
Bab 77
Pengakuan Yogi
Ramond membalas tatapan serius dari Yogi.
"Jadi, itu artinya kau menginginkan agar pernikahan mereka segera hancur?" Ramond menggeleng-gelengkan kepalanya terheran-heran dengan polah pikir Yogi.
"Ck ck ck...Yogi-Yogi..." tertawa meledek.
Yogi tidak menjawab ledekan Ramond, dia hanya kembali melihat pemandangan kota malam itu di atas balkon.
"Kau memang sudah tidak waras...saat sahabatmu terpuruk karena masalah rumah tangganya.. kau malah menginginkan mereka berpisah? harusnya kau sebagai sahabat membantu dan mendukung pernikahan mereka bukannya malah mendoakan perceraian mereka..." dalihnya "Aku memang selalu tidak suka melihatmu bergonta-ganti pasangan, tetapi aku tetap tidak mendukungmu kalau kau bersama wanita yang sudah bersuami.." sambungnya lagi.
Setelah menasehati Yogi terang-terangan. Ramond hendak masuk ke dalam kamarnya lagi meninggalkan Yogi sendirian disana agar dia merenungkan kesalahannya, namun saat melangkahkan kakinya tiba-tiba Yogi berucap pelan padanya.
"Aku sudah terlalu lama dan bersabar menunggunya...mungkin Tuhan telah merancang ini semua dan sekarang mulai berpihak kepadaku.. ketika dulu aku sering mempermainkan hati wanita, mengajaknya tidur dan meninggalkan mereka untuk wanita baru...tanpa hati aku sudah melukai perasaan mereka..Aku dulu memang bajingan Ramond, tetapi setelah aku menemui gadis polos seperti dia...aku merasa yakin kalau dia yang terbaik bagiku...aku sudah bertobat dari perbuatan nistaku...Setelah aku menyadari kalau aku mencintainya...aku jadi ingin merubah sifat asliku..." lirihnya, menangisi masa kelamnya yang buruk, sambil memeluk erat gitarnya Ramond.
"Aku ingin sekali hanya dialah.. yang menemani sisa-sisa hidupku" lanjutnya lagi, lalu memenjamkan matanya kembali karena menyesali perbuatan buruknya dulu.
Ramond menatap sepupunya dramatis, lalu di tepuk-tepuknya pundaknya Yogi yang lebar itu.
"Ya..terserah katamu sajalah..." Ramond hanya bisa mengiyakan sepupunya saja sekedar membantu menghiburnya dari keterpurukannya saja.
###
Malam sebelum tidur, Tasia ingin sekali membersihkan tubuhnya itu, dia berjalan pelan ke kamar mandi di bantu mbok Darmin yang memapahnya. Lalu duduk di kursi kecil, dan satu persatu Tasia mulai mencopoti seluruh pakaiannya, lalu menggelung rambut panjangnya ke atas dengan rapi.
Diambilnya air hangat yang mbok Darmin sediakan di ember tadi lalu handuk kecil itu diperasnya dan dibasuhkannya ke wajah dan seluruh tubuhnya terkecuali tubuh yang terkena luka tusukkan itu.
"Biar mbok bantu non Tasia ya..." tawarnya.
"Tidak perlu mbok, biar aku sendiri saja..." jawab Tasia belum terbiasa di bantu oranglain biasanya hanya ibu dan kakaknya yang bantuin Tasia membilas tubuhnya kalau lagi sakit.
Tasia jadi teringat dulu waktu dirinya sakit tipes dan Ibunya yang membasuh seluruh tubuhnya dengan air hangat. 'Jadi kangen ibu..'pikirnya. tersenyum tipis.
"Oh ya mbok aku lupa, tolong mbok ambilkan baju tidurku dan dalamanku, semua masih di dalam koper ya.." pinta Tasia.
"Eh..i-iya non..." sergapnya, si mbok lalu segera keluar dari kamar mandi lalu mengambilkan sesuatu yang Tasia suruh barusan.
Tapi saat mbok Darmin ingin mengambil dan membuka kopernya Tasia. Rizal ternyata sudah berada berdiri di dekat kasur.
"E-eh ada den muda..." kagetnya melohok.
