Sweet Cake Memories

Sweet Cake Memories
Satu Syarat



Bab 53


Satu Syarat


Adrian berhenti di sebuah rumah kosong dan agak jauh dari kota. Rumah itu dekat dengan perhutanan liar di sana. Tasia mulai mencurigainya karena Adrian dari tadi hanya berkeliling saja dan tidak membawa ke rumahnya.


"Dimana ini?" tanya Tasia setelah turun dari motornya. Adrian tak menjawab pertanyaan Tasia. Setelah memarkirkan motornya lalu dia langsung menarik tangannya Tasia dan membawanya masuk ke dalam rumah kosong itu.


"Hei, tu-tunggu Mas.. kamu mau bawa aku kemana?" teriaknya, sambil terbawa langkahnya yang cepat akibat tangannya di tarik kencang oleh Adrian.


"Masuklah dulu.." pintanya. Adrian membuka kunci rumah itu, dan setelah di buka mereka masuk ke dalam. Rumah itu benar-benar tidak ada penghuninya. Bahkan barang-barangnya pun ditutupi pakai kain-kain putih yang lebar.


"Ini rumah siapa?"tanya Tasia tercengang melihatnya. Rumah besar namun dirancang pada zaman dulu. Semua benda-benda disana juga terlihat begitu kuno sekali.


"Ini rumah peninggalan kakek buyutku, mau di jual namun belum ada yang mau membelinya.." ujar Adrian lalu memegang bahu Tasia dan menyuruhnya duduk di kursi tamu. "Sekarang kau duduk disini. Nanti aku akan kembali membawa makan siang untukmu..tunggu dan jangan kemana-mana ya.." pintanya lagi.


"Tapi aku tidak lapar..tadi kan katanya kamu akan mengembalikan kalung itu..cepat kembalikan, dan sekarang aku ingin pulang!"


rengek Tasia mulai resah berada di rumah itu.


Tapi Adrian tak mendengar rengekan Tasia dan tanpa banyak bicara lagi Adrian cepat-cepat keluar dari rumah itu lalu mengunci pintunya dari luar. Tasia ingin mengejarnya tapi keburu ditutup Adrian dengan cepat.


"Mas Adrian apa yang kamu lakukan? kenapa kamu malah mengunci pintunya? bukakan pintunya...kamu mau kemana? jangan tinggalkan aku..." teriak Tasia ketakutan di gedor-gedornya pintu itu dan mencoba di bukakannya gagang pintunya. Tapi tidak berhasil dibukanya.


"Jangan khawatir kau tunggu disini nanti aku kembali lagi.." teriak Adrian dari luar lalu dia segera menaiki motornya lagi meninggalkan Tasia di rumah itu sendirian.


"Mas Adrian jangan pergi!" teriaknya lagi histeris. " Apa yang kau lakukan padaku? kenapa kau mengurungku di rumah ini?" isaknya mulai kesepian. Napasnya mulai terputus-putus tak beraturan, gelisah dan cemas mulai menyelimuti hatinya Tasia. Dia jadi teringat kalau dia masih punya handphone. Lalu mengambilnya di dalam tas imutnya itu.


"Aku harus telepon seseorang..ah Rizal" tiba-tiba dia jadi teringat pada Rizal, tapi sejenak dia jadi murung lagi.


"Tidak mungkin dia mau menolongku...dia saja bahkan terlihat membenci diriku.." terkanya putus asa.


Dilihat-lihatnya nomor kontak di handphonenya dan Tasia ingin menelepon seseorang tapi sayang dia dapati ponselnya ternyata sama sekali tidak ada jaringan.


"Apa? disini sama sekali tidak ada signalnya.. hhuuuh..." menghembuskan nafasnya jengkel.


###


Rizal sudah sampai perkampungan rumahnya Adrian dia memarkirkan mobilnya di samping jalan raya, karena mobilnya tidak bisa masuk ke arah kampung rumahnya. Lalu dia bertanya-tanya pada orang yang lewat dengan berjalan kaki.


"Maaf bu..tahu alamat rumah ini, ini rumahnya Adrian?" tanya Rizal, memperlihatkan alamat rumah itu di kertas.


"Oh itu disana mas, mas belok kiri saja terus mentok di sana ada warung dan di depan warung itu pas rumahnya.." jelas si ibu rumah tangga itu.


"Oh terimakasih banyak ya bu.." sahut Rizal sopan.


Sama-sama mas..." memanggut tersenyum pada Rizal.


Lalu Rizal berjalan kaki cepat kesana. Setelah sampai di depan rumah Adrian dia mengetuk pintunya, dan tak lama di bukanya pintu itu oleh seorang bapak tua berusia 60an, dan dia bertanya-tanya pada Rizal.


