
...Bab 93...
...Kembalilah Padaku...
Tasia menatap dingin ke arah Rizal, namun tersenyum dalam diam, karena hadiah kemeja pemberiannya ternyata dipakai suaminya itu. dia terus berjalan menghampiri ibunya dan masih tetap mengacuhkan suaminya.
Rizal memelas melihat ke arah istrinya itu. Mereka sama-sama sungkan dan tak ada yang saling menyapa duluan.
"Ibu...bagaimana sekarang? sudah di minum belum obatnya?" tanya Tasia pelan dan lembut.
Sulastri memanggut dan tersenyum ke arah Tasia.
"Iya sayang...tadi Irna sudah mengingatkan ibu untuk meminum obatnya..Tasia kamu tidak perlu khawatirkan ibu lagi, sekarang ada Irna yang nemenin ibu...kamu pergi dan mengobrol dengan suamimu dulu saja di luar, yaa.." pinta Ibunya memberi kesempatan untuk mereka menyelesaikan masalahnya berdua.
Tasia melotot ke arah Irna jengkel, Irna hanya cengar-cengir tersipu melirik Tasia yang terlihat marah kepadanya. Tasia sudah tahu kalau Irna pasti diam-diam telah menghubungi mereka dan menyuruh mereka untuk datang ke Rumah Sakit.
Tasia sekilas tersenyum hambar melihat Rizal dan memberi kode padanya. Dia pergi keluar kamar duluan menuruti perintah ibunya, untuk mengobrol berdua dengannya.
Rizal berterimakasih banyak pada Ibu mertuanya itu karena telah memberi banyak pengertian padanya, lekas dia pun berjalan cepat menyusul Tasia di belakangnya.
Dari luar kamar Sulastri, teman-temannya semua melihat ke arah mereka berdua yang berjalan keluar dan mendukung Rizal sepenuhnya di belakangnya.
"Semoga berhasil..!" ucap mereka bertiga berbisik pelan memberikan semangat pada Rizal dengan mengancungi jempolnya masing-masing ke arah Rizal.
Rizal menoleh pada mereka dan melempar senyum yang lebar lalu membalas ancungan jempol dua.
Tasia terus berjalan lurus ke arah luar dan dia dudukkan duluan di sebuah kursi panjang di luar halaman Rumah Sakit sana, lalu menyimpan tasnya di atas kedua pahanya yang tertutupi rok panjangnya selutut.
Rizal juga turut duduk agak jauh di samping kirinya Tasia.
Mereka berdua cukup terdiam lama dan hanya memandang murung ke arah tanaman bunga yang ada di depannya, Tasia menyipitkan kedua matanya, karena mendadak matanya merasa silau terkena papar sinar matahari siang itu.
"Apa kau kepanasan? kita cari tempat duduk yang agak sejuk ya..." sahut Rizal perhatian, saat melihat Tasia yang menutupi mukanya dengan tasnya itu.
Rizal lalu menggeser tubuhnya sedikit mendekati Tasia dan membantunya menutupi sisi wajahnya yang terkena sinar matahari dengan kedua tangannya yang dilingkar di atas samping kepala istrinya itu. Tasia memalingkan wajahnya seketika itu juga dan tidak sengaja kedua mata mereka bertemu begitu berdekatan.
Rizal meratapi wajah istrinya yang masih dipenuhi oleh semburat kesedihan. Kedua bola matanya terlihat indah namun sedikit berkaca-kaca dengan air mata.
Tasia segera beranjak dari duduknya karena enggan ditatapinya terus dan hendak meninggalkan Rizal disana. Dia sama sekali tidak mau berbicara sepatah katapun padanya.
"Tasiaa.." sahutnya pelan. Langsung ditariknya cepat tangan Tasia agar dia mau kembali padanya.
"Maaf...maafkan aku..." ucap Rizal menghelakan nafasnya pelan sambil menunduk memelas menahan sedih.
