Sweet Cake Memories

Sweet Cake Memories
Kue Manis Kenangan Bersama Ayah



...Bab 24...


...Kue Manis Kenangan Bersama Ayah...


"Apaan, sih? " ucap Tasia. Dia memalingkan wajahnya ke samping, yang tidak tahan di pandangi Rizal terus. Rizal hanya tersenyum dibuatnya, acapkali melihat wajahnya yang tampak memerah karena malu.


"Habis wajahmu itu lucu sekali sih.. bikin gemaas.." celotehnya, mencubit kedua pipi gadis itu.


"Aduuuuh...sakit tahu!" menepis kedua tangan Rizal.


Tasia mengerucutkan bibirnya " Memangnya aku anak kecil dibilang lucuu.." gerutunya.


Rizal kembali terkekeh dibuatnya. Lalu bergegas, Tasia melangkahkan kakinya ke dapur dan mempersiapkan diri untuk mengumpulkan bahan-bahan kue nya yang akan dibuat nanti bersama Yogi.


"Apa hari ini kamu tidak pergi ke kampus? " tanya Tasia.


"Nanti siang aku baru berangkat ke kampus, sekalian pinjam sepeda motornya Revan! karna Dosen yang akan kutemui kebetulan sedang keluar pagi ini" jawab Rizal, ikut berjalan di belakangnya Tasia.


Tasia memanggut, paham.


"Hmm begitu ya, apa kamu tidak berniat ingin membeli kendaraan?" tanya Tasia.


"Ya.. aku memang sudah punya niat untuk membelinya, tapi sekarang aku belum punya banyak uang. Dulu pertama masuk kuliahku saja aku terpaksa harus menjual sepeda motorku, dan berdagang kecil-kecilan di KOPMA kampus" terang Rizal.


"Dan pada akhirnya selama lebih dari 5 tahun ini aku bisa membeli tanah dan membangun Cafe ini disini, dengan hasil dagangan ku sendiri! "lanjut ceritanya.


" Wah benarkah itu? " sahut Tasia terkagum mendengar ceritanya Rizal. Rizal menganggukkan kepalanya.


Setelah mendengar cerita Rizal, Tasia jadi teringat akan perkataannya Maya, kakaknya dulu tentangnya.


'Dia memang benar-benar pekerja keras' ucap dibathinnya Tasia.


"Kuakui, aku sangat salut padamu, dalam 5 tahun saja sudah bisa membangun Cafe semewah ini. Orangtuamu pasti sangat bangga memiliki putra sepertimu?!" sahut Tasia terkagum memujinya.


Rizal memoles senyuman palsu, dengan perkataannya Tasia padanya, dia justru tak memikirkan orangtuanya itu. Keberhasilannya itu hanyalah ambisinya saja, yang berkeinginan untuk membuktikannya pada kakaknya, Raffi dan kedua orangtuanya. Bahwa dia memiliki skill tersendiri, dan tidak lemah seperti yang mereka sangkakan.


"Ooh... ya sudah, kalau begitu aku mau siap-siap menyiapkan bahan-bahannya dulu, sebelum Yogi datang!" gumam Tasia.


"Tasia, ajari aku buat kue!" ujarnya tiba-tiba.


Tasia terkejut dengan permintaannya Rizal.


"Memangnya kamu serius ingin belajar? " sahut Tasia ragu. Rizal senyum mengangguk.


"Aku ingin belajar membuat kue, kue pertama yang aku makan waktu di terminal bus dulu, ketika aku tidak sengaja menabrak mu" sahutnya. Tasia terpaku dengan perkataannya, dia kembali mengingat kejadian waktu pertama kalinya bertemu dengan Rizal, dan gadis itu tersenyum-senyum lagi mengingatnya setelah beberapa saat.


"Memangnya kamu makan kue yang mana?" tanya Tasia lagi tertawa kecil.


"Yang ada krim berbentuk bunga Lili itu lho? Bukankah dulu di pernikahan kakakmu, aku sudah pernah menunjukkannya.." sahut Rizal menjelaskan.


Tasia mencoba mengingatnya kembali, dengan mengarahkan matanya ke atas.


"Ooh.. itu? kamu suka yang jenis itu yaa?" serunya baru teringat.


