
Bab 50
Kecemburuanmu Membutakan Hatimu
Tasia baru saja sampai Cafe pagi itu, lalu berjalan masuk ke ruang kerjanya. Tapi langkahnya tiba-tiba terhenti ketika seseorang berteriak memanggil namanya.
"Bu Tasia...." teriak seorang mbak cleaning service memanggilnya. Dia berlari tergopoh-gopoh mengarah ke Tasia, dengan membawa seikat bunga mawar merah yang ada di tangannya itu.
"Ini bu, barusan ada seorang pria menitipkan ini pada saya buat ibu" lalu menyodorkan bunga itu ke Tasia.
"Dari siapa ya?" Tasia bertanya-tanya heran.
"Tidak tahu bu, saya belum sempat tanya soalnya tadi orangnya terburu-buru sekali, dia langsung menaiki motornya lagi" jawabnya.
Tasia melihat-lihat di sisi-sisi bunga itu dan dia menemukan secarik kertas di dalamnya, lalu dibacanya. Matanya terbelalak terkejut, ternyata bunga itu dari Adrian yang tertuliskan.
"Selamat pagi untuk kamu yang selalu terlihat cantik..."
^^^ADRIAN^^^
"Adrian? sudah yang ke tiga kalinya, kenapa dia akhir-akhir ini selalu memberiku bunga..? pertama kali di taman kota, terus di pasar dan sekarang dia berani memberikan bunga ini di tempat kerjaku" riuhnya, sedikit berdegup dengan kata-kata manisnya yang disampaikannya.
"Untung saja Rizal masih di Jakarta coba kalau disini, aku yakin dia pasti akan cemburu" cemasnya sendiri.
Dibukanya pintu ruangannya itu, lalu masuk dengan membawa bunga dari Adrian dan menyimpannya di meja kerjanya.
"Untuk menghargainya, nanti akan aku berikan lagi bunga pemberiannya ini pada Irna, hmm..." gumamnya tersenyum santai, seraya menaikan kedua alisnya serta bahunya ke atas bersamaan.
Tanpa berpikir banyak lagi tentang Adrian, dirinya lekas mengambil buku kerja dan bolpointnya untuk mencatat sesuatu yang lebih penting baginya.
###
Motor berwarna merah hitam baru saja melewati depan gerbang Cafe, dan berpapasan dengan taksi yang sedang Rizal naiki. Sekilas dari jauh Rizal melihat wajah dan postur tubuh si pemilik motor yang lewat barusan. Sebelum dia memakai helmnya itu, nampak dikenalinya.
"Sepertinya aku pernah melihatnya?" gumamnya sambil menelitik lagi lewat jendela mobil taksi.
Rizal baru saja sampai Yogyakarta subuh tadi. setelah sampai bandara dia langsung pesan taksi dan menuju ke Cafenya. Sedangkan Raffi tidak ikut dia langsung pergi mencari hotel untuk istirahat, bersama dua pengawalnya.
Hari itu Rizal pulang ke Yogyakarta diam-diam tidak memberi kabar Tasia maupun teman-temannya. Dia hanya ingin memberi kejutan, sekaligus ingin menyelidiki kebenarannya atau tidaknya Tasia berselingkuh di belakangnya, seperti yang dikatakan Lia kemarin.
Jantung Rizal berdegup kencang tak karuan, dia sebenarnya sudah tak sabar ingin sekali berjumpa dengan kekasihnya itu karena rindu, tapi tiba-tiba saja kerinduan itu musnah diganti dengan rasa kekecewaan yang mendalam, dirinya masih belum percaya dengan poto kemesraan Tasia dan Adrian.
Taksi berhenti di depan gerbang, dan setelah Rizal membayar ongkos tarifnya, dia keluar dari mobil cepat-cepat.
Semua cleaning dan karyawan yang melihat Rizal duluan terkejut karena bos pemilik Cafenya sudah pulang ke Yogyakarta. Mereka satu-persatu menghampiri Rizal dan menyapanya.
" Pak Rizal, bapak sudah pulang? biar saya panggil pak Yogi dan yang lainnya." sahut salah satu karyawannya.
"Tidak perlu...aku langsung ke ruangan bu Tasia saja, apa dia ada di dalam?" tanyanya.
"Iya pak, bu Tasia ada" jawabnya.
