
Sebuah kendaraan mewah berjalan memasuki komplek perumahan elit. Berjejer rumah mewah tersusun rapi di perumahan itu. Shasha celingak-celinguk kesana-kemari memperhatikan nomor rumah yang tertera di samping gerbang masuk.
Di samping Shasha, ada Rayyan yang sedang mengendarai mobil milik Shasha. Awalnya ia sangat menolak permintaan sang Kakak, namun ia menjanjikan akan memberikannya waktu luang untuk belajar bersama sang Kakak serta memberikan Rayyan seorang guru pribadi yang akan mengajarkannya. Sebenarnya Rayyan tak memperlukan itu, tapi ia masih merasa kurang pandai dari Kakaknya yang berhasil menjuarai tingkat dunia.
"Yang mana sih Kak?!" Protes Rayyan yang sudah kesal karena Kakaknya itu tak memberi petunjuk jalannya yang jelas.
"Ya udah stop dulu. Kakak telephone Alma sebentar" suruh Shasha kepada Rayyan supaya kendaraan yang adiknya kemudi itu berhenti sejenak. Seperti perintah dari Kakaknya, Rayyan berhenti di pinggir jalan sesuai ucapan sang Kakak.
Selang beberapa menit Shasha selesai menelephone Alma. Tangannya terangkat untuk menunjukkan arah jalannya kepada Rayyan. Kendaraan mereka kembali melaju memutari komplek perumahan. Hingga beberapa menit setelahnya sampailah mereka di depan gerbang yang menjulang sangat tinggi.
Rayyan menoleh ke arah Shasha yang berada di sampingnya. "Bener yang ini?" Tanyanya memastikan. Ia sedikit bingung karena Kakaknya mengatakan ingin mendatangi sebuah acara, namun bangunan yang saat ini berada di depannya tampak begitu sunyi seperti tak berpenghuni.
Dengan ragu Shasha mengangguk. Ia sendiri tak yakin karena tak pernah datang ke rumah Ghibran sebelumnya. "Ini rumahnya yang Bang Ghibran itu loh… Yang waktu ada acara makan malem di rumah Alma terus banyak anak anak cowoknya" ucap Shasha yang berusaha membuat sang Adik mengingat.
Sewaktu acara makan malam saat itu seingatnya Rayyan ikut bergabung dengan sahabat-sahabat pria Alma dan salah satunya adalah Ghibran. "Oh Bang Ghibran? Bilang dong dari tadi!" Protes Rayyan setelah mengingat apa yang dikatakan oleh Shasha.
"Ya maap"
Rayyan keluar dari dalam mobil sang Kakak dan berjalan menuju bel rumah yang terdapat di sebelah kiri gerbang. Ia tak mempedulikan ucapan Shasha sebelumnya.
Ting…
Suara bel rumah Rayyan tekan dari luar. Saat itu juga dari arah sebaliknya ada kendaraan yang juga baru tiba di depan gerbang itu. Baik Shasha maupun Rayyan langsung menoleh ke arah kendaraan tersebut.
Shasha yang tadinya di dalam mobilnya pun ikut keluar. Ia menghampiri kendaraan yang ia tau siapa pemiliknya. "Alma!" Sapa Shasha girang ketika atap mobil milik Alma terbuka dan menampilkan sahabatnya itu yang datang bersama Arkhan, sepupunya.
"Kamu gercep, Sha" ucap Alma dengan kekehan kecil yang keluar dari mulutnya. Shasha hanya tertawa karena sahabatnya itu sudah mengetahui niat awalnya.
"Buka, Khan!" Suruh Alma meminta agar gerbang yang berada di depannya saat ini di buka. Arkhan yang berada di dalam mobil Alma hanya terdiam. Ia menyenderkan punggungnya pada mobil Alma.
"Buka aja Ray!" Ucap Arkhan menyuruh balik. Pria berumur 20 tahun itu malas untuk sekedar turun dan membuka gerbang. Lagipula di sana sudah ada Rayyan yang sangat dekat dengan gerbang.
Tanpa banyak bicara Rayyan langsung menuruti perintah Arkhan yang baru beberapa minggu ia kenal. Jika ia diomeli, maka Arkhan lah yang patut ia salahkan terlebih dahulu.
