SECOND LIFE

SECOND LIFE
Second Life Bab 51



Seperti kegiatan rutin yang biasanya terjadi setiap satu tahun sekali, pagi ini para mahasiswa baru diajak berkeliling untuk mengenal letak-letak kampus tersebut. Seperti peraturan yang sebelum-sebelumnya, semua mahasiswa baru itupun harus menggunakan bahasa Inggris jika ingin berbicara dengan para dosen pembimbing mereka ataupun dengan para pengajar yang bekerja di kampus tersebut.


Untuk seluru mahasiswa baru, mereka akan melakukan ospek selama satu minggu lamanya. Dan selama itu pula mereka akan diberikan pelatihan awal dari para seniornya. Di minggu-minggu awal ini pula, beberapa mahasiswa masih diberikan keringanan dalam tugas mereka. Shasha dan Alma pun hanya diberikan materi pengulang oleh dosen pembimbing mereka. Wajar saja jika mereka hanya menghabiskan waktu selama kurang lebih tiga jam, setelahnya mereka bebas melakukan apapun, bahkan mereka diperbolehkan oleh para dosen untuk pulang lebih dahulu dari jadwal yang sudah ditentukan.


Bagai kesempatan emas bagi Alma. Wanita itu langsung membawa Shasha jalan bersamanya. Menikmati waktu mereka tanpa ada yang mengganggu keduanya. Semua bodyguard Alma diminta untuk mengawasinya dari jauh saja karena tak ingin merasa terganggu. Sedangkan Shasha sendiri tak menolak ajakan dari Alma sekalipun.


"Alma, aku chat Mas Ghibran dulu. Dia tadi mau jemput aku, takut nyariin ntar." Shasha menepis pergelangan tangan Alma. Segera meraih ponselnya dan membuka kontak yang berisikan nomor sang suami.


"Ih gemes banget sih, dikit-dikit harus izin dulu, Alma kan jadi mau." Alma merengek iri melihat Shasha. Berpura-pura menangis layaknya anak kecil yang tidak diperbolehkan bermain.


Shasha melirik sejenak. Ia tertawa dengan menggeleng pelan melihat tingkah Alma. "Kan ada banyak yang antri untuk bisa sama kamu, Ma." Shasha meledek Alma. Ia menyenggol bahu Alma karena sedari tadi sahabatnya itu menjadi pusat perhatian. Tidak hanya pria, wanita pun melihat Alma takjub saat ini. Mungkin karena para bodyguard Alma berjaga dari jauh, karena itu mereka terang-terangan melihat ke arah Alma.


Sahabatnya itu memutar kepalanya ke kanan dan kirinya. Benar saja, dirinya dan Shasha saat ini menjadi pusat perhatian para mahasiswa baru. "Yuk pulang aja. Lama-lama aku gak nyaman di sini." Alma meraih pergelangan tangan Shasha. Membawa sahabatnya menuju parkiran khusus mahasiswa.


__________


Setelah hampir satu setengah jam di perjalanan, akhirnya Shasha dan Alma hanya memutari jalan yang sama saja. Ia tak tau tujuan nya kemana karena Alma pun belum memutuskan akan kemana. Mereka hanya memutari jalan dan dilengkapi dengan bercerita.


"Kita ini mau ke mana sih Al?" Tanya Shasha. Pasalnya ia sangat bingung karena Alma hanya berputar-putar tanpa memberitahukan mereka akan kemana.


"Jam berapa sih sekarang?" Bukan nya menjawab apa yang Shasha tanyakan pada dirinya, Alma justru mengalihkan pembicaraan mereka.


Shasha menghela napas kesal. "Jam 11 lewat tujuh menit dan sekarang kamu udah muter-muterin jalan yang sama sebanyak delapan kali!" Jelas Shasha dengan kesalnya. Ia memasang wajah bete karena mereka tak berpindah tempat.


"Oke."


"Kok oke?"


