Sweet Cake Memories

Sweet Cake Memories
Kalung Hati



...Bab 37...


...Kalung Hati...


Setelah pertengkaran itu. Tasia tidak ingin melihat wajah Rizal sedikitpun, hatinya masih sakit karena ucapannya tadi. Dia dudukkan di kursi Taman dan ngedumel sendirian di sana.


"Menyebalkan, kenapa sikapmu jadi begitu? kupikir kau adalah pria yang selalu berpikiran dewasa sehingga aku bisa selalu nyaman berada di dekatmu!" gerutunya sendiri, kesal dan kecewa. Dicabutnya dedaunan di samping kursi lalu mencabik-cabiknya hingga hancur.


Rizal mencari-cari Tasia di sekitar jalan dengan menaiki motor temannya itu pelan. "Kemana dia pergi?" ujarnya bingung.


"Maafkan aku Tasia, jangan marah lagi padaku.. " sesalnya.


Saat melewati Taman kota, Rizal tidak sengaja melihat Tasia tengah dudukkan di kursi Taman sendirian dengan wajah yang masih cemberut memandangi tanaman bunga yang di depannya. Dia bernafas lega karena akhirnya dia bisa menemukannya.


Rizal memarkirkan motornya diam-diam di belakang kursi taman, lalu perlahan-lahan dia berjalan menghampiri di belakang punggungnya, Rizal tidak sengaja mendengar gerutuannya yang masih memendam kesal kepadanya.


"Ahh, aku benci padamu, aku tidak mau bertemu denganmu lagi..pergilah kamu ke Jakarta, sana!" gerutunya sambil menangis sesegukkan, dan melempar remahan dedaunan yang di hancurkannya barusan. Rizal ikut bersedih dengan ucapannya itu.


"Tapi aku tidak membencimu.. aku selalu ingin dekat denganmu" ujarnya tiba-tiba mengagetkan Tasia. Gadis itu menengok ke belakangnya, dan terlihat Rizal sudah ada berdiri tegak disana. Tasia lekas berdiri dan mengambil tasnya itu di kursi taman dan melangkah pergi meninggalkannya lagi. Tapi cepat tertahan oleh tangan Rizal yang sergap meraih tangannya lalu memeluknya cepat.


"Lepaskan aku" kesal Tasia menangis sambil memukul-mukul dan mendorong dadanya Rizal.


"Aku benci sama kamu!"


"Jangan pergi kumohon jangan pergi, maafkan aku!" ucapnya semakin mempererat pelukannya lagi.


"Maaf, tadi aku sudah membentakmu..tak akan ku ulangi lagi" sesalnya. Tasia berhenti memberontak, namun dia masih sakit hati dengan ucapan Rizal padanya tadi.


"Orangtuaku ingin sekali aku cepat pulang.. tapi sebenarnya aku tidak ingin pulang ke Jakarta. Aku hanya ingin tetap tinggal disini bersamamu.." ucapnya perlahan dan jelas, Tasia mendengarnya seperti sedang menangis tersedu.


Rizal tahu, Tasia adalah gadis polos yang selalu hidup dalam kesederhanaan makanya dia memberikan arahan yang terbaik untuk dirinya. Tapi Tasia belum mengetahui siapa dibalik keluarga Rizal yang sebenarnya, kalau sampai mengetahuinya mungkin saja Tasia akan pergi menjauh darinya.


"Orangtuamu ingin kau cepat pulang itu artinya mereka sangat merindukanmu, masa kamu tidak paham" ujar Tasia mencoba menenangkan Rizal yang sedang bersedih. Rizal hanya bisa tersenyum pahit, mendengar perkataan kekasihnya itu.


Sebenarnya Rizal bukan sedih karena itu, yakni sedih yang dia rasakan hanya teringat akan masa lalu dari Ayahnya Tasia dahulu yang pernah diceritakannya, sampai membuat Tasia depresi kehilangan sosok Ayahnya itu. Ayah yang dibanggakan Tasia ternyata malah menghianati keluarganya sendiri.


Rizal dapat merasakan kesedihan dan kekecewaannya itu. Yang tengah di khawatirkannya sekarang adalah bagaimana jika Tasia mengetahui kalau dia pun akan di jodohkan dengan wanita lain oleh orangtuanya sendiri, hatinya pasti akan semakin terluka dan rapuh.


Apalagi kini Rizal sudah terlanjur sangat mencintai gadis polos itu. Di dalam hatinya dia tidak mau meninggalkan Tasia sebentarpun.


Rizal melepas pelukannya dan berhadapan dengannya. Di usap-usapkan air matanya Tasia dan di kecupinya kening gadis itu dengan lembut.


"Ayo, aku ingin mengajakmu ke toko perhiasan.." ajaknya tiba-tiba.


