
Bab 58
Kembali Ke Jakarta Bersamamu
Tasia di depan pagar rumahnya memandang jauh mobil Rizal yang baru saja datang. Dia tersenyum mengembang karena melihat kekasihnya akhirnya telah pulang dalam keadaan baik-baik saja.
Mobil pun berhenti, Rizal dan Yogi segera keluar dari dalam mobilnya.
"Syukurlah..kamu baik-baik saja" seru Tasia pada Rizal terharu, dengan meneteskan air matanya.
Rizal tersenyum lebar, dan merentangkan kedua tangannya menawari Tasia untuk masuk ke dalam pelukannya. Tasia berlari ke arahnya dan memeluknya dengan penuh suka hati.
Yogi berdiri di samping mobil itu seraya menopang dagunya dengan menyenderkan sikut kanannya di atas mobil.
Kedua bola matanya memandang ke arah mereka, jealous, sambil memiringkan bibirnya sendiri kesal.
"Hmm apa kalian tidak lihat-lihat, disini masih ada aku?" celotehnya tiba-tiba jengkel.
Mereka berdua tersipu bersamaan dan menertawai Yogi yang mendumel sendirian lalu Rizal menghampirinya karena kasihan.
"Makanya cepat cari lagi, kamu kan yang paling jago soal itu.." oceh Rizal menggoda Yogi untuk segera mencari pasangan hidupnya sambil melingkarkan tangannya ke pundak sahabatnya yang sedang jealous itu.
Semenjak Yogi memutuskan Nia untuk Tasia, dia jadi lama menjomblo. Berharap dia bisa pacaran dengan Tasia, tapi malah sahabatnya duluan yang mendapatkan cintanya. Setelah kejadian itu Yogi jadi malas untuk mencari yang baru lagi, dalam hatinya masih berharap pada Tasia. Tapi walaupun Yogi mencintai Tasia dia sama sekali tidak pernah berniat akan merusak hubungan sahabatnya itu seperti Adrian, dia akan tetap setia menunggunya, sehingga suatu hari nanti jika Tasia bosan dengan Rizal sahabatnya itu. Dalam harapannya sendiri.
"Tidak mau, aku hanya ingin menunggu gadis yang kusukai saja" celotehnya jujur, melemparkan senyuman kepada Tasia. Tasia mengangkat alisnya melongo, wajahnya jadi memerah.
"Jangan main-main kau..." gerutu Rizal jengkel, Lalu memukul dadanya Yogi dengan ponselnya yang tadi Rizal simpan di saku jaketnya.
"Heeh mana ada Yogi main-main" celotehnya lagi.
Terus matanya melirik ke Tasia lagi yang berjalan di samping kanannya Rizal.
"Tasia, jangan ragu-ragu kalau misalnya pacarmu ini mengecewakanmu.." melingkarkan tangan ke leher Rizal pelan "Aku siap menampungmu hmmm..." sahutnya diiringi senyuman menggoda. "Betul kan Rizal"
Rizal kesal dengan ocehan Yogi lalu menyikut perutnya hingga dia ketawa geli.
"Apa katamu? Memangnya aku ini barang yang siap di tampung?!" ketus Tasia jengkel dengan candaan Yogi. Lalu dia berjalan cepat masuk ke dalam rumahnya mendahului mereka.
Mereka berdua menertawai Tasia yang marah dan jengkel.
Lalu mereka berdua mengobrol di teras rumah Tasia sambil dudukan.
"Jangan berharap lebih padanya..karena sebentar lagi dia akan kuikat resmi, dan tak akan ada lagi yang bisa mendekatinya" sahut Rizal.
"Maksudmu?" tanya Yogi, mengerungkan kedua alisnya belum mengerti yang dikatakan Rizal, setelah duduk di kursi teras rumah.
"Malam ini aku harus pulang lagi ke Jakarta. Kali ini aku akan bawa Tasia ke rumahku, dan menemui kedua orangtuaku. Aku akan melamar Tasia disana.." jelas Rizal
Hati Yogi tersentak mendengarnya dan seketika itu juga tubuhnya mendadak lemas. Pandangannya menerawang ke atas langit malam penuh bintang berharap ada bintang yang jatuh dan bisa mengabulkan permohonannya. Hah tapi itu percuma karena itu hanyalah sebuah mitos orang-orang bodoh saja.
Mungkin inilah saat baginya dia mengubur perasaannya dalam-dalam kepada Tasia, dan melupakan pernah mencintainya. Karena sahabatnya mungkin lebih baik baginya.
"Aku tahu kau juga tulus mencintainya, terimakasih karena kau lebih menjaga persahabatan kita. Aku benar-benar sangat mempercayakanmu dalam segala hal." ujar Rizal, mengulurkan tangannya pada Yogi untuk selalu merekatkan persahabatannya.
