Sweet Cake Memories

Sweet Cake Memories
Pertunanganku



Bab 66


Pertunanganku


Seminggu kemudian Rizal kembali ke Jakarta tapi kali ini dia hanya pergi sendirian. Karena perusahaan Hendra masih bergantung kepadanya. Tasia tetap tinggal di Yogyakarta karena harus mengurusi Cafe mereka bersama Yogi dan Revan.


Namun setiap satu bulan sekali Rizal akan menyempatkan pulang ke Yogyakarta, untuk


bertemu istrinya dan juga mengontrol keadaan Cafe nya itu. Setelah kemarin pamitan pada Yogi dan Revan di Cafe. Hari itu dia harus berpamitan kepada istrinya dan ibu mertuanya.


"Hati-hati ya..salam sama keluargamu terutama sama nenek" pesan Tasia. Sempat khawatir dan sedih jika ditinggalkan Rizal, dirinya pasti akan kangen berat.


"Iya akan ku sampaikan itu..kamu juga jaga dirimu baik-baik...selama aku tidak ada..ya.." pesannya juga.


Tasia memanggut mematuhi suaminya itu. Lalu Rizal menciumi seluruh wajah Tasia dengan penuh kelembutan dan diakhiri ciuman lama di bagian bibirnya. Setelah selesai dia lalu menggiring kopernya keluar kamar dan menuju luar rumah. Sulastri dan Irna juga sudah siap nongkrong di depan rumah. Menunggu kepergian Rizal ke Jakarta lagi.


Rizal kembali naik pesawat diantari pengawalnya Raffi. Mobil kesayangannya sengaja ditinggalnya di rumah istrinya itu, agar kalau dia pulang lagi ke Yogyakarta nanti mereka bisa jalan-jalan berduaan.


Selang satu jam 10 menit, pesawat sudah mendarat di Jakarta. Rizal kembali ke rumah Ayahnya Hendra.


Malam harinya. Detik-detik perjanjian bersama Ayahnya itu di mulai, perjanjian pertunangan antara dirinya dengan Lia. Perayaan pesta pertunangan mereka akan dilaksanakan langsung berbarengan dengan perayaan UlangTahun Perusahaan Bayan Resources milik keluarga besar Wijaya yang ke 150 tahun.


"Apa kau sudah siap?" tanya Hendra setelah masuk ke dalam kamar Rizal. Hendra menelitik ke kamar putranya itu, khawatir kalau-kalau putranya akan kabur dari acara pentingnya itu.


"Iya Ayah..aku sudah siap" jawabnya mulai gelisah.


Sebelum pergi ke acara itu, Rizal hendak menyimpan cincin pernikahannya dengan Tasia di laci mejanya itu, dengan wajah sedih dan terpaksa.


'Maafkan suami ini...sayangku' batinnya setelah mengecup cincinnya. Lalu di taruhnya cincin pernikahannya itu.


Rizal sudah bersiap dan berdiri tegak di depan cermin dengan memakai jas resminya, dan juga rambutnya yang sudah di tata rapi ke belakangnya. Malam itu dirinya nekad menjalin hubungan dengan Lia bukan karena keinginannya sendiri. Sebenarnya di dalam hatinya sendiri dia merasa kacau dan cemas, namun dia masih bisa mengendalikan dirinya untuk bersikap sewajarnya.


Rizal berjalan menghampiri Ayah dan Tania yang sudah siap menunggunya, lalu mereka bertiga menaiki mobil mewahnya dengan diantar supir pribadi keluarga besarnya menuju gedung perusahaan mereka ke tempat acara pentingnya itu.


###


"Lia malam ini kau terlihat cantik sekali..." sahut Dian setelah membantu Lia memakaikan gaun terbaiknya itu.


"Benarkah itu? Dian aku benar-benar bahagia sekali, aku tidak menyangka, kalau kami akan bertunangan" ucapnya girang dengan memeluk Dian di belakangnya.


"Nah kan..apa yang kubilang..kalau kita mau bersabar dan berdoa, aku yakin jodoh kita pasti akan datang dengan sendirinya" sela Dian memberi masukan. "Jadi kau tak perlu kalut dan resah lagi dengannya"


"Iya..iya, cerewet nih temanku yang satu ini.."sela Lia diiringi tawa yang renyah.


Gusti menatap putrinya ikut bahagia. Begitupun dengan Lisna akhirnya putri semata wayangnya menemukan kebahagiaannya sendiri.


