Sweet Cake Memories

Sweet Cake Memories
Kepergianmu



...Bab 40...


...Kepergianmu...


Siang itu setelah selesai acara pelantikan wisuda, semua ribuan mahasiswa yang tengah berbahagia itu berhamburan keluar dari gedung satu- persatu, mereka menemui sanak keluarganya masing-masing. Terlihat Rizal juga sudah keluar dari sebuah gedung dengan pakaian toga-nya bersamaan mahasiswa lainnya, dia melambaikan tangannya pada mereka bertiga yang sudah berdiri di halaman luar bersama mobilnya. Dia keluar dengan senyuman yang mengembang dan bahagia. Melihat sosok cantik dari kekasihnya yang juga telah datang menghadirinya. Rizal bahagia walaupun tanpa keluarga yang menemaninya, bersama kekasih dan sahabat-sahabatnya saja dia sudah merasa sangat beruntung.


Tasia menghampirinya perlahan dengan membawa sebuket bunga mawar putih di tangannya, lalu diberikannya pada kekasihnya itu sebagai ucapan selamat atas kesuksesannya.


"Selamat ya sayang.." ucap Tasia berseri-seri, seraya membelai lembut pipi kekasihnya itu.


"Iya terimakasih sayangku" balas Rizal bahagia, langsung menggenggam dan mengecup telapak tangan Tasia yang tadi membelai pipinya itu. Lalu menerima bunga darinya.


"Hei, ayo kita makan siang dulu ke restorant! biar aku yang traktir.. " seru Yogi dari jauh, yang tengah berdiri bersama Revan di samping mobilnya Rizal.


Mereka berdua menoleh ke kedua sahabatnya itu, lalu segera berjalan menghampirinya dengan saling bergandengan tangan.


Di parkiran mobil sana, sebenarnya Lia juga sudah hadir dan ingin memberi selamat pada Rizal. Tetapi karena kedua bola matanya sudah duluan melihat kemesraan diantara mereka berdua, dia jadi mengurungkan niatnya itu.


"Harusnya aku lah yang ada di posisi itu sekarang, bukannya malah kamu, Tasia!" gumamnya, masih memendam rasa bencinya.


Lia lalu berniat ingin mengikuti mereka dari belakang. Tapi saat dia ingin menaiki mobilnya, dia tidak sengaja melihat ke samping kirinya, ada seorang lelaki aneh, dengan memakai masker yang menutupi hidung dan mulutnya itu, sedang memperhatikan mereka juga. Lia bisa merasakannya karena melihat pandangannya yang mengarah pada Rizal dan Tasia.


Lia terus memperhatikan gerak-gerik orang tersebut, setelah tahu Rizal dan teman-temannya pergi naik mobil, dia juga terburu-buru menaiki motornya dan memakai helmnya itu lalu mengikuti mobil mereka dengan gesit. Lia tidak tinggal diam, dia juga segera menaiki mobilnya dan mengikuti pria mencurigakan itu dibelakangnya.


Selang beberapa menit kemudian mobil Rizal berhenti di sebuah restorant mewah. Mereka berempat keluar dan turun dari mobilnya. Lalu memasuki pintu masuk restorant.


Motor pria itu pun ikut berhenti dari jauh. Sedangkan Lia memarkirkan mobilnya di seberang jalan agak jauh dari restorant.


Pria itu berjalan mengendap-ngendap mengikuti langkah mereka di belakang, dan duduk di kursi agak jauh dari mereka. Lia juga dibelakangnya terus memperhatikan itu.


Mereka bertiga memesan makanan satu-persatu. "Kamu mau pesan apa sayang?" tanya Rizal ke Tasia sambil membuka-buka buku menu makanan di restorant itu.


"Terserah kamu saja, samain saja biar gak ribet" jawab Tasia singkat. Rizal juga bingung memilihnya lalu dia memperlihatkan buku menu ke arah Tasia, dan mereka pun berunding untuk memilih makanan bersama-sama.


