
Bab 71
Pergi Untuk Menyeledikimu
"Ini...tidak mungkin hanya sebuah kebetulan..." sahutnya berdegup kencang, matanya mulai berkaca-kaca seraya menutupi mulutnya dengan tangan kirinya.
"Apa mungkin...mereka benar-benar sudah bertunangan? Tanpa sepengetahuanku...kamu diam-diam..." lanjutnya lagi terbata-bata. Tasia menangis dan tertunduk lalu berjongkok di dalam lift sambil meremas erat majalah itu hingga lecek. "Hhhh..hhh.. Rizal...kenapa kamu membohongiku?" isakannya terdengar nyaring sekali di dalam lift.
###
Malam harinya setelah pulang dari Cafe dan sampai rumah, Rizal langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap-siap karena malam ini dia harus segera kembali pulang ke Jakarta.
Dari pintu kamar Tasia menengok gerak Rizal yang berjalan masuk ke kamar mandinya, setelah benar-benar masuk lalu di ambilnya segera cincin yang kemarin Rizal simpan di ranselnya itu. Tasia ingin kembali memastikan kebenarannya sendiri.
Lalu dia memperhatikan cincin itu dengan teliti dan membandingkannya lagi dengan poto cincin dipakai Lia di majalah yang dibawanya tadi.
Bulir-bulir air mata kembali keluar, dia sekarang benar-benar yakin bahwa cincin itu memang satu pasangan.
"Ternyata, kalian memang sudah bertunangan...pantas saja selama ini..kau tidak pernah mengijinkanku pergi ke Jakarta" riuhnya terisak-isak menahan sedih. "Jadi karena ini...?"
Setelah puas melihatnya lalu cincin Rizal dia kembalikan lagi di tas ranselnya itu. Tasia terduduk di samping tempat tidur dan menghapus air matanya dengan tisu. Namun air matanya pun tak kunjung juga berhenti.
"Aku..tidak boleh berdiam diri terus, aku harus menyeledikinya sendiri..Aku akan diam-diam menyusulmu besok ke Jakarta.." gumamnya sendiri.
Lalu selang 10 menit kemudian Rizal masuk ke kamar dan hanya memakai handuk yang di lilit di pinggangnya lalu mengeringkan rambut basahnya dengan handuk kecil. Tasia termenung kosong memandanginya. Rizal selirik menatapi wajah Tasia yang terlihat sedih. Diapun ikut duduk termangu di samping istrinya perlahan.
"Ada apa? kenapa kau terlihat sedih...apa karena kepulanganku lagi...?" tanyanya penasaran sambil mengelus pundak Tasia. Tasia menatap malas ke arah Rizal. Dia tidak menjawab pertanyaan Rizal, lekas dia beranjak berdiri dari duduknya di kasur lalu membantu mengambilkan pakaian Rizal yang mau dia pakainya di lemari.
Rizal memperhatikan gerak Tasia yang terlihat tidak semangat itu. Di peluknya istrinya dari belakang punggungnya.
"Jangan sedih...nanti akhir bulan ini aku pulang lagi.." tuturnya. Di balikkannya tubuh Tasia menghadap dirinya. Wajah Tasia di pegangnya lembut, dan di angkat wajahnya hendak di cium Rizal. Tetapi sigap Tasia menolak dan mendorongnya dengan pakaiannya yang dia ambil buat dipakai Rizal.
"Ini..cepat pakai bajumu...nanti bisa masuk angin" ujarnya datar. Lalu Tasia melanjutkan membereskan barang bawaannya Rizal di ranselnya.
Sikap dingin Tasia membuat Rizal merana karenanya.
Rizal di antar Yogi ke bandara tapi Tasia tidak ikut. Dia hanya ingin diam di rumah.
"Beneran kamu tidak ikut ke bandara?" tanya Rizal. Tasia menggelengkan kepalanya.
"Malam ini aku merasa capek, aku ingin istirahat.." tuturnya beralasan.
"Ya sudah..kalau begitu kamu istirahat saja...aku pamit pulang dulu ya..." tutur Rizal, lalu dia mencoba ingin mengecup bibir Tasia lagi. Tapi Tasia kembali memalingkan mukanya.
"Ah..ya sudah kalau tidak mau.." sahutnya. "Jaga dirimu baik-baik.." dengan berat hati Rizal membawa barang bawaannya dan keluar rumah tanpa di antar Tasia. Setelah pamitan pada ibu mertuanya, Rizal keluar rumahnya, dan Yogi sudah berada di teras rumah menunggunya dari tadi.
