Sweet Cake Memories

Sweet Cake Memories
Bertemu Di Rumah Sakit



...Bab 92...


...Bertemu Di Rumah Sakit...


Tasia telah sampai rumah kontrakannya, di pandangnya ibunya yang masih tertidur di ranjang.


"Ibu..aku pulang ini aku bawakan satu bungkus bubur kacang buat ibu.." seru Tasia ingin menyenangkan ibunya.


Tetapi ibunya tidak juga menyahutinya, karena penasaran di hampirinya ibunya itu. Tasia melihatnya menggigil kedinginan di kasur lalu dipegangnya kening ibunya saat itu juga.


"Ya Tuhan Ibuuu....Ibu.. badan Ibu kok panas sekali.." teriaknya panik. "Kita harus cepat-cepat ke Rumah Sakit.." mencemaskannya.


"Tidak perlu..Tasia...ibu tidak apa-apa nak.."


"Tidak ada apa-apanya? Ibu benar-benar sakit begini, masih bilang tidak apa-apa...pokoknya ibu harus segera di periksa..." ajaknya, lalu Tasia pelan-pelan membangunkan ibunya dan memakaikan jaket tebalnya.


"Ayo kita pergi sekarang juga.." di bopongnya pelan ibunya itu.


"Tapi..tunggu dulu, memangnya kamu masih punya uang?" tanya Sulastri khawatir.


"Ya ampun ibu...Ibu tidak perlu mengkhawatirkan itu, Tasia masih punya tabungan kok..yang terpenting sekarang ibu harus sembuh dulu..ya.."


Setelah kejadian di usir dari rumah oleh pamannya Tasia yang tertua. Sulastri terus tak henti-hentinya memikirkan itu sehingga badannya lemah dan sakit-sakitan lagi. Di tambah lagi Tasia baru saja menceritakan soal dia sudah berpisah dari Rizal kemarin yamg membuat Sulastri jadi bertambah drop down mengiba terhadap putri keduanya tersebut.


#


#


#


#


#


Tiga hari kemudian Mira telah pulang ke Indonesia, dan polisi sudah siap menunggu kepulangannya untuk menangkapnya. Mira berteriak histeris dengan penangkapannya itu.


Tania datang menjenguknya di kantor polisi dan memberi senyuman puas melihatnya.


"Itulah akibat dari kejahatanmu sendiri..Apa yang engkau tanam itulah yang kau tuai...Semua perbuatanmu baik buruknya akan kembali lagi kepadamu..." gumamnya, sederet pesan kalimat terakhir yang di sampaikan Tania kepada adik iparnya itu memberikan pelajaran padanya sehingga mampu menyayat hati Mira sendiri.


Tania keluar meninggalkannya dengan hati senang dan lega.


"Brengsek...kau Tania...aku pasti akan membalasmu!" geram Mira yang di giring masuk kembali ke bui.


Setelah selesai urusan di kantor polisi. Hendra dan Tania pergi ke rumah Gusti untuk membatalkan pernikahan kedua anaknya tersebut, dan menjelaskan semuanya pada mereka kalau sebenarnya Rizal sudah menikah dengan Tasia,


"Paman Hendra jahat!" teriak Lia marah.


Lia tidak terima dengan kenyataan itu dia terus mengamuk dan menghancurkan barang-barang di kamarnya sendiri. Hendra terus meminta maaf dan menyesali itu pada Gusti dan juga Lisna karena sudah banyak sekali mengecewakan mereka.


Gusti pun marah besar dan akhirnya persahabatan mereka jadi terpecah gara-gara pembatalan pernikahan tersebut, dan terutama Hendra juga sudah membohongi mereka. Inilah resiko Hendra yang harus dia tanggung sendiri. Dari awal dia sudah siap dengan semua konsekuensinya.


Setelah mendengar berita ibunya yang dipenjara. Dian langsung pergi menemui Rizal di Cafe tempat sepupu tirinya bekerja.


"Dian?" seru Yogi saat melihat Dian masuk ke dalam Cafe. "Baru kali ini kamu mampir ke Cafe kami..kamu mau pesan apa?"tanyanya.


"Aku kesini ingin menemui Rizal!" ketusnya, tanpa menghiraukan perkataan Yogi, dia terus melanjutkan jalannya ke ruangan Rizal.


