
Bab 73
Bertemu Preman
Setelah selesai mengisi perut, Tasia memeriksa kembali ponselnya bermaksud ingin mengabari ibunya di kampung, supaya beliau tidak mengkhawatirkan keadaannya, tetapi sayang ponselnya malah tidak menyala.
"Ya..ampun batereinya sampai habis begini.." keluhnya. "Haah sebaiknya aku segera mencari tempat penginapan, takut kemalaman.." gumamnya lagi.
Tasia beranjak berdiri dan lekas membayar makannya, kemudian dia berjalan pelan keluar dari rumah makan itu, sebab kakinya masih sakit dan perih. Saat menuju pintu keluar dia
berpapasan dengan seorang pria yang akan masuk ke dalam rumah makan tersebut, dan tidak sengaja Tasia menggilas kakinya dengan koper dorongnya.
"Heeei kakiku" teriaknya menggaduh. "Aduuh.." meloncat-loncat seperti kodok.
Tasia sontak jadi kaget "Eh ke-kenapa mas?"
"Kenapa-kenapa? bawanya yang benar dong mbak.. kopermu menggeret kakiku ini!" ketusnya jengkel, sambil menunjuk jempol kakinya yang sedikit bengkak dan merah.
"Ma-maaf aku tidak sengaja...mas.." sahut Tasia ikut panik.
"Huuuh" jengkel pria itu pada Tasia, lalu dia segera masuk ke rumah makan dengan menggerutu.
Tasia menghela nafas panjangnya, dan kembali berjalan keluar. Melihat jalan itu begitu luas, malam itu kota Jakarta masih terlihat ramai sekali dengan kendaraan yang lalu lalang sejenak dia jadi putus asa untuk melanjutkan perjalanannya, karena kakinya benar-benar sudah sangat letih untuk di pakai jalan.
Tapi dia mencoba terus melanjutkan jalannya lagi, karena ingin cepat-cepat mencari penginapan dan istirahat.
###
Akhirnya selang beberapa jam kemudian Rizal dan Yogi bertemu di sebuah tempat, dan diantara mereka juga tidak ada yang menemukan Tasia.
"Ponselnya sama sekali tidak aktif.."sahut Yogi sambil mengelap keringatnya di dahi.
Rizal kesal sampai memukul-mukul atap mobilnya karena putus asa mencari istrinya itu.
"Sudah mau pukul 23.00 malam...dia keluyuran kemana?" cemas Rizal.
Mata Yogi pun mulai letih. "Lebih baik besok kita mulai mencarinya lagi" sahutnya tidak tahan dengan kantuknya.
"Ya...kau boleh pulang duluan, aku akan tetap mencarinya disini." jawab Rizal masih bertahan.
"Berhentilah menyiksa dirimu sendiri..lebih baik kau juga istirahat, lalu kumpulkan tenagamu..besok kita akan cari lagi dia" saran Yogi, sambil memberikan satu botol minuman ke Rizal lalu dia mulai meneguk minumannya di botol yang tadi dia beli di supermarket.
Rizal mengambilnya lalu lekas duduk di trotoar.
"Ini semua salahku...seharusnya aku tidak melakukan ide gila itu.." ujar Rizal tiba-tiba merenung, pandangannya penuh penyesalan.
Sementara Yogi duduk di atas motor sepupunya, sambil mendengar keluhan sahabatnya itu.
"Seharusnya...dari dulu, aku jelaskan semua padanya...sekarang hubungan kami malah semakin rumit saja" keluhnya lagi mulai berputus asa.
"Ide gilaku ingin menjebak Lia dengan memanfaatkan Shanti. Tapi malah Tasia yang terkena jebakanku sendiri..." Rizal menutup matanya dan memukul-mukul kencang jidatnya sendiri dengan kepalan tangan kanannya.
"Hentikan itu! sudah tidak ada gunanya lagi kau sesali.. walaupun aku dulu seorang playboy bajingan tapi aku masih punya hati nurani..." tutur Yogi.
"Apa maksudmu...?" tanya Rizal tersentak menoleh ke arah Yogi di atas motor.