Yogi bertanya heran "Tasia tidak ikut?"
Rizal menggelengkan kepalanya. "Tidak, katanya dia capek..."
Lalu akhirnya mereka berangkat berdua. Di perjalanan Rizal terus menanyakan pada Yogi. Dia mulai merasa aneh dengan sikap Tasia hari ini.
"Apa kau yakin, Tasia sama sekali tidak mengetahui beritaku itu?" menoleh ke arah Yogi yang sedang fokus menyetir mobil.
"Aku tidak tahu..tapi aku sudah pastikan kalau selama ini aku lihat dia tidak menonton televisi ataupun baca majalah di tempat kerjanya" ujar Yogi.
Rizal menopang dagunya dan sesekali mengelus dagunya itu. Matanya lurus ke depan jalan melamunkan Tasia yang dia tinggalkan di kamar sendiri. Mulai timbul kekhawatiran yang melekat pada diri Rizal.
###
Keesokan harinya, Tasia berangkat ke Cafe sekalian pamitan sama ibunya karena siangnya Tasia mau menyusul Rizal ke Jakarta naik kereta, setelah malam tadi dia pesan tiket kereta di online. Beralasan akan memberikan kejutan di hari ulangtahunnya. Padahal ulangtahunnya Rizal masih dua minggu lagi. Dia terpaksa berbohong pada ibunya agar Tasia diijinkannya pergi ke Jakarta sendirian.
Tasia berjalan ke arah ruangan Yogi, dengan sudah memakai baju stylisth dan celana panjang trendy -nya dan membawa koper dorongnya. Di bukanya pintu ruangan Yogi tanpa di ketuk dulu.
Ketika itu Yogi yang sedang mengangkat barbel di tangannya seberat 5 kg, sekedar berolahraga ringan untuk mengencangkan otot tangannya dan mengecilkan perutnya. Dengan memakai baju lengan pendek ketat sehingga otot tubuhnya terlihat jelas.
Yogi terkejut karena Tasia membuka pintunya tanpa permisi. Tasia memalingkan muka darinya, dia hanya lurus berjalan kedepan meja Yogi dan menaruh surat ijin cuti.
"Kamu...mau kemana dengan memakai pakaian itu dan bawa koper segala?" tanya Yogi terheran-heran dengan penampilan Tasia pagi itu.
"Aku mau ijin cuti dulu selama dua minggu...aku mau menyusul Rizal ke Jakarta.." sahutnya.
"Apa?" Yogi tercengang dan langsung menarik lengan Tasia, ketika Tasia mau kembali keluar pintu.
"Ngapain kamu ke sana?" tanyanya lagi.
"Aku kan istrinya Rizal.. tentu saja ingin menemui suamiku!" pekiknya.
Yogi tergagap, dia bingung bagaimana harus mencegah Tasia pergi ke Jakarta.
"Memangnya kamu mau pergi bersama siapa?" tanyanya lagi.
"Tasia...aku diminta suamimu buat jaga kamu, jadi aku tanya kamu ke Jakarta sama siapa?"tanya Yogi semakin penasaran.
"Huuuft" Tasia menghela nafas panjangnya. "Aku mau berangkat sendirian, memangnya kenapa? toh aku sudah besar...masa ke Jakarta juga perlu ada yang nganterin.." bantahnya lagi, lalu melepas genggaman Yogi dari lengannya.
"Tetap tidak boleh, itu berbahaya...kalau kau mau pergi biar aku saja yang antarkan sampai sana ya...apa kau sudah bilang pada Rizal, akan berangkat ke Jakarta?" cegah Yogi cemas.
"Tidak Yogi, aku akan tetap pergi sendirian" nekadnya. "Aku pergi diam-diam ke sana..hanya ingin memberikan kejutan padanya, sebentar lagi hari ulangtahunnya dia kan..jadi aku harus berada di dekatnya" jelasnya.
"Kumohon, tolong kau jangan bilang-bilang pada Rizal, kalau aku mau ke sana.." pinta Tasia memohon. Yogi tak bisa menolak dan mencegahnya lagi. Dia sendiri juga ikut bingung. Namun tak lama dia akhirnya mengijinkan Tasia.
"Baiklah...tapi kau harus hati-hati ya.." pesannya. Tasia senang dia langsung menggenggam tangan Yogi erat.
"Terimakasih...ya.." tersenyum terharu. "Baiklah sekarang aku harus segera pergi.. untuk menukar tiketnya dulu.." ujarnya lagi. "Soalnya pukul 10.00 siang ini kereta akan berangkat, sekali lagi terimakasih ya...Yogi" ucapnya, tersenyum manis pada Yogi.
