Sweet Cake Memories

Sweet Cake Memories
Cinta Bertepuk Sebelah Tangan



...Bab 31...


...Cinta Bertepuk Sebelah Tangan...


Setelah di telepon teman satu organisasinya, Yogi keluar rumahnya lalu memakai helmnya dan segera pergi dengan ninja ZX-25R moge-nya, dia melaju cepat menuju Cafe Rizal.


Setiap minggu pagi memang sudah jadi aktivitasnya bermain futsal bersama teman satu kampusnya itu. Dia melupakan kalau pakaian organisasinya dan kaos futsalnya ada di lemari bajunya Rizal di kamar Cafe.


Setelah selang 10 menit dia sudah sampai gerbang Cafe. Dia langsung berlari dan masuk ke ruang kerjanya. Melihat ruang kerja Rizal kosong dia bertanya-tanya sendiri.


"Kemana dia, pintu Cafenya dibiarkan terbuka lebar tapi tidak ada orangnya di dalam?" gumamnya sendiri. Lalu saat mau membuka lemari baju, dia terkejut melihat tas hijaunya Tasia berada di sofa kerjanya Rizal. Dia mengerutkan dahinya dan mengambil tasnya Tasia.


"Apa dia kemari juga? Hari ini Cafe kan libur" bertanya-tanya sendiri. Lalu menaruh tasnya Tasia kembali.


Yogi lalu berjalan mengendap-endap di koridor menuju ruangan dapurnya. Semakin jelas terdengar suara tawa Rizal dan Tasia tengah bergurau disana.


Yogi melirik mereka di jendela kaca dapur samping koridor itu. Mereka tengah asyik membuat kue berduaan. Rizal membersihkan pipi Tasia yang terkena serbuk tepung dengan mesranya. Hatinya tiba-tiba saja merasakan panas yang mendidih setelah melihat kedekatan mereka.


"Akhir-akhir ini kulihat mereka sering berduaan? apa jangan-jangan mereka sudah jadian?" pikirnya lagi. Dia kembali memandang mereka jengkel, dia merasa tindakannya sudah tertinggal jauh dari Rizal.


"Tidak bisa, Tasia tidak boleh sampai jadian dengan laki-laki munafik itu!" gumamnya lagi.


Dia lalu masuk tanpa basa-basi dan mengetuk pintu dapur. Tawa mereka terhenti seketika itu, karena Yogi yang tiba-tiba saja muncul memasuki dapur.


"Eh Yogi?" Tasia terkejut ekspresi wajahnya tiba-tiba berubah datar. Rizal pun ikut terkejut dengan kedatangan tamu yang tak di undangnya itu. Rizal berpikir hari itu adalah kesempatannya untuk bersama Tasia berduaan saja. Tetapi Yogi malah tiba-tiba datang dan mengganggu acara mereka.


"Kalian berdua sedang ngapain?" tanyanya ketus.


"Kami berdua sedang buat kue bersama.." sahut Tasia tersenyum padanya.


"Perlukah dengan mesra-mesraan seperti itu?" ceplosnya Yogi.


Wajah Tasia memerah menundukkan pandangannya. Yogi yang belum mengetahui kalau sudah satu minggu itu mereka sudah menjalin hubungan.


Rizal selalu menahan kedekatannya dengan Tasia selagi di jam kerjanya mereka. Soalnya Tasia ingin merahasiakan hubungan itu dulu kepada yang lainnya, karena dia belum siap dan terbiasa pacaran.


"Tasia aku ingin bicara denganmu!" tegas Yogi meraih lengan Tasia dan menarik ke arahnya tiba-tiba.


"Hei, kau mau membawa Tasia kemana? " cegah Rizal, menarik tangan Tasia yang satunya lagi. Tasia tercengang kaget, yang tangannya tiba-tiba di tarik kesana-sini oleh mereka.


"Jika kau ingin bicara, bicaralah disini saja, tidak perlu sampai membawa Tasia pergi" gertak Rizal.


"Berhentilah kau berpura-pura menyukai Tasia, aku tahu kau hanya ingin memanfaatkan ini semua!" ungkap Yogi tiba-tiba.


Rizal tercengang dengan ucapannya itu, wajahnya seketika memerah marah lalu menatap tajam ke arah Yogi seraya mengerutkan kedua alisnya itu. Tasia hanya melohok terdiam, dengan ucapan yang dilontarkan Yogi kepada Rizal. Sambil menatapi ke arah mereka bergantian.


"Kau itu hanya pria munafik!" sentaknya lagi.


"Apa maksudmu?" geram Rizal.


"KAU PRIA MUNAFIK, apa belum jelas juga? M-U-N-A-F-I-K" tegasnya.


Rizal kesal dengan sindirannya yang semakin kurang ajar itu, dengan cepat dia langsung meremas kerah baju Yogi dan mendorongnya ke meja dapur yang sering dipakai Yogi membuat adonan kue bersama Tasia.


Sehingga wadah dan sendok-sendok terpental jatuh ke lantai karena akibat hempasan kencang dari tubuh Yogi.