Tasia tidak bisa menahan tangis saat itu juga. Air matanya tiba-tiba saja meleleh keluar membasahi kedua pipi-pipinya. Dia mencoba melepaskan tangan Rizal yang menahannya. Ingin rasanya dia pergi menjauhi suaminya itu. Namun kakinya terasa lemas untuk di gerakkan lagi dan bibirnya terasa kelu untuk berucap.
Dadanya seakan begitu sesak terhimpit, dan sakit di hatinya itu masih saja terasa perih. Bayang-bayang waktu itu masih teringat jelas akan di benaknya, ketika dia di tuduh dan di usir Mira lalu dibentak Hendra, namun saat itu juga suaminya sama sekali tidak peduli akan dirinya yang sempat memohon-mohon meminta belas kasihan kepadanya.
"Kenapa? kenapa kamu masih ingin menemuiku? bukankah aku telah menyakiti Ayahmu..." ujarnya dengan suara yang parau dan basah.
Rizal hanya tertegun mendengar penuturan Tasia yang masih memendam rasa sakitnya itu. Rizal paham betul dengan perasaannya saat ini, dan dia sekarang hanya bisa pasrah dan menyesali akan kesalahannya pada istrinya tersebut.
"Aku mohon..Maafkan aku Tasia..sungguh aku telah menyesal, seharusnya waktu itu aku mendengar penjelasanmu lebih dulu dan tidak mudah menuduhmu..."
Rizal lekas berdiri dan di dekapnya dari belakang tubuh istrinya itu. Rizal mengecup kepala belakang istrinya berbarengan dengan air matanya yang jatuh berlinangan.
"Kembalilah padaku..aku tidak bisa hidup tanpamu..aku benar-benar menyesal sekali sudah banyak melukai perasaanmu..."
Tasia merundukkan kepalanya membiarkan suaminya memeluknya erat, dia juga berharap akan mudah memaafkannya. Tetapi luka batin yang ditorehkannya begitu sangat dalam, sehingga rasa sakitnya sulit untuk disembuhkan lagi. Apalagi kalau dia teringat suaminya yang berdansa dengan Lia. Mata mereka saling memandang mesra, membuat rasa sakit itu terasa menjadi-jadi.
"Aku sudah memaafkanmu...tapi maaf... aku tidak bisa kembali kepadamu.."
Rizal sontak langsung memutar tubuh Tasia agar berhadapan dengannya. Nafasnya terasa sesak mendengar perkataannya itu. Tasia dengan cepat memalingkan mukanya, tidak ingin melihat wajah suaminya, karena melihatinya membuat hatinya tambah sakit.
"Kenapa? kenapa kau tidak mau kembali padaku?" tanyanya dengan suara tinggi tidak terima dengan keputusan istrinya tersebut.
Tasia dengan segera melepaskan tangan Rizal yang memegangnya kuat.
"Karena kita sudah tidak cocok lagi! kau dan Lia adalah pasangan yang serasi..aku mendukung pernikahan kalian...pergilah..pergilah dariku selamanya, aku hanya ingin sendirian!" tegasnya.
Setelah mengucap itu lalu dia cepat pergi menjauhi Rizal disana sendiri.
"Tasia...aku tidak akan pernah pergi darimu...karena kamu sedang mengandung anakku..apa kau sama sekali tidak memikirkan nasib anak kita?" teriaknya sehingga Tasia tersentak mendengarnya.
Langkah Tasia hampir saja terhenti, karena ternyata Rizal sudah tahu kalau dirinya tengah mengandung anaknya. Dia memenjamkan matanya rapat tidak mau menghiraukan perkataannya lagi, lalu dia kembali melanjutkan larinya.
Yogi dan Dian bersembunyi di balik dinding, dan sebenarnya mereka berdua telah mendengar semua pembicaraan pasangan itu diam-diam dari tadi. Mereka menaruh prihatin dengan pasangan suami-istri itu dan berinisiatif membantu mereka agar kembali berbaikan.
"Sebaiknya...kamu dekati Tasia dan bicara dengannya dari hati ke hati, biasanya kalau wanita akan lebih terbuka dengan wanita lagi..." pinta Yogi menoleh Dian yang berdiri dekat di sampingnya.
