Sweet Cake Memories

Sweet Cake Memories
Bertemu Calon Mertua



Bab 60


Bertemu Calon Mertua


Setelah mandi dan memakai pakaian sederhananya, Tasia mencoba istirahat di kasur empuk kamar itu. Kamarnya itu sudah seperti kamar hotel saja, luas dan terlihat nyaman sekali, juga sudah ada kamar mandinya di dalam kamarnya sendiri, jadi dirinya tidak perlu mengantri mandi dengan orang rumah yang lain. Bahkan di kamarnya juga tersedia TV dan Ace nya.


Sangat jauh sekali kalau dibandingkan dengan kamar Tasia yang hanya sepetak saja tanpa Tv dan Ace. Tasia jadi tidak bisa tidur di kamar yang terlalu besar itu sendirian, membuatnya menjadi sangat merinding.


Waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Tiba-tiba saja pintu kamar Tasia di ketok dari luar. Tasia segera membuka kamarnya itu lalu dia melihat seorang pelayan wanita muda berdiri di depan pintu kamarnya, dia datang meminta Tasia untuk segera berkumpul di meja makan keluarga.


"Nona Tasia, silahkan sarapannya sudah siap. Nona sedang di tunggu Tuan dan Nyonya besar di meja makan." sahutnya.


Tasia mulai panik dan gugup sekali, terasa suhu tubuhnya naik turun tak beraturan.


'Ah kenapa bukannya Rizal saja yang mengantarku...'' cemasnya.


"Iya..baiklah" lalu Tasia segera menutup pintu kamarnya cepat-cepat dan ikut pelayan wanita itu ke ruangan makan.


Disana sudah terlihat Ayah dan Ibunya Rizal yang sedang duduk bersampingan. Lalu Rizal juga baru saja keluar dari kamarnya yang berada di lantai atas. Tasia memandang ke atas loteng, memperhatikan Rizal yang sedang berjalan menuruni anak tangga perlahan, dengan sudah memakai pakaian stelan kerjanya berwarna hitam dan dasi bergaris. Terlihat rapi sekali dengan wajahnya yang sangat menawan. Tasia sampai terkesima dibuatnya. Di atas tangganya dia malah melempar senyuman manis ke arah Tasia.


'Hah...ngapain dia pakai pakaian kerja? memangnya dia mau kerja dimana? pake senyum-senyum segala lagi!' bertanya-tanya sendiri di dalam batinnya, yang membuat dia jadi tambah tegang tidak karuan.


"Pagi Ayah..Ibu..." sapa Rizal setelah dia masuk ke ruang makan dan berdiri berjejer di samping Tasia yang juga baru sampai bersamaan di ruang makan.


"Pagi...Paman..Tante.." sapa Tasia juga merengkuh kepalanya sopan.


Hendra dan Tania memandang ke arah Tasia dengan wajah datar.


"Pagi.."jawab Hendra singkat, dengan suara beratnya.


"Ayo duduk dan ikut makan bersama kami" sahut Tania.


"Terimakasih Tante.." jawab Tasia gugup sekali. Lalu perlahan dia berjalan menghampiri meja makan, dengan segera Rizal menarik kursinya dan menyilakan Tasia duduk duluan.


Tasia mengucap terimakasih pelan ke Rizal. Lalu Rizal juga duduk di samping Tasia.


Seorang pelayan satu-persatu melayani kami di meja makan besar itu. Menuangkan air ke dalam gelas-gelas kami dan menaruh piring-piring dan sendok-garpu makan satu-satu di depan meja kami. Dan di susul dengan pelayan lainnya yang membawa beberapa makanan siap saji lalu di taruhnya perlahan-lahan ke meja makan kami satu persatu.


Suasana di meja makan mulai terasa dingin, Tasia terdiam cukup lama bahkan dia pun sampai ragu untuk menyentuh makanannya.


Di meja makan itu hanya ada kami berempat, tapi makanan yang dihidangkannya begitu banyak sekali kalau dipikir-pikir makanan itu mungkin akan cukup untuk 10 orang lebih.


"Siapa namamu nak?" tanya Hendra. Tiba-tiba Ayah Rizal bertanya, memulai pembicaraan. Setelah lama terhening.


"Namanya Tasia Ayah..." jawab Rizal sambil mengambil nugget di piring segi empat yang berada jauh di depannya.


