Sweet Cake Memories

Sweet Cake Memories
Ibu Mertua yang Baik



Bab 61


Ibu Mertua yang Baik



Siang hari itu, Mira sengaja mampir ke rumah Hendra kakaknya dan dia ingin memberikan surat wasiat Audi dulu yang Hendra minta darinya kemarin-kemarin.


Kreeeeett


Pintu ruangan kerja Hendra terbuka lebar. Mira langsung berjalan masuk dan tanpa basa-basi dia segera menaruh sebuah kotak di meja kerjanya Hendra.


Hendra yang masih terlihat termenung di depan jendela kamarnya, sesaat terkejut Mira sudah masuk ke ruang kerjanya tanpa mengetuk pintu dahulu.


"Ini...aku sudah kumpulkan semua buku catatan miliknya ada tulisan permintaannya sebelum dirinya meninggal dan ada poto kenangannya juga bersamamu dulu." sahut Mira, lalu menatap kakaknya yang masih duduk termenung di depan jendela, dengan mendekapkan kedua tangannya.


Lalu Hendra segera berdiri dan berjalan perlahan menghampiri meja kerjanya lalu mengambil kotak itu.


Dengan perlahan dia membuka kotaknya lalu mengambil buku catatan harian bertulisan tangannya Audi. Dibacanya dengan teliti lalu di lanjut menatapi poto-poto kenangan kebersamaan mereka sewaktu masih remaja.


"Mungkin dengan bukti wasiat dari Audi.. akan membuat Rizal berubah pikiran agar dia tidak jadi menikahi gadis itu..." ujarnya lalu melirik pada adiknya Mira, dengan sedikit harapan.


"Ya semoga saja... setelah dia mengetahui kalau selama ini Audi adalah ibu kandungnya yang melahirkan dia. Dia tidak mungkin akan menolak lagi perjodohan antara dirinya dan Lia" harap Mira.


"Audi, Lisna dan aku adalah sahabat yang selalu memegang janji...kalau Rizal sampai menolak permintaan perjodohan ini terus, itu artinya dia telah mengecewakan mendiang ibunya sendiri, dan dia akan merasa berdosa seumur hidupnya" tambahnya lagi selalu antusias dengan keinginannya.


Semenjak persahabatan remaja mereka dulu, mereka pernah berjanji satu sama lain jika anak mereka berbeda jenis kelaminnya, setelah dewasanya mereka akan di jodohkan. Namun sayangnya Mira belum juga di beri keturunan sampai saat ini. Hingga usianya sudah menginjak 45 tahun. Maka dari itu dialah yang paling mendukung atas semua perjodohan diantara kedua anak dari sahabatnya itu.


###


Tania dan Tasia jalan-jalan berdua ke sebuah pusat perbelanjaan. Di sana Tania mencari-cari pakaian yang cocok untuk Tasia. Tak cuma pakaian yang dia belikan tapi sepatu dan peralatan make-up pun dibelikannya untuk calon menantunya itu.


"Ya ampun..Tante sudah, ini sudah terlalu kebanyakan.." sahut Tasia jadi tidak enak hati.


"Tidak apa..jika kau suka, di beli saja ya.." ujar Tania yang masih sibuk memilih-milih lagi. "Tapi kamu suka kan sama barang-barangnya?"


tanyanya lagi.


"Iya Tante, Tasia sangat suka sekali...terimakasih banyak atas semuanya, tapi Tasia jadi gak enak hati sama Tante!" ujar Tasia sangat sungkan karena Tasia dari tadi yang di belikannya terus. "Nanti uang Tante bisa-bisa habis sama Tasia" polosnya lagi. Tania tertawa mendengar Tasia bicara seperti itu.


"Tidak apa-apa kok sayang, sekali-kali belanja untuk menghibur diri juga bagus kok..nanti kalau Rizal pulang langsung di pakai ya...jadi pas waktu makan malam, kamu terlihat cantik dan Rizal pasti akan terpesona kepadamu" ujarnya.


"Ah..Tante bisa saja.." Tasia jadi tersipu malu. Di dalam bathinnya Tasia bicara.


'Rizal sungguh sangat beruntung sekali mempunyai ibu sebaik dan sepengertian ini.' pikirnya senang.


Lalu setelah mereka puas dengan belanjanya, mereka hendak pulang dan akan berjalan keluar menuju parkiran mobil. Tapi disana terlihat ada Lia yang baru saja masuk memarkirkan mobilnya. Lia yang ingin turun dari dalam mobilnya, menatap ke sebelah kanannya, matanya tiba-tiba terbelalak kaget melihat Tasia sudah berada di kota Jakarta, dan yang membuat dia semakin terkejut lagi, dirinya melihat Tasia sedang jalan-jalan bersama Tania ibunya Rizal.


Tersentak dia marah dan iri hati. Dirinya pun belum pernah sedekat itu dengan Tania, tapi Tasia yang baru saja bertemu dengannya sudah bisa menunjukkan keakraban diantara mereka.


"Kenapa gadis kampung itu bisa ada disini? bukankah seharusnya dia bersama si bodoh Adrian itu?" gerutu Lia di dalam mobilnya kesal dengan menghentakkan setir mobilnya.


