SECOND LIFE

SECOND LIFE
Episode 80



Cassy melepaskan tangannya yang masih mendarat di dada bidang winter, "Bisakah kita keluar sekarang?" tanyanya berbisik.


"Tunggu dulu biarkan saya memeriksa, anda tetap dibelakang saya" ucapnya pelan, lalu cassy mengangguk, Winter membuka pintu kamar mandi, namun ia segera menutupnya kembali karena terdengar langkah seseorang lagi, mereka kembali berhadapan, secara spontan cassy menutup mulutnya sendiri dengan tangan, kemudian terdengar bunyi seseorang menurunkan seleting celana, tanpa berlama lama winter menaruh baju yang dipegangnya di atas kepala cassy, lalu kedua tangannya menutupi telinganya, cassy hanya melihat kearahnya dengan aneh tapi yasudah seakan begitu mimik mukanya mengatakan.


"Entah mengapa aku merasa malu, aku tidak ingin wanita ini mendengar suara air yang mengalir" begitu pikirnya dalam hati.


"Jantungku sakit, Aku benar benar sudah tidak tahan lagi berada disini" batin cassy. "Sepertinya sudah aman, saya akan keluar terlebih dahulu, anda pakailah baju terlebih dahulu" cassy mengambil baju dan memberikannya ke tangan winter seraya mengalihkan pandangannya, lalu ia membuka pintu dan keluar dari sana dengan terburu buru.


Cassy berjalan cepat sembari menepuk nepuk dadanya menuju ketempat miss louise berada, setelah sampai disana wanita itu sudah tidak ada ditempatnya, kemudian cassy mengambil hp ditasnya ternyata dia meninggalkan pesan teks "Maafkan saya nona cassy, gara gara saya anda terkena masalah, untunglah ada seseorang yang melindungi anda, sekali lagi saya minta maaf dan sampai berjumpa lagi, aku menyayangimu" begitu tulisan pesan dari wanita itu.


Cassy menaruh kembali hp nya di tas dan ia berjalan menuju tempat parkir, setelah menemukan mobilnya ia masuk kedalam mobil, ketika ia baru saja selesai memasang sabuk pengamannya ia melihat Winter berjalan bersama seorang wanita di depannya, matanya terus tertuju kepada mereka berdua sampai mereka masuk ke dalam mobil yang sama, wanita yang terlihat baik itu sangat cocok berdiri disampingnya, itulah pikiran yang terbesit di kepalanya, ia kembali menepuk dadanya. "Ternyata ia berdandan hari ini untuk ini" gumamnya, Tak ingin mengetahui lebih lanjut ia pun segera menjalankan mobilnya.


Winter mengantarkan teman kecan butanya pulang ke rumahnya karena hari sudah larut malam, "Maafkan saya tadi saya meninggalkan anda cukup lama" ucapnya.


"Tidak masalah, apa luka anda baik baik saja?"


"Ya, saya baik baik saja"


"Syukurlah kalau begitu, tadi saya sangat kaget karena ada kehebohan seperti itu dan saya lebih kaget lagi karena anda lari begitu saja menggantikan wanita itu tersiram kuah panas, apa anda mengenalnya? wanita tadi?"


"Ya? iya saya mengenalnya, dia wanita yang tinggal disebelah rumah apartmen saya"


"Jadi begitu...anu Tuan winter maaf saya harus mengatakannya kepada anda..."


"Katakan saja nona Lily, saya dengarkan"


Ia tampak ragu ragu "Sebenarnya saya sudah memiliki kekasih, saya datang menemui anda karena saya sudah janji dengan jenie, jenie belum tahu kalau saya sudah memiliki kekasih baru baru ini"


"Ahhh.. jadi begitu"


"Maaf, apa anda kecewa? tolong jangan marahi jenie karena dia hanya ingin mengenalkan temannya dengan atasannya yang dia anggap pria baik dan tampan, mungkin jika saya bertemu dengan anda terlebih dahulu saya akan jatuh cinta dengan anda hehe"


"Saya mengerti"


Lily melirik kearahnya "Anda terlihat tampak santai dan cerah untuk ukuran orang yang baru saja ditolak di kencan buta hari pertama"


"Saya terlihat seperti itu?"


"Heem" angguknya. "Wanita tadi kan?" ia tersenyum meledek.


"Apaa??"


"Anda menyukai wanita yang tadi kan?"


"Entahlah" ia tersenyum tipis.


"Ck ck ck, tebakan saya pasti benar, anda harus mengatakannya dengar benar jika menyukai seseorang, jangan mencari pengalihan dengan mencoba berkencan buta, untunglah saya orangnya, jika bukan saya melainkan wanita lain pasti akan langsung jatuh cinta dengan anda, dan anda akan menjadi sangat kerepotan, salah salah anda bakal kehilangan wanita yang anda sukai dan akhirnya menyesal"


"Saya sudah pernah mengatakannya dan ditolak"


"Benarkah? mungkin ada alasannya? apa anda tahu pemikiran wanita jauh lebih rumit dari kelihatannya?  Ahhh.. berhenti didepan sana" ia menunjuk ke pinggir jalan dan winter menghentikan mobilnya.


