
...Bab 46...
...Merindukanmu...
Rizal mencetak poto Tasia yang paling cantik di galerry ponselnya dan memasukkannya ke figura berukuran sedang lalu menaruhnya di atas meja kerjanya, tepat terpampang di samping depannya.
"Aku rindu kamu..." gumamnya sambil dipandangi terus poto wajah gadis polos nan sederhana itu lekat. Dia sengaja menaruh poto Tasia agar dia merasakan kalau kekasihnya itu seakan berada di sampingnya terus.
tok tok tok
Suara ketukan pintu terdengar di depannya, membuat khayalan Rizal membuyar.
"Masuk" teriaknya.
Pintu terbuka lebar, tampak seorang wanita cantik dengan rambut sebahu, yang memakai pakaian kerja agak minim itu masuk ke dalam ruangan setelah dia mendengar suara Rizal yang menyuruhnya masuk. Rizal memandangnya sebentar ke arahnya, lalu secepatnya Rizal pun mengalihkan pandangannya lagi, pura-pura merapikan buku di mejanya.
Wanita itu menghampiri Rizal dengan berjalan dilenggak-lenggokan dengan memakai sepatu high heels nya membuat kaki dan lututnya semakin indah tinggi semampai.
"Iya ada apa ya?" tanya Rizal dingin, dia yang belum terbiasa bekerja di tempat Ayahnya itu jadi merasa aneh sekali dan canggung, bekerja satu kantor dengan wanita yang berpakaian yang sedikit terbuka, yang biasanya dia selalu bersama Tasia yang selalu berpakaian sopan dan sederhana yang di kenakannya. Dan walaupun Lia juga seksi tapi tidak terlalu terbuka seperti wanita yang tengah berdiri di depannya itu.
"Maaf, Pak Rizal..saya Shanti, saya sekretarisnya Pak Raffi dulu. Dan karena Pak Raffi sudah di ganti dengan Pak Rizal jadi saya sekarang adalah sekretarisnya bapak" ujarnya sopan dengan membungkukkan sedikit punggungnya, sehingga membuat belahan dadanya terlihat jelas.
"Oh, iya baiklah terimakasih Shanti..." ucap Rizal memalingkan pandangannya agak sedikit risih melihat tampilan wanita itu di depannya.
"Jadi jika bapak perlu sesuatu bisa memanggil saya..saya berada di samping ruangan bapak" ucapnya dengan suara yang lembut.
Rizal memanggut.
"Iya...Terimakasih" singkat.
"Apa pak Rizal mau minum kopi? nanti saya bisa buatkan" tawarnya dengan senyuman sedikit menggoda.
"Oh..tidak perlu, saya tidak suka minum kopi.." jawabnya. "Kalau tidak ada lagi, sekarang kamu boleh pergi..."singkatnya cepat-cepat Rizal ingin sekali mengusirnya dari pandangannya, dengan pura-pura sibuk sendiri di ruang kerjanya.
"Ah b-baiklah pak.." jawabnya sedikit kecewa sambil mengerutkan keningnya, karena Rizal menolak permintaannya tatkala dia ingin melayani atasan barunya itu. Terpaksa wanita itu kembali ke ruangannya, dan berjalan keluar dari ruangan Rizal.
Saat di luar pintu ruang Rizal, Shanti terlihat sedikit kesal, karena Rizal sama sekali tidak memandang ke arahnya saat berbicara.
"Huh dia sombong sekali, dia sama sekali tidak mau melihat ke arahku sedikitpun! Awas saja, nanti aku akan membuat kamu tertarik kepadaku..Rizal Permana.." gerutuannya sendiri. Lalu masuk ke ruangannya.
Rizal mengusap keringat di dahinya, ada perasaan yang berkecamuk di dalam hatinya. Entah mengapa sekarang dia merasakan begitu sangat merindukan Tasia kekasihnya itu, yang jauh beda kota dengannya. Dia malah inginkan Tasia berada dekat dengannya, Hatinya mendingin selama jauh dari dirinya.
###
Malam harinya setelah makan malam bersama keluarganya, Rizal bergegas masuk kamarnya dan mengunci pintunya cepat-cepat, supaya tidak ada yang mencari atau mengganggunya lagi. Dia lalu meraih dan membuka sandi ponselnya di meja kamarnya, Rizal segera menghubungi Tasia lewat video call supaya bisa memandang wajahnya jelas saat berbicara dengannya.
Lama terhubung tapi akhirnya Tasia pun mengangkat video call darinya.
"H-hai Rizal..ka-kamu bagaimana kabarnya?" sahut Tasia terlihat gugup, dan dia juga dalam keadaan mau tiduran di kasurnya.
Rizal melihat wajahnya tampak panik sekali.
"Aku baik sayangku..kamu sekarang bagaimana kabarnya? apa kamu sedang sakit?" tanya Rizal saat melihat mimik wajah Tasia yang agak pucat serta syal di lehernya yang sudah terlilit rapi.
"Tidak..ah aku baik saja kok.." jawab Tasia gelagapan.
"Benarkah, lalu kenapa lehermu di lilit syal? apa kau sedang kedinginan?" cemasnya.
