Sweet Cake Memories

Sweet Cake Memories
Kekesalan Hati



...Bab 23...


...Kekesalan Hati...


Dua minggu kemudian...


Hari menjelang malam, Padahal Cafenya sudah mau tutupan tapi


suasana Cafe Rizal masih banyak pengunjung. Revan sampai kelelahan melayani mereka, sehingga Tasia pun ikut turun membantunya. mereka saling bergantian melayani pembeli-pembeli itu.


Rizal dan Lia yang baru saja sampai di Cafe setelah pulang dari kampus mereka. Datang membawa 5 nasi kotak untuk makan malam bersama dengan teman-temannya.


Rizal melirik jam yang ada di lengan kanannya. Dia terheran, sudah mau pukul setengah 8 malam, tapi Cafenya masih ada pembeli. Lalu Rizal segera membalikkan papan open menjadi closed di luar pintu kaca Cafenya. Agar tidak ada pembeli lagi yang mampir.


Rizal sudah merasakan, bahwa Cafenya ada sedikit kemajuan padahal ini belum ada satu bulan Tasia bekerja di tempatnya itu. Tapi sudah menarik banyak pengunjung.


'Daya tarik apa yang dipakai gadis itu, sehingga bisa membawa banyak pembeli' pikirnya bertanya-tanya sendiri di dalam hatinya.


Tak lama kemudian pengunjung itu satu persatu akhirnya pergi. Rizal dan Lia menunggunya di dekat meja kasir, sebelum pengunjung pulang dan membayar makannya, ada yang sampai memesan dan meminta di bungkuskan untuk anaknya dan orangtuanya di rumahnya. Rizal tersenyum puas mendengarnya, sekilas matanya melirik ke arah Tasia yang sedang melayani pelanggan itu dengan seriusnya.


"Terimakasih, silahkan nanti mampir lagi kesini mbak, mas.." seru Tasia tersenyum ramah pada mereka.


Setelah benar-benar sudah tidak ada lagi pembeli, Revan langsung meregangkan otot-ototnya lalu menjatuhkan dirinya di sofa tamu yang empuk itu.


"Haaah...hari ini benar-benar melelahkan sekali" desahnya.


Yogi keluar dari dapur dan membawakan teh hangat untuk Tasia.


"Ini, minumlah biar badanmu agak sedikit rileks.. " sahutnya tiba-tiba datang dan memberi perhatian kepada Tasia. Semua terbengong melihati Yogi.


"Terimakasih" jawab Tasia sungkan karena Yogi hanya membawakan teh untuknya saja.


"Lah...kok cuma Tasia saja yang kau buatkan? Buat yang lainnya mana?" Celoteh Revan tiba-tiba menggerutu.


"Kau mau?" ucap Yogi balik bertanya, Revan memanggutkan kepalanya sambil nyengir.


"Bikin sendiri di dapur!" celetuk Yogi diiringi tawanya yang renyah.


"Huhh.. dasar pilih kasih!" gerutu Revan yang kesal dibuatnya.


Rizal yang melihat itu juga tidak mau kalah dengan Yogi, dia teringat akan yang dibelinya tadi lalu dia segera membuka kantong plastik berisi nasi kotak itu dan langsung memberikannya kepada Tasia.


"Apa kamu sudah lapar?" tanyanya pada Tasia. "Makanlah dulu nanti kamu bisa terkena maag.."


Lia terkejut sekali melihat Rizal tiba-tiba ikut perhatian kepadanya.


"Waah aku lapar juga kak Rizal!" Sahut Revan mendahului ucapan Tasia.


"Ambil di kantong besar itu, jatah buat kalian juga ada!" sahutnya.


"Terimakasih...aku memang sedang lapar" jawab Tasia senang.


Yogi cemberut melihat ke arah mereka berdua. Rizal pun menyinggungkan bibirnya dan mendelik ke arah Yogi, lalu tersenyum meremehkannya.


"Ayo...kita makan di ruangan kerjaku saja.." ajak Rizal sambil membawa kotak nasinya dan juga punya Tasia, Tasia memanggut menurutinya lalu mereka pun berjalan bersamaan menuju ruangan kerjanya.