Alma menoleh sejenak dan melemparkan senyuman untuk sang sahabat. "Gak papa kok." Lagi-lagi balasan yang Shasha dapatkan dari Alma tak sesuai keinginan nya. Akhirnya karena ia bosan, wanita itu mulai memejamkan matanya karena mengantuk. Menyisakan kesunyian di dalam kendaraan beroda empat itu. Sedangkan Alma, wanita itu sedang mengemudi sesekali menggerutu karena ia ditinggal tidur oleh Shasha.


___________


Puk!


Bahu Shasha ditepuk secara perlahan. Alma sedang berusaha membangunkan sahabatnya yang sangat susah untuk dibangunkan jika sudah tertidur nyenyak.


"Sha, bangun!" Lagi-lagi Alma tetap mencoba, mengguncang dan menepuk pipi Shasha agar wanita itu terbangun.


Kelopak mata Shasha bergerak, menandakan wanita itu akan terbangun. Alma tersenyum senang karena akhirnya Shasha terbangun juga. "Shasha bangun udah mau malem!" Pekik Alma dengan heboh. Setelah berteriak seperti itu, mata Shasha langsung terbuka dengan sempurna. Ia sangat terkejut mendengar penuturan yang Alma katakan untuk membangunkan dirinya.


Malam? Apakah selama itu dirinya tertidur?! Batin Shasha bertanya.


Wanita itu memegang kepalanya yang terasa sakit karena dikejutkan dalam tidurnya. Ia kembali memejamkan matanya untuk memfokuskan penglihatan nya.


Plak!


Shasha melayangkan tangan nya ke arah Alma, ia memukul bahu sahabatnya dengan kesal. "Ih kirain beneran!" Ucap Shasha mendengus. Ia keluar dari dalam mobil Alma dan mengedarkan pandangan nya.


"Ini kita di mana, Ma?" Tanya Shasha merasa asing dengan tempat tersebut.


Alma meronggoh kantung jaket panjangnya. "Nih pake." Alma menyerahkan sebuah kain penutup mata ke arah Shasha.


"Buat?"


"Udah ikut aja. Sini aku pakein," tanpa menunggu persetujuan dari Shasha, Alma langsung mengikatkan kain tersebut di mata Shasha.


"Mau ngapain sih Ma?" Alma maraih pergelangan tangan dan menariknya perlahan. Wanita itu tak menjawab pertanyaan yang sahabatnya lontarkan.


Alma terus menarik Shasha untuk terus berjalan mengikutinya. Shasha menurut saja karena hanya itu yang dapat membantunya untuk berjalan. Sesekali juga Shasha berdecak ketika langkah Alma tak kunjung berhenti.


"Kita mau kemana sih Ma?" Tanya Shasha untuk yang kesekian kalinya.


"Iya-iya."


Perlahan Alma melepaskan genggaman nya. Ia juga berjalan mundur menjauhi Shasha dan membuat Shasha mengerutkan keningnya. Sunyi, Shasha tak dapat mendengar apapun selain hembusan angin yang menerpa wajahnya.


"Ma! Alma!" Shasha berteriak takut-takut.


Karena tak ingin terjadi sesuatu nantinya, Shasha langsung melepaskan kain yang terikat di matanya. Manik mata Shasha mengecil untuk menyesuaikan matanya dengan cahaya saat itu.


Benar saja dugaan nya. Tempat ini sepi dan sunyi, seperti tidak ada kehidupan di tempat itu. Di depan nya ada sebuah rumah yang cukup mewah, namun dirinya tak tau itu milik siapa. Kemudian wanita itu mengedarkan pandangan nya.


"Sha…"


"Astaghfirullahaladzim!" Jerit Shasha karena terkejut. Ia mengelus pelan dadanya dan menatap kembali orang yang baru saja muncul secara tiba-tiba di hadapan nya.


"Mas Ghibran…" lirih Shasha bingung. Kemudian ia mengerutkan keningnya, mencoba mengingat kapan Ghibran ikut bersama dengan nya. Suaminya itu tersenyum ke arahnya.


"Aku kaget tau!" Adu wanita itu dengan bibirnya yang mengerucut karena kesal.