Tasia terkejut dengan ajakannya yang tiba-tiba itu, lalu mereka berjalan bersamaan dan tangan Rizal yang tetap sambil menggandeng tangan Tasia. Mereka segera naik motor lagi lalu berangkat dan tidak lama mereka berhenti di toko perhiasan, dengan cepat Rizal menarik tangan Tasia dan mengajaknya masuk ke dalam toko perhiasan itu.


"Kenapa kamu bawa aku kemari?" tanya Tasia penasaran. Rizal tidak menjawab pertanyaannya dia hanya memberi senyuman saja pada gadis itu..


"Silahkan mas, mbak?Ada yang bisa kami bantu? sahut pelayan wanita toko itu.


Tanpa basa-basi lalu Rizal meminta pelayan toko itu untuk mengeluarkan kalung perak berbandul hati yang paling baik kualitasnya dan juga yang harganya paling mahal.


"Tolong mbak minta kalung berbandul hati yang paling bagus dan paling mahal ya" pinta Rizal.


Lalu di keluarkan nya oleh si pemilik toko itu. Ada dua jenis kalung yang sangat cantik dan berkilauan, namun berbeda bentuknya dan juga harganya.


"Kamu suka yang mana? pilihlah" tanyanya.


Tasia melohok kaget, saat Rizal menawarinya untuk memilih salah satu kalung di depannya.


"Maksud kamu?"tanyanya gugup.


'Apakah Rizal ingin membelikan ku kalung itu?' pikir Tasia.


Rizal menoleh kembali pada kekasihnya "Ambil yang kamu suka?" sahutnya lagi.


Tasia menuruti perkataannya dan dia malah menunjuki salah satu kalung yang paling murah. Rizal menghela nafasnya, menggelengkan kepalanya karena gemas terhadap Tasia.


Tasia si gadis polos sangat tidak suka benda mahal. Bukan berarti dia tidak suka, namun Rizal tahu gadis itu tidak ingin jadi beban buat dirinya. Tetapi Rizal malah sebaliknya, dia malah memilihkan kalung yang paling mahal untuknya, tanpa basa-basi segera dia meminta pemilik toko itu menuliskan bon nya.


"Kenapa kamu malah mengambil yang itu?" sahut Tasia jengkel. Tapi Rizal tidak menghiraukan omongannya.


Setelah Rizal selesai membayarnya, lalu dia memutar badan Tasia untuk menghadap cermin disana dan di pakaikan-nya kalung cantik itu ke leher Tasia. Dengan perlahan mengangkat rambut panjang Tasia ke arah samping. Wajah merah merona Tasia terlihat jelas sekali oleh Rizal di cermin itu. Rizal terpesona dengan kecantikan alami yang di miliki Tasia. lalu dia memberi senyuman manis ke arahnya di cermin.


"Kamu semakin cantik memakainya" bisiknya pelan di telinganya Tasia.


Deg


Jantung Tasia seakan mau copot mendengar pujiannya itu. Membuat Tasia semakin berbunga-bunga lagi. Begitu banyak sekali kejutan yang telah di berikan Rizal pada hari itu, yang tidak pernah dipikirkannya sama sekali.


#


#


#


Hari sudah semakin sore, setelah seharian itu mereka berdua bersenang-senang di luar, menonton film di bioskop dan main game di mall. Lalu mereka kembali pulang, sebelum pulang ke rumah, mereka mampir dulu ke samping jalan membeli martabak manis dua dus untuk ibunya Tasia dan juga Irna.


Di seberang jalan kota itu terlihat ada sesosok pria tak dikenal berpakaian hitam dan bertopi tengah mengamati mereka dari jauh.


"Aku tak akan pernah biarkan kalian hidup bersama! Tasia..hanya aku sajalah yang pantas menjadi calon suamimu!" gumamnya sendiri pelan. Setelah cukup puas mengamati mereka, dia pergi dari sana dengan motornya itu.


Setelah membeli martabak manis, Rizal dan Tasia kembali naik motor dan pulang ke rumahnya. Dan di rumah, Ibu beserta Irna sudah menunggu kepulangan mereka dari tadi.


"Kami pulang.. Bu... ini martabaknya tadi dibeliin Rizal" seru Tasia setelah sampai rumahnya. Ibunya sangat senang sekali karena di belikan jajanan kesukaannya oleh calon menantunya itu. Lalu mereka disuruhnya masuk dan makan malam bersama.


Malam itu adalah malam pertama Rizal bisa makan dengan keluarganya Tasia. Hatinya Tasia sangat senang sekali bisa makan bersama Ibu dan kekasihnya sendiri. Dia sangat bersyukur karena di hari itu Tuhan telah memberikan kebahagiaan yang sempurna untuk dirinya. Dia bisa makan bersama dengan dua orang yang dicintainya.


bersambung...


...***...


Jangan Lupa Like and Komentarnya...


...🌺🌺🌺...