"Jika aku sudah terlanjur mengecewakan seseorang aku akan segera melepaskannya..." ungkapnya.
Rizal mengerutkan dahinya menatap Yogi.
"Jadi...maksudmu? kau ingin aku melepaskan Tasia?" Rizal menggelengkan kepalanya. Yogi memanggutkan kepalanya.
"Berhentilah dengan mempertahankan keegoisanmu...kau harus pilih salah satu diantara mereka, Tasia atau Lia..." saran Yogi lagi menatap tajam mata Rizal.
Rizal beranjak berdiri dan menyekal jaket Yogi.
"Aku tidak akan mengikuti saranmu! walau bagaimanapun Tasia adalah istriku yang harus aku pertahankan" geram Rizal.
Yogi melepas cekalan tangan Rizal di kerah jaketnya.
"Terserah padamu...tapi jangan kau sesali nanti lebih dalam lagi...perasaan Tasia terhadapmu akan semakin berkurang dan bahkan hilang...jika kau terus menduakannya tanpa keputusan..kau harus tahu itulah sifat wanita!" gertak Yogi yang lama-lama kesal dengan sikap egoisnya Rizal.
Tangan Rizal melemas tak berdaya dia pun menjatuhkan dirinya di aspal.
"Aku tidak mau...aku tidak bisa menceraikannya Yogi...dia adalah cinta pertamaku... aku yang anti dengan wanita manapun. Tapi hanya dengan dirinya lah aku berbeda.." ungkapnya lirih.
Yogi hanya memandang sahabatnya prihatin.
###
Langkah Tasia terhenti ketika berada di sebuah jembatan panjang yang sepi orang, tangannya mulai menggerayangi besi jembatan itu lalu matanya menoleh ke bawah jembatan tersebut dan terdapat danau yang lebar dan luas, pemandangan air danau pada malam hari itu terlihat sangat indah sekali, tampak pantulan cahaya rembulan menyinarinya.
"Wah indah sekali.." takjubnya.
Tiba-tiba matanya jadi kosong setelah menatap lama ke bawah jembatan itu, lalu air matanya mulai kembali bergulir membasahi kedua pipinya, pikirannya terhadap Rizal dengan wanita tadi kembali meracuni otaknya lagi. Rasa sesak dan sakit di ulu hatinya pun kembali terasa.
"Hhhh...aaaaaahhhh..." teriaknya kencang terisak-isak panjang. "Kenapa kau membohongiku...? kenapa...Rizal...hhh" tangisnya semakin kencang.
Ramond berjalan melewati jembatan setelah dia pulang dari rumah makan, dengan membawa bungkusan makanan di kantung keresek. Dari jauh dia melihat ke arah Tasia.
"Bukankah wanita itu barusan yang menggilas jempol kakiku dengan kopernya?" tanyanya. "Kenapa dia teriak-teriak di samping jembatan" gumamnya penuh tanda-tanya.
"Apa mungkin... dia mau mencoba..?" terkanya tiba-tiba jadi panik.
Tasia tersentak kaget lalu mengarah pada orang yang memanggilnya.
"Mbak, apa yang kau lakukan? bunuh diri itu tidak baik?" cemasnya tiba-tiba. Lantas Tasia mengernyitkan alisnya melongo, mendengar dia bicara.
"Bunuh diri?"ujar Tasia mengulangi perkataan pria itu. "Siapa yang mau bunuh diri?" ledek Tasia.
"Kau..barusan teriak-teriak, ingin berniat melompat ke danau kan?" gugupnya.
"Gila, bunuh diri matamu!" ketus Tasia mendorong bahu pria itu.
"Jadi..kau tidak mau bunuh diri kan?" tanyanya masih penasaran.
Tasia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Hahh...syukurlah.." ucapnya lega mengelus-elus dadanya.
"Dasar pria aneh!" sindir Tasia.
Lalu Tasia mengambil kopernya lagi dan meninggalkan pria itu.
"Hei...mbak kamu mau kemana sebenarnya..?" tanyanya sok akrab.
