SECOND LIFE

SECOND LIFE
Second Life Bab 36



Sebuah kemeja berwarna putih bersih dilengkapi dengan bawahan celana formal kantoran menggantung rapi di gantungan pakaian yang akan segera dikenakan. Di sampingnya, sebuah blazer berwarna hitam berlengan panjang juga menggantung di sana.


Pagi itu, setelah hampir seminggu ia dianjurkan untuk bedrest akhirnya sudah diperbolehkan untuk melakukan aktivitas normal seperti biasanya. Hari yang sangat Shasha, gadis itu tunggu-tunggu. Di mana Rayyan memberikan janji padanya untuk segera menyelesaikan masalah ini. Padahal Rayyan sendiri tengah sibuk mengurus dunia perkuliahan nya yang akan masuk mulai bulan depan. Pria itu tak ingin ada kesalahan sedikitpun saat ia berkuliah nanti, maka dari itu sebelum waktu yang ia tunggu datang, Rayyan mempersiapkan segalanya.


Shasha meraih seluruh pakaian nya yang tergantung di gantungan pakaian. Masuk ke dalam ruang ganti untuk memakai pakaian kantorannya kembali. Tak butuh waktu yang lama Shasha keluar dengan pakaian yang sudah melekat pada tubuhnya. Rambutnya ia kuncir satu ke atas. Membiarkan rambutnya yang sedikit bergelombang terbuka begitu saja.


Setelah itu ia lekas turun ke bawah untuk sarapan bersama. Berpapasan dengan Rayyan yang juga baru keluar dari kamar pria itu. Pakaian yang Rayyan kenakan saat itu sama dengan yang Shasha gunakan, yaitu pakaian formal orang-orang kantor.


"Harus kayak gini?" Rayyan bertanya, sedikit malu mengenakan pakaian yang menurutnya seperti bapak-bapak. Shasha mengangguk memberikan jawaban.


"Lo? Kenapa begitu? Mana kerudung lo?!" Tak suka melihat Kakaknya yang kembali membuka auratnya pada bagian kepala.


Shasha mengedikkan kedua bahunya. Tak acuh dengan pertanyaan yang Rayyan berikan kepadanya dan memilih kembali melanjutkan langkahnya.


"Oke, gue mau gym aja." Mengikuti Kakaknya yang ketika ia tanya, Shasha malah tak mempedulikannya. Maka Rayyan juga tak ingin mendengarkan permintaan Kakaknya.


Segera Shasha berbalik. Berlari kecil mendekati adiknya dan menahan pergelangan tangan Rayyan. "Kenapa?!"


"Pake kerudung lo atau gak jadi." Suruh Rayyan kembali. Singkat saja, pria itu sedang mengancam Shasha jika wanita itu tak mengenakan hijabnya.


"Iya-iya, tapi nanti. Belum Kakak cari. Lagipula gak ada laki-laki lain yang bukan mahram Kakak!" Shasha berusaha membela dirinya. Pagi ini yang bertugas di rumah sang Kakek Nenek nya adalah maid wanita.


Rayyan menepis tangan Kakaknya yang sedang memegangi pergelangan tangannya. "Terserahlah." Ucap Rayyan dengan berlalu meninggalkan Shasha yang keras kepala.


Shasha memajukan bibirnya, cemberut karena Rayyan sepertinya sedang marah padanya. "Iya deh, iya…" ucap Shasha pada akhirnya mengalah dan mengikuti apa kemauan Rayyan. Berbalik dan menghentak-hentakkan kakinya di lantai karena ia pun kesal dengan pria itu.


__________


Sementara itu, di sisi lain, di negara dan benua yang berbeda-Turki, Alma sedang menikmati liburan bersama keluarganya. Meskipun begitu, pikirannya teralihkan dengan sahabatnya yang berada di lain benua, Shasha. Semenjak malam itu, tak henti-henti Alma memikirkan bagaimana caranya menolong Shasha tanpa wanita itu ketahui. Ia ingin seolah-olah dirinya tak campur tangan sama sekali.


Puk!


"Alma?" Bahu Alma ditepuk dari samping. Di balik niqab Lunara-sang Ibu sedang tersenyum ke arahnya. Tau betul ada yang berbeda dari Alma.


"Iya, Ane?"


