Sweet Cake Memories

Sweet Cake Memories
Rahasia Tante Mira



...Bab 28...


...Rahasia Tante Mira...


"Lia kau sudah pulang, mamah dan tante Mira sudah menunggumu lama!" sahut Mamanya Lia. Setelah melihat Lia masuk ke dalam rumah. Lalu menutup pintu apartemennya lagi


"Braak"


"Iya mah, maaf.. tadi benar-benar sibuk sekali, Cafe Rizal akhir-akhir ini laris pesat! aku pun terpaksa harus menjadi waitress disana!" keluh Lia sambik mencopot kedua sepatunya dan menggantinya dengan sandal berbulu.


Malam itu Tante Mira memang sengaja mengunjungi Lisna untuk memperbincangkan perjodohan Lia dan Rizal.


"Kau sudah dengarkan dari Lia, sebaiknya kita memang harus mempercepat perjodohan itu, lalu kita selenggarakan pertunangan mereka secepatnya" sahut Mira melanjutkan.


"Iya, tapi bagaimana ya jeng.. masalahnya Nyonya Tania apa dia mau menerima Lia nanti?" tanya Lisna ragu. Lia mengernyitkan dahinya karena pertanyaan mamanya sendiri.


"Maksud mama apa sih, memangnya Lia kurang apa coba? mana mungkin kalau mamanya Rizal tidak menyukai aku yang artis model cantik di majalah ini!" sahut Lia sambil menunjukkan potonya sendiri di majalahnya itu dengan membanggakan dirinya sendiri.


"Ya.. mama kan belum tahu sifat mamanya Rizal, hubungan kami belum terlalu akrab Lia!" ujar Lisna.


"Tenang saja semua itu biar aku yang atur sendiri, yang penting kalian harus benar-benar segera melangsungkan perjodohannya. Aku tinggal telepon kakakku (Ayah Rizal) saja, dia pasti akan menurutiku!" saran Mira.


"Wah terimakasih Tante Mira, Tante memang paling is the best deh..!" girang Lia, langsung memeluk Mira. Lisna hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja melihat tingkah anaknya yang manja itu.


"Oh ya tante mau tanya, Benarkah Cafenya Rizal akhir-akhir ini laris pesat?" tanya Tante Mira penasaran dibuatnya.


"Hah, Tante bisa lihat sendiri kalau tidak percaya, tante bisa datang besok-besok, ada banyak sekali perubahan di Cafenya Rizal. Rencana Tante supaya membuat Cafe Rizal tidak maju adalah hal yang sia-sia saja!" terang Lia.


Mira mengernyitkan dahinya, sangat gelisah. Dia berdiri dan memandang jauh ke luar jendela, di lihatnya pemandangan kota malam itu, namun pikirannya sekarang berkelana ke masa lalunya.


"Lisna.. kita benar-benar harus menyelesaikan misi kita. Kalau sampai Rizal bisa sukses sendiri, dia benar-benar tidak akan mendapatkan saham sepeserpun dari perusahaan Ayahku" sahut Mira dengan melirik ke arah sahabatnya itu Lisna, tengah mengkhawatirkan sesuatu.


Lisna memanggut dan ikut berpikir panjang. Lia memperhatikan Mamanya dan Tante Mira yang berdiskusi dengan seriusnya, tapi Lia masih belum paham dengan apa yang mereka bicarakan berdua.


"Sebenarnya kalian berdua membicarakan masalah apa sih? Tante, Mama?" tanya Lia penasaran ingin mengetahuinya. "Kenapa dengan Rizal?"


Lisna menggedekkan kepalanya ke Lia.


"Ini hanya rahasia dan masalalu Mama dan Tante Mira, Lia. Kamu masih terlalu muda dan belum mengerti" ujar Lisna.


"Sebaiknya kamu masuk dan tidur, besok kamu harus ada pemotretan pagi kan" suruh Lisna lagi. Lia kesal karena mereka selalu saja merahasiakan apapun padanya.


"Ya, tapi sudah pasti ada hubungannya denganku kan mah? setiap kali kalian juga membicarakan Rizal terus? dan yang aku belum pahami lagi, kenapa Tante Mira begitu menginginkan usaha Cafenya Rizal tidak berjalan lancar?!" resah Lia.


Tante Mira berjalan mendekati Lia, dan menepuk pundak gadis itu.


"Ada waktunya nanti kamu tahu sendiri, sekarang ini hanya jadi urusan Tante dan Mamamu saja! sebaiknya kamu turuti kata Mama mu itu... " ucap Mira. Lia menundukkan kepala, dan memanyunkan bibirnya kesal. Akhirnya diapun pergi ke kamarnya setelah disuruh Tante Mira.


Setelah benar-benar Lia masuk ke kamarnya. Mereka berdua pun melanjutkan obrolannya sambil menikmati teh dan beberapa cemilan di meja.


"Ya.. aku akan tetap ingat akan pesan Audi dulu, dirinya benar-benar menderita saat itu sampai harus mengorbankan nyawanya sendiri" ucap Lisna sedih meratapi kepergian sahabat satunya yang bernama Audi.


"Apakah Rizal sudah mengetahuinya Mir?" tanya Lisna.


