
...Bab 94...
...Di Balik Musibah...
"Lalu..karena kamu sudah memaafkan ibuku...maukan kamu kembali pada Rizal?" pinta Dian mengharapkan Tasia mau menerima Rizal lagi.
"Maafkan aku Dian, kalau soal itu,. aku belum bisa memutuskannya.." ucapnya sejenak menundukkan matanya ke bawah.
Dian kecewa berat. Dian jadi merasa tidak enak hati pada mereka berdua, karena pertengkaran dan perpisahan mereka itu di sebabkan oleh kesalahan Mira, ibu tirinya sendiri.
"Kalau sudah tidak ada pembicaraan lagi, aku permisi dulu ya..karena aku harus kembali ke kamar ibuku.." ujarnya. "Senang berkenalan denganmu, Dian.." Tasia tersenyum manis padanya sambil menggenggam tangannya Dian.
"Emm..iya..aku juga senang bisa kenal sama kamu..Tasia" Dian membalas senyum Tasia dan hanya bisa menganggukan kepalanya tidak bisa berkomentar apa-apa lagi.
Tasia lekas berdiri dari tempat duduknya dan meninggalkan Dian disana.
Tak lama Dian pun berdiri dan berjalan pergi ke tempat Yogi dan Rizal yang masih dudukkan di halaman Rumah Sakit.
Mereka berdua serentak menoleh ke arah Dian yang sedang berjalan murung ke arah mereka. Rizal beranjak dari duduknya dan sudah tidak sabar ingin segera mendengarkan hasil jawabannya. "Bagaimana katanya?" sahutnya penasaran.
Dian menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sorry, aku tidak bisa membujuknya,.." sahutnya ikut kecewa.
"Huuuft"
Rizal memburu nafasnya sedikit putus asa. Matanya memerah menahan tangis dan kecewa. Dia kembali duduk dan pasrah menerima semuanya sambil mengusap-ngusap seluruh wajahnya sendiri.
Yogi ikut prihatin dengan kesedihan yang di rasakan sahabatnya saat itu juga, dia menepuk-nepuk pundak Rizal hanya bisa menyampaikan supaya dia tetap bersabar dengan semuanya.
"Kalau begitu aku pamit pulang dulu, aku harus segera kembali ke butik.." sahut Dian tiba-tiba. Rizal tak menjawab hanya memanggutkan kepalanya, dia hanya ingin melanjutkan keluhannya di sana.
"Baiklah biar aku yang antar kamu..aku juga harus kembali ke Cafe.." sergap Yogi. "Van..kau mau ikut kami pulang?" tanyanya pada Revan yang baru saja datang menghampiri mereka.
"Iya aku ikut, sekalian kita juga pamit pulang ke kak Tasia dan Ibunya dulu..." ajak Revan. Yogi dan Dian setuju dan pamitan dahulu kepada mereka sebelum pulang.
Yogi, Dian, dan Revan lalu pergi meninggalkan Rizal yang masih duduk di sana seorang diri. Mereka paham kondisi Rizal saat itu, yang mungkin tidak ingin di ganggu dulu.
Cukup lama sekali Rizal terduduk di sana. Lalu sekilas Rizal memandang semu ke arah langit siang itu, tiba-tiba saja cuaca langit berubah mendung dan gelap. Padahal tadi begitu terang benderang.
"Hahh..apa cuma perasaanku saja? Atau mungkin kau sedang mengejek suasana hatiku saat ini? tiba-tiba saja kau ikut mendung..." gumamnya berbicara pada langit, seulas dia tersenyum pahit memandang langit di atasnya lalu memenjamkan matanya rapat menahan agar air matanya tidak keluar saat itu juga.
Selang beberapa menit kemudian tiba-tiba kilat dan petir datang beriringan, lalu tiba-tiba saja air hujan turun mengguyur kota Yogyakarta begitu derasnya. Rizal langsung berlari masuk dan berteduh di teras gedung Rumah Sakit.
"hosh...hosh...hosh.." Rizal berjalan pelan memasuki area Rumah Sakit masih dengan nafas yang ngos-ngosan. Dia mengusap-ngusap seluruh rambutnya yang sudah basah kuyup dan juga mengelap kemejanya dengan tangannya sendiri.
"Ternyata langit memang tengah mengejekku dia tahu kalau aku tengah patah hati...ha ha ha.." celotehnya, menertawai dirinya sendiri.
Tiba-tiba saja Rizal menghentikan tawanya, dia jadi diam terpaku, ketika itu matanya melihat pada satu arah di bagian tempat administrasi di depannya. Terlihat Tasia sudah berdiri disana untuk menanyakan biaya perawatan ibunya. Namun Tasia terlihat murung sekali setelah pergi dari sana.
#
#
#
#
#
Keesokkan harinya, pada sore hari menjelang malam, kondisi Sulastri mulai membaik, dan dia diperbolehkan pulang oleh dokter yang memeriksanya disana. Irna membantu Tasia mengambil barang bawaannya Sulastri. Dia tetap setia membantu mereka walaupun sudah tidak dipekerjakan lagi.