Bruaaaak


"Apa maksud perkataanmu itu? jangan seenaknya kau berbicara!" terkam Rizal tiba-tiba emosi.


"Sudah hentikan, Rizal! Rizaaal..." teriaknya. Tasia yang masih belum percaya melihat pertengkaran diantara persahabatannya itu.


"Lepaskan tangan munafikmu itu!" menghempas pegangan tangan Rizal ke bajunya. Lalu mendorong kencang balik Rizal, sehingga punggung Rizal menabrak lemari makan di belakangnya.


"Aku tahu kau hanya ingin memanfaatkan Tasia saja demi keuntungan pribadimu sendiri. Apa tidak cukup kau memanfaatkan Lia juga!" sindirnya terus terang.


Rizal segera bangkit kembali dan mencengkeram jari-jari tangannya serasa tidak tahan ingin sekali memukul Yogi.


Tasia tercengang mendengar perkataan Yogi pada Rizal, dia hanya bisa diam menggelengkan kepalanya belum mengerti.


"Hentikan! Yogi apa yang telah kamu bicarakan mengenai Rizal?" teriak Tasia.


Yogi menghampiri Tasia dan memegang kedua pundaknya, Tasia terkejut dan melihat kedua tangannya yang menyentuh kedua bahunya tiba-tiba.


"Tasia, mungkin di matamu aku hanya seorang pria yang suka mempermainkan wanita..tapi itu dulu sebelum aku berjumpa denganmu. Setelah bertemu denganmu tiba-tiba aku ingin merubah diriku, aku hanya ingin mengatakan perasaanku saja kepadamu...aku benar-benar menyukaimu, aku suka semuanya yang ada pada dirimu!" ungkap Yogi tiba-tiba. Tasia terbelalak lagi dengan ujaran Yogi kepadanya, mendadak wajahnya jadi memerah.


"Heh, kalau kau ingin menyatakan perasaanmu pada Tasia, jangan jadi alasan untuk mencari kesalahanku agar Tasia jadi membenciku? jadi apa maksudmu bicara begitu di depan kami?" ketus Rizal.


"Aku hanya ingin mengingatkanmu saja dan supaya Tasia tahu sifat burukmu itu seperti apa!" ungkapnya lagi.


"Apa kau mempunyai buktinya kalau aku memanfaatkan Tasia dan Lia? jangan sembarangan bicara kau!" Kecam Rizal memandang sinis ke Yogi.


"Dengarkan aku Tasia jangan pernah percaya pada omongannya itu" sahutnya lagi.


Tasia menatap mata Rizal dalam-dalam, memang terlihat ada kejujuran di setiap ucapannya Rizal, tapi Tasia juga merasakan seperti ada hal yang disembunyikan Rizal darinya. Tasia memanggut mempercayai Rizal kalau dia adalah pria yang tidak mungkin menyakiti wanita.


"Aku percaya kepadamu. kamu tidak mungkin orang seperti itu..." ujar Tasia tersenyum kepadanya. Rizal menghela nafas lega.


Tasia terdiam menatap Yogi lama, mungkin ini saatnya Yogi juga mengetahui hubungannya dengan Rizal.


"Yogi..., terimakasih banyak atas ketulusanmu.. aku menghargai kamu..maaf tapi cintaku untuknRizal.. dan sebenarnya aku dan Rizal juga sudah berpacaran..." ucapnya pelan, dan berterus terang pada Yogi.


Tasia menundukkan wajahnya merasa bersalah telah mengecewakan Yogi. Tapi itu adalah satu-satunya juga agar Yogi tidak mengharapkannya kembali. Dilepasnya tangan Yogi yang masih menggenggam erat pundaknya itu. Lalu Tasia menghampiri Rizal yang berdiri jauh darinya, dan segera memegang lengan kanannya Rizal.


Mereka pun keluar dapur bersamaan meninggalkan Yogi sendirian disana.


Yogi terpaku lama, hatinya seakan remuk mendengar kenyataan itu. Dadanya terasa sesak karena di tolak Tasia lagi, dan yang membuat dia semakin terluka lagi ternyata mereka sudah menjalin hubungan. Dia semakin sedih dan merana ketika melihat Tasia menjauhinya dan hanya memilih Rizal sebagai pendampingnya.


"Aaaaaaarrgghhh"


Teriaknya lalu menghempaskan barang-barang yang di meja itu. Dia berlutut dan menundukkan kepalanya yang menempel di kaki meja. Matanya berkaca dan memerah, hatinya terasa sangat kemelut saat itu.


"Baru kali ini aku merasakan cinta yang sesungguhnya.. dan baru kali ini juga aku merasakan patah hati.. selama ini aku selalu main-main dengan perasaan wanita dan tidak benar-benar jatuh cinta pada mereka, tetapi...sekarang aku merasakan sendiri telah dipermainkan oleh seorang wanita yang kucintai... Aku benar-benar menyukaimu Tasia, menyukaimu dari lubuk yang paling dalam. Kamu adalah gadis yang lain dari yang pernah aku kenali..." lirihnya terisak-isak.


bersambung...


...***...


Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya yaa...


...🌺🌺🌺...