Sweet Cake Memories

Sweet Cake Memories
Terungkap



Bab 56


Terungkap


Adrian masuk ke dalam kamar Tasia, dan memandang Tasia penuh sesal di hatinya. Perlahan dia meraih tangan Tasia lalu duduk berlutut di hadapannya..


"Tasia maafkan aku, apa masih sakit?" tanya Adrian perhatian sambil mengelus tangannya Tasia lembut dan mengecupinya.


"Sudahlah..aku tak mau banyak bicara denganmu, aku hanya ingin sampaikan saja sesuatu yang penting.." sahut Tasia ketus, melepaskan tangannya yang di pegangi Adrian.


"Ah..baiklah katakan sesuatu apa itu?" tanya Adrian. Tasia menatap matanya Adrian kesal.


"Tolong... kamu jangan sakiti Rizal lagi... kalau kamu bersikap kasar seperti itu terus. Aku takkan segan-segan membatalkan perjanjian kita tadi" gertak Tasia.


Adrian tersentak jadi ketakutan mendengar permintaan Tasia, dirinya takut kalau-kalau Tasia tidak jadi menikah dengannya. Lalu tanpa pikir panjang dia segera memanggut saja mematuhi Tasia.


"Baiklah...iya, maaf tadi aku begitu emosi sekali padanya..." sesalnya, mengambil lagi tangan Tasia dan di usapkannya ke keningnya sendiri. Memohon-mohon agar Tasia mau memaafkannya.


"Ya sudah...aku mau istirahat, kamu boleh pulang..aku sudah maafkan kamu kali ini." ucap Tasia buru-buru meraih tangannya lagi, lalu memalingkan wajahnya tak ingin memandang Adrian. Adrian menatap wajah Tasia sedih masih penuh dengan penyesalan, lalu terpaksa dia beranjak pergi keluar kamarnya, dan pulang kembali ke rumahnya.


Sedangkan Rizal masih di rumahnya Tasia, dan dia masih duduk di kursi tamunya sambil mengoleskan krim penghilang rasa sakit ke perutnya.


Tasia di kamarnya meminta Irna segera memanggil Rizal. Setelah benar-benar Adrian pergi dari rumahnya.


"Mas Rizal, di suruh mbak Tasia masuk tuh...katanya ada yang mau di bicarakan..ciee.." bisik Irna cengar cengir menggoda Rizal.


Rizal terkejut senang mendengarnya, lalu dia segera bangkit dan masuk ke kamarnya Tasia.


Tasia memandang gugup ke arah Rizal saat melihatnya memasuki kamarnya sendiri, lalu Rizal menutup sedikit pintu kamarnya.


Rizal perlahan berjalan mendekatinya ke samping tempat tidur Tasia. Lalu mulai duduk di tepi kasurnya.


Keadaan jadi sangat canggung, keduanya malah jadi terdiam lama. Mereka saling menundukkan pandangan ke bawah masing-masing. Rizal yang pura-pura meremas-remas kedua tangannya itu, bingung harus mulai darimana arah pembicaraan mereka.


Begitupun dengan Tasia, sebelumnya dia berani ingin bicara tapi mulutnya tiba-tiba terbungkam di depan Rizal sendiri. Dia menahan sedih dan amarah tapi mau tidak mau dia harus menyampaikannya.


"Rizal maaf kita putus.." ucap Tasia tiba-tiba terpaksa mengatakannya, lalu memalingkan pandangannya lagi, tak berani melihat Rizal.


Rizal tercengang kaget dia langsung beranjak berdiri.


"Aku tidak setuju..." jawabnya. " Aku tidak pernah setuju dengan keputusanmu...kau sebenarnya sedang berpura-pura berpacaran dengan Adrian kan! aku tahu kau masih marah padaku.." selanya.


Mata Tasia sudah berair lalu tiba-tiba saja berjatuhan.


"Tolong maafkan kesalahanku yang tadi..." perlahan bahunya Tasia di peganginya, dan wajah Tasia di alihkan Rizal supaya memandang ke arahnya.


"Aku kembali ke Yogyakarta..sebenarnya tujuanku ingin mengajak kamu ke Jakarta..aku akan meminta izin ke ibumu..akan ku perkenalkan kamu dengan kedua orangtuaku nanti disana..Ikutlah denganku ya..Tasia" Rizal memohon pada Tasia dengan tatapan berharap.


"Ayahku sedang sakit jadi dia tidak bisa berpergian jauh dan datang kesini...maka dari itu aku yang mengajakmu pergi ke rumahku, dan ingin melamarmu langsung di depan kedua orangtuaku.." terang Rizal tanpa jeda dia langsung nyerocos mengungkapkan semuanya pada Tasia, seraya mengusap-ngusap pipinya Tasia.