Tania dan Tasia sudah pergi dengan menaiki mobilnya. Sedangkan Lia baru keluar di dalam mobilnya, dengan segera dia membuka ponselnya lalu menelepon Adrian.


Adrian yang baru saja sampai tokonya jadi kesal dengan bentakkan Lia di telepon kepadanya tiba-tiba.


"Kenapa denganmu? meneleponku langsung marah-marah seperti itu?" Adrian menjawab telepon Lia, dengan pura-pura tidak terjadi apa-apa.


"Jangan berpura-pura bodoh kamu! kenapa gadis kampungmu itu bisa-bisanya ada di Jakarta? itu artinya kemarin kau tidak melakukan tugas yang aku perintahkan padamu!" gerutunya


Adrian terkejut mendengar informasi dari Lia, ternyata Rizal memang sudah membawa Tasia pergi bersamanya ke Jakarta, namun bagaimana lagi dia tidak bisa melakukan apa-apa. Dirinya sudah kepergok main wanita, apalagi kemarin dirinya juga sudah dihabisi Yogi sampai babak belur. Kekuatan tinjuan laki-laki itu malah lebih kuat dari dirinya sehingga dia tidak bisa melawannya.


"Aku sudah mengerjakannya, tapi lelaki itu menghancurkan segalanya. Sekarang Tasia malah semakin membenciku. Aku pikir aku tidak bisa melanjutkan rencanamu itu lagi."


"Dasar bodoh, lelaki pecundang kau memang tidak becus saja melakukannya!" Lia jengkel sekali dengan Adrian, dia langsung menutup teleponnya cepat-cepat sambil menggerutu.


"Hah..brengsek kalau begini terus hubungan mereka akan semakin akrab, dan Rizal sudah pasti akan cepat menikahinya." geramnya meledak-ledak.


###


Di perjalanan Tania tiba-tiba menghentikan laju mobilnya dan berhenti di sebuah toko kue, lalu dia keluar dan turun.


"Tunggu sebentar ya..Tante mau membeli sesuatu dulu buat neneknya Rizal." sahutnya pada Tasia.


"Iya Tante..." jawab Tasia.


Selang beberapa menit kemudian Tania keluar lagi dari toko dengan membawa tiga kotak dus berisi beraneka kue dan roti. Lalu kembali menaiki mobilnya dan pulang.


Setelah sampai rumah mereka berdua masuk, lalu Tasia diajak Tania untuk menemui neneknya Rizal yang sakit lumpuh yang selalu berbaring di dalam kamarnya.


Mereka berdua masuk perlahan ke dalam kamar Neneknya Rizal.


"Ibu...apa Ibu sudah bangun?" sahut Tania lembut.


"Hmm.." jawab dehemannya terdengar berat. Terlihat Neneknya Rizal sudah dudukkan manis di ranjang sambil membaca sebuah buku dengan memakai kacamata bulatnya.


"Tania bawakan kue kesukaan ibu..di makan ya.." berjalan menghampirinya sambil memegang kantong kresek putih berisi kotak kue di tangan kanannya.


"Oh iya bu...perkenalkan ini adalah kekasihnya Rizal, namanya Tasia...sebentar lagi dia akan menjadi istrinya Rizal..." memperkenalkan Tasia. Lalu Tasia segera mencium punggung tangan nenek dengan sopan pada orangtua lanjut usia itu.


"Apakabar Nek..saya Tasia" sapanya memberikan senyuman manisnya. Nenek Rizal memandangi Tasia dengan teliti, dirinya tiba-tiba merasakan ada keteduhan dari balik wajah gadis muda itu yang membuat neneknya Rizal sedikit nyaman dekat Tasia.


"Gaiiss maiissss...(gadis manis) he-heehe" sahutnya sambil terkekeh.


Neneknya Rizal selain lumpuh dia juga sudah mulai kesulitan bicara. Setiap hari Tania selalu ada meluangkan waktu untuk menjaga dan merawat Ibu mertuanya dengan baik dan penuh hormat, walaupun sebenarnya sudah ada pembantu yang merawatinya tapi Tania tidak pernah lepas tanggung jawab sebagai menantu yang berbakti kepada mertuanya, apalagi Tania sudah tidak punya orangtua lagi anggap saja dirinya seperti merawat orangtuanya sendiri.


Neneknya Rizal sudah berusia 80 tahun lebih. Dia lumpuh karena tulang sendinya patah akibat kecelakaan karena terjatuh dari tangga.


Selama ini Neneknya Rizal selalu dekat dengan Tania saja di bandingkan putra dan putrinya yaitu Hendra dan Mira. Kedua anaknya selama hidup ini selalu saja berambisi dengan harta perusahaan milik kakeknya Rizal yang mereka kelola bersama, sama sekali tidak memiliki rasa kebaktiannya mereka terhadap ibunya sendiri. Sedangkan Tania menantunya malah yang selalu merawat dan perhatian kepadanya. Makanya itulah Nenek Rizal begitu menyayangi menantunya itu, yaitu Tania.


bersambung...


...***...