Setelah Revan mengambil kotak nasinya, dia melongo, melihat raut muka Yogi yang terlihat gusar.


Lalu dia perlahan dan mendekatinya sambil berbisik pelan di samping sisi Yogi.


"Kayaknya ada yang cemburu niiih..?!" sindirnya meledek, Yogi jengkel mendengarnya dan hendak melayangkan kepalan tangannya


Namun Revan dengan kilat berlari menyusul masuk ke ruang kerja dan bergabung makan bareng Rizal dan Tasia.


Lia melihat Yogi tengah kesal, dia sudah bisa menebaknya kalau Yogi sedang cemburu dengan kedekatan mereka.


Tak banyak berdalih lagi, Yogi pun langsung membawa kotak nasinya dan ikut makan bareng mereka.


Lia menghembus nafas kasar, kesal yang dari tadi hanya dicuekin saja, semakin dia tidak berselera makan lagi, tangannya dikepalnya erat dan memukul-mukul meja kasir itu beberapa kali.


Lia, masuk ke ruang tamu dan memutuskan berpamitan untuk pulang.


"Rizal aku mau pulang!" katanya sambil menyenderkan bahunya di samping pintu.


"Ooh...kamu mau pulang? Tidak makan bareng kami dulu?" tanya Rizal sedikit cuek, yang masih menikmati makan malamnya di samping Tasia.


"Tidak, aku sedang malas makan malam!" jawabnya singkat.


"Ya sudah, kamu pulang sendiri ya, Hati-hati di jalan. Kak Rizal masih makan!" sahutnya masih mengacuhkan Lia dan matanya hanya menoleh kepada Tasia. Padahal Lia berharap Rizal mau mengantarkannya pulang sampai ke depan pintu Cafe.


Lia semakin gusar tak karuan, hatinya sangat sakit dan jengkel. Selama ini dia belum pernah di perhatikan seperti itu oleh Rizal. Tetapi Tasia yang baru saja dia kenali kemarin, sudah bisa mendapatkan perhatiannya Rizal.


Lia melangkahkan kakinya dengan gerak cepat, lalu segera menaiki mobilnya dan melajukannya dengan cepat, setelah itu mobilnya berlalu keluar dari gerbang Cafe itu.


Yogi duduk makan di samping kiri Tasia, karena di samping kanannya sudah ada Rizal.


"Padahal sofa ruangan kerja itu begitu luas tapi mereka lebih memilih duduk berdekatan, apakah tidak kepanasan?" sindir Revan dengan suara pelan lalu cekikikan sendirian.


Sementara Revan duduk di sofa paling pojok sendirian. Dia merasa seperti dikucilkan saja oleh mereka bertiga.


Revan sejenak memperhatikan mereka bertiga yang serius makan, seperti layaknya menonton pertunjukkan drama, dia seperti merasakan ada api-api asmara yang muncul bercampur dengan api kecemburuan diantara mereka.


"Van, aku pinjam motormu sebentar malam ini!" sahut Rizal tiba-tiba duluan membuka pembicaraan.


"Ah, iya kak..tapi untuk apa ya?" Tanya Revan.


"Tasia nanti aku antar kamu pulang yaa...!" sahut Yogi cepat tanggap. Tasia kaget dan menoleh ke arah Yogi.


"Tidak, aku yang antar dia, kau tidak perlu repot-repot!" sahut Rizal. Tasia kali itu menoleh ke arah Rizal.


"Ayo Tasia kita lekas pulang sudah malam, kamu sudah selesai kan makannya?" sahut Rizal lagi, lalu meraih tangan kanannya Tasia dan membantunya berdiri.


Yogi pun cepat-cepat berdiri dan meraih tangan kirinya Tasia. Lalu mereka bertiga berdiri dan posisi Tasia saat itu berada di tengah-tengah mereka.


"Tidak bisa...aku yang akan mengantarkannya pulang!" pekik Rizal lagi keukeuh.


