SECOND LIFE

SECOND LIFE
Episode 94



Dua minggu kemudian..


Setelah perdebatan yang cukup panjang Winter dan cassy berjalan berdampingan memasuki sebuah aula hotel beralaskan karpet merah, dekorasi yang megah dan mewah sampai memanjakan mata, cassy cukup anggun dengan mengenakan dress panjang yang menyapu lantai dengan belahan dada rendah berwarna silver dan winter tampak gagah memakai setelan jas yang senada dengannya, kemunculan mereka bersama disana disambut antusias oleh para tamu undangan yang telah tiba terlebih dahulu, beberapa pasang mata melirik kearah mereka sembari berbisik bisik.


Tentu saja reaksi seperti itu sudah mereka perkirakan, apalagi status cassy yang adalah mantan istri dari mempelai pria, dan perceraian mereka karena adanya orang ketiga, itu yang orang orang pikirkan. Keen menatap mereka dari kejauhan, cassy dan winter semakin mendekat kearah keen dan ivana, ivana yang tampak cantik dengan gaun pengantinnya mulai kehilangan senyumnya saat berhadapan dengan cassy.


"Selamat untuk kalian berdua, kuharap kalian langgeng dan bahagia selalu, saya tulus mengatakan ini" ucap cassy sembari tersenyum, ivana hanya merespon dengan anggukan dan tetap menatapnya dengan curiga, sementara Keen menatap cassy cukup lama hingga tak mendengar apa yang dikatakannya.


Winter menggandeng tangannya dan tersenyum di depan mereka, seolah oleh sedang menunjukan bahwa kini wanita ini adalah miliknya, ivana menatap keen yang masih terfokuskan oleh wanita lain, namun ia hanya bisa menggigit bibir bawahnya.


Cassy dan winter berjalan menuju tempat duduk mereka menikmati minuman, Suasana sangat meriah, tak sedikit model, aktor dan orang orang terkenal lainnya yang terlihat di tempat itu.


"Haruskah kita pulang sekarang?" bisik cassy di telinga winter. winterpun mengangguk, mereka berjalan keluar dari aula pesta, keen menatap cassy yang semakin menjauh, ia merasa benar benar telah terjebak disituasi yang tak diharapkannya. Sementara dirinya tengah diawasi oleh beberapa pengawal yang berjaga disana.


***


Keesokan harinya, Cassy dan lys mengendarai mobilnya menuju ke gedung cafe cabang keduanya, ia turun dan berjalan masuk kesana, cafe kedua terlihat lebih besar dari yang pertama, disana terlihat orang yang tengah memasukkan barang barang kebutuhan cafe yang telah dipesannya. cassy menghampiri segerombol anak muda berpakaian rapi yang duduk di sisi cafe, mereka adalah para pencari kerja yang hendak melamar kerja disana.


"Selamat siang" sapa cassy dengan ramah.


"Selamat siang" jawab anak anak muda itu.


"Kalian akan interview dengan nona Alyssa, silahkan ikuti dia" ucap cassy sembari menunjuk lys. Mereka pun langsung menghampiri lys dan mengikutinya masuk ke ruangan untuk interview.


"Nona Cassy?" panggil seseorang dari belakangnya.


Cassy menoleh dan berbalik badan, deggg.. mata cassy terperanjat melihat kurir dari toko bunga membawa buket mawar yang sesuai dengan warna bajunya saat ini, ia pikir penguntit itu telah berhenti sejak dua minggu yang lalu, mengapa sekarang dia kembali lagi, dan dia mengikutinya ke cafe baru. ia terdiam terfokuskan dengan pikirannya sendiri.


"Nona?" kurir itu memanggilnya lagiĀ  karena cassy hanya diam membatu.


"Ahh maaf, saya tidak bisa menerima buketnya anda bisa membawanya kembali atau lakukan sesuka anda kepada buket itu"


"Mengapa? apa anda tidak menyukai bunganya?" untuk pertama kalinya kurir itu bicara lebih banyak dari biasanya.


"Saya sudah memiliki kekasih maka dari itu saya tidak akan menerima bunga dari orang lain, maaf anda bisa pergi sekarang"


Kurir itu mengernyitkan dahinya, kemudian ia pergi membawa kembali buket bunga itu.


Tak terasa hari sudah gelap, barang barang telah masuk dan tertumpuk di dalam, lys berjalan menghampirinya,


"Saya akan pulang sekarang bu bos"


"Apa Lucas tak menjemputmu?"


"Baiklah, hati hati, saya juga sebentar lagi pulang"


"Ya" cassy melihat lys berjalan keluar cafe, lys sepertinya sedang kelelahan, ya itu wajar karena pembukaan cafe tinggal sebentar lagi, dan pekerjaan mereka semakin banyak.


Klontangg!!! cassy mendengar suara keras dari luar cafe, ia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke depan cafe, ia mengitari kedua sisi mencari sumber suara, di samping cafe dikegelapan terlihat kucing hitam yang sedang memperhatikannya dari kejauhan. "hanya kucing? tapi seperti bunyi orang menendang kaleng"


Drrrtttt drrrtttt, hp di tangan cassy bergetar panggilan dari winter, ia menekan tombol jawab "Kapan kau sampai sayang?" ucapnya dengan tersenyum, ia meraih handle pintu dan kembali masuk ke cafe, tiba tiba seseorang dari belakangnya membekap hidung dan mulutnya dengan sapu tangan, "eemmmm emmmmm" cassy meronta, ia mencoba melepaskan tangan itu sehingga hp nya terjatuh, tak lama matanya tertutup dan ia kehilangan kesadarannya.