Mira menyudutkan senyum tipis di bibirnya. Melihat ke arah Lia yang tersenyum bahagia sambil berputar-putar di depan cerminnya sendiri.


'Akhirnya..sebentar lagi rencanaku ini akan berhasil..' ucap dalam bathinnya.


Lalu tak lama mereka pun berangkat menuju tempat ke acara pentingnya itu.


###


Selang kemudian keluarga Gusti juga ikut hadir di pesta ulangtahun perusahaannya. Lia tampak cantik dengan gaun malamnya yang berwarna biru gelap, memandang kearah Rizal yang sudah berdiri di depan sana.


Lalu Lia putrinya itu di gandengnya ke atas mimbar oleh Gusti, dan berdiri berdampingan dengan Hendra dan juga Rizal disana. Mereka berempat berdiri di depan para hadirin dan tamu undangan. Semua menatap heran ke arah mereka.


Hendra mulai menyampaikan acara pentingnya itu lagi kepada para tamu undangan. Bahwa selain acara ulangtahun perusahaan , malam itu mereka juga akan menunangkan kedua putra putrinya itu. Semua tamu undangan terkejut dengan kabar gembira yang tiba-tiba itu, lalu bersamaan mereka semua bertepuk tangan menyoraki mereka berdua, dan mereka yang melihatinya akan menjadi saksi diantara jalinan hubungan kedua pasangan itu.


Mira menghampiri Rizal dan Lia dengan di tangannya membawa cincin pertunangan mereka di kotak biru. Lalu keduanya dimintai saling menukarkan cincin itu.


Dalam hatinya Rizal kesal dan tidak bisa menolak keinginan Ayahnya di depan mereka. Dia memasukkan cincin tunangannya di jari manisnya Lia dengan kencang dan cepat-cepat. Lia tersontak kaget dan merintih kesakitan.


"Aduuh, apa kau tidak bisa sedikit lebih pelan?" rintihnya.


Rizal hanya menyungging senyuman tipis memandangnya setelah menyelesaikan tukar cincin itu. Sikapnya terhadap Lia begitu dingin dan acuh.


Semua tamu undangan menikmati acara dan hidangan mewah itu. Semua bergantian menghampiri Rizal dan Lia untuk menyelamati hari jadi mereka.


Lia melirik-lirik arah luar gedung dari jauh, berharap wartawan seleb yang dia undang dari kemarin-kemarin sudah hadir di acara pertunangannya itu.


Cekkleek cekleek cekleek


Dari jauh suara kamera menyoroti ke arah mereka. Tersontak Rizal terkejut dan langsung cepat-cepat menutupi mukanya itu dengan lengannya.


"Apa-apaan ini?" tanyanya pada Lia.


Lia tersenyum pada Rizal. "Ini adalah hari kebahagiaanku..mana mungkin juga aku pendam sendirian" sahutnya senang.


"Kau undang wartawan kesini, apa kau sudah sinting" geram Rizal pada Lia.


"Kenapa? apa aku salah? wajar kan seorang seleb seperti aku di pandang orang. Dengan begitu seluruh masyarakat akan tahu kalau kita sudah bertunangan" jelasnya lagi riang.


Rizal menghembuskan nafasnya kasar, dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi, lalu dia mencoba untuk menghindari dari wartawan-wartawan itu yang mencoba menerobos masuk mendekatinya dengan berbagai pertanyaan dari mereka. Tapi tidak bisa, Rizal terpojok dan semua wartawan sudah duluan mengerumuninya.


"Nona Lia, bagaimana kesan anda setelah resmi bertunangan dengan putra kedua dari keluarga Hendra Wijaya pemilik perusahaan Bayan Resources?" lontar salah satu wartawan TV itu, lekas dia segera menyodorkan microfonnya itu ke arah Lia.


Lia tersenyum di depan mereka dan kameranya dengan menjawabnya santai dan memancarkan ekspresi bahagianya itu.


"Tentu saja aku sangat bahagia sekali...bisa bertunangan bersama lelaki yang aku cintai selama ini.." seru Lia sambil merangkul tangan Rizal yang sedang gelisah berusaha menutupi wajahnya itu dari sorotan kamera.


Rizal terus menundukkan wajahnya dan menggerutu di dalam hatinya.


'Sial, kau memang...Lia! dasar wanita licik...kau pintar sekali mensiasati diriku..kalau begini caranya tidak akan lama lagi Tasia akan mengetahui semua kebohonganku...' gelisahnya panik.


bersambung...


...***...