
...Bab 91...
...Kehilanganmu...
Pagi itu Nadia pulang kembali ke Riau dan akan mengabari keluarganya soal pernikahan mereka. Setelah memutuskan akan menikah dengan Raffi dia berhenti bekerja di Toserba karena biaya hidup Nadia dan keluarganya akan di tanggung sepenuhnya oleh Raffi
"Hati-hati di jalan ya...salam untuk keluargamu di Riau...kita akan bertemu lagi di hari pernikahan kita..." sahut Raffi.
"Iya..."
"Aku sudah tidak sabar menunggu hari itu...setelah sampai rumah segera kau hubungi aku...terus.."
"Cup.."
Belum selesai bicara Nadia dengan cepat mengecup pipi Raffi agar dia tidak banyak bicara lagi. Raffi sontak terkejut dengan kecupannya yang tiba-tiba itu.
"Iya jelas..dasar kamu cerewet...sudah ya..nanti pesawatnya keburu berangkat!" celotehnya.
Lalu Nadia menarik kopernya dan melambaikan tangannya ke Raffi.
Raffi membalas lambaiannya dan tersenyum padanya.
"Aku akan merindukanmu...Daaaaah" teriak Raffi menyeru ke Nadia yang akan masuk ke Lapangan Bandara.
Nadia tersenyum lebar kepadanya.
Rizal sudah bersiap dengan barang bawaannya untuk berangkat ke Yogyakarta pagi itu. Tapi sebelumnya dia ingin berpamitan kepada keluarganya serta meminta ijin Ayahnya dulu untuk kembali bekerja di sana.
"Ayah, Ibu...aku pamit pulang ke Yogyakarta..aku mau minta ijin untuk bekerja di Cafe ku lagi..Semenjak aku mengucap kata cerai padanya, dia sudah tidak bekerja lagi di Cafe.."
"Pergilah sayang...pergilah..cepat cari kembali istrimu..dan segera meminta maaf padanya.." seru Tania sambil merapikan pakaian Rizal yang terlihat kusut itu.
"Iya...kau tak perlu khawatir dengan pekerjaan disini, urusan perusahaan akan Ayah serahkan lagi pada kakakmu Raffi nanti.." jelas Hendra.
Dan tiba-tiba saja muncul Raffi yang baru saja pulang mengantar Nadia.
"Ada apa ini?" tanyanya terheran-heran semua sudah berkumpul di ruang tamu sedang membicarakan hal yang serius.
"Nah kebetulan sekali kau sudah pulang.. Raffi... bersiaplah.. sekarang kau harus kembali bekerja di perusahaan Ayah lagi.." pinta Ayahnya.
"What?" Raffi terkejut seketika itu gugup, dia langsung mengusap rambut kepalanya pelan.
"Iya sayang., Rizal harus kembali ke Yogyakarta sekarang dan bekerja kembali di Cafenya.." terang Tania menjelaskan.
"Ta-tapi aku belum siap? aku sudah terlalu lama menganggur..." sahutnya gelagapan.
"Mau tidak mau kau harus siap...dan cepat ganti pakaianmu dengan pakaian kerjamu!" gertak Hendra.
Rizal tertawa meringis melihat kakaknya, dia ikut senang akhirnya Raffi bisa kembali ke perusahaan milik Ayahnya Hendra.
"Sudah waktunya kakak kembali ke tempat seharusnya...perusahaan itu sangat cocok untuk kakak..kau sudah berusaha keras.." gumam Rizal sambil meninju pelan ke arah dadanya Raffi.
Raffi tersenyum bangga terhadap Rizal.
"Yah...terimakasih adikku..kau juga sudah banyak membantuku" Raffi memeluk adiknya sayang. Mereka saling berpelukan erat.
"Ayah...ibu...dan Kak Raffi..Aku meminta doa dan dukungan dari kalian!"
"Apa kau tidak meminta dukungan pada Nenek?" pekik Neneknya yang baru saja muncul terakhir di dorong mbok Darmin menuju ruang tamu.
Semua menoleh ke arah Nenek dan menertawainya karena gemas dengan tingkahnya.
"Ah Nenek..tentu saja, Rizal juga akan meminta dukungan darimu..." lekas Rizal memeluk neneknya itu sayang.
"Cepat...bawa kembali cucu menantu nenek..Nenek kangen... sekali dengan Tasia..." gumamnya menangis sedih.
"Iya Nek..doakan Rizal...ya.. agar Tasia mau balik lagi sama Rizal.."
"Iya ..iya...pergilah cucuku sayang..." mengelus-ngelus belakang punggung Rizal pelan.
Tasia baru saja pulang mengantar pesanan pagi itu Dia kembali mengendarai motornya dan di jalan dia melihat ke arah tukang bubur kacang yang sedang mangkal di sana.
"Hmm...sepertinya bubur kacang itu enak sekali.." gumamnya sampai ngiler melihat abang tukang bubur yang sedang menyiduk buburnya ke dalam mangkuk pesanan pelanggannya.
Lalu Tasia lekas turun memarkirkan motornya di samping jalan. Dia membeli bubur satu mangkuk, lalu dia menunggu pesanannya sambil duduk di kursi sana. Dia melirik seorang wanita di sampingnya yang sedang memakan bubur itu dengan lahapnya. Ternyata dia juga tengah hamil, terlihat dari perutnya yang sudah besar.
"Sayang...gimana buburnya enak?" tanya suaminya yang duduk di samping kirinya, Wanita itu memanggut senang.