Dian mengangguk-anggukkan kepalanya memandang mereka antusias sambil merangkul tangan Yogi erat di sampingnya, dia tidak sadar kalau dirinya sangat berdekatan kala itu.
Yogi mendengus pelan sehingga rambut poni Dian terkena hembusan nafasnya.
"Ehm!" Yogi mendehem pura-pura batuk.
Dian menoleh ke arah Yogi. "Ada apa?" mengernyitkan dahinya heran.
"Sekarang sudah bisa kamu lepaskan tanganku?" celotehnya.
Dian sontak kaget melihat tangannya yang mengepal erat Yogi dari tadi dan cepat-cepat mundur menjauhi Yogi.
"Aah...uuuh ma-maaf!" sahutnya terbata-bata. Pipinya langsung merah merona waktu itu juga.
Yogi tertawa-tawa kecil melihat tingkah Dian. Lalu mengelus kepalanya pelan.
"Ayo cepat, kau temui Tasia dan harus bisa membujuknya kembali pada Rizal...dan aku akan hibur Rizal disini!" perintahnya.
"Oke!" jawab Dian tegas, sambil tersenyum-senyum tersipu.
#
#
#
#
#
Tasia berlari masuk ke toilet Rumah Sakit dan menguncinya rapat pintunya lalu dia kembali meluapkan tangisannya itu di sana.
"Rizal...maaf aku belum bisa menerimamu kembali...hatiku masih sakit, sangat sakit sekali..." lirihnya tersedu-sedu sambil meremas-remas baju di bagian dada tengahnya. Membiarkan air matanya berhamburan keluar.
Dian ikut masuk ke dalam toilet dan mendengarnya dari luar samping pintu toilet.
"Ehm..mbak Tasia.." panggilnya sambil mengetuk pintu toilet.
Tok tok tok
"Siapa itu?" tanya Tasia kaget saat ada yang memanggilnya. Lekas Tasia membersihkan air matanya dengan tisu.
"Ini aku Dian...sepupunya Rizal...bisa kita bicara sebentar?" sahutnya lagi.
Tasia sempat lama berpikir di dalam toilet, tapi akhirnya dia mau keluar dan berbicara dengannya.
Mereka berdua mencari tempat yang enak untuk berbicara dan telah sampai tempat yang nyaman. Dian akhirnya membuka percakapan duluan dan menjelaskan pelan-pelan padanya.
"Aku kesini ingin meminta maaf atas nama ibuku, yang telah memfitnah kamu sehingga kalian berdua bercerai...Tasia..maukan kamu memaafkan ibuku?" ujarnya memohon kepada Tasia.
Tasia masih tertegun dengan pernyataan Dian. Tetapi memandang Dian yang begitu sangat menyayangi ibunya itu Tasia tidak tega dan akhirnya menerima permintaan maaf darinya.
"Iya..aku sudah maafkan kesalahan ibumu..Dian.." jawabnya tersenyum ke arah Dian.
Dian senang sekali dan tidak berhenti berterimakasih padanya, sambil memegang tangan Tasia dan mengecupinya terus.
"Terimakasih...Tasia...terimakasih banyak.." girangnya.
"Lalu..karena kamu sudah memaafkan ibuku...maukan kamu kembali pada Rizal?" pintanya tiba-tiba membuat hati Tasia kembali terhenyak terasa sulit untuk bernafas.
Tasia melihat mata Dian yang penuh harapan kepadanya. Sehingga mulutnya terbungkam rapat dan lidahnya kelu sulit berucap lagi. Dia kembali bimbang haruskah menerima Rizal lagi atau tidak. Apalagi setelah Dian memberitahukan, kalau Rizal tidak akan jadi menikah dengan Lia yang membuat hati Tasia jadi terguncang tak karuan.
bersambung...
...***...
Bantu dukung aku readers...jangan lupa selalu tinggalkan jejaknya ya...🙏🙏🙏 like dan komentnya yang banyak ya...biar author tambah semangat lagi menghibur kalian..🥰
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️