Irna merasa kebersamaannya dengan mereka sudah seperti bersama keluarganya sendiri. Hari-hari terasa sepi jika tanpa mereka.
Sebelum pulang Tasia pergi untuk membayar biaya rawat inap ibunya selama lebih tiga hari itu, dia terkejut ternyata mereka bilang biayanya sudah lunas terbayar semua. Tasia melihat terharu ke kertas rincian biayanya yang terbilang tidak murah itu dan memang sudah benar-benar lunas terbayar. Dia mendongak masih belum percaya.
"Si-siapa yang sudah berbaik hati membayarnya bu?" tanya Tasia melongo penasaran.
"Seorang pria, tapi dia tidak menjelaskan siapa dirinya..mbak.." jelas seorang kasir di sana.
"Seorang pria?" sontaknya terbelalak.
Tasia bergegas mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru area Rumah Sakit sana, mencari-cari sosok pria itu, namun pikirannya sudah mulai mencurigai Rizal mungkin dialah yang telah membayar semua biaya ibunya.
"Emm..kalau begitu sekali lagi saya mengucapkan terimakasih banyak ya bu.." ucap Tasia sambil menangis terharu. Seorang kasir itu menganggukkan kepalanya.
Tasia keluar memapah Sulastri yang masih terlihat lemah karena baru saja sembuh, menuju tempat parkiran motornya. Namun dia terkejut kalau Rizal ternyata sudah menunggu mereka di parkiran. Rizal sengaja menunggu Tasia untuk mengantar mereka pulang.
"Silahkan bu..." sahut Rizal sambil membuka pintu mobilnya menyilahkan Sulastri masuk.
"Terimakasih..tidak perlu repot-repot, aku sudah bawa motor sendiri.." sahut Tasia menolak tawaran tumpangan dari Rizal.
"Naik motor? Ibu masih terlihat lemah, tidak baik kalau masih terkena angin, lebih aman jika di dalam mobil.." ujar Rizal menyarankan.
"Heh...jadi menurutmu motorku tidak aman?" ketus Tasia sedikit tersinggung.
"Bukan begitu...aku hanya khawatir kondisi ibu nanti bisa sakit lagi kalau terkena angin. Apalagi sekarang lagi musim hujan. Jadi biarkan aku yang mengantarkan ibu pulang ya..Irna kamu juga boleh masuk temani ibu di dalam mobil.." sahut Rizal lagi.
"Baik den.." sahutnya girang. Lalu tanpa basa-basi lagi Irna memasuki barang Sulastri ke dalam mobil Rizal.
Sulastri hanya bisa tersenyum pahit, melihat Tasia yang masih jengkel terhadap Rizal, sejenak dia jadi kasihan terhadap menantunya tersebut.
"Tasia...maksudnya nak Rizal itu baik, kamu seharusnya menghargai dia yang ingin membantu Ibu.." cercahnya.
"Tapi bu..."
Sulastri tidak menghiraukan alasan Tasia lagi.
Rizal tersenyum senang diapun segera masuk ke dalam mobilnya lalu mulai melajukan mobilnya mendahului Tasia.
Tasia menghela nafas kasar sambil menggerutu kesal, mau tak mau diapun menyetujui Rizal yang mengantarkan ibunya pulang. Dia pun berlari ke motornya yang masih di parkiran dan menyusul mereka.
Selang hampir setengah jam akhirnya mereka sampai di rumah kontrakan kecil, di sebuah desa terpencil sekali dari kota. Rizal memandang sendu ke rumah kontrakan yang hanya sepetak saja dan terlihat kumuh itu. Dia ngebathin sedih ternyata istri dan Ibu mertuanya telah tinggal disana.
Setelah Sulastri masuk ke dalam kamarnya di bantu Irna. Tasia ke dapur untuk merebus air buat minum ibunya. Rizal mengikut dari belakangnya.
Rizal melihat-lihat isi ruangan sana, rumah itu benar-benar sudah tidak layak sekali untuk di tinggali orang. Atap-atapnya terlihat sudah rusak dan pasti bocor kalau sedang hujan. Dan benar saja ada genangan air di lantai sana bekas hujan kemarin.
"Sejak kapan kamu pindah ke rumah ini?" tanya Rizal.
Tasia menoleh sebentar ke arahnya lalu meneruskan kembali menyiduk air di gentong merah ke dalam panci. Lalu menaruh panci di atas kompor dan menyalakan apinya.
"Setelah pulang dari rumahmu.." ucapnya pelan.
"Kenapa kamu tidak pernah menceritakan semuanya padaku?"
"Apakah aku ada waktu untuk bercerita kepadamu? sedangkan dirimu enggan untuk melihatku.."
"Tasia..aku tahu, perlakuanku terhadapmu waktu itu sudah tidak bisa dimaafkan lagi..tapi sekarang aku kesini benar-benar tulus ingin kembali dan meminta maaf sebesar-besarnya kepadamu..aku ingin.. kita memulai lagi dari awal.. Keluargaku terutama Ayahku semua ikut menyesal dan ingin kamu kembali kesana..."