Winter segera lari dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, jantungnya bergetar, ia sangat panik dengan apa yang baru saja di dengarnya, namun perjalanannya tak berlangsung lancar karena terkendala kemacetan panjang, ia terus menekan klaksonnya namun itu hanya sia sia saja.


Setelah beberapa saat cassy perlahan membuka matanya, ia menemukan kaki dan tangannya terikat di sebuah kursi yang didudukinya, sedangkan mulutnya ditutup dengan lakban, ia melihat sekitarnya, dan ternyata ia masih berada di suatu ruangan didalam cafenya.


Mengapa aku harus berada dalam situasi seperti ini lagi.


Cassy mendongakkan kepalanya, tampak seorang pria berambut sedikit ikal duduk disana dengan senyuman kebahagiaan yang terlihat jelas dari raut wajahnya,itu membuat cassy merasa ngeri, pria itu jelas jelas tak normal. namun cassy tampak tak asing dengan sosok didepannya itu.


Ahh.. dia adalah si kurir dari toko bunga, jadi selama ini dia sendiri yang melakukannya.


Pria itu mendekat menatap cassy lekat lekat "mengapa kau melihatku seperti itu? berhenti menatapku seolah aku adalah kotoran!!!" tangan pria itu meraih pipi cassy dan membelainya, cassy berusaha menepisnya, namun pria itu menarik rambutnya agar ia tak bisa menggerakkan kepalanya. mata cassy mengernyit manahan sakit.


"Aku akan melepaskanmu asalkan kau mau tinggal bersamaku,aku akan benar benar membunuh pria yang berani menyentuhmu, aku lebih baik dari kekasihmu, aku yang lebih mencintaimua, aku juga tidak suka melihatmu terikat seperti ini, tapi kau pasti akan kabur jika aku membebaskanmu hihihi, seharusnya tadi siang kau menerima bunga dariku, bunga yang sangat mirip denganmu, bahkan wangi kalian sama hehe" pria itu meringis, ia mengendus endus lengan cassy, dia benar benar pria psikopat.


"Aku akan membawamu kerumahku sehingga kita berdua bisa hidup bahagia selamanya" celotehnya dengan terus menatap wajah cassy dari dekat.


Bruummmm.. tiba tiba terdengar suara mobil berhenti, pria itu segera waspada, ia keluar dari ruangan dan mengintip siapa yang telah datang mengganggunya, matanya membelalak melihat rupanya kekasih dari wanita yang disukainya yang datang, ia berjalan dan bersembunyi di belakang tumpukkan kardus besar.


Winter turun dari mobilnya dan berlari masuk, di depan pintu ia terhenti melihat hp cassy yang tergeletak disana, ia mengambil hp itu, firasatnya tak bagus, dengan perlahan dan hati hati ia melangkah masuk semakin dalam, ia mengecek satu persatu ruangan disana dan akhirnya ia melihat cassy diruangan terakhir yang diperiksanya, tangan dan kakinya terikat serta matanya berkaca kaca melihat winter menemukannya.


"Kau baik baik saja?" ucapnya sembari menghampiri kemudian melepaskan ikatan tangannya.


Cassy melihat pria itu masuk membawa sebuah pisau runcing ditangannya, pria itu semakin mendekat, cassy memberikan isyarat kepada winter namun winter sama sekali tak menyadarinya, pria itu mendekat dengan hati hati, winter mulai menyadari langkah kaki dibelakangnya, ia berbalik badan, tanpa celah pria itu segera menusukkan pisau ditangannya ke perut winter, cassy histeris dan menangis, ia harus segera melepaskan ikatannya yang hampir terbuka.


"Ahhhh" winter mengerang kesakitan menekan lukanya, kemudian pria itu menghampiri cassy, winter menahan rasa sakitnya, ia bangkit perlahan kemudian ia memukul tengkuknya dari belakang dengan mengumpulkan segenap tenaga yang tersisa, pria itu jatuh pingsan seketika. kemudian winter kembali terduduk,rasa sakit yang tak bisa lagi ia tahan, ia telah mengeluarkan banyak darah di sekitar lukanya dan membasahi lantai, ia menoleh kearah cassy "syukurlah kau baik baik saja" gumamnya pelan, kemudian ia ambruk.


Dengan panik cassy terus berusaha membuka ikatannya, dan akhirnya ia berhasil membuka tangannya, ia membuka ikatan kakinya dengan cepat dan melepaskan lakban yang menempel di mulutnya, ia tergopoh menghampiri winter yang telah tergeletak dilantai, bibirnya memucat dan matanya perlahan menutup.


"Tolong sadarlah" cassy sangat panik, ia menggoyang goyangkan pipi nya agar tetap sadar, kemudian ia mengambil ponsel di saku winter dengan gemetar dan air matanya yang telah membanjir, ia menghubungi ambulan, sembari satu tangannya menekan luka diperutnya.


Bersambung.............