"Bagaimana kalau yang ini saja" sahut Tasia, menunjuki gambar makanan di buku menu itu.


"Ehm..boleh..tapi aku juga mau pesan stik daging sapi ini..enak kayaknya..."seru Rizal.


Revan melihat ke arah sepasang kekasih itu geli. Dan mencoba mengikuti percakapan mereka.


"Kamu mau pesan apa sayangku, Yogi?" celotehnya tiba-tiba menyindir Rizal, dan melirik ke arah Yogi yang juga sedang serius memilih makanan di buku menunya itu. Yogi terkejut sampai bergidig mendengarnya.


"Wah.., sayang sayang kepalamu peyang!" dengan cepat pukulan ringan melesat di kepala Revan. Revan merintih sakit sambil cekikikan..


"Aku hanya ingin mengikuti gaya kemesraan mereka saja kok, yang selalu bikin baper dan iri oranglain yang melihatnya saja.. " ocehnya lagi. Semua gemas melihat tingkah Revan, dan menertawakannya. Tanpa Revan suasana pun tidak akan seceria itu. Tasia jadi tersipu malu mendengar gurauannya, sehingga dia pun ikut tertawa bahagia bersama mereka. Walaupun dia sebenarnya tengah menyimpan kesedihan, karena sore ini Rizal akan berangkat ke Jakarta.


Setelah mereka memesan makanan disana. Tak henti-hentinya mereka saling mengobrol dan bergurau bersama. Sehingga pesanan yang mereka pesan pun cepat datang. Pelayan itu menaruh satu-persatu hidangannya di meja mereka dengan hati-hati.


Revan berbinar melihat makanan mewah yang dia pesan sudah ada di depannya. Sampai air liurnya pun menetes keluar dari sudut bibirnya, tak sabar ingin segera melahap makanan itu ke dalam mulutnya.


Rizal pelan-pelan mengiris steak dipiringnya dengan pisau dan menusukkannya dengan garpunya. Lalu memberikannya pada Tasia.


"Sayang..makanlah ini, biar tenagamu bertambah.."sahut Rizal, dia hendak menyuapi Tasia daging di garpunya. Pipi Tasia tiba-tiba merona, karena sikap perhatian dan romantisnya sang kekasih kepadanya, tanpa malu-malu dia pun menggigit daging yang di suapin Rizal padanya. Yogi yang melihat itu semakin bertambah jengkel.


"Heh, apa kalian memang sengaja selalu ingin memamerkan kemesraan terus pada kami..haaah..dasar tidak berperasaan! Ya kan Van" Celoteh Yogi.


Revan memanggut sambil mencabik-cabik paha ayam di mulutnya, tidak terlalu peduli dengan kemesraan mereka. "Hmm iya iya!" hanya mengiyakan perkataan Yogi saja, daripada di pukul lagi, yang penting dia bisa puas makan enak siang itu.


Rizal mengacuhkannya.


"Suka-suka aku lah..ha ha.."cueknya ke Yogi, dia memang sengaja buat Yogi iri dan semakin memanasinya. Karena kesempatan kapan lagi Rizal juga bisa membuat kekasihnya tersenyum begini.


Pria dibelakang itu juga terus memperhatikannya, dia terlihat kesal dan geram menahan kecemburuan yang dipendamnya, Lia semakin penasaran padanya dan diam-diam memberanikan diri untuk menghampirinya dan bertanya padanya.


"Boleh aku duduk disini?" Lia membuatnya terkejut. Pria itu langsung menoleh ke arahnya.


"Ah, si-siapa kau?" tanya pria itu tergugup.


"Aku melihat kau sepertinya dari tadi tengah memperhatikan mereka terus? aku menyadarinya saat di kampus tadi.." tak banyak basa-basi Lia langsung menanyakannya. Pria itu jadi terkecoh dan langsung emosi pada Lia.


"Siapa kau? beraninya kau membuntutiku?" gusarnya.