"Bertemu dengannya? tapi saat ini dia sedang tidak ingin di ganggu.." terang Yogi ikut berjalan di belakangnya Dian.


"Ini penting Yogi, ini soal menyangkut masalah keluarga kami..aku harus segera menanyakan hal itu kepadanya!" geramnya semakin emosi karena Yogi terus menghalanginya menemui sepupunya itu.


Setelah sampai ruang kerja Rizal, Dian mengetuk pintunya kencang. Rizal yang termangu di meja kerjanya masih memikirkan keadaan Tasia, jadi terganggu dengan suara berisik itu.


Tok Tok Tok


"Rizaaal cepat buka pintunya!" teriaknya.


Dian segera membuka pintunya sendiri karena tidak ada jawaban dari Rizal, tanpa basa basi dia menghampiri Rizal yang tengah duduk di kursi lalu menggebrak meja Rizal kencang.


Braaak


"Kenapa kamu memenjarakan ibuku? apa kesalahannya sampai dia harus ditangkap?" geramnya emosi.


Yogi ikut masuk ke ruangan itu, dan mendengarkan percakapan mereka.


"Kenapa? kenapa kau tidak bertanya langsung pada ibumu sendiri?" jawab Rizal santai. Lalu dia beranjak berdiri dan mengambil air minum untuk Dian.


Dian kesal dan tidak menerima minuman darinya.


"Tidak usah repot-repot..sekarang kau harus mencabut tuntutan itu dan mengeluarkan ibuku lagi dari penjara!" teriaknya.


"Maaf Dian..aku tidak bisa...ibumu sudah banyak melakukan kejahatan..Tak cuma menipu aku dan Ayahku..tapi dia juga hampir saja membunuh Ayahku, lalu memfitnah istriku!"


"Hah..dasar lelaki bodoh, kau bahkan juga sudah menipu Lia..kau ingin menikahinya tapi kau sendiri diam-diam juga sudah menikah dengan wanita lain...memalukan sekali!"


Dian kesal ingin sekali meremas kerah baju Rizal tapi di cegah dan ditahan Yogi di belakangnya.


"Sebaiknya kau dengarkan dulu dengan tenang permasalahannya biar tidak ada kesalahpahaman lagi..." jelas Yogi.


Yogi dengan cepat menarik tubuh Dian dan membiarkan gadis itu duduk di sofa dengan tenang.


Rizal menghampiri sepupu tirinya itu dan memberikan satu gelas minuman kepadanya.


"Minumlah dulu dan tenangkan pikiranmu itu..." sahut Rizal.


Rizal tidak bisa menjelaskan dengan baik jika Dian masih di sulut emosi, dia lalu meminta bantuan Yogi sahabatnya untuk menceritakan semua kejadian demi kejadian. Dian menatap serius mendengarkannya, dan hatinya mulai berangsur tenang setelah tahu semuanya. Dian juga sempat kaget tidak percaya dengan semua penjelasan itu.


"Apa? sulit dipercaya...kenapa ibu melakukan itu semua, lalu...bagaimana pernikahanmu dengan Lia...dia pasti akan kecewa sekali karena kau tidak jadi menikahinya.." tanya Dian terenyuh mendengarkannya.


"Sebagai sahabatnya kau cukup memberikan pengertian padanya..." saran Yogi.


"Terus... sekarang nasib istrimu yang kau ceraikan itu bagaimana?"tanyanya lagi pada Rizal.


Rizal kembali dengan perasaan galaunya dia berjalan pelan ke arah jendela ruangannya. Matanya kosong memandang luar.


"Sekarang aku sudah kehilangan dia...dia menghilang tanpa jejak.." lirihnya menangis sesegukan.


"Apa?" sontak Dian. "Hilang?" alisnya di kerutkannya dan mulutnya sedikit terbuka tak percaya.


Yogi menganggukkan kepalanya mengiyakan Rizal.


"Ha ha ha..aku jadi ingat, sebenarnya aku pernah bertemu dengannya!" tiba-tiba Dian tertawa-tawa sendiri.


Rizal dan Yogi langsung terbelalak kaget mendengarnya.