Jantung Tasia berdegup sangat kencang, tiba-tiba saja Rizal ingin melamarnya. Apa hatinya tidak senang? tentu saja dari lubuk hatinya dia bahagia sekali. Namun masih ada yang mengganjal di hatinya, dia sudah benar-benar terlanjur berjanji dengan Adrian tadi. Kalau Adrian pun tadi memaksanya untuk menikah dengannya. Tasia jadi bingung dibuatnya. Dia harus memilih siapa diantara mereka. Yang sama-sama ingin berniat menikahinya.


"Iya..aku ingin menikahimu.."


"Ta-tapi bukankah...kau akan bertunangan dengan Lia?" tiba-tiba saja Tasia mengungkapkan kebenaran Lia padanya. Rizal melesatkan matanya ke arah Tasia cepat, kenapa Tasia bisa tahu kalau memang kemarin dia dan Lia akan berencana ditunangkan.


"Dari mana kamu tahu berita itu?"


"Jadi benar kau sudah bertunangan dengan Lia?" tanyanya lagi.


"Iya..tapi..aku sudah menolak pertunangan itu"


"Sekarang, orangtuaku tengah menunggu kedatanganmu..aku sudah jelaskan pada mereka semua bahwa aku hanya menyukaimu.."


"Rizal..soal kalung itu..maaf aku belum ceritakan semuanya padamu" Tasia menundukkan pandangannya. Lalu dia memberanikan diri untuk menceritakan sejujurnya pada Rizal.


"Kenapa dengan kalung itu? aku sudah tidak memikirkannya lagi, maaf tadi aku sudah menuduhmu yang tidak-tidak.." sesal Rizal.


"Kalung pemberianmu.. saat itu, sebenarnya Lia lah yang membuangnya ke danau karena dia memintaku agar aku menjauhimu..." jelas Tasia. "Dan dulu dia juga berkata kalau kau dan dia akan secepatnya bertunangan.." mata Tasia tak berkedip sama sekali ke arah Rizal dia ingin mendengar kepastian dari mulut Rizal apakah benar yang dikatakan Lia itu.


Mendengar ceritanya Tasia, Rizal mengernyitkan dahinya dan lekas langsung menarik Tasia ke dalam pelukannya erat. Tasia terbelalak kaget dan tidak bisa mencegahnya.


'Ya Tuhan...berarti ini semuanya rencananya Lia., dia yang sudah mengatur ini sedemikian rupa begitu rapih nya. Kau benar-benar jahat sekali Lia. Aku bersumpah tidak akan pernah memaafkanmu, aku sudah menuduh Tasia berselingkuh dan mengatainya wanita murahan, aku bersumpah akan membalas semua perbuatanmu ini..'


"Hhhh Tasia...ayo bersiaplah..ikutlah denganku, malam ini kita akan berangkat ke Jakarta.."ajak Rizal seraya tangannya yang terus memegangi kedua pipinya itu. Tasia langsung melongo tiba-tiba dengan ajakannya. Tasia menggelengkan kepalanya tidak bisa.


"Kenapa tidak bisa?" tanyanya heran.


"Maaf, tapi aku sudah berjanji pada Adrian, kalau kami akan berpacaran selama satu bulan ini.."


"Apa? perjanjian apa itu?" kesal Rizal emosi.


"Adrian tadi pagi menjebakku..dia tadi mengatakan bahwa kalung itu ada padanya, aku senang dan mengikutinya, lalu dia tiba-tiba saja membawaku ke rumah kosong dan mengurungku seharian di sana. Dan dia malah memberikanku pilihan.. jika aku tidak ikuti kemauannya aku akan dikurung terus olehnya disana." jelas Tasia terus terang.


Rizal terperanjat kaget mendengarnya, dia langsung mengeram marah sekali pada Adrian.


"Dia sebenarnya memintaku untuk menikah dengannya.. Tapi aku meminta waktu satu bulan untuk menjalani hubungan dulu dengannya..Rizal maafkan aku, aku tidak bisa menolak keinginannya..." Tasia menangis sejadi-jadinya lalu menggenggam baju depan Rizal karena takut.


"Brengsek, bajingan kau Adrian!" Rizal langsung beranjak berdiri dari kasurnya Tasia dan memukulkan tangannya kencang ke dinding kamar Tasia.


"Rizall apa yang kau lakukan..."


"Tasia kau tunggu disini, sembuhkan lukamu dulu..aku pergi dulu nanti aku kembali lagi kesini..." sahut Rizal, membuka pintu kamar Tasia dan keluar cepat-cepat.


"Kamu mau pergi kemana?" teriak Tasia.


Tapi Rizal tak menjawab teriakan Tasia, dia hanya terus lari pergi ke luar rumahnya dan buru-buru menaiki mobilnya.


bersambung...


...***...