih bingung dengan perkataannya Yogi.


"Ahh sudahlah, nanti kita bicarakan lagi setelah pergi dari Puskesmas ini!" sahut Yogi melirik ke arah Tasia lagi.


"Oh ya dari tadi... kita belum sempat berkenalan, namamu Tasia adiknya Maya bukan? aku Yogi salam kenal, aku teman kuliah juga teman kerjanya Rizal" jelas Yogi memperkenalkan dirinya, dengan mengulurkan tangannya yang berotot itu ke gadis itu untuk berjabat tangan.


Tak lama Tasia pun membalas jabatan tangannya.


"Kamu cantik, kalau lagi tersenyum!" goda Yogi tiba-tiba. Lalu ekspresi Tasia jadi berubah memerah, nyaris dia tersanjung dengan ucapan Yogi padanya.


"Apa?" Tasia langsung melepas cepat tangannya yang di pegang erat Yogi. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tidak suka dengan tuturan kata pria di depannya itu.


"He he..." Yogi hanya terkekeh kecil menatap gadis imut di depannya itu.


Di kejauhan Rizal sedari tadi memperhatikan mereka, setelah dia selesai membawa obat lukanya Tasia.


"Kenapa sikapnya padaku waktu itu sungguh berbeda dengan sikapnya pada Yogi. Dia bahkan mau membalas jabat tangan Yogi, tapi tidak padaku?" gumamnya pelan.


"Ehm! (berdehem) ini obat lukamu!" sahut Rizal tiba-tiba muncul mengagetkan perbincangan mereka berdua, sambil menyerahkan kantong plastik berisi obat itu.


"Terimakasih banyak.." ucap Tasia ke Rizal.


"Ya sama-sama..ayo kita pergi dari sini!" lanjutnya.


Mereka bertiga pun keluar Puskesmas bersamaan. Saat hendak melewati pintu keluar, penglihatan matanya Tasia tiba-tiba terasa berkunang-kunang dan mulai berputar, sehingga jalannya pun tak seimbang. Yogi refleks menahan tubuhnya yang lemas seperti mau terjatuh.


"Hei kenapa?!" tanya Yogi khawatir.


"Kepalaku agak pusing, seharian ini aku lupa belum sempat makan nasi. Maaf merepotkan kalian lagi, aku harus pulang..!" jelas Tasia lemas.


"Apa? kamu dari tadi belum sarapan? kenapa mesti pulang dulu. Ayo kita pergi makan ke tempat itu.." sahut Rizal menunjuk ke arah Rumah Makan yang ada di seberang jalan.


"Iya boleh tuh, sepertinya di sana masakannya enak-enak" ujar Yogi mengiyakan.


"Tidak usah..kalian terlalu baik kepadaku, lebih baik aku pulang duluan saja..aku mau makan dirumahku.." ujar Tasia menolak ajakan mereka.


"Tasia, ada hal yang ingin kami bicarakan denganmu. Setelah kita makan bersama dan mengobrol sebentar, mungkin kamu bisa mempertimbangkan tawaran kami!" jelas Rizal tiba-tiba.


"Ikutlah dengan kami, hanya sebentar kok!" sahut Yogi menambahkan.


Tasia menelan air ludahnya, yang tidak bisa menolak permintaan mereka, dan akhirnya Tasia pun ikuti kemauan mereka berdua.


"Baiklah..." jawab Tasia.


"Nah begitu dong.." gumam Yogi sumringah.


bersambung...


...***...


Jangan Lupa tinggalkan Like dan Komentnya...


...🌺🌺🌺...