SECOND LIFE

SECOND LIFE
Second Life Bab 21



Siang tiba, kedudukan matahari pada siang itu tepat berada di atas kepala. Udara mulai terasa panas dan bayang-bayang benda berada di bawah serta tampak lebih pendek. Membuat siapapun pasti merasa haus dan mudah lelah jika melakukan aktivitas di siang hari.


Sama seperti Shasha yang sedang menikmati waktu senggangnya bersama Rayyan di dalam cafe. Niatnya ingin pulang ke rumah, tapi cuaca tidak terlalu mendukung. Seperti biasanya, Shasha akan selalu bermalas-malasan ketika siang hari yang sangat terik telah tiba.


"Ngantuk Ray…" Ucap Shasha yang sedang menempelkan kepalanya di atas meja cafe. Seharusnya siang ini ia bisa tidur di dalam kamarnya. Tapi karena ajakan makan malam itu Shasha terpaksa harus kembali ke rumah untuk mempersiapkan segalanya. Bahkan Neneknya sudah sampai terlebih dahulu di rumahnya bersama Ayahnya.


"Tidur aja. Gue duluan" balas Rayyan seperti biasanya. Dingin dan cuek.


Tatapannya lebih terfokuskan pada layar ponselnya yang sedang memainkan permainan bertarung. Kali ini ia bisa lebih santai karena ujian nasional nya telah berlalu tiga bulan yang lalu. Seperti jejak sang Kakak, Rayyan pun mendapatkan nilai terbaik tahun itu. Berkat Ghibran dan Shasha juga yang membantunya mempelajari pelajaran yang sedikit sulit menurutnya. Walaupun jika dibandingkan dengan nilai Shasha, Rayyan masih kalah tinggi.


Flashback tiga bulan yang lalu.


Saat itu, di kampus tempat ia kuliah, Shasha berlari di sepanjang koridor hanya untuk mengejar seseorang. Bahkan Alma langsung ditinggal begitu saja di dalam ruangan.


"Pak! Pak Ghibran!!" Teriak Shasha supaya Ghibran, pria yang coba ia kejar itu berhenti.


Seperti dugaannya, Ghibran berhenti setelah namanya diteriakin oleh Shasha. Pria itu berbalik dan menatap Shasha yang masih berlari.


Saat dirinya sudah dekat dengan Ghibran, entah mengapa rasanya tak bisa berhenti. Lantai di sekitar tempat itu juga licin membuat Shasha tak bisa berhenti langsung. Tubuhnya mulai oleng dan hampir terjatuh. Buru-buru Shasha mencari pegangan agar dirinya tak jatuh.


Gubrak!


Shasha terjatuh saat itu juga. Dengan mata yang masih terpejam karena takut kepalanya terbentur sesuatu yang keras. Satu… Dua… Tiga… Shasha tak merasakan sakit apapun di bagian kepalanya. Dengan memberanikan diri, ia membuka matanya kembali. Melihat apa yang baru saja terjadi.


Deg! Deg! Deg!


Shasha terkejut sekaligus takut. Saat ini ia berhadapan langsung dengan Ghibran. Tangan kekar pria itu menahan kepala Shasha supaya tak terbentur. Mereka jatuh bersamaan dengan posisi Ghibran yang berada di atas Shasha.


"AAAKKHHH!!!" Reflek Shasha berteriak sekencang mungkin. Ia malu karena kecerobohan dirinya, Ghibran sampai ikut terjatuh dengan posisi yang sangat memalukan. Sekuat tenaga Shasha mendorong tubuh Ghibran agar menjauh dari hadapannya.


Seluruh mahasiswa yang berada di koridor terkejut. Mereka berbisik membicarakan apa yang baru saja terjadi.


Shasha buru-buru kembali berdiri. Menatap sekelilingnya yang sedang menatapnya. Salah satunya adalah Alma dan para bodyguardnya.


"Maaf," Shasha menunduk malu.


"Lantainya licin, saya tidak tau" lanjut Shasha. Setelah itu ia berlari sekencang mungkin. Ia ingin menghilang saat itu juga. Padahal dirinya tak tau akan terjadi hal itu.


Alma langsung berlari mengikuti langkah Shasha yang semakin jauh darinya.


"Sha!" Panggil Alma supaya Shasha berhenti. Langkah nya memelan ketika memdengar suara sahabatnya yang memanggilnya. Takut sahabatnya sama seperti sebelumnya yang terjatuh, maka Shasha berhenti.


Shasha berbalik dan menghampiri Alma. Ia memeluk sahabat kecilnya itu karena malu. "Shasha malu banget. Tadi beneran gak sengaja" ucap Shasha berusaha menjelaskan.


"Iya Sha, iya Alma paham. Ayo ke rumah Alma dulu?" Ajak Alma merangkul Shasha supaya mengikuti langkahnya. Shasha tak menolak sedikitpun, ia mengikuti langkah Alma yang terus merangkulnya.


Beberapa menit setelahnya sampailah mereka di tempat tinggal Alma. Sebuah tempat tinggal yang sangat mewah melebihi rumah-rumah orang kebanyakan.