Lalu cepat-cepat Tasia menarik pegangan koper dorongnya dan turun segera ke bawah, di antar bang Mail pergi ke statsiun.
Yogi memandangnya penuh khawatir.
"Sebaiknya aku susul dirinya..." gumamnya pelan. Lalu Yogi segera bersiap-siap diri.
###
Setelah sampai Kota Jakarta selama 8 jam perjalanan di kereta. Tasia diantar naik taksi malam itu ke rumahnya Rizal dan setelah 25 menit ke rumah orangtuanya Rizal. Pak Mamat bilang kalau petang itu Rizal belum pulang dia masih di kantornya.
"Ya sudah Pak..kalau begitu aku minta alamat kantornya ya.." pinta Tasia.
"Iya Non..." Lalu Pak Mamat memberikan catatan alamat kantor Rizal karena Tasia belum pernah ke tempat kerja Rizal sebelumnya.
Tasia sengaja tidak mampir ke rumah orangtua Rizal, dia ingin menemui Rizal dulu. Taksinya kembali berbalik arah menuju tempat kerjanya Rizal.
'Biasanya pukul 16.00 sore Rizal sudah pulang..' batinnya. 'Sekarang sudah mau pukul 19.00 malam'
###
Setelah sampai gedung kantornya Rizal. Tasia mencoba bertanya pada security, dan security itu bilang kalau atasannya belum pulang dan masih di dalam gedung. Tasia melirik mobilnya Rizal memang masih ada di parkiran.
"Ehm, begitu ya.. terimakasih banyak ya pak..."
Lalu Tasia bergegas masuk ke dalam dengan masih menarik koper dorongnya dan mencari ruangan Rizal, setelah di beritahukan petunjuknya oleh security tadi.
###
Shanti bergegas masuk ke ruangan Rizal, dan merangkul tangan Rizal.
"Pak..aku sudah siap, apa aku sudah terlihat cantik?" tanyanya manja tersipu-sipu.
"Ya..kau sudah terlihat cantik.." jawab Rizal menatap lekat mata Shanti, lalu tangannya melingkar di pundak Shanti erat. " Ya sudah, ayo kita pergi soalnya kita sudah telat.."
Shanti memanggutkan kepalanya.
"Ayo.." senyumnya merona, memandang wajah tampan Rizal. Mereka berjalan berbarengan keluar ruangan kerja Rizal. Kepala Shanti di senderkannya lekat di pundak Rizal, dan tangannya mulai melingkar di belakang pinggang Rizal.
Tasia berjalan tergesa menuju ke ruangan Rizal, suara derapan sepatu Tasia sampai terdengar menggema di lorong. Malam itu, suasana gedung kantor Rizal tampak sepi sekali karena semua para pekerja sudah pulang ke rumahnya masing-masing.
"Semua pekerja sudah pulang...tapi kenapa suamiku juga belum pulang? sedang apa sih dia?" gumamnya bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Langkah Tasia terhenti seketika itu terdengar suara tawa manis seorang wanita di lorong. Dan langkah sepatunya sperti ada dua orang yang tengah berjalan dekat mengarah kepadanya. Pandangan Tasia menuju depan jalan lorong, yang di depannya ada satu belokan kearah kanan sejarak 2 meter darinya.
Suara jalan mereka semakin dekat dan akan berbelok ke arah jalan Tasia.
"Kau tahu aku sudah sangat tegang sekali loh.." suara wanita itu semakin intim, diiringi tawa yang menggoda.
"Santai saja...anggap saja kita sedang bermain-main..." ujar lelaki itu jelas terngiang di telinga Tasia. Lalu lelaki itu juga tertawa renyah.
Mata Tasia membulat, dan sesekali memandang ke arah lantai untuk mencerna pemilik suara lelaki itu. Jantungnya tiba-tiba berdebar-debar cepat, tangannya sampai gemetaran hingga mengepal erat pegangan kopernya.
Dan tak lama kedua orang itu berbelok dan akan berjalan ke arah Tasia. Mereka saling pandang dan bergurau penuh mesra.
Jantung Tasia seakan-akan seperti terhenti setelah melihatnya. Matanya tajam mengarah pada pria itu.
"Rizaaal...!!" suaranya akhirnya terlepas nyaring menghujam seluruh ruangan.
Rizal dan wanita itu serentak menoleh padanya.
Dan kedua pandangan mata mereka akhirnya saling bertemu.
bersambung...
...***...