
Cassy melakukan pekerjaannya dihari pertama kembali dengan sibuk, entah itu dengan laporan penjualan atau memeriksa kembali kualitas produk yang dijual, ia mulai memikirkan rencana untuk kemajuan cafenya dengan menambahkan beberapa menu roti, cake. dan minumman serta ia mulai mempersiapkan pembukaan cabang keduanya. Tak terasa begitu ia melihat kearah luar hari sudah gelap dan, para staff telah bersiap siap untuk menutup cafe.
Lys turun dari ruang office menghampiri atasannya yang sedang membereskan barang barangnya
"Anda masih belum pulang?"
"Ini sudah mau pulang, kau pulanglah terlebih dahulu"
"Krinciing" bunyi pintu yang dibuka. Lux masuk dan menghampiri mereka, lys sudah memasang senyum di wajahnya.
Tangan cassy menopang kepalanya di atas meja "enaknya dijemput pacar huhh" ucapnya seraya menatap mereka berdua yang bertatapan mata.
"Selamat malam Bu Casandra" sapa lux.
"Yaa, pergilah kalian berdua, berkencanlah sepuasnyaaaa hus hus!!!!" ia melambaikan tangannya menyuruh mereka lekas pergi.
Kini suasana telah sepi, disana hanya tersisa dirinya sendirian masih mengecek roti roti yang berjejer di rak.
"Krinciinggggg" seseorang kembali masuk.
"Maaf kami sudah tutup" ucapnya tanpa melihat ke orangnya.
"Saya datang karena mau menagih janji" ucap pria itu, suaranya tampak tak asing ditelinga cassy.
Ia pun menoleh kearahnya "Janji??" "Ahhh, tuan winter rupanya saya pikir pelanggan, ngomong ngomong janji apa ya?"
"Mengobati luka dipunggung saya"
Cassy mendekat kearahnya "Ahhhh... saya bukannya lupa, tapi apa tidak bisa anda menunggu saya pulang? kenapa harus jauh jauh datang kemari?"
Tiba tiba tatapannya semakin dalam "Karena, aku ingin cepat melihatmu, aku tidak sabar ingin melihatmu sekarang jua" gumamnya pelan yang sama samar terdengar olehnya.
"Apa anda membawa obatnya?"
Ia menggeleng "Tidak"
"Baiklah, ayo kita pulang, saya akan membereskan barang saya dan pulang, anda kembalilah terlebih dahulu"
"Baik" winter pun keluar.
Tak lama cassy keluar dan menemukan pria itu masih berada disana "Kenapa masih disini?"
"Saya menunggu anda karena mau menumpang mobil anda"
"Anda tidak membawa mobil ?"
"Saya naik taxi kesini"
"Pfttttt.... hahahaha"
"Kenapa anda tertawa?"
"Anda seperti kucing liar yang terlantar" ucapnya diselingi tawa lalu terdiam seketika.
"Kenapa berhenti tertawa dan menjadi murung?"
"Hahh, saya teringat tempat penampungan kucing yang ibu dirikan"
"Bukankah anda tinggal pergi kesana jika ingin?"
Ia berjalan ke mobilnya dan winter mengikutinya "Sekarang saya sudah tidak memiliki hak untuk datang kesana"
"Saya mengerti, anda mau pergi ke taman kebun binatang?"
"Untuk apa? memangnya saya anak anak?" mereka masuk kedalam mobil.
"Melihat kucing"
"Pfffttttt.. hihi" ia menutupi mulutnya seraya tertawa.
Cassy menatap balik kearahnya dan seketika terdiam, mengapa pria ini berkata seolah olah masih memiliki perasaan kepadanya, tadi juga, padahal jelas jelas dia sudah berkencan dengan wanita lain, apa sekarang dia sedang mengetes reaksinya, atau apa?, begitu pikiran dibenaknya "Ahhh lagi lagi aku berdebar, jantung sialan!" gerutunya didalam hati, kemudian ia menepuk dadanya dan mengalihkan pandangannya.
Ia menjalankan mobilnya, disepanjang perjalanan pria disampingnya itu terus menatapnya terang terangan hingga membuatnya kehilangan fokus dan salah tingkah "apa dia tipe yang menunjukkan perasaannya? apa dia sedang mempermainkanku? ah dasar, abaikan saja cassy abaikan" pikirnya lagi, setela sampai di tempat parkir mereka turun dan naik lift bersama, kini mereka sudah berada di depan rumah winter.
"Ayo masuk" ucapnya setelah membuka pintu.
"Saya akan mandi dan berganti baju terlebih dahulu"
"Baiklah, akan saya tunggu" ia tersenyum setelah mengakhiri ucapannya.