"Aah i-iya..begitulah cuaca di Yogyakarta akhir-akhir ini agak dingin.." ucap Tasia tertawa kecil, mengiyakan perkataannya Rizal.
"Tasia...apa kamu tidak merindukanku..?" tanya Rizal menatap kekasihnya dengan raut muka sedih lewat ponsel androidnya "Aku ingin sekali berada di dekatmu..." lirihnya.
Tasia menunduk sedih, dia bingung apa yang harus dia katakan kalau seandainya Rizal tahu kalungnya telah hilang di buang oleh Lia. Juga ada banyak pertanyaan yang ingin diungkapkan Tasia sebenarnya kepada Rizal.
'Apa benar mereka akan bertunangan? tapi sikap Rizal kepadaku tidak seperti terjadi apa-apa...atau Lia..cuma ingin membohongiku saja dengan cara menakuti-nakutiku supaya aku menjauhi Rizal..' pikirnya.
Rizal memperhatikan Tasia terdiam lama.
"Tasia, kenapa kamu jadi melamun?" membangunkan Tasia yang memandang kosong ke samping kirinya. Tasia terkejut dan langsung mengakhiri teleponnya dengan Rizal tiba-tiba, setelah mencari alasannya.
"Oh..tidak, aku jadi teringat ibu menyuruhku memijati kakinya tadi. Ah Rizal sudah dulu ya teleponnya.." sahutnya ngeles.
Rizal sedikit kecewa karena mereka hanya saling video call dengan waktu yang singkat saja.
"Baiklah...salam buat ibumu ya.." keluhnya. Tasia memanggut. "Selamat malam, besok kita lanjutkan lagi.." ucapnya lagi.
"Iya selamat malam juga..." jawab Tasia, lalu dia langsung menutup teleponnya itu.
Jantung Tasia berdegup keras, dia benar-benar ketakutan sekali kalau sampai Rizal tahu kalau kalungnya hilang. Dia sedih lalu menundukkan kepalanya di lututnya, dengan tangan yang memeluk kedua kakinya.
...****...
Ponsel berdering di kasurnya Yogi. Yogi yang masih sibuk sendiri membuka-buka majalah perhiasan di kamarnya tanpa menghiraukan deringannya yang nyaring, dia tengah mencari-cari kalung hati yang mirip punya Tasia malam itu. Yogi yang waktu itu meminta poto kalung hatinya Tasia, sebenarnya diam-diam dia bermaksud ingin menggantikan kalungnya yang hilang.
Karena ponselnya tak kunjung berhenti Yogi pun dengan terpaksa dan malas mengangkatnya, tanpa tahu dan dilihat siapa yang menelepon karena matanya masih fokus ke majalah itu. Langsung menyahutinya kasar.
"Hallo?" sahutnya jengkel.
"Kemana saja kau? kenapa lama sekali mengangkatnya?" jawab Rizal sedikit bernada kesal di telepon. Setelah selesai menelepon Tasia barusan dia menghubungi Yogi.
"Ooh... heehee kau.."gugupnya. "Maaf aku sedang sibuk barusan, jadi aku taruh ponselnya jauh dari dariku" alasannya.
"Mmm...aku ingin menyampaikan kabar buruk kepadamu" sahut Rizal tiba-tiba.
"Ada berita buruk apa?" tanya Yogi penasaran.
"Aku tidak bisa pulang ke Yogyakarta dalam waktu yang lama. Ayahku memaksaku untuk menggantikan posisi Raffi di perusahaan. Aku akan bekerja disini dan mungkin akan menetap lama di Jakarta" tuturnya, murung.
"Benarkah? lalu bagaimana usaha milikmu ini disini?" tanya Yogi.
"Aku serahkan semuanya kepadamu menggantikan aku dulu, sekarang kau yang bebas memegang kuasa Cafe kita" perintah Rizal.
"Ya baiklah.." pasrah Yogi terpaksa.
"Bagaimana kabar Tasia?" tanya Rizal tiba-tiba mengkhawatirkan kekasihnya.
"Kenapa harus tanya padaku, bukankah kau punya no ponselnya sendiri? tanyakan saja padanya langsung" ledeknya.
"Yogi..katakan, aku hanya ingin dengar dari mulutmu saja!" sahutnya. Rizal penasaran ingin tahu keadaan Tasia di sana, karena tadi pas di teleponnya Tasia seperti kurang baik.
"Hhh dia baik-baik saja..kau tidak perlu mengkhawatirkannya" dusta Yogi, dia teringat akan pesan Tasia kalau Rizal tidak boleh tahu akan peristiwa yang di alaminya kemarin.
"Benarkah? syukurlah kalau begitu...tolong kau jaga dia baik-baik, aku berhutang banyak sekali padamu.."ujar Rizal. "Baiklah aku tutup teleponnya lagi, sorry aku ganggu kau yang lagi sibuk.." ujar Rizal lagi.
Tak lama dia pun menutup teleponnya dengan Yogi.
Yogi meregangkan tubuhnya di kasur kamarnya, dan menghelakan nafasnya panjang. Dia sendiri juga tengah kebingungan. Lalu bergumam sendiri "Sekarang kekasihmu itu justru sedang bersedih memikirkan kalung pemberianmu itu.. dasar pria bodoh!" mengumpat Rizal di belakangnya.
...***...