"Iya..mau cari siapa ya nak?" tanya bapak itu.


"Em..maaf bapak, apa benar ini rumahnya Adrian?"


"Oh iya..kau sedang mencari anakku?" sahut Bapak itu yang ternyata adalah ayahnya Adrian.


Rizal memanggutkan kepalanya.


"Anakku belum pulang biasanya jam segini masih kerja di toko sepatunya dekat pasar, kenapa ada yang ingin di sampaikan?" tanya bapak itu. Rizal menggelengkan kepalanya.


"Nng tidak ada pak, terimakasih..nanti saya pergi ke toko sepatunya saja." sahut Rizal. Lalu Rizal pamitan pada Ayahnya Adrian dan pergi ke toko sepatunya.


...***...


"Hah Adrian?" segera bangkit dari tidurnya.


"Kau barusan tidur?" tanyanya. Tasia memanggut dan mengusap wajahnya.


"Ini makanlah..aku bawa nasi untukmu.." Adrian lalu duduk dekat di sampingnya, dan membuka kantong plastik berisi makanan untuk Tasia.


"Aku tidak lapar aku ingin pulang...kenapa kau bawa aku kesini? dari tadi kau belum menjelaskannya itu padaku!" kesal Tasia.


Adrian menoleh ke arah lain, dan menghela nafasnya panjang.


"Sudahlah ayo makan" titahnya lagi sambil ingin menyuapinya makan.


"Aku tidak mau!" Tasia langsung berdiri di hadapannya dan berjalan cepat ke arah pintu. "Aku mau pulang sekarang juga..ibuku pasti mengkhawatirkan ku"


Adrian pun dengan gesit mengejarnya dan menahan tubuh Tasia lalu mendahului jalan Tasia menuju pintu, dengan cepat ditutupnya pintu itu terus menguncinya lagi di dalam.


"Apa yang kau inginkan? apa tujuanmu mengurungku di rumah peninggalan kakekmu disini?" teriak Tasia. " Cepat bukakan pintunya..Aku ingin pulang.." rengek Tasia, berusaha mengambil kunci di tangan Adrian.


Adrian mengelaknya lalu memasukkan kuncinya di saku jaketnya.


"Kau ingin pulang ke rumahmu. Tapi ada syaratnya" Adrian akhirnya membuka mulutnya.


"Apa syaratnya?" tanya Tasia, menatap kesal pada Adrian.


"Menikahlah denganku.." pintanya, seraya memandang jernih ke wajah gadis di depannya itu.


Tasia terperanjat kaget, tiba-tiba saja Adrian meminta syarat itu padanya.


"A-apa menikah?" tanya Tasia melohok.


Adrian menatap dalam-dalam ke mata gadis itu dan perlahan mulai mendekatinya. Tasia jadi ketakutan dengan tatapan matanya Adrian yang aneh, lalu memundurkan langkahnya ke belakang. Sampai dia terhenti mundur karena dibelakangnya ada meja makan yang besar. Tasia menahan meja dibelakangnya itu dengan kedua tangannya.


"Iya...Aku akan mengeluarkanmu dari sini...asal kau mau menikah denganku Tasia..." ucapnya lagi, Adrian mulai memainkan tangannya yang tiba-tiba membelai rambut sampingnya Tasia lalu dilanjut menyentuh lembut pipinya juga.


Tasia refleks mengibas tangannya ke Adrian.


"Maaf, tapi aku tidak bisa..." tolak Tasia, dan mendorong dada Adrian yang ingin menghimpit tubuhnya dekat.


Tasia berlari ke samping Adrian tapi dengan cepat Adrian mendekap tubuh Tasia di belakangnya.


"Apa ini yang kau inginkan? kau yang memaksaku seperti ini karena telah menolakku!" gertak Adrian semakin kencang memeluk Tasia.


"Mas Adrian, lepaskan aku...kamu sudah gila! mas Adrian...!" teriak Tasia mencoba memberontak dari tahanannya.


Tasia di hempaskannya di lantai lalu membalikkan tubuh Tasia ke arahnya, secepat kilat Adrian menyergap tangannya gadis itu kuat ke atasnya. Dan Tasia terpojok di bawah tubuh Adrian yang lebih besar darinya.


"A-apa, apa yang ingin kau lakukan padaku..." lirih Tasia gemetar ketakutan.


Napas Adrian tak beraturan menatap wajah Tasia yang begitu indah di pandangannya membuat dia tidak berpikir sehat lagi. Lalu di cumbuinya paksa bibir gadis itu.


"Lepaaaassskan aku, Mas....Adrian...." teriaknya sambil menangis.


bersambung....


...***...