Sweet Cake Memories

Sweet Cake Memories
Hadiah Berharga Darimu



...Bab 84...


...Hadiah Berharga Darimu...


Mbok Darmin mengambil beberapa makanan penutup di meja dorongnya dan hendak membawanya ke depan.


Ketika melewati kamar Tasia, dia memergoki Luna yang baru saja keluar dari kamarnya Tasia. Luna terkejut dan langsung panik tidak karuan.


"Apa yang sedang barusan kau lakukan di kamarnya Nyonya muda?" tanyanya menatapnya tajam ke arah Luna mulai mencurigai tingkah pelayan bersih-bersih itu.


"Emm...ta-tadi aku selesai membersihkan kamarnya Non..." jawabnya gugup.


"Benarkah?" sahut mbok Darmin belum percaya, dahinya dikerutkannya hingga terlihat bentuk garis-garis keriputnya.


Luna sedikit ketakutan dengan pelayan seniornya itu.


"Ngapain juga sih aku bohong..sudah ah, aku masih banyak kerjaan lagi..." pekiknya lalu dia bergegas kembali ke tempat dia bekerja merapikan ruangan ke ruangan yang lain.


"Aneh? Akhir-akhir ini tingkahnya selalu saja mencurigakan..kemarin-kemarin aku juga sempat pergoki dia mojok di samping ruangan kerja Tuan Besar, teleponan dengan seseorang dan mukanya selalu tampak gelisah.." gumamnya bertanya sendiri semakin penasaran pada Luna.


Mbok Darmin tidak banyak berpikir lagi, karena dia harus kembali bekerja, lalu dia melanjutkan membawa hidangan penutup itu ke depan halaman.


###


Meskipun malam itu raganya tengah berdansa dengan Lia tetapi hatinya masih teringat pada istrinya itu.


'Tasia...maafkan aku, aku terpaksa melakukannya..' batinnya.


FLASBACK dalam Lamunan Rizal


Rizal menemui Ayahnya di ruang kerja kemarin malam setelah kejadian makan malam waktu itu.


"Ayah...aku mohon maafkan Tasia, dia mungkin tidak sengaja melakukannya.." jelas Rizal cemas.


"Heh..tidak sengaja? Itulah akibatnya bila menikahi gadis yang kurang berpendidikan...makanya kenapa Ayahmu ini tidak pernah menyetujui pernikahan kalian dari dulu.." pekiknya keras.


"Ayah...bagaimana caranya agar ayah mau memaafkan kesalahannya..." lirihnya memohon kepada Ayahnya.


"Kau ingin Ayah memaafkannya?" Tanya Hendra menyunggingkan di sudut bibirnya.


Rizal merasakan adanya firasat buruk terhadapnya ketika melihati wajah Ayahnya menanyakan itu. "Iya...Ayah..." Jawabnya terpaksa dengan jantung yang berdebar-debar.


"Caranya sangat mudah sekali...kau harus mau menikah dengan Lia di awal bulan depan..aku akan memaafkannya..tapi jika kau tidak mau, kau harus ceraikan gadis itu sekarang juga!" Gertaknya sedikit mengancam.


Hendra ternyata sengaja memanfaatkan situasi ini, sehingga pernikahan Rizal dan Lia segera di percepat. Dengan begitu kemauannya akan segera tercapai.


Rizal mengernyitkan dahinya perlahan, seraya memandang penuh ke arah Ayahnya. Mendengar permintaan Hendra seketika itu hatinya berubah dipenuhi kebimbangan yang teramat sangat, antara harus memilih menikahi Lia secepatnya atau menceraikan Tasia.


***


Dian masih menguping percakapan mereka di balik dinding rumah belakang Hendra.


Dan setelah lama Tasia menangis di pelukan Yogi, lama-kelamaan rasa sedih itu hilang dengan sendirinya.


"Terimakasih banyak...sudah mau menghiburku.." sahut Tasia lalu merenggangkan kembali kepalanya yang tadi menempel di dadanya Yogi. Lalu mengusap air matanya dengan sapu tangan Yogi.


"Kenapa kamu berpakaian pelayan seperti itu?" ledek Yogi.


"Menurutmu?" tanya Tasia balik, menahan senyumnya.


"Kau terlihat lucu sekali dengan pakaian itu kelihatan seperti baby siter ha ha ha...pakai kacamata pula.."ledeknya lagi.


"Biarin saja..." Ketusnya, kembali ceria lagi.


