SECOND LIFE

SECOND LIFE
Second Life Bab 26



Merasa masakan yang Shasha buat tak pernah mengecewakan orang-orang, maka Shasha memutuskan untuk selalu membawakan Nadia dan Ghibran makan siang. Bahkan di tengah-tengah ujian ia tetap rela membawakan mereka makanan. Kali ini tanpa Alma karena Nadia dan Ghibran pun sudah terbiasa akan kehadiran Shasha. Kalau bukan di rumah sakit tempat mereka bekerja, tentu saja mereka berada di rumahnya.


Kadang pula Shasha datang dengan beberapa potong kue yang juga ia buat. Bahkan saat Nadia berulang tahun beberapa hari yang lalu, Shasha membuatkan wanita itu acara ulang tahun. Bisa dibilang itu adalah kejutan yang Shasha berikan untuk Nadia. Ia pula yang membuat kue ulang tahun untuk Nadia. Semua yang ada di acara itu, tentu saja karena rencana Shasha. Semua akan Shasha lakukan supaya ia bisa mengambil hati Nadia.


Dan seperti pagi biasanya, Shasha terus memasak untuk orang yang ia suka. Kemampuan Shasha dalam memasak juga semakin bertambah. Memang Shasha wanita multitalenta, bisa melakukan apa saja kalau terus berusaha.


Libur kuliah telah tiba, itu membuat Shasha lebih leluasa datang ke tempat Ghibran. Bahkan Daffa, Ayahnya saja sampai dibuat bingung karena Shasha yang kadang suka semena-mena meninggalkan jam kerjanya. Padahal setelah lulus kuliah nanti, Daffa akan langsung memberikan Shasha jabatan tinggi di perusahaannya. Tapi sikap Shasha selama dua bulan ini membuat pria itu geleng kepala. Kadang sifat keras kepalanya muncul ketika Daffa memaksanya untuk datang ke perusahaan. Shasha baru akan datang ke purusahaan setelah urusannya dengan Ghibran selesai. Memang benar yang orang katakan, cinta itu buta sampai-sampai tidak peduli dengan sekitar.


"Nenek, Shasha keluar lagi ya?" Izin Shasha pada Neneknya setelah semua makanan yang ia masak telah matang dan siap dimakan.


Tentu saja Kirana mengizinkannya. Wanita paruh baya itu mengusap sayang puncak kepala cucu pertamanya. Mengingatkan untuk berhati-hati dalam berkendara.


Tanpa pikir panjang tentu Shasha setuju. Dengan langkah cepat Shasha meraih tas selempangnya dengan memegang paper bag berisikan makanan yang akan ia berikan untuk Ghibran. Keluar dari rumah sang Nenek dengan berlari.


Tin!


Shasha langsung menoleh ketika mendengar suara klakson motor. Mencari sumber suara itu karena seingatnya tak ada siapapun yang mengenakan motor di rumah Neneknya.


"Rayyan?" Kejut Shasha setelah menyadari siapa yang datang. Semakin dekat Rayyan mengendarai motor ninja miliknya.


Tepat di depan Shasha, Rayyan berhenti. Membuka kaca helm fullface nya dan menatap dengan kesal pada Kakaknya. "Kayak biasa?!" Tanya Rayyan dengan nada tak bersahabat. Lama-lama kesal dengan Kakaknya yang suka semena-mena dengan waktunya.


"Iya" balas Shasha dengan bahagia. Tanpa merasa bersalah Shasha langsung naik ke atas motor Rayyan. "Ayo sekalian anterin Kakak!" Suruh Shasha memeluk pinggang Rayyan.


Rayyan menoleh sedikit ke belakangnya. "Gue gak ada niatan mau nganterin lo"


"Ayolah, Ray…"


"Nggak"


"Ray…" rengek Shasha kembali. Ia mengguncang-guncang tubuh Rayyan, meminta agar permintaannya dituruti.


Rayyan menghela nafasnya. Sebetulnya tak bisa ia menolak permintaan Kakaknya, apalagi sampai merengek seperti itu. "Pake helm nya" ucap Rayyan menyodorkan helm miliknya yang lain.


"Makasih dek" balas Shasha dengan girang. Mengambil helm yang Rayyan berikan kepadanya dan memakainya.


"Ayo!" Seru Shasha setelah selesai memakai helm nya.


Motor ninja milik Rayyan kembali berjalan. Keluar dari pekarangan rumah sang Nenek tanpa menemui Neneknya terlebih dahulu. Dengan kecepatan tinggi melintas di jalan raya yang ramai. Menyalip banyak kendaraan yang menurutnya sangat pelan. Shasha mencengkeram jaket kulit yang Rayyan kenakan dengan kencang. Ia takut karena Rayyan berkendara dengan sangat cepat.


Rayyan tersenyum senang karena berhasil membuat Kakaknya takut. Walaupun Shasha tak bilang langsung padanya, tapi cengkeraman erat tangannya sudah memberinya jawaban. Anggap saja ini sebagai balasan dari Rayyan untuk Shasha karena telah semena-mena dengan waktunya. Karena Shasha pula Rayyan lah yang kadang harus menggantikan posisi Kakaknya di perusahaan. Padahal itu adalah kali pertamanya Rayyan di perusahaan, tapi sudah diberikan tugas berat oleh Ayahnya.