"Iya.." sahutnya puas sampai memakan habis bubur itu.
"Sekarang kamu mau apa lagi...nanti aku belikan lagi.." tanya suaminya itu perhatian.
"Benarkah..aku ingin sekali makan rujak, nanti kau belikan yang ada di dekat pasar terminal yaa.."pinta istrinya cekatan.
"Oke..demi kamu dan anak kita, selagi bisa aku mencari uang akan kubelikan apapun juga untukmu..." gombal suaminya namun penuh perhatian dan kasih sayang.
Wanita itu tersenyum bahagia dan manja lalu mengecup pipi suaminya sayang.
"Ooh...my babe..thanks you.." girangnya.
Tasia menundukkan pandangannya ke arah meja. Dia menatap nanar ke arah mangkuk buburnya yang sudah di taruh abangnya di meja, mendengar percakapan mereka membuat hatinya terhenyak seketika itu juga, di dalam benaknya kini kembali teringat pada mantan suaminya tersebut.
Disaat-saat dia sedang mengandung dan membutuhkan seorang suami di sampingnya, tapi dia harus bekerja mencari penghasilan itu sendirian. Boro-boro di manja oleh suami sendiri dia malah harus berjuang mencari makan untuk dirinya dan ibunya.
Sekarang Tasia tidak punya tempat tinggal lagi, dia harus tinggal di sebuah kontrakkan kecil di sebuah desa terpencil bersama Ibunya karena rumah peninggalan Kakek-Neneknya harus terpaksa di jual karena perintah dari kakak tertua dari ibunya Tasia.
Maya belum tahu hal itu, Irna sudah tidak di pekerjakan lagi oleh Tasia. Karena tidak bisa memberinya lagi gajih. Sementara Tasia tahu kalau Maya sudah punya Hani yang lebih membutuhkan banyak biaya. Maya pun juga tidak tahu kalau Tasia sebenarnya sudah berpisah dari Rizal.
Setelah sampai di Yogyakarta, Rizal langsung mengendarai mobilnya pergi ke rumah Tasia. Dan ternyata apa yang di katakan Yogi memang benar. Rumah Tasia sudah kosong namun ada selembaran kertas tertempel di pagar rumahnya. Rizal meraba pagar rumah Tasia dengan perasaan hampa dan sedih.
"Dijual?!" sahutnya merana. Terlihat di bawah tulisannya ada tertera no yang harus di hubungi.
Tanpa basa-basi lagi Rizal segera merogoh ponselnya di saku celananya dan menghubungi nomor tersebut.
Namun yang mengangkat teleponnya adalah oranglain. Dan itu dari saudara Sulastri. Kakak tertua dari ibunya itu menjelaskan panjang lebar pada Rizal soal penjualan tanah dan rumah tersebut.
Lalu Rizal bertanya sekarang Tasia dan ibunya tinggal dimana? tapi diapun juga tidak tahu mereka tinggal dimana. Rizal sempat putus asa dengan pencarian itu. Setelah dia lama mencarinya.
Dengan cepat dia meminta bantuan Yogi dan Revan untuk mencari tempat tinggal Tasia selanjutnya, setelah menghubungi kedua temannya lalu mereka berpencar mencari dan bertanya pada tetangga-tetangga Tasia dikampung sana.
Dan untungnya salah satu tetangga disana ada yang pernah mengetahuinya.
"Em..saya tidak tahu pasti dimana tempatnya mas..tapi waktu itu Ibu Sulastri pernah mengatakan akan tinggal di sebuah kontrakan di desa sebelah sana..katanya ada kontrakan yang lebih murah..coba mas cari disana siapa tahu ketemu!" sahut ibu-ibu yang berada di komplek itu.
"Terimakasih banyak bu atas informasinya.." sahut Rizal ada sedikit harapan.
"Ayo kita cari lagi teman-teman..." ajak Rizal kepada Yogi dan Revan yang juga sudah membuntuti Rizal dari tadi.
"Haah...semoga kak Tasia ada di desa sebelah seperti yang di katakan ibu itu barusan.." gumam Revan yang sudah siap duduk di belakang mobil Rizal.
"Ya..tentu saja kita mengharapkan itu semua..sekarang kita benar-benar kehilangan dia..keadaan Cafe tiba-tiba menurun drastis semenjak dia keluar bekerja..." lirih Yogi pelan dengan masih menatap kesal pada Rizal.
Rizal menghembuskan nafasnya panjang dan meneteskan lagi air matanya.
"Ya..ini semua salahku...aku terlalu mudah mengucapkan itu padanya.." sesalnya lagi, lalu melanjutkan menyetir mobilnya.
Lalu mereka kembali melakukan pencariannya itu. Hampir satu jam mereka berputar-putar di desa itu tapi tak jua menemukan rumah kontrakan Tasia. Semua kontrakan di desa itu sudah penuh dan tidak ada orang baru di sana.
Tasia menghentikan sejenak motornya di lalu lintas jalan menunggu lampu berwarna hijau kembali.
Dan di sampingnya mobil Rizal juga sama-sama berhenti di samping kiri Tasia, tiba-tiba mereka saling berpapasan di jalan tetapi sayang.. keduanya tidak menyadarinya akan hal itu.
Setelah beberapa menit lampu merah berganti hijau. Tasia lalu menjalankan kembali motornya dan membelokkannya ke arah kanan. Dan Rizal menjalankan mobilnya lurus ke depan perempatan jalan.
bersambung...
...***...
Jangan lupa like dan komentarnya yaa...
...🌺🌺🌺...