"Benarkah? benarkah itu?! kau pernah bertemu dengannya? sekarang dia ada dimana?" teriak Rizal memegang bahu tangan Dian dan di goyang-goyangkannya kencang.


"Iya aku tahu...tapi lepaskan dulu tanganmu itu?" ketus Dian kesal.


"Dimana dia?" tanya Yogi.


"Dia...." belum sempat Dian menceritakan, tiba-tiba Revan muncul masuk ke ruangan Rizal dan memberitahukan kabar tentang Tasia.


"Kak Rizal....sekarang aku sudah tahu kak Tasia ada dimana!" teriaknya menyosor mendekati Rizal sambil ngos-ngosan karena berlari tadi.


"Dimana dia?" seru Rizal dan Yogi serentak.


"Dia sekarang ada di Rumah Sakit, Ibunya sedang di rawat disana.." terang Revan.


Mata Rizal langsung berbinar terang setelah tahu keberadaan istrinya itu lalu dia bergegas pergi dan tak lupa membawa ponsel di meja kerjanya.


Revan menjelaskan kalau Bang Mail yang menceritakannya dia tahu dari Irna pembantunya Tasia dulu. Dan kini Irna juga ada di Rumah Sakit sedang menunggu Ibunya Tasia.


"Ayo kita pergi sekarang!" serunya sambil berlalu keluar ruangannya. Revan berjalan cepat mengikutinya di belakang.


Yogi memandang ke arah Dian. "Kamu mau ikut?" tanyanya.


Dian menggeleng-gelengkan kepalanya sungkan.


"Ayo..ikut saja sekalian berkenalan..kalian berdua belum kenal dekat bukan.." menarik tangan Dian paksa untuk ikut dan menemui Tasia.


"Yogi..tapi.." sahut Dian tersipu malu saat Yogi memegang tangannya.


Mereka bertatapan saat itu juga. Tiba-tiba mereka dikejutkan karena Rizal kembali lagi masuk ke ruangannya untuk membawa sesuatu. Lalu Yogi refleks melepas tangan Dian.


"Ada apa kenapa malah balik lagi?" tanya Yogi menggerutunya. Tapi dia tidak di gubrisnya.


Rizal membuka lemari bajunya dan membawa kemeja Casual hadiah dari Tasia dulu. Lalu mengganti pakaiannya itu di kamarnya.


Yogi dan Dian menatapnya terheran setelah Rizal keluar kamarnya dengan memakai kemeja itu.


"Kenapa pakaianmu diganti?" tanya mereka berbarengan.


"Kalian tidak akan mengerti...ini akan mengingatkan dirinya, kalau hadiah yang dia berikan selalu aku pakai.." cengirnya.


"Haaaah?! ha ha ha!" mereka berdua terkekeh-kekeh menertawakan tingkah Rizal.


###


Selang beberapa menit sampai Rumah Sakit. Rizal terharu ternyata memang benar yang dikatakan Revan kalau ibunya Tasia sedang di rawat di sana.


Tetapi Tasia tidak berada di sana, dan hanya Irna saja yang menunggu Sulastri yang terbaring di kasurnya. Rizal bertanya pada Irna. Irna mengatakan kalau Tasia sedang bekerja di Restoran dan sebagai kurir antar pesanan.


Rizal menunggu di samping ibu mertuanya yang masih terlihat lemah di kasurnya. Lalu menanyakan kabarnya itu.


Sulastri tampak senang melihat Rizal dan terenyuh mendengar penjelasan cerita darinya.


Lalu beberapa jam kemudian Tasia pulang dari tempat kerjanya dan kembali ke Rumah Sakit dia terkejut sudah melihat Yogi dan Revan ada di sana sedang dudukan di ruang tunggu pasien.


"Kalian?" tanyanya heran.


"Kak Tasia apa kabarmu?" seru Revan.


Rizal sontak terkejut mendengar suara Revan yang memanggil nama Tasia di luar kamar Ibunya. Jantungnya tiba-tiba berdebar kencang, nafasnya berhembus tak beraturan.


Tasia pelan-pelan berjalan ke kamar Ibunya dan dia melihat Rizal yang sedang duduk di samping ibunya.


Mata mereka akhirnya saling berpandangan satu sama lain.


bersambung...


...***...


Jangan lupa like and komentnya yaa...


...🌺🌺🌺...