Ghibran terkekeh melihat tingkah istrinya. Ia berjalan mendekati Shasha dan mengecup sekilas kening istrinya. "Maaf ya." Ucap Ghibran dengan tulus, namun mampu membuat Shasha tak dapat berkata-kata. Bibirnya kelu karena perlakuan Ghibran sebelumnya, oadahal seharusnya ia sudah terbiasa mengingat pernikahan nya hampir jalan satu bulan.


"Hei!" Ghibran melambai-lambaikan tangan nya di depan wajah Shasha karena wanita itu hanya diam saja. Shasha mengerjabkan matanya berkali-kali, ia kembali dibuat sadar oleh Ghibran.


"I-iya Mas,"


"Oh iya, k-kita di mana ya? Kayaknya tadi aku sama Alma." Sambung Shasha bertanya pada pria di depan nya. Ia memutar kembali tubuhnya, masih mencoba mencari sahabatnya yang tiba-tiba hilang begitu saja.


"Di rumah."


"Rumah?"


"Oh… Mas mau pulang? Ya udah yuk kita pulang!" Sambung Shasha kembali. Ia menggandeng tangan Ghibran dan menariknya. Namun Ghibran hanya diam di tempat.


Shasha berbalik menatap Ghibran. "Di sini rumah kita." Lanjut Ghibran lebih jelas.


"Hah?"


Ghibran tersenyum tulus. Ia mengelus puncak kepala Shasha lalu kembali menciumnya dan berhasil membuat Shasha mematung kembali karena apa yang baru saja Ghibran lakukan. "Ini rumah kita, sayang…"


Shasha langsung mengerjab dan menatap Ghibran. Pria itu berbalik dan menatap sebuah bangunan mewah yang berada di depan nya. "Ini rumah kita." Ulangnya supaya Shasha lebih mengerti.


"S-sejak kapan?"


Pria itu kembali menatap sang istri tercinta. "Sejak separuh ragaku telah dikuasai oleh kamu. Perasaanku untuk kamu yang telah bersarang di hatiku dan mampu membuatku mengambil keputusan besar ini. Selamat, kamu berhasil merebut hatiku tanpa bisa ku kendalikan kembali," tatapan dalam Ghibran menunjukkan keseriusan nya kepada Shasha. Pria itu juga menggenggam jari-jemari Shasha dan menciumnya.


Shasha dibuat terharu oleh perkataan Ghibran. Tak dapat ia pungkiri, kata-kata yang Ghibran ucapkan mampu membuatnya seakan melompat ke udara.


"Terima kasih, Mas." Ucap Shasha bergetar menahan tangisnya.


"Ini bukan seberapa, sayang. Aku rasa ini saja tak cukup untuk kamu yang telah bersedia menjadikan aku sebagai imam mu, bersedia menjadi ibu dari anak-anak ku kelak. Aku rasa ini saja belum cukup-" perkataan Ghibran berhenti. Shasha menaruh jari telunjuknya pada bibir sang suami, kemudian ia menggeleng.


Shasha menangkup kedua pipi Ghibran. Ia menatap dalam sebelum berbicara pada suaminya. "Nggak, Mas. Bukan kamu aja yang merasa seperti itu, akupun merasa seperti itu juga. Aku sangat beruntung memiliki kamu, pria satu-satunya yang berhasil memikat hatiku. Aku memiliki ketertarikan yang mendalam sama kamu, hingga segala upaya selalu ku lakukan. Ku kira bandara saat itu adalah tempat perpisahan kita, namun siapa sangka, itu adalah awal mula Tuhan menyatukan kita dalam ikatan suci. Terima kasih karena telah menerima aku apa adanya, Mas. I love you, my husband."


Ghibran menempelkan keningnya pada kening Shasha. Keduanya menangis haru karena cara takdir menyatukan mereka sangat unik. "Love you too, my wife." Balas Ghibran langsung memeluk erat tubuh Shasha. Seolah tak ingin melepaskan Shasha dari dirinya.


___________


Huaa, akhirnya bisa update lagi setelah beberapa minggu lamanya😭 maafin aku ya yg update lama karena lagi disibukkan sama ujian kelulusan😓 tapi sekarang semua udh beres, in syaa Allah aku bisa up rutin lagi. Sekali lagi maafin aku ya🙏😣