"Karena kue itu terlihat berbeda dari yang lainnya, rasanya sangat menggiurkan, biasanya kalau makan banyak manis orang akan terasa blenger, tapi kue pertama yang ku makan darimu itu malah ingin menyicipinya kembali!" sahutnya lagi.


"Benarkah?" tanya Tasia. "Itu cuma kue biasa, tapi... sebenarnya kue itu juga kue spesial di dalam hidupku... " ujar Tasia menunduk termenung, tiba-tiba matanya menatap kosong lurus kedepan.


"Oh ya?! " sahut Rizal, penasaran ingin mendengarkan cerita Tasia juga.


"Kue itu yang selalu kubuat bersama Ayahku setiap tahun, di hari ulangtahunku. Kue itu juga sebenarnya kue yang pertama kali Ayahku buat untuk Ibuku" ungkapnya. Rizal dudukan di meja dapur samping Tasia yang sedang berdiri memeluk kantung tepung terigu, menyimak ceritanya Tasia.


"Benarkah? lalu...? " tanya Rizal yang tertarik


mendengar ceritanya Tasia dan dia meminta melanjutkan lagi ceritanya.


"Waktu itu Ibuku sulit sekali punya anak, beliau sudah 3 kali keguguran karena lemah kandungan. Setiap kali Ibu menangis karena sedih dan depresi, Ayah selalu meluangkan waktunya untuk membuat kue itu, untuk menyenangkan hati Ibuku" gumam Tasia.


"Ayahmu.. ternyata orangnya romantis juga ya!" sahut Rizal.


"Iya begitulah...!"seru Tasia tersenyum palsu. Lalu buru-buru menuangkan tepung ke wadah.


Rizal tiba-tiba teringat di pernikahan Supri, sikap tidak baiknya terhadap Ayahnya itu.


" Hm, maaf aku terlalu ikut campur" ujar Rizal sedikit ragu untuk bertanya.


"Tapi kenapa dulu di pernikahan kakakmu, sikapmu begitu acuh kepada Ayahmu itu?" sahutnya memberanikan diri.


Tasia sudah bisa menebaknya, kalau Rizal pasti akan menanyakan hal itu. Karena dia dulu melihatnya saat Tasia dan Ayahnya bertemu.


Tasia pertama ragu untuk menceritakan masalah pribadinya kepada Rizal. Namun lama-kelamaan Tasia merasakan ada kehangatan di diri Rizal, sehingga dia berani mencurahkan segala isi hatinya itu.


Tiba-tiba tak terasa air mata Tasia meleleh, lalu lekas dia mengusapnya dengan telapak tangannya.


"Kenapa, katakan padaku... aku akan jaga rahasia keluargamu, percayalah padaku! " tiba-tiba Rizal membantu mengusap air mata Tasia yang jatuh berhamburan.


"Ayahku... dia sebenarnya.." terbata-bata "Sebenarnya orangtuaku sudah lama bercerai!" sahut Tasia melepaskan segala beban dihatinya.


"Ayahku tega meninggalkan Ibu demi pekerjaan dan permintaan kakek-nenekku! " lanjutnya Tasia terisak-isak.


Rizal tertegun mendengarnya. Karena tidak tahan melihat Tasia bersedih, Rizal tidak sadar tangannya segera merangkul kepala Tasia dan menariknya ke dadanya yang bidang. Dia hanya ingin Tasia merasakan nyaman dan tenang di pelukannya itu.


"Ayah.. dia menikah lagi dengan wanita suruhan kakekku demi hubungan bisnis mereka. Sejak SMP aku sudah depresi dan benar-benar kehilangan Ayahku.. Ayahku yang selalu menyayangiku, dan memberiku kenyamanan... selama 5 tahun ini aku hampa tanpa Ayah...! " lanjutnya lagi, air matanya akhirnya membuyar keluar semua, menahan kesedihan sambil meremas kaos Rizal di dekat wajahnya. Rizal semakin erat memeluknya.


Yogi yang baru saja datang dan memasuki ruang Cafe, tidak sengaja mendengarkan percakapan itu di samping dapur, dan memandangi mereka yang tengah berpelukan lewat kaca jendela dapurnya.


bersambung...


...***...


Jangan lupa like dan komentarnya yaa...


...🌺🌺🌺...