Rizal langsung berjalan menuju ruang kerja Tasia, setelah di depan pintunya dia mengetuk-ngetuknya tanpa memanggilnya.
tok tok tok
Tasia yang masih asyik berkutat dengan bolpointnya untuk menulis resep barunya itu, jadi terganggu dengan suara pintu yang di ketuk kencang.
"Siapa? masuk saja.." teriaknya.
Tapi Rizal tidak menanggapinya dia sengaja mengetuk pintunya lagi, yang membuat Tasia semakin jengkel dibuatnya.
"Aduuuh ni siapa sih? nyusahin orang saja..disuruh masuk kok masih saja ngetuk pintu!" dumelan Tasia geregetan, sambil beranjak berdiri dari kursinya lalu segera membuka pintunya.
krrreeeeeettt...
"Siapa ya...y?" sahut Tasia saat membuka pintu tapi saat melihat siapa orangnya, bicaranya jadi terputus dan lemas. "Hah Ri-Rizal?" matanya terbelalak kaget. Wajahnya jadi pucat pasi seakan sedang melihat hantu saja, tanpa ba bi bu dia cepat-cepat menutup pintunya lagi.
Braaak
Tasia menyenderkan punggungnya di pintu, jantungnya berdegup kencang seperti mau copot.
"Ke-kenapa kamu tidak bilang-bilang dulu kalau mau pulang ke Yogyakarta?" teriak Tasia tergugup.
"Tu-tunggu sebentar" Tasia benar-benar panik lalu dia mencari-cari penutup lehernya sembarang, tapi untungnya dia teringat pernah menyimpan selendang merah yang ada di lemari ruangannya dulu, dia pakai untuk menutupi lehernya supaya Rizal tidak bertanya soal kalungnya. Lalu perlahan membuka lagi pintunya sambil menundukkan pandangan karena takut.
"Kenapa lama sekali?" ketus Rizal semakin mencurigainya. Rizal perlahan-lahan masuk ke ruangan Tasia dan matanya lekas mengedarkan ke segala penjuru ruangan tersebut. Lalu tidak sengaja matanya langsung menangkap sebuket bunga mawar yang ada di mejanya Tasia.
Tasia pun ikut melirik pandangan Rizal kemana, setelah tahu Rizal memandang bunga itu, Tasia menepok keningnya sendiri sambil mendumel di hatinya.
'Waduuuh gawat, aku lupa dengan bunganya, gimana ini...?' ocehnya di hati gelisah tak karuan, jantungnya berdebar kencang. Keringat dingin mulai membasahi dahi dan telapak tangannya.
Rizal berjalan menghampiri meja dan sergap mengambil bunga tersebut, lalu secarik kertas yang ada di selipannya terjatuh ke lantai.
"Apa ini?" ketusnya, dengan segera Rizal mengambil kertas yang jatuh itu lalu membaca tulisannya di dalam hati.
'Ya Tuhaaan...aku tidak bisa mencegahnya' ucap Tasia semakin gelisah, sambil menggigit bibir bawahnya sendiri.
Setelah membacanya dia meremas kertas itu, nafasnya terdengar putus-putus dan mendengus kasar. Wajahnya berubah menjadi merah padam, tak menatap ke arah Tasia sedikitpun. Namun Tasia sudah bisa merasakan ekspresi marahnya itu.
"Bi-bisa aku jelaskan...it-itu..." sahut Tasia gelagapan, tapi ucapannya terputus karena Rizal langsung memotong pembicaraannya.
"Tidak perlu kau jelaskan lagi" ucapnya ketus, lalu dia cepat menolehkan muka marahnya ke Tasia.
Matanya melalang tajam ke arah Tasia, karena tidak kuat dengan tatapan tajam dari Rizal, Tasia segera menundukkan pandangannya itu ke tangan Rizal yang meremas kencang kertas bertulisan mesra dari Adrian. Jujur baru kali itu dia melihat Rizal semarah itu. Lalu sekilas mata Tasia melihat kedua jari-jari punggung tangan Rizal terluka memar dan berdarah, terus sergap jadi mengalihkan pembicaraannya ke sana.
"Rizal...ta-tanganmu terluka?" tanyanya "Sini biar aku obati kamu" cepat-cepat Tasia meraih kedua tangannya Rizal. Tapi Rizal segera menepis tangannya yang di raih Tasia, seakan dia tidak mengijinkan Tasia menyentuh tangannya itu.
"Jawab pertanyaanku.. jadi selama aku jauh darimu, kau sedang asyik bermain dengan Adrian?" sindirnya, menatap sinis.