"Terimakasih untuk hari ini Nona Lily, sampaikan permintaan maafku kepada kekasihmu karena mengajak kekasihnya kencan buta"


"Baiklah, ingat ya.. jangan menyerah dan bertindaklah tidak tahu malu selama kesempatan terbuka, anda mengerti maksud saya kan??"


"Ya, saya mengerti"


Kemudian wanita itu turun dari mobil dan melambaikan tangannya ke arah winter dengan tersenyum riang, dan winter pun menjalankan kembali mobilnya, ia terhenti di parkiran apartemennya. ia pun berjalan menuju ke rumahnya, barulah ia merasa punggungnya terasa amat sakit. ia segera masuk ke rumahnya dan membuka bajunya, ia berdiri di depan cermin besar untuk melihat seberapa parah lukanya, namun tetap tak terlihat dengan jelas.


"Terimalah, ini untuk mengobati luka bakar anda"


"Anda tidak perlu repot repot melakukan ini"


"Ahhh.. anda sudah diobati?" gumamnya "pasti wanita itu yang mengobatinya, baguslah aku tak perlu menghawatirkannya lagi" batinnya. "Kalau begitu, saya permisi, terimakasih dan maaf" ucapnya sembari menundukkan kepalanya, lalu melangkah pergi, namun sesuatu menahannya, pria itu menangkap kantong yang dibawanya, cassy pun kembali berbalik badan menoleh kearahnya lalu winter melepaskan pegangannya. "Apa yang anda lakukan?"


"Bukankah anda ingin memberikan itu?" ia menunjuk ke kantong bawaannya.


"Anda bilang saya tidak perlu repot repot melakukan ini?"


"Hahhhhh...Maksudnya, saya akan menerimanya karena anda sudah repot repot membawakannya untuk saya"


"Ahhh begitu" ia mengulurkan tangannya "ini terimalah" winter mengambilnya "semoga lekas sembuh, saya permisi" ia kembali berbalik badan dan melangkah pergi, tapi lagi lagi pria itu menahannya dengan memegangi bagian belakang bajunya. cassy kembali berbalik "apa lagi?" ia memiringkan kepalanya menatap pria dihadapannya.


"Tolong bantu saya mengobatinya jika anda tidak keberatan" ucapnya dengan ragu ragu.


"Ahhh benar, luka anda dipunggung pasti anda kesulitan mengobatinya, baiklah"


"Masuklah"


setelah cassy masuk winter kembali menutup pintunya. Mereka duduk di ruang tamu berdampingan, cassy mengeluarkan sebotol cairan pembersih luka, salep dan perban dari kantong putih itu. "Lepaskan baju anda"


"Apaahh??" pria itu menoleh kearahnya.


"Anda harus melepas baju anda agar saya dapat mengobati punggung anda"


"Ahh baiklah" ia membuka bajunya dan membelakangi cassy, tangannya menutup wajahnya karena malu telah memikirkan hal hal yang tidak tidak ketika wanita dibelakangnya memintanya melepaskan bajunya.


"Ini akan sedikit sakit, anda boleh berteriak jangan ditahan" ucapnya meledek.


Ia mulai membersihkan lukanya, terasa amat perih pastinya "aw aw aaaawwww!!!"


"Pfftttttt... hihi diluar dugaan, anda akan benar benar berteriak hahaha"


"Anda yang menyuruh jangan ditahan, siapa sangka anda akan sesenang itu menertawakan sayaa" ucapnya lirih yang berusaha menyembunyikan wajahnya yang merona dan malu.


"Baiklah baiklah, maaf sudah menertawakan orang yang sedang kesakitan, sekarang tinggal perban saja dann.. selesai" ia kembali membereskan alat alat perawatan lukanya dan menaruhnya di kotak obat yang baru saja winter ambil. "Saya pikir anda sudah diobati oleh seseorang, ternyata belum untunglah saya membelinya setelah banyak berfikir"


"Apa yang membuat anda banyak berfikir?"


"Entahlah, mungkin seperti orang lain akan tidak senang jika saya membelikan untuk anda"


"Orang lain?"


"Sudah selesai" ia bangun dari duduk tak menjawab pertanyaannya.


"Apa anda mau segelas teh untuk ucapan terimakasih karena telah mengobati saya?"


"Tidak tidak, karena anda sudah menolong saya jadi saya lah yang akan bertanggung jawab dengan luka anda, anda tidak perlu merasa segan"


"Baiklah"


"Saya permisi"


"Ya.." winter mengantarkannya kedepan pintu dan terus melihatnya sampai ia masuk kedalam dan tak terlihat. "Sayang sekali membiarkannya pergi begitu saja" gumamnya sembari berbalik badan masuk kembali.


Bersambung.............................