Selang beberapa menit sampailah keduanya di depan gerbang yang menjulang tinggi. Rumah milik Ghibran yang baru beberapa kali Rayyan datangi.


Shasha menoleh ke sampingnya. Terdapat sebuah mini truk yang juga baru datang setelah mereka berdua. Truk itu langsung masuk begitu gerbang masuk dibuka. Langsung saja Rayyan kembali menjalankan motornya memasuki pekarangan rumah Ghibran.


"Ante!" Panggil Shasha ketika menemukan Nadia yang berada di pintu masuk.


Shasha tersenyum. Segera turun dari motor Rayyan dan melepaskan helm yang ia kenakan. Setelah memberikan helm yang ia kenakan pada Rayyan, Shasha langsung berlari mendekati Nadia yang sedang berdiri dengan tangan terbuka lebar, meminta Shasha untuk segera datang memeluknya.


"Pagi Ante!" Sapa Shasha dengan memeluk Nadia.


"Pagi cantik!"


Shasha melepaskan pelukan keduanya. Menatap bingung ke arah mini truk yang berada di dalam pekarangan rumah Nadia. "Itu truk buat apa, Ante?" Tanya Shasha langsung.


Nadia mengikuti arah pandang Shasha. Tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Shasha. "Itu truk yang mau ngirim barang-barang Ghibran ke Turki. Jadi pas dia di sana gak keluar duit banyak untuk beli barang-barang di sana," jelas Nadia membuat senyum di wajah Shasha meredup.


"Turki? Emang berapa minggu lagi, Ante?"


"Lima hari lagi, Sha. Kakeknya Alma yang di Turki juga udah nyiapin semuanya."


Dengan susah payah Shasha mempertahankan senyumnya. Hatinya berdenyut perih karena sampai saat ini ia seperti tak mendapat kepastian. Sikap Ghibran selama dua bulan ini padanya sama saja, tak ada yang berubah sedikitpun.


"Ya udah Tan, Shasha taro ini ke piring dulu, ya?" Izin Shasha berniat menemui Ghibran yang berada di dalam rumah.


"Iya, Sha masuk aja. Sekalian deh kamu panggil Ghibran, ya? Bilang ke dia Ante panggil!" Pinta Nadia pada Shasha.


"Iya Tan"


"Rayyan juga masuk dulu, Ante masih mau ngurus ini!" Suruh Nadia berbalik menatap Rayyan. Pria itu mengangguk setuju dengan perintah yang Nadia berikan padanya.


Rayyan berjalan tepat di belakang Shasha. Mengekor Kakaknya yang terlihat sangat tak bersemangat seperti sebelumnya.


Puk!


Rayyan menepuk bahu Shasha. "Sini, gue aja yang taro di belakang. Sekarang lu samperin Bang Ghibran. Bilang yang sebenernya ke dia" suruh Rayyan. Pria itu mengambil alih paper bag yang Shasha pegang dan langsung berjalan menuju dapur.


Shasha menatap ke arah lantai dua. Tempat di mana terletak kamar tidur milik Ghibran. Dengan langkah ragu Shasha berjalan menaiki anak tangga. Ini adalah kali pertamanya Shasha menaiki lantai dua. Dan yang membuatnya bingung, mengapa Shasha yang diminta untuk memanggil Ghibran di kamarnya? Mengapa bukan Rayyan yang posisinya sama-sama pria?


Sampai di lantai dua, Shasha mengayunkan tangannya. Mengetuk beberapa kali pintu kamar yang ia yakin adalah milik Ghibran.


"Sha?"


Shasha menoleh. Melihat Ghibran yang juga berada di lantai dua, namun baru saja keluar dari ruangan yang lainnya. "Nyari siapa?" Sambung Ghibran. Kembali berjalan dan semakin dekat dengan posisi Shasha saat ini.


Shasha menatap pria itu dengan sendu. Tak rela jika pria itu akan pergi ke Turki. "Tadi Ante minta Shasha buat manggil Abang," ucap Shasha. Kali ini tak ada semangat yang terpancar dalam diri Shasha.


"Mamah di luar, kan?" Shasha mengangguk mengiyakan. "Oke makasih" setelah mengatakan hal itu, Ghibran berlalu begitu saja, melewati Shasha yang masih mematung.


Shasha berbalik dan menatap punggung Ghibran yang sedang berjalan menuruni anak tangga. "Bang!" Panggil Shasha pelan.


"Ada yang mau Shasha bicarakan sama Abang nanti. Temui Shasha di cafe Alma yang dekat kampus nanti, ya? Shasha tunggu" Pinta Shasha memohon. Setelah itu Shasha ikut turun dan melewati Ghibran begitu saja. Wajahnya terlihat murung, gerakannya pelan dan suaranya sedikit parau. Ghibran sampai dibuat bingung dengan sikap Shasha yang berubah drastis dari yang biasanya.