"Dia belum mengetahui apapun, tapi suatu hari nanti anak itu harus tahu siapa ibu kandungnya yang sebenarnya!" ucap Mira.


"Aku hanya khawatir, perusahaan terbesar ayahku nanti semua di ambil alih Raffi anaknya Tania itu!" lanjutnya.


"Ya aku tahu sifat Tania itu, memang licik. Dia itu seperti ular yang diam namun setelah mangsanya di depan dia akan menerkamnya begitu saja!" sahut Lisna menambahkan.


Lia belum tidur, karena penasaran dia diam-diam menguping pembicaraan mereka di balik pintu kamarnya.


"Hah apa, mereka membicarakan Tante Tania? itu..bukannya Mamanya Rizal? kenapa mereka berdua seperti membencinya.. terus siapa itu Audi?" serunya sendiri pelan, penuh pertanyaan di pikirannya.


...***...


Hari minggu pagi yang begitu cerah, Tasia membuka handphonenya dan sudah ada satu pesan yang masuk di layar ponselnya itu. Segera dia membuka pesannya dan kendati itu pula senyumnya melebar, wajahnya pun berbinar terang bagaikan mentari pagi yang menyinari bumi.


Rizal~


Selamat pagi cantik? apa sudah bangun? 😊


^^^Tasia~^^^


^^^Sudah ☺️^^^


Rizal~


Hari ini Cafe libur, kamu ada aktivitas apa?


Balasnya lagi dengan cepat.


^^^Tasia~^^^


^^^Tidak ada aku dirumah saja? memangnya ada apa? πŸ˜€^^^


Rizal~


Apa kamu lupa, kamu belum sempat ajari aku buat kue itu? πŸ€”


Tasia langsung teringat akan hal itu.


^^^Tasia~^^^


^^^Ooh iya.. kemarin-kemarin kan terlalu sibuk karena pekerjaan di sana! 🀭^^^


Rizal~


Iya makanya itu, aku ingin kamu mengajariku sekarang. aku tunggu kamu di Cafe yaa hati-hati di jalan.. 😊


^^^Tasia~^^^


^^^Baiklah...okey πŸ‘ŒπŸ˜†^^^


Tasia terkejut di hari minggu itu, ternyata pria itu ingin menemuinya dan mengajarinya buat kue bersama. Memikirkan hal itu saja hatinya Tasia bagaikan terbang melayang-layang ke udara.


Lalu Tasia bergegas ke kamar mandi dan mandi pagi.


Di ruang makan Ibunya dan Irna sudah menunggunya dan menatapnya terheran-heran dengan tingkahnya pada akhir-akhir ini yang terkadang dia senyum-senyum sendirian lalu tersipu-sipu malu sendiri, seperti orang stress.


Setelah mandi dan berpakaian rapi dan cantik, Tasia segera ke ruangan makan dan berkumpul dengan Ibu dan Irna, lalu Tasia hanya meminum susu di gelas yang disediakan Irna tadi.


"Enng.. mbak Tasia kenapa?" tanyanya. Tasia hanya tersenyum padanya lalu tiba-tiba mencium pipi Irna cepat.


Irna terkejut dia langsung bergidig geli dan takut melihat tingkahnya hari minggu itu. Dia jadi khawatir dengan anak majikannya kenapa-kenapa.


"Bu hari ini, Tasia tidak ikut sarapan.. mau langsung pergi ke Cafe!" ujarnya berseri-seri.


Ibunya bingung lalu melihat ke kalender.


"Bukankah ini hari minggu? katanya minggu itu libur? " tanya Ibunya.


"Hm, Rizal ingin diajari buat kue katanya, masa aku tidak nurut sama atasan sih bu?" ujarnya sambil memanyunkan bibirnya.


"Nanti Tasia bisa-bisa dipecat" sahutnya ngelabui ibunya sendiri.


"Benarkah itu? hanya mengajari buat kue saja? " curiga ibunya. Tasia menganggukkan kepalanya tersenyum lebar.


"Kalau ibu tidak percaya ibu bisa lihat pesannya" Tasia menunjukkan handphonenya sendiri ke ibunya supaya mau memeriksa pesan dari Rizal.


"Ya sudah, ibu percaya.. tapi hati-hati Tasia kamu harus jaga dirimu baik-baik! " pesan ibunya khawatir.


"Iya ibu.. percaya pada Tasia, terimakasih ya bu udah di ijinin...! " ucap Tasia bahagia lalu mengecup pipi ibunya lama.


Setelah itu Tasia segera berangkat ke Cafenya dan menelpon ojeg yang sudah jadi langganannya tersebut.


"Anak itu, tidak terasa sekarang sudah dewasa... ibu sudah tahu nak, kalau kamu sedang jatuh cinta.. " gumam Ibunya sendiri, sambil terus memandangi putrinya yang berlari ke luar rumah.


Terdengar sama Irna, dia pun melohok terkejut.


"Wah benarkah itu bu? pantes saja tingkahnya aneh sekali! " celoteh Irna ikut tersenyum-senyum bahagia.


bersambung...


...***...


Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya ya...


...🌺🌺🌺...