Mereka lalu saling melotot tajam. Kedua tangan pria itu menggenggam erat tangan Tasia, tangan keduanya terasa dingin dan basah. Tasia yang berdiri di tengah-tengahnya pun jadi stress dibuatnya.


"Hentikan!! aku akan pulang di antar Revan saja!" teriaknya tiba-tiba menghentikan perdebatan mereka. Tasia segera melepaskan diri dari mereka berdua dan menghampiri Revan yang masih duduk dan makan.


"Ayo Van!" katanya. Revan memanggut ketakutan dia sudah dipelototi Yogi dan Rizal duluan.


Tanpa basa basi lagi, Tasia pun segera menarik lengan Revan keluar dari ruangan itu, dan cepat-cepat pergi dari sana. Revan yang waktu itu masih menikmati makan malamnya yang belum habis, menangis dalam hati yang dipaksa Tasia untuk mengantarnya pulang.


"Tasiaaa... tunggu dulu!" teriak kedua pria gagal itu berbarengan keluar mengejar Tasia. Tapi Tasia sudah naik motor dan dibonceng Revan saat itu, lalu berlalu pergi dan tidak menghiraukan teriakan mereka.


Dari kejauhan Revan melirik wajah mereka yang muram durja di kaca spion motornya.


'Waah gawat nanti kalau aku pulang, bisa-bisa aku dihabisi mereka' gelisahnya di batin


Saat perjalanan pulang.


"Hmm..kak Tasia, memangnya rumah kakak di sebelah mana?" teriak Revan bertanya.


"Di Pasar dekat Terminal kamu tahu kan?" seru Tasia kencang.


"Oh ya, iya...aku tahu kak..." menganggukkan kepalanya.


Setelah beberapa menit kemudian, mereka akhirnya sampai di depan rumah sederhana depan pesawahan itu.


"Ooh, jadi ini rumahmu disini yaa kak!" ujar Revan, setelah menghentikan motornya.


"Iya, ya sudah sekarang kamu cepat kembali ke cafe mu gih, kak Tasia mau tidur sudah ngantuk! Terimakasih ya sudah dianterin!" gumam Tasia.


"Sama-sama kak..oke Revan pergi dulu ya kak! Dadaah kak Tasiaaa..." lalu Revan membalikkan arah motornya dan kembali menuju cafenya.


"Ya..daaah!" Tasia melambaikan tangannya pada pria muda itu.


"Huhh..aku heran dengan tingkah mereka berdua, kenapa selalu saja berdebat di hadapanku!" pekiknya sendiri, yang masih kepikiran dua pria tadi. Tasia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya lalu melangkah masuk ke dalam rumahnya.


...***...


Keesokan paginya, Tasia berangkat ke Cafe dengan naik ojeg seperti biasa, dari jauh terlihat Lia sudah berdiri di depan gerbang Cafe dengan mobilnya. Saat itu Tasia segera menghentikan ojegnya, dan turun lalu membayar ongkosnya.


Lia memanggil Tasia dan mengajaknya untuk berbicara di tempat sepi. Tasia menuruti perintahnya, dan mengikutinya dari belakang. Lalu mereka berhenti berjalan di sebuah gang diantara samping Cafe dan toko disana.


"Ada apa, kenapa kamu memanggilku ke tempat sini?"tanya Tasia penasaran.


"Aku hanya ingin bilang...kalau kamu hebat sekali ya... Di hari pertamamu bekerja kamu sudah bisa mendapatkan perhatiannya Rizal..."ungkap Lia.


"Apa maksud perkataanmu?"tanya Tasia masih bingung dengan perkataan yang disampaikan Lia kepadanya.


"Berhenti berpura-pura, sejak kapan kamu bertemu dengan Rizal? Aku hafal betul seperti apa dia? Dia tidak pernah dekat dengan perempuan manapun kecuali denganku saja! Tapi kemarin saat pergi ke kampus, dia balik lagi demi kamu setelah aku membicarakan kedekatanmu dengan Yogi!" Terangnya panjang lebar menjelaskan.


Tasia mengerutkan dahinya masih bingung dengan perkataan Lia padanya. "Jadi, apa sebenarnya maksud kamu menyampaikan itu padaku?"