Shasha masuk ke dalam istana mewah milik Alma. Baru ia memasuki ruang tamu, dirinya sudah dikejutkan dengan kehadiran Ghibran yang sudah duduk manis di atas sofa ruang tamu.


Sejak kapan pria itu sampai di tempat Alma? Batin Shasha terheran-heran.


"Ma, Shasha pulang aja deh. Mau istirahat di rumah" ucap Shasha berbalik badan. Alma hanya menatap bingung ke arah Shasha.


"Shasha tunggu!" Baru beberapa langkah, Ghibran sudah memanggilnya. Mau tak mau Shasha harus berhenti berjalan. Berbalik dan melihat Ghibran yang berjalan semakin dekat dengannya.


"Emm… Itu…" Shasha gugup saat berhadapan dengan Ghibran. Kejadian beberapa waktu lalu kembali berputar di benaknya.


"Hmm?"


"Rayyan minta Abang jadi guru les privatnya. Nanti sore ya, Bang. Rayyan udah tunggu. Assalamualaikum" ucap Shasha cepat. Ia langsung berlari sekencang mungkin, meninggalkan Alma dan Ghibran yang masih berdiri di tempat.


_____


Benar saja, apa yang Shasha ucapkan tadi siang dituruti oleh Ghibran. Pria itu datang ke rumah Shasha untuk menjadi guru privat Rayyan.


Saat itu Shasha sedang tertidur siang dan belum juga terbangun. Ponsel miliknya pun sedang mengisi baterai sehingga tidak terdengar suara panggilan telephone dari Ghibran.


Tok… Tok… Tok…


"Non, ada temen nunggu di bawah!" Panggil salah satu maid yang bekerja di rumahnya.


Karena suara itu, tidur siang Shasha terganggu. Terpaksa Shasha bangun. Menguap selebar mungkin karena ia masih mengantuk.


"Bilang tunggu bentar, Bi" pinta Shasha dengan kedua mata yang masih terpejam.


Dengan malas Shasha memaksakan dirinya supaya bangun. Alhasil Shasha hanya mencuci muka dan menggosok giginya sebelum keluar dari dalam kamarnya.


Masih dengan baju santainya, Shasha menuruni satu persatu anak tangga. "Siapa Bi?" Saat berpapasan dengan salah satu maid rumahnya, Shadha bertanya. Ia lupa saat tadi siang meminta Ghibran untuk datang ke rumahnya.


"Gak tau, Non. Baru pertama kali ke sini kayaknya. Cowok, kalau gak salah tadi namanya… Den Ghibran"


Mata Shasha membulat. Ia lupa sudah meminta Ghibran untuk datang. Dengan tergesa-gesa Shasha kembali masuk ke dalam kamarnya. Meraih hijab instan yang biasa ia taruh di belakang pintu kamarnya dan kembali keluar untuk menemui Ghibran.


"Maaf Pak, saya lama" ucap Shasha langsung.


Kania yang berada di tempat itu juga menoleh. "Pak?" Baru saja Kania mendengar dari Ghibran bahwa pria itu adalah temannya Shasha. Tapi saat Shasha turun, anaknya itu malah memanggil Ghibran dengan sebutan 'Pak'.


"Emm… Saya dosen pengganti yang lagi bimbing Shasha, Tan" ucap Ghibran menjelaskan.


"Dosen Shasha? Ya ampun, maaf saya baru tau. Ada perlu apa Pak? Anak saya buat ulah?" Mendadak Kania menjadi takut. Takut anaknya berbuat sesuatu hingga membuat dosen yang membimbingnya datang langsung ke rumahnya. Shasha menepuk keningnya setelah melihat tingkah Kania.


"Eh enggak, Tan. Shasha anak rajin, gak mungkin buat ulah di kampus. Shasha minta tolong saya buat datang jadi guru privat Rayyan" ucap Ghibran menjelaskan.


Kania menoleh menatap Shasha. "Kakak kamu gimana, sih? Gak sopan sama dosen nyuruh-nyuruh gitu!" Omel Kania pada anak sulungnya.


"Enggak papa kok, Tan. Kalau di luar kampus kita temenan kok. Saya temennya Almasya" lagi-lagi Ghibran mencoba menjelaskannya. Kali ini Kania mengerti apa yang Ghibran coba jelaskan. Berkali-kali Kania mengangguk paham.


"Saya mau bantu Rayyan belajar, Tan" lanjut Ghibran kembali.


Kania kembali mengangguk. "Kak, panggil Rayyan sana! Atau langsung ke kamar Rayyan aja?" Tawar Kania.


"Di kamar Rayyan aja, Bun." Panjang umur, baru saja dibicarakan, orangnya sudah datang. Dengan pakaiannya yang sedikit basah dan salah satu tangannya memegang botol minum. Terlihat pria itu baru saja selesai nge-gym. Ghibran mengangguk setuju dan mengikuti langkah Rayyan yang lebih dahulu berjalan menuju kamarnya.


___


Bab selanjutnya masih flashback ya~