"Katakan dulu, apa hubunganmu dengan mereka, nanti aku akan jelaskan siapa aku!" tanya Lia lagi.


Pria itu terdiam agak lama. Tapi akhirnya dia membuka mulutnya setelah dipaksa Lia.


"Hubunganku hanya ada pada gadis bersama mereka!" ungkapnya. Lia tercengang, dan langsung menyebut namanya.


"Tasia?! kau kenal dengan gadis itu" sahut Lia menunjuk Tasia dari jauh, masih belum percaya. Pria itu memanggut.


"Iya..." jawabnya memandang lagi ke arah Tasia yang sedang asyik bergurau dengan tiga pria. Tangan kekarnya kembali dikepalkan kencang di mejanya.


"Apa hubunganmu dengannya?" tanya Lia lagi.


"Tasia adalah gadis yang sudah aku kejar dari dulu.." ucapnya kesal, "Tapi pria itu sudah mengambilnya dariku duluan" kesalnya lagi.


'Ini menarik sekali, dia menyukai Tasia kalau begitu aku jadi bisa memanfaatkannya untuk menghancurkan hubungan mereka, dengan begitu aku bisa dengan mudah mendapatkan Rizal kembali" pikir Lia.


Pria itu terlama diam, tapi karena diapun begitu sangat mencintai Tasia, dan dia pada akhirnya mengikuti rencana Lia demi bisa mendapatkan Tasia.


"Baiklah aku ikuti saranmu, namaku Adrian!" jawabnya membalas jabatan tangan Lia.


Lalu mereka berdua segera keluar dari restorant itu dan melanjutkan pembicaraannya di tempat lain.


#


#


#


"Apa sudah semuanya kamu bawa? ada yang masih ingin dibawa tidak?" tanya Tasia yang sedang membantu merapikan barang-barang Rizal di kamar ruang kerjanya. Rizal memang tak memiliki rumah di Yogyakarta. Namun Cafenya yang besar itu sudah menjadi rumahnya sendiri. Sehingga di dalam ruang kerjanya itu terdapat kamarnya juga.


"Ada..sebenarnya yang ingin aku bawa?" jawab Rizal setelah selesai mengganti pakaian resminya dengan baju biasa.


"Yang mana lagi yang ingin kamu bawa?" tanya Tasia lagi, menoleh ke arah Rizal yang masih bercermin di kaca lemarinya.


"Dirimu.." guraunya, seraya matanya melirik genit ke arah Tasia, mendengarnya Tasia langsung memanyunkan bibirnya yang seksi. Rizal tertawa geli melihatnya.


"Serius, sebenarnya aku ingin sekali membawamu pergi bersamaku..." sahut Rizal lagi lalu dia menghampiri kekasihnya itu.


"Nanti saja.. aku belum siap bertemu dengan keluargamu.." jawab Tasia sambil membantu memakaikan jaketnya Rizal.


"Iya, nanti saja setelah Ayahku sembuh dari sakitnya aku ingin memperkenalkannya padamu..." ucap Rizal tiba-tiba dia membicarakannya Ayahnya sendiri.


"Ayahmu sakit, memangnya beliau sakit apa?" tanya Tasia ikut mengkhawatirkannya.


"Gagal jantung!" jawab Rizal. Tasia prihatin mendengarnya lalu lekas mengusap pipi Rizal dengan kedua tangannya, penuh dengan kelembutan.


"Sabar ya... semoga Ayahmu cepat diberikan kesembuhan..." ucapnya perhatian. Rizal meraih tangan Tasia yang memegang pipinya, dan lekas mengecupi bibirnya yang ranum. Tasia melohok kaget, karena ciuman kilat tiba-tiba mendarat begitu saja di bibirnya itu.


"Apaan sih tak ada bosannya.." langsung mencubit hidung Rizal. Rizal meringis kesakitan. Tasia tertawa puas mendengarnya kesakitan. Lalu mereka tertawa dan saling berpelukan.