"Kacamata siapa yang kamu pakai itu?"


"Aku pinjam punya Rizal.." jawabnya kembali murung setelah mengucap namanya, lalu perlahan dilepasnya kacamata itu.


"Sudahlah...malam ini lupakan dia sejenak..aku ada hadiah untukmu..tunggu sebentar disini ya.." ujarnya.


Yogi beranjak berdiri dan berjalan ke arah samping. Dian cepat-cepat berjongkok bersembunyi di beberapa vas besar hiasan halaman rumah belakang itu, agar tidak terlihat oleh Yogi.


Untungnya Yogi terus berlari ke arah halaman depan sehingga tidak menyadari ada Dian di balik vas besar itu. Yogi mengambil bawaannya yang tadi dia titip sebentar ke penjaga rumah di depan gerbang halaman. Lalu tidak ada 5 menit kemudian dia kembali ke tempat kolam ikan menghampiri Tasia lagi. Dian kembali bersembunyi.


"Ini..." Yogi menyodorkan sebuket bunga mawar putih dan sekotak coklat pada Tasia.


Di balik dinding Dian melihat itu, 'Hmm..ternyata bunga dan coklat itu untuknya...' gumamnya dalam hati.


Tasia terkejut dengan pemberian Yogi padanya.


"Apa ini? Kenapa kau malah memberikanku hadiah? Hari ini kan bukan ulangtahunku? Malah ini hari ulangtahunnya Rizal.." cebiknya.


"Memangnya apa harus di hari ulangtahun saja kita memberikan hadiah? "


"Tidak juga sih.."


"Tasia...besok aku akan pulang kembali ke Yogyakarta..kau tidak mau ikut pulang?"


"Yogi..aku ini istrinya Rizal, aku akan tetap disini dahulu untuk menemaninya.." sahutnya lagi menoleh lagi ke arah Yogi.


Dian terbelalak terkejut mulutnya sampai terbuka menganga tidak percaya dengan pendengarannya.


"Hah..a-apa i- istrinya Rizal?" Cepat-cepat dia menutup mulutnya kembali karena nyaris saja terdengar oleh mereka.


Dian lalu perlahan pergi meninggalkan mereka setelah puas menguping semua pembicaraannya itu.


Dian terus bertanya-tanya dalam hatinya. 'Apa benar yang barusan aku dengar itu..tadi dia menyebutkan dirinya istrinya Rizal? aah siapa sih tadi namanya itu?' sambil berpikir lama. 'Ah Tasia...iya namanya Tasia..'


Lalu Dian berjalan ingin menghampiri Lia yang sedang menikmati makan bersama Rizal di meja makan.


###


Setelah lama menghibur Tasia. Yogi lalu menghampiri sahabatnya yang sedang berulang tahun itu. Waktu menunjukkan pukul 21.00 malam semua tamu undangan satu-persatu pulang, dan suasana pesta malam itu mulai sepi.


"Selamat ya..maaf aku telat datang.."


"Ya...terimakasih banyak Yogi.."


Lalu mereka bersalaman dan saling berpelukan lalu Yogi menyodorkan satu kotak hadiah untuk sahabatnya itu.


"Ini hadiah ku dan Revan..." ujarnya.


"Tidak usah repot-repot.." sahutnya tersenyum tipis.


"Oh ya..besok aku akan kembali pulang ke Yogyakarta, aku khawatir meninggalkan cafe kita terlalu lama..Revan juga sudah sering meneleponku.." ujarnya.


"Iya.. baiklah..terimakasih, kau dan Revan sudah banyak sekali membantuku mengelola Cafe dengan baik.."


"Tapi...cafe juga sangat membutuhkan Tasia..kapan kau mengijinkannya untuk pulang?" tanya Yogi tiba-tiba.


Rizal sontak kaget dengan pertanyaannya yang membuat dia menjadi bimbang.


Lia yang sedang mengobrol dengan Dian setelah makan malam selesai, melihat ke arah Rizal yang sedang mengobrol dengan Yogi di sana, lalu dia dan Dian segera menghampiri mereka.


"Yogi..hei..rupanya kau juga datang kemari?" seru Lia menebar senyuman bahagia ke arah Yogi.


"Ya...tentu saja di setiap acara penting sahabatku, aku pasti akan datang untuk menghadirinya..." ujar Yogi.