Gerbang tinggi itu dibuka dari luar dengan sangat lebar. Susah payah Rayyan mendorong gerbang yang sangat berat itu. Bukan Rayyan lah yang lemah di sini, tetapi memang gerbang itu yang sangat berat. Shasha sebagai Kakak dari Rayyan pun tak tega melihatnya.
Rayyan melepaskan pegangannya pada gerbang tersebut. Pria itu berdecak pinggang melihat sang Kakak yang sedang membantunya. Ia merasa tak berguna menjadi seorang pria karena mendorong pagar saja tidak bisa hingga Kakaknya pun ikut turun tangan membantunya.
"Buka aja sendiri" ucap Rayyan dingin. Memang seperti itulah sifatnya. Lagi-lagi Rayyan terlewat satu langkah lebih hebat dari Kakaknya. Ia benci itu, tapi kemarahannya ia tahan untuk saat ini. Ia butuh sasak tinju sebagai pelampiasan kekesalannya karena Kakaknya itu lebih unggul daripada dirinya.
Shasha yang sudah sangat tau karakteristik sang adik ia pun membiarkannya. Karena ucapan Rayyan yang menyuruhnya untuk membuka gerbang seorang diri, maka Shasha melakukannya. Wanita itu kembali membuka gerbang yang sangat berat itu hingga ujung batas gerbangnya.
Alma menoleh ke arah Arkhan yang seolah biasa saja pada pandangan yang sedang mereka tonton saat ini. Tangan kanan Alma pun mengayun ke arah Arkhan yang masih setia menatap Shasha dan Rayyan.
Plak!
Satu tamparan yang sangat kencang dari Alma mendarat di punggung sepupunya itu. Cubitan-cubitan kecil pun Alma berikan kepada pria yang berada di sampingnya, membuat Arkhan mengadu kesakitan.
"Pinter! Kamu cowok bukan, sih? Dimintain tolong malah nyuruh yang lainnya! Liat, jadinya Shasha yang dorong gerbangnya kan?!!" Ucap Alma disertai kekesalan karena pria itu seolah biasa saja melihat seorang wanita mendorong benda berat seperti itu.
"Auw, auw sakit Kak! Iya-iya maaf!"
Shasha tertawa melihat kedua hubungan antara Kakak dan adik sepupunya itu. "Udahlah Ma, gak papa," ucap Shasha bermaksud melerai keduanya.
Alma langsung menuruti ucapan Shasha. Ia mendengus kesal kepada Arkhan yang bersikap tak peduli. "Turun kamu! Kamu yang tutup gerbang!!" Suruh Alma kesal. Itu sebagai hukuman karena telah membiarkan seorang wanita melakukan hal yang berat-berat.
"Iya…" balas Arkhan yang telah pasrah menuruti apa yang Alma katakan.
Shasha dan Rayyan kembali masuk ke dalam kendaraan mereka dan kembali melajukan kendaraannya memasuki pekarangan rumah Ghibran. Dari belakang kendaraan Alma mengikuti kendaraan Shasha yang memasuki pekarangan rumah Ghibran.
Yang membuat acara ini sangat spesial bagi keduanya adalah, pertama Shasha dapat melihat secara langsung seperti apa keluarga Ghibran. Sedangkan Alma senang karena akhirnya kali ini tak ada bodyguard satupun yang ikut pergi dengannya. Ia merasa lebih bebas walaupun Arkhan tetap ikut bersama dengannya.
Di tempat Arkhan berdiri, pria itu sedang menarik gerbang yang ia akui sangat berat. Pria itu sampai kelelahan karena gerbang yang sedang ia tarik sangat menyusahkan untuknya. Ia akui Shasha sangatlah kuat karena dengan mudahnya berhasil membuka gerbang.
____________
Spesial untuk hari ini~
1 Februari, udh 1 tahun aku jadi penulis disini. Ya… walaupun cerita yg aku buat tak selalu menarik perhatian kalian. Aku usahakan untuk menjadi yang lebih baik lagi, makasih atas dukungannya~