"Nanti aku bakalan kangen berat sama kamu..kalau kamu begini..." sahut Tasia sambil mengelus-elus punggung Rizal.


"Jika kamu kangen padaku, telepon aku dan peluk guling saja hehe..." guraunya.


"Aah...tapi aku pengennya peluk kamu tahu..." rengeknya.


"Jangan berkata manja begitu...aku jadi tidak mau pergi kalau kamu seperti ini juga..." gemas Rizal semakin memperdalam pelukannya.


"Rizal..aku sayang sama kamu..." ucapnya.


"Aku juga...malah lebih sayang kepadamu..." Tasia tersenyum mendengarnya. Lalu di ciuminya pipi Rizal lembut. Rizal pun membalas ciumannya dan dilanjut ciuman mesra di bibirnya dengan lama.


Setelah selesai membereskan koper dan barang yang ingin di bawa Rizal, mereka berdua segera turun ke bawah dan menghampiri Yogi dan Revan, yang masih memeriksa mobil Rizal, supaya mobilnya tidak ada masalah selama perjalanan nanti.


"Semuanya sudah siap, beres...mesin mobilmu tidak ada masalah!" seru Yogi setelah melihat Rizal keluar dari pintu depan Cafe, dia yang ahli juga di bidang perawatan mobil dan motor sangat teliti sekali jika ada kerusakan pada kendaraan.


"Terima kasih banyak sobat!" jawab Rizal menepuk pundak Yogi. Revan pun segera membantu memasukan koper dan barang Rizal ke dalam bagasi mobilnya.


"Kalian.. tolong jaga Cafe kita selama tidak ada aku ya.. aku serahkan semua perkembangannya pada kalian... jika ada apa-apa cepatlah hubungi aku.." pesan Rizal kepada mereka bertiga.


"Siap Pak bos!" sahut Revan memberi hormat pada Rizal.


"Kau jangan khawatirkan itu, kau bisa mengandalkan kami" tambah Yogi.


"Iya yang penting kamu selamat di jalan sampai tujuan.." sambung Tasia sambil kembali memalingkan wajahnya, tidak ingin memperlihatkan muka sedihnya di depan Rizal. Rizal menatapnya ikut sedih, dia menghampirinya dan memeluknya lagi.


"Iya.. terimakasih sayang, jaga dirimu baik-baik" ucap Rizal, dengan cueknya di depan teman-temannya Rizal mengecup keningnya Tasia lagi.


"Huuu wiiiitt wiiww" siul Revan, menggoda pasangan itu. Yogi menepok jidatnya sendiri.


"Sudah, sudah ayo cepat berangkat sana...nanti gak jadi-jadi pergi lagi.. " sahut Yogi sedikit iri dan cemburu.


Rizal terkekeh-kekeh mendengar celotehan kedua temannya itu. Segera Rizal membuka pintu mobilnya dan masuk, lalu menyalakan mesin mobil. Matanya masih melirik ke arah Tasia di jendela mobil. Tasia juga masih memandang ke arahnya. Lalu Tasia melambaikan tangan kanannya.


"Selamat jalan hati-hati ya.. kalau sudah sampai sana cepat hubungi aku.." resah Tasia tersenyum sedih dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Rizal mengganggukkan kepalanya dan membalas senyuman sedih padanya.


"Daaaahhh kak Rizal.. " seru Revan. Setelah Rizal menjalankan mobilnya keluar gerbang Cafe.


Di dalam mobilnya, dia masih melihat Tasia di kaca spionnya. Lalu ekspresi wajahnya jadi berubah gelisah.


"Aku harus selesaikan satu-persatu masalah dengan keluargaku, Tasia...tunggulah, aku akan tetap berusaha demi dirimu..tetaplah kamu berada di hatiku...." gumamnya sendiri.


bersambung...


...***...


Jangan lupa like and komentarnya ya ..


...🌺🌺🌺...