Tasia hanya tertegun mendengar penuturan Rizal dan matanya masih melihat kosong dan berkaca-kaca ke arah panci di depannya. Rizal yang berada di sampingnya terus memelas memohon kebesaran hati Tasia untuk menerimanya lagi.
"Tasia, kumohon kembalilah padaku.. " sahutnya lagi.
Saat Rizal ingin menyentuh pipi istrinya yang sudah basah dengan air mata, tetapi Tasia dengan cepat memalingkan wajah sedihnya itu dan melangkah ke arah kamar mandi tapi dia tidak fokus dan malah menginjak genangan air di lantai dan akhirnya dia terpeleset dan nyaris jatuh. Untungnya Rizal dengan cepat menangkap tubuhnya dari belakang.
Happ
Rizal jatuh karena menahan tubuh Tasia dan keduanya tersungkur di lantai yang basah.
"Aaaaaaargh" teriak Tasia histeris.
"Kamu tidak apa-apa?" mengkhawatirkan Tasia.
Tasia berdebar kencang ketakutan dan langsung memegang perutnya karena panik namun selang beberapa detik kemudian tiba-tiba perutnya mengeluh sakit dan wajahnya mendadak pucat pasi.
"Aaahhh...Rizal...aaahh..sakit...sakiiiit..." jeritnya.
"Kenapa? apa yang sakit?" Rizal ikut panik dan mencemaskannya. Melihat dan ikut menyentuh perut Tasia yang di pegangnya erat. Karena benar-benar panik Rizal cepat-cepat menggendong Tasia dan membawanya masuk kamar dan membaringkan Tasia di kasur.
Sulastri dan Irna ikut terkejut mendengarnya dan mereka ikut masuk ke dalam kamar.
"Ada apa nak Rizal?" teriak Sulastri.
"Tasia terpeleset bu..dan sekarang perutnya mengeluh sakit!" jawab Rizal gelisah.
"Sakiiitt...buuuu ..ibuu.."
Tasia terus merintih kesakitan. Sulastri lalu menyuruh Irna memanggil bidan yang berada tidak jauh dari rumah kontrakannya. Bidan itu yang memeriksa kehamilan Tasia setiap kali Tasia periksa.
"Cepat panggil bidan Mia kemari!" titah Sulastri.
"Baik bu.." jawab Irna
Irna mematuhinya dan bergegas keluar rumah memanggil bidan Mia. Tak lama kemudian bidan yang di susul Irna telah datang dan menghampiri Tasia lalu memeriksa kondisinya.
Semua panik termasuk Rizal yang ketakutan dengan kondisi istrinya yang tengah hamil muda itu.
"Bagaimana bu bidan?" sahut Rizal gelisah setelah bidan itu selesai memeriksa kandungan Tasia.
"Hmm..Untunglah kandungannya baik-baik saja Pak, cuma perutnya barusan kram hebat akibat terlalu kaget karena terpeleset tadi. Sebaiknya bu Tasia harus lebih hati-hati lagi kalau berjalan jangan sampai terjatuh nanti bisa membahayakan terhadap janinnya.." terang bidan itu.
Lalu dengan segera Bidan Mia meluruskan kaki Tasia dan mengusap perutnya perlahan setelah itu memberikan sedikit ramuan herbal untuk Tasia agar sedikit rileks.
Semua kembali bernafas lega mendengarnya, dan Tasia pun kembali berangsur tenang tidak merasakan sakit di perutnya lagi setelah meminum obat herbal khusus ibu hamil itu.
Rizal refleks mengecup puncak kepala Tasia dan merangkulnya ke dalam pelukannya.
"Syukurlah...anak kita masih terselamatkan..." ucapnya pelan, sambil terus membelai-belai sayang kepala Tasia.
Tasia menangis terharu dan membiarkan kepalanya menyender di dadanya Rizal yang bidang. Perasaan hangat kembali dia rasakan, setelah Rizal membelainya sayang. Tasia merengkuhkan kepalanya semakin dalam di pelukan suaminya, rasanya dia enggan untuk pergi darinya.
Sulastri dan Irna tersenyum bahagia memandangi mereka, lalu mereka keluar kamar di susul bu Bidan. Membiarkan mereka berduaan di kamarnya.
Tasia memenjamkan matanya dan memeluk pinggang Rizal erat, dan berucap pelan padanya
"Aku ingin, kita bisa memulai dari awal lagi..."
Seketika itu mata Rizal kembali berbinar dan wajahnya tersenyum lebar setelah mendengar ungkapan Tasia.
"Terimakasih sayang...terimakasih banyak..." menangis terharu, lalu mengecup-ngecupi kening istrinya itu.
bersambung....
...***...
Terimakasih banyak yang sudah terus setia baca novel ini...semoga selalu terhibur...jangan lupa like dan komentarnya yaa...
...🌺🌺🌺...