"Baguslah, kalau begitu...awal bulan depan nanti kau juga harus datang ke pernikahan kami berdua..." sahut Lia sumringah. Lalu menggandeng tangannya Rizal erat. "Awas loh kalau tidak datang..." ancam nya kepada Yogi.


"Benarkah itu... ha ha ha..." celoteh Yogi diiringi tawa meledek.


"Tentu saja..." jawab Lia bersemangat.


"Kalau begitu selamat yaa...untuk kalian berdua.." sahutnya menyindir ke arah Rizal.


Lalu Yogi menyodorkan lagi tangan kanannya ke arah Rizal untuk berjabat tangan dengannya yang kedua kalinya. Rizal memalingkan mukanya ke samping dan menghembuskan nafas nya kasar. Dan berpura-pura membalas tangan Yogi.


Dian memandang ke arah Yogi dan Rizal yang sedang berjabat tangan palsu itu. Dia masih kebingungan dengan apa yang terjadi dengan mereka dan kini di kepalanya itu sudah penuh dengan teka-teki pertanyaan.


'Ada apa dengan mereka? Kenapa mereka berdua menyembunyikan semua ini dari Lia?' gumamnya bertanya-tanya dalam hatinya sendiri.


###


Setelah pesta itu berakhir. Tasia kembali ke kamarnya dan pergi mandi lalu memakai pakaian tidurnya. Saat akan membaringkan tubuhnya di kasur. Dia melihat bunga dan sekotak coklat pemberian Yogi tadi, yang ditaruh di atas nakas. Perlahan dia membuka kotak coklat itu. Terselip lembaran kertas kecil bergambar pasangan anime lucu yang berpakaian koki di dalam kotak itu.


Tertulis kata-kata manis di kertas itu yang membuat Tasia memoleskan senyuman di bibirnya sehingga dia tertawa geli setelah membacanya.


Kita adalah partner bekerja di dapur... Aku sangat rindu saat-saat membuat kue bersamamu...


"Yogi...Yogi..Bisa saja kamu.." ucapnya. Lalu Tasia mulai membuka bungkus coklat itu, dan menggigitnya perlahan.


Dia teringat akan pesan Yogi lagi padanya tadi.


"Setelah kamu menggigit coklatnya, lupakan sejenak masalah mu...dan bayangkan hal yang indah dan menyenangkan yang pernah kamu lalui...maka kau tidak akan merasakan kesedihan lagi.." terangnya.


Tasia memanggutkan kepalanya mengikuti saran darinya. Lalu tiba-tiba saja wajahnya kembali ceria seperti tidak terjadi masalah.


Setelah selesai pertemuan dengan keluarga dan membicarakan pernikahan itu. Rizal begitu sangat kelelahan malam itu, lekas dia langsung masuk ke dalam kamarnya dan pergi mandi. Lalu memakai piyama tidurnya berwarna biru tua.


Saat hendak merebahkan tubuhnya di kasur, Rizal melihat sudah ada kotak kado di atas kasurnya tersebut. Diambilnya dan dia buka amplop mini bertulisan cantik dan rapi itu yang dia sudah hafal betul pemiliknya siapa, dan sudah pasti tulisan istrinya sendiri.


Selamat Ulang Tahun


Maaf malam ini...


Aku tidak bisa menemanimu di Hari bahagiamu...


Semoga apa yang kamu inginkan selalu tercapai...


Semoga Tuhan selalu memberikanmu kesehatan dan kesuksesan dalam setiap usahamu


Sebagai istrimu...


Aku akan selalu mendukung apapun itu yang terbaik untukmu...


Dan maaf selama ini...


Aku sudah terlalu banyak mengecewakan dirimu...


I Love You Suamiku....


Selepas membaca kalimat-kalimat indah dari istrinya itu, matanya berkaca-kaca dan mulai meleleh keluar dari sudut matanya.


Perlahan Rizal membuka bungkus kadonya, dan terlihat kemeja kerja Casual yang sudah dilipat begitu rapihnya di dalam kotak itu.


"Terimakasih banyak istriku..akan aku pakai hadiah berharga darimu ini..." gumamnya.


bersambung...


...***...


Maaf untuk para readers yang sudah membuat kalian kecewa..karena aku sering jarang up..karena banyak kesibukan yang lainnya juga...πŸ™πŸ™πŸ™ aduhh sekali lagi maafkan author ini ya...


Terimakasih juga sudah setia selalu membacanya...jangan lupa like n koment nya selalu ya....πŸ˜†πŸ˜˜πŸ˜Š


...🌺🌺🌺...