SECOND LIFE

SECOND LIFE
Episode 96



Tak tak tak.. bunyi suara ketikan laptop diruangan yang sunyi, hari ini adalah hari pertama cassy kembali bekerja setelah dua minggu absen dan mengundurkan jadwal pembukaan cafe keduanya.


"Uweeekkkk!!"


Suara itu menyulut rasa penasaran cassy yang duduk didepannya "Hei.. kau tak apa lys?"


"Uwhhh" lys membungkam mulutnya dengan tangan, ia menggeleng melihat cassy dan berlari keluar menuju kamar mandi.


Apa dia sakit? aku jadi merasa bersalah karena membuatnya mengerjakan pekerjaanku selama dua minggu ini, dia pasti sangat kelelahan.


Lys kembali masuk dan duduk di tempatnya, cassy meliriknya "Kau baik baik saja?"


"Yaa, saya baik baik saja"


Cassy memperhatikan wajah lys yang terlihat pucat dan letih "Kalau kau sakit kau boleh pulang dan beristirahat lys, maaf karena saya kau jadi kelelahan, pulanglah" ia mengatakannya dengan raut wajah yang bersalah.


"Anda tak perlu meminta maaf karena sebenarnya saya tidak sakit"


"Kau jelas sakit, kau terlihat sangat pucat, pulanglah!" pintanya dengan tegas.


"Anu.. sebenarnya saya sedang mengandung" ucapnya dengan wajah tersipu.


Cassy tersentak "apah?? ahh telingaku pasti bermasalah sampai aku salah dengar begini" ucapnya tak percaya, ia mengusap usap telinganya yang ia pikir sedang bermasalah.


"Anda tidak salah dengar, saya hamil sekarang memasuki minggu ke tiga" lys mengatakan itu dengan tenang seakan kehamilannya bukanlah apa apa.


"Haaa....minggu ketika kau bilang?"


"Yaa, saya mengetahui tentang ini dua minggu lalu makanya saya belum sempat bilang dengan anda"


"Apa kau baik baik saja dengan itu?"


"Tentu saja karena dengan begini lucas akan segera menikahi saya hehe"


"Hehe?? apa tuan lucas sudah tahu?"


"Tentu, dan kami sedang menyiapkan pernikahan"


"Apaa?? hahhh.. selama dua minggu ini banyak hal yang sudah terjadi yaa, dan saya hanya berdiam diri di kamar rumah sakit, bahkan setelah dia sadar malah dia menyuruhku pergi dan jangan kembali" gerutunya. "ahhh.. tanpa sadar saya malah jadi curhat"


"Apa anda melakukan kesalahan?"


"Kesalahanku karena tak memberitahunya tentang penguntit itu, dia bilang saya tak mau bergantung padanya dan dia sangat kecewa, apa dia pantas dia mengusir orang yang merawatnya selama dua minggu ini? ahhh kalau dipikir pikir bikin kesal saja"


"Mungkin selama ini tuan winter merasa kurang diandalkan oleh anda karena anda selalu melakukan apapun sendiri"


"Karena memang saya orang yang seperti ini, saya pikir laki laki akan senang karena kekasihnya tak merepotkannya"


"Tidak semua pria seperti itu kan"


"Sudahlah, saya jadi semakin kesal dengan pria itu biarkan saja dia bertindak semaunya.. jadi, kapan kalian akan menikah? apa dalam waktu dekat?"


lys tersenyum teringat tentang pernikahannya "Hehe, rencananya satu minggu lagi"


"Secepat itu? Apa kau tak berniat melibatkanku dalam pernikahanmu lys? saya jadi merasa sedikit terkucilkan"


"Tentu saja saya akan senang hati jika anda membantu, makannya sekarang saya bilang kan"


"Okee deh"


"Jadi kapan rencana anda soal pembukaan cafe kedua?"


"Apa persiapannya sudah cukup?"


"Semuanya sudah siap, para karyawan juga telah mempelajari pekerjaan mereka sejak seminggu yang lalu disini"


"Apa saya boleh seperti itu"


"Tentu saja, saya akan merekrut pegawai baru untuk office cafe ke dua, kau sedang hamil jadi kau tidak perlu bolak balik kesana sini"


"Wahh.. anda pengertian sekali, saya sangat berterimakasih"


***


Seminggu kemudian, Winter keluar dari rumah sakit dan kesehatannya telah membaik, luka tusukan diperutnya pun berangsur membaik, ia menyeret kopernya dan berhenti didepan pintu, ia menatap pintu rumah cassy, sudah seminggu dia tak melihat wanita itu, ia sedikit menyesal saat itu ia sangat marah dan mengatakan hal yang sebenarnya tak diinginkannya, setelah cukup berfikir sendirian dan tak bertemu dengannya kini ia menyadari betapa dia sangat merindukannya dan membutuhkannya.