Tasia tiba-tiba terkejut dengan prasangkaannya Rizal padanya, lekas dia melihat ke arah Rizal lagi.
"Bu-bukan...a-aku ti..ti.." gelagap Tasia sambil berjalan mundur kebelakangnya, karena Rizal perlahan mendekatinya dengan masih menatap tajam ke arahnya.
"Pantas saja kau selalu saja mencari-cari alasan agar aku tidak menghubungimu lewat video call..lalu kenapa lehermu itu selalu saja di tutupi?" tepat sekali semua tingkah Tasia selama ini membuat Rizal semakin jelas mencurigainya.
Mulut Tasia seakan terbungkam erat seperti sulit untuk mengeluarkan kata-kata, nafasnya seakan terasa sesak, lalu tangannya mulai mengepal kencang ke selendang yang terbalut di lehernya itu. Tasia khawatir jika Rizal melepas paksa dia akan tahu kalau kalung pemberiannya sudah tidak ada lagi.
"De-dengarkan.. aku, aku bisa jelaskan itu padamu, tapi kamunya yang tenang dulu" saran Tasia mencoba menenangkan Rizal yang masih di selimuti emosi.
"Aku tidak mau mendengar penjelasanmu...buka selendang itu!" pinta Rizal. Tasia menggelengkan kepalanya menolak permintaan Rizal seperti ketakutan.
"Aku mohon Tasia buka selendangmu" Rizal bersikeras ingin membuka selendangnya, tapi Tasia selalu menolaknya, namun Rizal penasaran dan menahan tangan Tasia dan dibukanya paksa. Selendang di leher Tasia terlepas dipegangan Rizal, mata Rizal langsung mengarah pada lehernya Tasia, dan dia sudah dapati kalung pemberiannya itu sudah tidak lagi melingkar di leher jenjangnya Tasia.
"Kemana kalung itu? jadi semuanya sudah jelas...semua bukti kamu berselingkuh di belakangku itu ternyata benar.." tatapan Rizal berubah menjadi sedih sekali menampakkan kekecewaan yang teramat dalam di hatinya.
Tasia menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba menjelaskan bahwa itu tidak benar dia tidak pernah bermain-main dengan lelaki manapun di belakangnya Rizal. Namun hati Rizal mulai tertutup untuk mempercayainya lagi.
Di rogohnya cepat-cepat kertas poto Tasia yang ada di saku jaketnya itu lalu dia lemparkannya kencang ke lantai.
"Kau ingin berdusta padaku? lalu setelah melihat ini apa kau masih mau menipuku?" menunjuki poto dia dan Adrian yang berceceran di lantai.
Tasia terbelalak kaget matanya tercengang, dengan mulut yang terbuka lalu ditutupinya dengan kedua tangannya itu. Dia bingung tidak bisa menjelaskan kenapa bisa ada poto dirinya bersama Adrian.
"Aku tidak menyangka, kupikir kau adalah gadis polos dan tidak akan pernah menghianati cintaku...tetapi ternyata aku salah menilaimu.. kau sama saja dengan wanita murahan lainnya" menatap sinis dan benci ke arah Tasia, seakan dia jijik melihat kekasihnya itu.
Deg
Tasia lagi-lagi tercengang dengan ucapan yang keluar dari mulutnya Rizal. Dia tidak menyangkanya Rizal akan tega menyakitinya dengan lisannya itu. Hati Tasia seakan di iris-iris pedang. Terasa perih mendengar ucapan keji dari kekasihnya itu.
Plaaaak
Tasia menampar kencang pipi kanan Rizal.
Tasia tidak terima dengan ucapan Rizal barusan yang mengatakan kalau dirinya adalah wanita murahan. Sakitnya seakan begitu menusuk ke dalam tulang, yang menembus rongga hatinya. Matanya mulai terlihat berkaca-kaca dan sudah menggenang di bawah retinanya.
Tanpa banyak bicara lagi Tasia segera mengambil tasnya di meja kerjanya.
"Aku..aku pamit keluar bekerja di sini!" tukasnya menahan sakit dan sedih. Dia segera berlari pergi meninggalkan Rizal dan keluar dari Cafenya.
Rizal menatap punggung Tasia yang menjauh pergi darinya. Tak di pungkiri lagi hatinya juga sangat sakit sekali dan ada terbesit rasa sesal karena telah mengucapkan kata-kata yang tak pantas kepadanya.
bersambung...
...***...