Rizal menelunjuk bibirnya dengan jari telunjuknya sendiri, menyuruh mbok Darmin untuk tidak membuka suara kalau dia sedang di berada di kamar istrinya tersebut.
"Sssssttt....biar aku saja yang ambilkan..." ujar Rizal dengan bersuara pelan.
"Ooh..baik den.." sahutnya gugup.
Lalu Rizal segera mengambil pakaian yang diminta Tasia tadi dan hendak masuk ke dalam kamar mandinya.
Tetapi sebelumnya dia menyuruh mbok Darmin untuk keluar dan menutup pintu kamarnya Tasia.
"Baiklah..den..." sahutnya mengerti.
Rizal perlahan membuka pintu kamar mandi, dan sudah terlihat Tasia yang duduk tanpa busana sambil mengusap badannya dengan handuk basah.
Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, Tasia langsung menoleh ke arah belakangnya.
"Sudah mbok...ketemu kan baju...nya..." ujarnya terputus, seketika itu yang dibelakangnya bukan mbok Darmin tapi melainkan suaminya sendiri. Matanya langsung membulat ke arah Rizal.
"Kamu? sedang apa kamu di sini?" teriaknya kaget.
Lalu dia beranjak berdiri dan segera mengambil handuk yang terurai di jemuran kecil di samping cermin kamar mandinya. Tapi Tasia tidak kuat berdiri karena masih terasa linu dan perih di perutnya itu.
"Aaaah..." rintihnya.
Rizal cepat-cepat mengambilkan handuk untuknya dan membantu membungkuskan tubuhnya yang polos itu.
"Jangan terburu-buru, perutmu masih sakit. Kenapa kau masih terlihat gugup sekali, padahal aku sudah sering melihatmu tanpa pakaian.." sahutnya jujur.
"Bukan urusanmu...sekarang aku sedang tidak mau bermanja-manja lagi denganmu..." ketusnya merona merah. "Mana mbok Darmin?" kesalnya.
"Dia sudah aku suruh keluar kamar..biar aku yang merawatmu dan membantumu memakaikan pakaian ya..." tawar Rizal.
"Kau jangan keras kepala seperti itu Tasia...aku masih suamimu...jadi aku berhak untuk merawatmu..." terangnya.
"Merawatku? aku tidak perlu di rawat olehmu! bukankah kau sudah punya wanita selingkuhan di kantormu...rawat saja dia olehmu.." ledek Tasia sinis, sambil melototi mata Rizal jengkel.
Tasia belum bisa memaafkan Rizal, walaupun sebenarnya itu tidaklah benar dan Rizal sudah berulang kali menjelaskannya tapi Tasia tetap tidak mempercayai perkataannya Rizal lagi. Setelah dia tahu kalau Rizal sudah banyak membohonginya.
"Kenapa kamu masih mengungkit masalah itu...percayalah dia bukan selingkuhanku.." ujar Rizal lirih.
Tasia berjalan pelan menuju pintu kamar mandi hendak ke kamarnya. Dia tidak ingin mendengar perkataan Rizal sedikitpun.
"Tasia..." Rizal mengikutinya dari belakang sambil masih memegang pakaian Tasia di tangannya.
Lalu setelah sampai ruang kamarnya, perlahan Tasia menurunkan pinggulnya di atas kasur, dan merapatkan kedua telapak tangannya erat. Air matanya kembali keluar dan mengucuri kedua pipinya.
Rizal menghampirinya dan berlutut di depan kedua kakinya Tasia.
"Kenapa...kau tega membohongiku? seandainya saja dulu kau tidak ajak aku menikah...aku tidak akan mungkin terjebak dengan situasi ini?"sesalnya.
"Apa sekarang kau menyesali menikah denganku?"
"Iya...aku menyesal, aku menyesal menikah dengan pria kaya kalangan sepertimu..." geramnya membabi buta.
Rizal mengerjap matanya erat dan dia pun mengeluarkan air matanya menahan sakit dan sedih.
"Maafkan aku Tasia...maafkan aku yang tidak bisa menolak keinginan Ayah..aku sudah berusaha di depannya untuk tidak mau menikah dengan Lia..tapi dia tetap saja memaksaku.." jelasnya.
Tasia ikut menangis mendengar perkataan Rizal.