"Ayah tidak bertanya padamu.." sahut Hendra sedikit kesal, karena Rizal yang malah menjawab pertanyaannya.


"Tasia...paman" jawabnya tertawa kecil.


"Kamu...lulusan apa nak?" tanyanya lagi


Deg


"Saya hanya lulusan SMK jurusan Tata Boga paman" jawab Tasia jujur berusaha tenang dengan keadaan. Hendra terkejut mendengarnya dan matanya sekilas seperti melotot ke arah Rizal.


"Waah itu bagus sekali, kalau begitu kamu pasti sangat pintar memasak" Tania tiba-tiba saja berekspresi menyenangkan di depan Tasia, yang membuatnya tidak terlalu tegang menghadapi Ayah Rizal yang sedikit dingin terhadapnya.


"E-enggak Tante..biasa saja kok.." sahut Tasia rendah hati.


"Ayah...Ibu, walaupun Tasia cuma lulusan SMK tapi dia yang membuat karir Rizal melejit, jadi jangan pernah sekali meremehkan kemampuannya dalam mengembangkan usaha kami di bidang kuliner" jelas Rizal memuji kekasihnya di depan orangtuanya.


"Hebat sekali kamu Tasia, lain kali kamu ajari aku memasak ya" pinta Tania.


"I-iya Tante.." jawab Tasia tersipu malu dibuatnya.


Hendra sama sekali tak berkomentar banyak di meja makan itu. Wajahnya masih tetap saja datar dan masam, sama sekali tidak menampakkan ekspresi senangnya terhadap Tasia. Dia lalu meneruskan makannya dengan cepat-cepat lalu kembali ke ruangan kerjanya dengan memakai kursi rodanya dan di dorong mbok Darmin.


Jadi di meja makan itu cuma ada kami bertiga. Dan Tasia hanya di ajak ngobrol oleh Tania saja.


...***...


Setelah sarapan bersama, Rizal berangkat kerja dan pamitan pada Tasia. Di luar teras rumah Tasia banyak bertanya-tanya padanya.


"Kamu bekerja dimana kok tidak pernah bilang-bilang, kalau kamu disini juga kerja?" tanya Tasia polos.


"Aku bekerja di tempat Ayahku. Menggantikan Ayah dan Kakak. Kamu tidak apa kan aku tinggalkan sebentar, nanti sore aku pulang." ujarnya lalu dia berjalan cepat-cepat ke arah mobilnya yang sudah dipersiapkan Pak Mamat dari tadi, tetapi Tasia keburu menahan tangannya dulu lalu berbicara padanya lagi.


"Rizal tunggu sebentar dulu...sepertinya ini tidak baik, aku merasa...kalau Ayahmu tidak akan menyukaiku" sahutnya tiba-tiba berubah murung.


Rizal menatapnya ikut sedih, ternyata Tasia sudah bisa merasakan sikap Ayahnya kepadanya. Tapi Rizal mencoba menghiburnya supaya Tasia tidak ragu untuk dia nikahi.


"Tasia itu mungkin perasaanmu saja. Ayahku memang sikapnya selalu seperti itu, jika kamu sedikit sungkan padanya. Kamu bisa lebih dekat dengan ibuku. Tadi kulihat kalian malah akrab sekali mengobrol...iya kan"


Tasia mengangguk, mengiyakannya Ibu Rizal malah sangat baik kepadanya.


"Ya sudah aku harus segera pergi bekerja ini sudah sangat telat sekali ya.." sahut Rizal terburu-buru. Lalu dia segera menaiki mobilnya dan diantar pergi dengan supir pribadinya.


Di dalam mobil Rizal melambaikan tangannya pada Tasia. Tasiapun membalas lambaiannya.


Tasia masuk ke dalam rumah Rizal setelah Rizal benar-benar sudah pergi.


Saat hendak membalikkan badannya dia menatap ibunya Rizal sudah ada berdiri di belakangnya lalu dia tersenyum pada Tasia.


Tania memandangi pakaian sederhana yang dipakai Tasia. Sangat tidak serasi sekali dengan wajah Tasia yang cantik. Lalu dia tiba-tiba saja mengajak Tasia ikut pergi bersamanya jalan-jalan.


"Ayo ikut Tante jalan-jalan..." ajaknya.


"Kemana Tante?" tanya Tasia penasaran.


"Sudah ayo ikut saja.." lalu Tania menarik Tasia ke dalam mobil pribadinya sendiri.


bersambung....


...***...