"Kamu kenapa? Apa yang lagi kamu pikirkan?" Tanya Lunara lembut dengan mengusap salah satu pipi anak sulungnya.


Alma menggeleng lalu tersenyum, menandakan ia sedang tidak baik-baik saja. "Tapi Ane, Asha…" Alma menggantungkan ucapannya, teringat kembali ucapan Shasha yang memintanya untuk diam.


"Shasha? Kenapa dia?" Tanya Lunara kembali.


"Siapa yang sedang diperas uangnya? Alma?" Baik Alma dan Lunara saling menoleh ke arah sumber suara. Ghifari-Ayahnya itu sedang berjalan ke arahnya dengan langkah menyantai.


Alma kembali menggeleng. "Bukan Alma. Asha tanya ke Alma kalau ada orang yang meras uang, gimana cara bebasin diri dari orang kayak gitu?" Alma mengulang kembali ceritanya pada sang Ayah.


"Kenapa memangnya?"


"Alma sama Asha penasaran cara bebasin dari orang kayak gitu doang, Aba. Gak ada yang lain kok!" Alma mencoba membuat kedua orang tuanya percaya dengan ucapannya kalau itu hanyalah sebuah pertanyaan, bukan yang lain.


"Apa coba? Kan ada pelajarannya." Ghifari tak langsung menjawab pertanyaan dari anaknya dan malah memutar balik bertanya.


"Gak tau, Aba. Alma gak inget. Kan Alma bukan mahasiswa hukum, Alma mahasiswa jurusan manajemen." Balas Alma tertawa kecil. Lunara pun dibuat tertawa karena tingkah Alma.


Ghifari mengangkat tangan kanan nya. Mengusap gemas puncak kepala anak sulungnya. "Kamu ada-ada aja!" Ucap Ghifari yang merasa ucapan Alma ada benarnya.


"Undang-undangnya ada dalam Pasal 368 ayat (1) KUHP. Pemerasan juga hamir mirip dengan pencurian dan kekerasan, yang ada di pasal 365 KUHP. Hubungan kedua pasal itu erat karena ayat (2) pasal 368 menyebutkan kalau pasal itu berlaku juga rumusan ayat 2 sampai 4 pasal 365 KUHP. Kedua jenis tindak pidana ini, sama-sama ada unsur pemaksaan dan pengambilan barang milik orang lain, jadi, mereka dapet pidana penjara paling lama sembilan tahun." Jelas Ghifari dengan jelas, panjang dan lebar.


"Alma pusing denger penjelasan dari Aba, panjang banget. Alma gak ngerti tentang pasal kayak gitu…" Alma memegangi kepalanya, tak paham dengan maksud ucapan dari sang Ayah.


Ghifari terkekeh. Kembali mengusap gemas puncak kepala Alma. "Intinya, mereka bakal di penjara paling lama sembilan tahun, Alma." Lunara membuka suara, menjelaskan maksud yang suaminya katakan barusan.


"Gitu, Aba?" Ghifari kembali dibuat tertawa dengan sikap Alma yang terlalu susah mencerna ucapannya. Kali ini tawanya lebih kencang sampai membuat Ayden-anak keduanya menghampiri mereka karena bingung.


"Kenapa Aba?" Ketiganya menoleh ke arah Ayden yang baru saja datang dengan tubuh yang dipenuhi dengan keringat.


Ghifari menggeleng pelan dan menghentikan tawanya. "Nggak, bukan apa-apa"


"Jadi Alma betul atau salah?" Alma bertanya kembali, merasa pertanyaan darinya belum terbalaskan.


"Betul, Alma!" Kompak kedua orang tuanya menjawab pertanyaan Alma. Anak sulungnya yang kadang terlihat polos dan lemot jika diajak berbicara.


"Oh gitu. Makasih Ane, Aba, Alma mau ke kamar dulu!" Ucap Alma mengecup pipi kedua orang tuanya sebelum berlalu masuk ke dalam kamarnya.


"Kak, aku gak di kiss juga?!!!" Ayden berbalik dan berteriak, meminta untuk dikucup juga seperti kedua orang tuanya.


"Nggak mau, Ayden bau!!!" Balas Alma berteriak tak kalah kencang. Dengan menjulurkan lidahnya, meledek adiknya.


__________


Nanti aku up lagi~