Yogi memandang sendu kepada wajah sahabat perjuangannya itu. Cepat sekali Rizal akan menikah. Dari pertama kenal mereka satu kampus dan satu jurusan. Dulu Yogi sempat mengatakan Rizal adalah si lelaki culun dengan kacamatanya yang berminus 3. Banyak anak-anak kampus yang mengerjai dia karena keculunannya dan asli pendiamnya, tapi saat dia melepas kacamatanya dan memakai softlens banyak sekali wanita yang tertarik dan mengejarnya. Sampai-sampai Lia si gadis model yang banyak penggemar dari kalangan kaum adam pun juga bisa tertarik dengannya.
Dulu Yogi pernah sering menjahili Rizal diam-diam di kampusnya, tapi karena kejeniusan Rizal namun akhirnya selalu Yogilah yang kena batunya sendiri.
Rizal memang tidak pintar dalam hal bergaul, tak pintar berkelahi, tak pintar berpacaran. Tapi dia pintar di bidang pelajaran, pintar bersaing dengan lawan tanpa berkelahi dan pintar membuat wanita jatuh hati.
Yogi tersenyum tulus padanya, mungkin ini saatnya dia harus menerima kenyataan bahwa Tasia hanyalah milik sahabatnya seorang.
"Ya tentu saja...aku tetap dukung kamu dalam segala hal" jawab Yogi memberi senyuman lebar. Menepuk tangan Rizal dan membalas salaman persahabatan mereka.
###
"Apa kamu yakin ingin pergi ke Jakarta Tasia?" sahut Ibunya setelah tadi di beritahukan Tasia. Sulastri membantu membereskan dan merapikan baju-baju yang hendak dibawanya ke koper Tasia.
"Iya bu...Rizal serius ingin sekali mengajakku ke rumah orangtuanya. Setelah mereka setuju, Rizal akan menikahiku. Ibu... Tasia minta doanya ya.." ucap Tasia menangis terharu dan lekas memeluk Ibunya bahagia.
"Iya anakku sayang..Ibu pasti akan selalu mendoakanmu dan Rizal.." membelai putri keduanya yang sudah dewasa itu.
Irna melihat di samping kanan kamarnya ikut terharu.
"Mbak Tasia, aku pasti bakal kesepian gak ada mbak.." sahutnya sedih.
Tasia langsung memeluk Irna juga "Aku juga Na..aku titip ibu ke kamu ya..." pesan Tasia.
Tak lama Tasia dan Rizal pun segera pamitan dan mencium punggung tangan Sulastri bergilir.
"Tolong titip Tasia ya nak Rizal.." sambil menangis tersedu-sedu.
"Jangan khawatirkan itu Tante.., Rizal pasti akan menjaga Tasia dengan baik" jawabnya.
Setelah mereka pamitan, mereka berangkat ke bandara di antar Yogi.
Dan setelah ada di bandara, Raffi sudah ada menunggu disana.
Dia tersenyum melihat adiknya Rizal berhasil membawa kekasihnya. Rizal lalu memperkenalkan Raffi pada Tasia. Tasia sangat terkejut bisa berkenalan juga dengan kakaknya Rizal, badannya yang agak lebih tinggi dari Rizal, juga wajahnya yang lebih dewasa namun sama-sama memiliki wajah tampan dan menarik. Tasia jadi sungkan saat berkenalan dengannya.
Raffi tetap tinggal di Yogyakarta untuk beberapa hari lagi dan dia diantar Yogi sampai ke hotel. Sementara dua pengawal Raffi yang akan mengantar Rizal dan Tasia ke Jakarta naik pesawat pribadi.
Tasia sempat kaget belum percaya kalau kakaknya Rizal begitu hebat sampai dia punya pesawatnya sendiri.
"Wah kakakmu memang keren ya..dia benar-benar sukses sampai bisa memiliki pesawat sendiri" kagumnya setelah menaiki pesawat hanya berduaan saja dengan Rizal.
"Kamu mau aku punya pesawat?" tanya Rizal. Tasia menggelengkan kepalanya.
"Tidak perlu...punya mobil pun aku sudah bersyukur.." sahut Tasia. Rizal tersenyum.
"Kenapa kamu tidak mau, kalau aku punya pesawat?" tanyanya lagi penasaran.
Tasia mendadak wajahnya jadi pucat pasi.
"Mau tahu...?" sahut Tasia.
Rizal mengerungkan keningnya memandang ke arah Tasia yang tiba-tiba saja terlihat pucat itu sampai dia merangkul tangannya Rizal kuat-kuat. Setelah pesawat akan terbang.
"Karena aku belum terbiasa naik pesawat Rizaaaal...sepertinya aku mulai mabok udaraaa...." teriaknya ketakutan dan kepalanya mulai berputar-putar karena pusing.
"Uueeeeeekk"
"Tasiaaaa...Ya ampun kamu muntah?" teriak Rizal. Pakaian baru Rizal akhirnya terkena imbasannya.
Tak berapa lama akhirnya Tasia tertidur di pesawat, Rizal malah menertawainya melihat dia tergelepar karena ketakutan.
bersambung....
...***...