Winter membuka pintu dan melangkah masuk, ia terhenti karena kakinya menendak sebuah kertas yang tersalip di bawah pintu, ia berjongkok dan mengambilnya, ia kembali bangun dan membuka kertas yang adalah sebuah undangan pernikahan.


"Pernikahan Tuan Lucas dan Nona Alyssa? hari ini?" gumamnya membaca undangan ditangannya.


.


Pesta pernikahan sederhana yang dihadiri hanya para kerabat dekat lucas dan lys berlangsung ceria dan menyenangkan, di sebuah resort yang terletak di pinggir pantai, itu adalah pernikahan yang diimpikan oleh Lys. cassy duduk tersenyum melihat wajah lys yang ceria dengan gaun simple yang membuatnya semakin mempesona, sedangkan Lucas yang biasanya berekspresi datar pun tampak sumringah dan bahagia menyambut para tamu undangan, angin spoi spoi yang terus berhembus membuat pikirannya teduh namun hatinya terasa kosong.


Cassy duduk bersama dengam Miele dan bibi pengasuhnya, miele pun tersenyum senang melihat kakaknya bahagia dengan wanita yang dicintainyaa.


Cassy membelai rambut miele, siapa sangka setelah sekian lama akhirnya ia bisa bertemu dengan adik lucas yang pernah diceritakannya dulu, "kau senang Miel?" tanya nya seraya menatap wajah miel, gadis itu pun mengangguk.


"Maaf nona, karena anginnya sangat kencang saya akan membawa nona miele ke penginapan" ucap bibi pengasuh.


Cassy pun mengangguk "Sampai jumpa lagi Miele" cassy melambaikan tangan dan tersenyum.


Ia memandang ke arah pantai, ombak kecil yang terus datang seiring dengan arah angin. Ia mengusap rambutnya yang berterbangan.


Seseorang menghampirinya dan duduk di sampingnya "kenapa kau sendirian?" ucap Keen yang baru sekarang mendatanginya setelah memperhatikannya cukup lama dari kejauhan.


Cassy menoleh ke arahnya "Iya" ia kembali menoleh ke arah pantai.


"Apa kau membenciku?" ucapnya dengan memandang ke arah yang sama dengan cassy.


"Tidak, apa anda datang sendiri?" ucapnya tanpa menoleh.


"Ya, tentu saja"


"Seharusnya anda membawa istri anda"


"Untuk apa saya membawa wanita yang sedang hamil, pasti akan merepotkan"


"Anda tidak boleh memperlakukan istri yang sedang mengandung anak anda seperti itu, cobalah buka hati anda untuk wanita yang benar benar tulus mencintai anda"


"Apa tidak boleh jika saya masih mengharapkan bersama anda? saya tidak pernah mencintainya"


"Tidak boleh!" ucapnya tegas "jalanilah kehidupan anda dengan baik, sebentar lagi anda akan menjadi seorang ayah, saya harap anda bisa menjadi seorang ayah yang baik untuk anak anda, dan ayah yang baik akan memperlakukan ibunya dengan baik juga"


"Seharusnya kau membencinya karena ulahnya kita jadi berpisah"


"Dia melakukan itu semata mata hanya untuk memperjuangkan cintanya, tidak ada salahnya orang mencintai, dan saya, saya tak pernah mencintai anda, maaf tapi itu adalah faktanya"


"Hahh..kau mengatakannya seolah ini bukanlah apa apa" keen tampak muram.


"Tapi setidaknya saat itu saya mau berusaha dan mencoba menyukai anda, sekarang giliran anda, cobalah buka hati anda untuknya, jangan sampai anda kembali menyesal karena kehilangan orang yang tulus mencintai anda"


Keen terdiam sejenak sebelum kembali berucap "Apa kau mencintai pria itu?"


"Ya, saya mencintainya, amat mencintainya" gumamnya pelan.


Bersambung.................