"Kamu pura-pura bodoh atau apa sih?!" Lia gemas dan langsung menarik kencang rambut Tasia yang diikat kuda itu. Tasia merintih menahan sakit di kepalanya. Lia mendekatkan wajahnya ke muka gadis yang sekarang jadi saingannya.


"Hei kamu itu hanya gadis desa kampungan, tapi kenapa Rizal bisa suka padamu, bahkan Yogi pun sampai tertarik padamu, kau pintar sekali menggoda pria! Dasar pelacur!" sahutnya tiba-tiba menghina Tasia. Tasia geram mendengar ucapannya dan dia tidak terima. Lalu dia memberontak dan membalas menampar keras pipinya Lia.


Plaaaaak


"Jaga ucapanmu Lia! aku sungguh tidak mengerti dengan perkataanmu itu! Aku tidak pernah melarang kamu dekat dengan Rizal, kau suka dia itu hakmu, tapi jangan bawa-bawa aku yang seolah-olah aku perusak hubungan baik kalian. Disini aku tidak tahu apa-apa tentang kalian!" tegas Tasia.


Lalu Tasia segera pergi meninggalkan Lia, dan masuk ke Cafe sambil membetulkan ikatan rambutnya yang berantakan karena Lia.


Dia langsung nyelonong saja masuk ke dalam dapur Cafe, tampak Rizal sudah berada disana dengan masih memakai handuk yang dililit di pinggangnya.


"Tasia?!" serunya terkejut.


"Rizal? Aaaaahhh!" Mata Tasia membulat lebar dan cepat-cepat menutupi matanya dengan kedua tangannya lalu berbalik badan. Dia tidak sengaja melihat Rizal dalam keadaan telanjang dada.


"Maaf aku gak tahu kamu sedang mandi disiniii..." tersipu malu, lalu Tasia segera berlari keluar dapur.


Muka Rizal pun memerah, dan dia lekas-lekas memakai kaos dan celananya di dalam kamar.


Lalu selang tak lama, Rizal keluar dapur dan menghampiri Tasia yang masih berdiri menunduk di samping ruangan tamu Cafe sana.


"Tidak apa, aku memang sekarang tidur disini, sudah tidak tinggal di kontrakan lagi. Hanya untuk menghemat biaya saja, dan biasanya Yogi juga tidur disini. Tapi malam tadi dia pulang ke rumahnya ada urusan" ujar Rizal.


Tasia masih menunduk malu karena ulahnya. Rizal terus memperhatikan wajah gadis itu.


'Kalau lagi tersipu malu malah semakin imut dilihatnya' pikirnya.


Perlahan Rizal mengangkat dagu Tasia dengan lembut lalu, agar gadis itu bisa melihat ke arahnya.


"Kamu lucu sekali, kalau lagi malu.."ucap Rizal pelan. Seketika itu wajah Tasia jadi memerah, dan jantungnya berdegup kencang di tatap pria di depannya.


"Apaan sih!" Tasia langsung membalikkan mukanya ke samping, tak berani menatap wajah Rizal.


Rizal hanya tersenyum-senyum melihat manisnya Tasia.


Lia yang sudah ada berdiri di depan luar kaca Cafenya. Tidak sengaja, melihat mereka saling bertatapan lama, dan tangannya Rizal yang mengelus lembut dagunya Tasia, di depannya. Dia langsung lari pergi dan masuk ke dalam mobilnya.


"Itu tidak mungkin! Apa yang kulihat itu hanya ilusi! Rizal tidak seperti itu, dia belum pernah punya pengalaman dengan wanita manapun...aku tahu dari semenjak SMA.. dia kaku dan dingin, tapi kenapa? Kenapa dia seperti itu barusan pada Tasia!" gerutu Lia dan mulai terisak-isak kesal, di dalam mobilnya sendiri. Lalu dia segera melajukan mobilnya dan pergi ke kampusnya.


bersambung...


...***...


Jangan lupa like dan komentarnya..yaa..


...🌺🌺🌺...