"Aku mau mencari penginapan.." kata Tasia jujur. "Bisakah kau tunjukkan dimana?"
"Hem..baiklah akan kutunjukkan dekat apartemenku ada rumah kos-kosan banyak disana, mari biar kuantarkan.." sahut Ramond.
"Terimakasih banyak,.." jawab Tasia senang sekali akhirnya bisa dapat tempat untuk menginap semalam,sambil berjalan tertatih-tatih. "Apa masih jauh ke tempat kosan?" tanya Tasia tidak sabaran.
"Tidak kok,.dekat dari sini.." sahutnya. Lalu Ramond melihat Tasia berjalan sedikit pincang.
"Kakimu kenapa? sini biar aku bantu bawakan kopermu..?" tawarnya.
"Tidak usah, aku bisa sendiri.." jawab Tasia. Tapi Ramond terlihat kasihan padanya. Dan dia malah menarik koper Tasia.
"Tidak apa-apa sini..."paksa Ramond.
"Tidak perlu.." sahut Tasia.
Sementara mereka berdebat, tiba-tiba dari jauh muncul tiga orang preman yang sedang mabuk di jalan hendak melewati jembatan panjang itu.
Mereka bertiga melihat ke arah Tasia dan Ramond.
"Wah..lihat-lihat disana ada dua korban baru!" seru salah satu preman girang. Kedua temannya langsung menoleh ke depan jalannya
Mereka pun saling menatap dan tertawa ringai bersamaan.
Ha ha ha ha...
"Ayo, kita ambil barang berharga milik mereka.." ajak preman satunya lagi memerintah. Lalu membuang botol-botol minuman kerasnya ke samping jalan.
"Hei kalian berdua!" teriak salah satu preman itu memanggil. Tasia dan Ramond terkejut dan serentak menoleh ke tiga preman itu.
Lalu ketiga preman itu berjalan cepat ke arah Tasia dan Ramond, dan salah satunya menodong golok ke lehernya Ramond. Sontak Ramond terkejut dan matanya terbelalak menatap tajamnya ujung golok.
"Ma-maaf ya ini apaan?" gelagap Ramond jadi ketakutan kakinya jadi gemetaran di buatnya.
"Hei kau..serahkan semua barang berharga kalian! cepat semua keluarkan!" gertak si preman itu sangar.
Lalu salah satunya lagi menarik paksa tas kepunyaan Tasia sambil mengancam juga.
"Jangan tidak boleh..." teriak Tasia kencang menarik kembali tasnya.
"Tutup mulutmu, atau tidak temanmu kami bacok baru tahu rasa" ancamnya keras pada Tasia, menunjuk ke arah Ramond.
Tasia tidak bisa membantah lagi. Dia terpaksa merelakan semua barang berharganya yang ada di tas nya itu.
"Bagus..."ucap si preman saat Tasia melepas tasnya.
"Ayo semuanya keluarkan barang kalian?" sahut preman itu belum puas dengan barang bawaan mereka.
"Tidak ada lagi...semua barang berhargaku ada di dalam tas itu..." jelas Tasia.
"Sebaiknya kalian diam kalau ingin selamat..." lalu ketiga preman itu lari dan pergi meninggalkan mereka dengan membawa tas milik Tasia.
Tasia mengerutkan dahinya sedih. Karena Handphone dan dompetnya yang berisi kartu kreditnya semua amblas di rampok preman itu.
Ramond ikut prihatin lalu segera merogoh ponselnya di belakang saku celananya dan menelepon seseorang. Untungnya preman itu tidak menggeledahnya.
Setelah terhubung.
"Hei...kau dimana? cepat kau tolong aku, datang ke jembatan panjang..kami barusan di todong preman!" sahut Ramond meminta pertolongan.
Lalu segera di tutupnya kembali telepon itu.
"Kau tidak usah bersedih..ada sepupuku yang jago berkelahi, preman itu pasti akan babak belur sama dia...hehe.."sahut Ramond menenangkan Tasia.
bersambung...
...***...