Cassy masuk ke dalam rumahnya, ia bersandar di pintu memegangi dadanya yang masih berdetak kencang karena melihat senyuman pria itu "apa apaan, kenapa wajahnya terlihat bersinar? ahhh jantungku sakit dan hatiku terasa ngilu" gumamnya lalu ia berfikir mengapa dia mengalami hal seperti itu "Apa jangan jangan aku sudah benar benar menyukainya? pria itu? pria milik orang lain? pria yang sudah pernah kutolak? aku benar benar sudah gila bagaimana bisa aku menyukai pria yang sudah memiliki kekasih? harga diriku terluka" ia berjalan ke kamarnya dengan lemas setelah menyadari perasaannya yang berubah dengan begitu cepat.
Ia merasa seharusnya ia tidak boleh bertemu dengannya untuk saat ini, tapi ia sudah berjanji akan mengurus lukanya, dan kini ia telah berada didalam rumahnya, "entahlah" pikirnya sembari termenung.
Winter datang dengan membawa kotak obatnya lalu ia duduk di sebelahnya kemudian ia membuka bajunya "apa anda selalu sembarangan membuka baju didepan wanita?" pikiran itu terlintas begitu saja dan tanpa sadar mengucapkannya.
"saya hanya membukanya didepan anda"
Psshhhh.. kata kata itu membuat wajahnya serasa terbakar, lagi lagi ia menepuk dadanya "berhenti mengucapkan kata kata yang membuat orang lain salah paham" ucapnya sembari membersihkan dan mengobati lukanya.
"Salah pahamlah...."
Cassy merasa pria didepannya saat ini tak bisa diajak bicara, ia segera mengalihkan topik pembicaraan "badan anda sangat bagus apa anda sering berolah raga?" ia menutupi wajahnya dengan satu tangan, dari sekian banyaknya obrolan mengapa dia harus membicarakan bentuh tubuh, pikirannya sungguh kacau.
"apa anda tipe wanita yang menyukai bentuk tubuh yang seperti saya ini?"
Jawaban yang tidak terduga, "rupanya orang ini sedang mempermainkanku ya" pikirnya dalam hati.
"saya akan berusaha membentuk tubuh saya sesuai tipe ideal anda, katakanlah bagaimana selera anda" ucapnya sembari menolehkan wajahnya kebelakang.
Cassy merasa gugup tanpa alasan tangannya refleks menutup mulut pria yang menoleh kepadanya "berhenti bicara" karena setiap kata yang keluar dari mulutmu membuat hatiku terus goyah, begitu pikirnya, mereka bertatapan.
Winter meraih tangan yang berada di mulutnya dan membukanya, tangannya menggenggam tangan itu, kemudian cassy mengalihkan pandangannya melepaskan tangannya dan berdiri membelakanginya "saya tahu anda sedang mempermainkan saya, anda sudah keterlaluan" ia menggigit bibirnya.
Winter bangun dari duduknya, ia melangkah dan datang ke hadapannya "mengapa anda berfikir saya mempermainkan anda?"
"Sudahlah, karena sudah selesai mengganti perban saya permisi pulang, jika lukanya belum juga membaik datanglah ke rumah sakit" kakinya melangkah ke arah pintu.
Winter melangkah mundur menyandarkan tubuhnya di pintu untuk menghalanginya pergi "apa yang sedang anda lakukan?" ucap cassy marah.
"kenapa tiba tiba anda marah? apa saya sudah melakukan kesalahan tanpa saya sadari?"
"Tidak"
"Lalu apa? kenapa anda bersikap seperti ini?"
"Entahlah,saya hanya merasa kesal dengan pria yang terang terangan menggoda wanita sedangkan dia sudah memiliki kekasih"
"Siapa? saya????"
"Sudahlah, saya lelah saya mau pulang"
"Tunggu dulu, selesaikan dulu pembicaraan kita, anda tidak boleh pergi dengan salah paham begitu"
"Salah paham? saya? tidak tuh, minggir"
Winter terus melebarkan tangannya untuk menghadangnya "haahhh.. tolong dengarkan saya dulu, saya hanya mengikuti saran seseorang agar bertindak tidak tahu malu demi meluluhkan hati seseorang, maaf jika anda tersinggung"
"Meluluhkan hati seseorang? apa anda sedang membuat saya sebagai kelinci percobaan?"
"Apa yang tiba tiba anda pikirkan?, bukankah anda sudah tahu bahwa saya mencintai anda dan perasaan saya masih sama? saya tidak akan meminta anda memberikan kesempatan kepada saya seperti anda memberikan kesempatan kepada orang itu, saya hanya minta datanglah kepada saya jika anda telah memiliki perasaan yang sama dengan saya, saya akan menunggu selama waktu yang anda butuhkan" dug dug dug dug...ia mengatakannya dengan tenang namun sebenarnya jantungnya bergetar hebat mengingat penolakan yang pernah diterimanya.
"Apaahh???" cassy tertegun dan tak percaya dengan apa yang didengarnya, ia ingin memastikan dan memastikan lagi apa yang baru saja didengarnya.
Bersambung.............................