
...Bab 9...
...Tawaran Kerja...
Tak lama menunggu, akhirnya pesanan makanan mereka pun sudah datang. Yogi segera langsung menyambar lauk pauk dan sambal khas rumah makan tersebut.
"Waaah mantaap niih kayaknya!" gumamnya langsung mencomot nasi dan ayam geprek itu ke mulutnya dengan lahap.
"Makannya yang pelan..kalau sampai tersedak baru tahu rasa!" tegur Rizal mengingatkan.
"Ya..ya baru kali ini soalnya, aku bisa makan seenak ini..!" gumamnya lagi, sambil mengunyah penuh di mulutnya.
"Memangnya kau tidak pernah makan enak? bukankah usaha toko roti Ayahmu itu sangat laris?" sindir Rizal.
"Hmm maksudku, aku belum pernah makan ditemani dengan seorang gadis cantik!" sindir Yogi pelan, lalu matanya melirik dan tersenyum ke arah Tasia.
"Uhukk!" Tasia tiba-tiba batuk tersedak kaget di tatapinya seperti itu, ketika hendak meminum teh hangatnya.
"Maaf..soalnya baru pertama kali ini makanku jadi sangat begitu nikmat sekali.." sambung Yogi yang membuatnya jadi tersedak.
"Sudah hentikan gombalanmu..kau hanya akan membuat Tasia jadi ketakutan!" hardik Rizal ketus, karna sikapnya Yogi pada Tasia.
'Ooh..ternyata itu hanya gombalannya saja!" batin Tasia jengkel.
"Hei ini bukan gombalan..serius Tasia kamu cantik kok! jangan dengarkan dia. Dia hanya iri saja padaku karna belum pernah punya pasangan selama di hidupnya! jadi tidak tahu caranya menghormati seorang wanita." ujarnya tiba-tiba lagi.
Mendengar perkataan Yogi, Rizal langsung melempar remasan tisu nya ke dada dia, untuk berhenti mengoceh.
"Cepat habiskan makananmu, kau terlalu banyak bicara!" hardiknya lagi jengkel. Yogi hanya terkekeh puas mengerjai sahabatnya itu.
"Awww! Ssshh" Tasia meringis saat dia ingin memasukkan nasi ke dalam mulutnya.
"Ada apa?" tanya Rizal dan Yogi berbarengan.
"Tidak apa-apa..sudut bibirku hanya sedikit perih dan linu saja!" ujar Tasia menjelaskan.
"Pelan-pelan saja makannya.." ujar Rizal memberi perhatian. Tasia hanya memanggut saja.
Setelah menyelesaikan makannya itu, mereka akhirnya memulai pembicaraannya.
"Jadi.. kalian mau membicarakan apa denganku?" tanya Tasia penasaran.
" Ehm..Tasia begini!" ucap mereka berdua serentak. Lalu mereka saling menatap satu sama lain.
"Biar aku saja yang berbicara!" tahan Rizal pada Yogi.
"Apa? tidak-tidak lebih baik aku saja yang berbicara, Soalnya aku lebih banyak hubungannya dengan Tasia nantinya?!" sahut Yogi.
"Hei aku yang punya ide ini, dan aku pemilik Cafe itu..jadi aku yang mengatur semuanya!" seru Rizal.
"Apa kalian sudah selesai berdebat?" tiba-tiba Tasia memotong pembicaraan mereka dengan mengusap keningnya yang terluka, sudah kepalanya sakit terbentur lalu mendengar pertengkaran mereka di depannya, yang membuat kepalanya semakin bertambah sakit.
"Kalau sudah tidak ada pembicaraan lagi, lebih baik aku kembali ke pasar, dan segera pulang ke rumah. Aku ingin istirahat!" lanjutnya lagi kesal dengan ulah mereka yang masih kekanak-kanakan, lalu dia hendak berdiri untuk meninggalkan mereka berdua. Tapi Yogi keburu mencegahnya.
"Duduklah sebentar lagi ya.." sarannya menenangkan.
"Cepatlah aku tak banyak waktu lagi, aku khawatir soalnya dagangan ku di pasar aku tinggalkan dari tadi!" resahnya yang mengkhawatirkan dagangannya itu.
"Baiklah, begini Tasia, kamu masih ingat di pernikahan kakakmu kemarin, aku menanyakan resep kue mu itu! ujar Rizal menjelaskan.
Tasia mengangguk "Ooh jadi, maksud kamu ingin menemuiku, hanya karna ingin menanyakan soal itu saja?" celotehnya.
"Iya...eh bukan maksudku hanya ingin tahu siapa orang yang membuat kue tersebut, termasuk kue-kue yang kamu jual itu juga?" tanya Rizal langsung mengelak.
"Jadi begitu pentingnya ya kalian minta resep itu? apa kalian ingin meniru hasil karya oranglain? lalu segera mempromosikannya? sehingga seakan-akan kalianlah yang pertama kalinya membuat resep itu? lalu terkenal dan dapat penghargaan dan dapet duit banyak deh, begitukah?!" papar Tasia tiba-tiba menyindir mereka.
"Aiih kau pintar sekali, Tapi, sayangnya kau salah menilai kami begitu" celoteh Yogi.
"Lalu apa?!" Tasia bertanya lagi.
"Kami hanya ingin mencari seorang koki di tempat kerja kami" lanjut Rizal mengeluhkan keadaannya.
"Dan, jujur aku tertarik dengan kue-kue yang kamu jual itu, mungkin jika orang itu mau bekerja di tempat kami, akan kuberikan semuanya padanya dan berapapun gajih yang dia minta, asalkan dia benar-benar bersedia bekerja di tempat kami!" papar Rizal menjelaskan.
Tasia tertegun dengan penjelasan Rizal. Dia salah paham mungkin maksudnya ingin memintanya bekerja di tempat kerjanya itu.
"Hmm, jadi begitu, maaf ya tapi aku tidak bisa menerima tawaranmu itu!" sahut Tasia yang tiba-tiba menolak.
"Hahh kenapa?!" keluh Yogi kecewa.
"Karna aku bukan orang yang membuat kue itu! jadi aku mana bisa kerja di tempat kalian.." dustanya terpaksa.
"Sekarang aku boleh pergi kan?" lanjutnya lagi.
"Oh ya, sekali lagi terimakasih banyak ya atas pertolongan kalian tadi dan juga makan siangnya. Permisii..." sahutnya lalu dia pergi meninggalkan mereka berdua dimeja makan.
Setelah lama Tasia pergi, mereka kembali berbincang.
"Aku tahu, dia itu sedang berbohong!" seru Rizal pada Yogi, sambil melipat kedua kepalan tangannya dibawah dagunya, dan menatap kosong di depannya.
"Kau tahu darimana?" tanya Yogi, mengelus bibirnya dengan jari telunjuknya sendiri, sambil ikut berpikir.
"Aku sudah tanya sama Supri, Supri yang mengatakan padaku kalau Tasia paling pintar memasak. Setiap kali Supri kalau main ke rumahnya Maya dulu, dan dia ikut makan disana, yang masak makanan cuma Tasia. Maya malah tidak pandai memasak, katanya! Jadi aku yakin kalau dia jugalah yang buat jualan nya itu sendiri!" ungkap Rizal menjelaskan.
"Jadi maksudmu dia sedang membohongi kita?! itu artinya secara tak langsung dia menolak tawaran kerja kita?! Begitu" ujar Yogi menambahkan penjelasan Rizal.
Rizal menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan Yogi.
bersambung...
...***...
Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya...
...🌺🌺🌺...