"Rizal...maafkan aku... tapi aku juga tidak mau dipoligami..." ucap Tasia pelan dan tegas. Sambil memandang kedua bola matanya Rizal dan mereka pun saling beradu pandang di penuhi kegalauan yang panjang.
Rizal menunduk sedih, mengertikan perasaannya. Lalu tangannya melingkar dipinggang Tasia yang ada di hadapannya, dan kepalanya di senderkan sengaja di kedua pahanya Tasia yang polos tanpa celana hanya sebagian badannya saja yang terbalut handuk putih.
"Aku mengerti kamu...tapi aku pun tidak ingin berpisah darimu..." lirihnya.
###
Keesokan paginya, nampak mobil punya Lia masuk melewati gerbang pagar rumah Hendra. Sengaja Lia datang ke rumah Rizal dengan membawa banyak bingkisan oleh-oleh dari luar negri. Karena kemarin dia baru saja pulang berlibur di Perancis.
"Tante....apakabar...." teriak Lia girang setelah keluar dari dalam mobilnya dan segera berjalan menghampiri Tania yang sedang merawat bunga-bunga kesayangannya di halaman rumahnya bersama pelayan disana. Lalu di kecupi pipi kanan kirinya Tania.
"Eh..kamu Lia..Tante baik, kamu sendiri?" ujar Tania biasa saja sedikit cuek mengahadapinya lalu kembali fokus memotongi daun-daun bunga yang rusak dan bolong karena ulat.
"Aku juga baik kok tante..." jawab Lia tersenyum manja, dengan menggelayut tangan kanannya Tania, dia ingin berusaha akrab di depan calon mertuanya itu.
"Oh iya Tante...ini Lia bawain oleh-oleh di Perancis buat Tante, Paman Hendra dan juga Rizal...semoga kalian suka ya..."
Tania memandang ke arah mobil Lia yang banyak dengan bingkisan oleh-oleh.
"Ya..kau boleh bawa masuk ke dalam rumah, Tante masih sibuk dengan pekerjaannya Tante.."ujarnya cuek.
"Emm..baiklah Tante.." ucap Lia sedikit kesal karena di cuekin Tania. Terpaksa Lia berjalan masuk ke dalam rumah Hendra sendirian dengan membawa bingkisan banyak.
Setelah di dalam rumah, Rizal yang baru saja keluar kamar dibawahnya yang biasa dipakai untuk kamar tamu, pagi itu. Dengan masih memakai piyama yang terbuka lebar di dadanya. Nampak kulit putih dan dada bidang Rizal terlihat jelas dan ada sedikit noda merah di bagian sudutnya. Membuat mata Lia terheran melihatnya.
"Rizal...kau sudah bangun?" teriak Lia lalu berlari kecil menghampiri Rizal di depan kamar itu.
"Lia..?" sontaknya terkejut, lalu dia lekas memakai piyamanya dengan benar.
"Kamu...tidur di bawah? bukannya kamarmu ada di atas sana?" sahut Lia menunjuk ke arah loteng.
Rizal sedikit gugup memandang pintu kamar di sampingnya, dia baru menyadarinya kalau malam tadi dia tertidur di kamar Tasia. Setelah pertengkaran semalam itu, Rizal terus memeluk erat Tasia yang terus menangis karenanya, hingga mereka pun kelelahan dan akhirnya mereka pun tidur bersama di atas ranjang.
"Ah iya aku...hanya ingin tidur di bawah saja.." sahutnya berbohong. "Ada apa kau kesini pagi-pagi.." tanyanya sedikit kesal.
"Aku ingin menjemputmu, kita pergi ke kantormu berdua yaa...tapi aku ingin sarapan denganmu dulu.." Lia lalu menggelayut lengan Rizal dan menariknya ke ruangan makan mengajaknya sarapan.
Tasia sudah terbangun dan mendengar suara Lia dan Rizal dari tadi yang berada di luar kamarnya. Dia lalu perlahan beranjak berdiri dengan tubuhnya yang polos hanya ditutupi selimutnya saja. Perlahan Tasia membuka pintu kamarnya sedikit dan memandangi punggung mereka yang sedang berjalan mengarah menuju ruang makan keluarga. Lia yang begitu erat menempel pada tubuh Rizal, berhasil membuat hatinya kembali sakit.
bersambung...
...***...