SECOND LIFE

SECOND LIFE
Second Life Bab 52



"EH STOP!!"


Baik Shasha maupun Ghibran saling menoleh karena terkejut. Reflek Shasha mendorong tubuh Ghibran supaya menjauh darinya, dan itu membuat pria itu terdorong beberapa langkah menjauh dari sang istri.


Orang yang sempat menghentikan Shasha dan Ghibran itu berlari mendekati keduanya. "Tau tempat dikitlah… Gak ada perasaan lo, Bang sama gue! Untung belum nyosor gitu aja. Inget Bang, ini tempat umum!" Ucapnya menceramahi sekaligus merasa iri. Melakukan protes karena tak baik juga di tempat umum seperti ini.


Shasha langsung berbalik dan menunduk dalam-dalam. Ia malu untuk melihat orang lain disaat seperti ini, terlebih karena apa yang hendak mereka lakukan sebelumnya.


"Maaf lupa." Balas Ghibran singkat. Bahkan terlihat dari wajahnya, pria itu yampak biasa-biasa saja.


"Gimana?" Lanjut Ghibran.


"Beres Bang. Alma, Vian sama kembar juga udah-"


Mendengar nama sahabatnya, Shasha langsung berbalik karena terkejut. "Alma masih di sini?!" Tanyanya hampir tak percaya. Bagaimana ini? Mau taruh di mana wajahnya setelah ini? Batinnya benar-benar malu.


Tangan Alma terangkat tinggi-tinggi, wanita itu melambaikan lengan nya ke arah Shasha agar sahabatnya dapat melihat dirinya yang sedang bersembunyi di lain tempat.


"Ah malu gue!" Gumam Shasha menyesalinya. Ia memukul-mukul kepalanya sendiri karena merasa bodoh.


Ghibran meraih kedua bahu Shasha. "Kenapa?" Tanyanya begitu lembut.


"Ih mau pergi dari sini!" Rengek Shasha dengan kaki yang menghentak-hentakkan aspal.


"Akh!" Reflek Shasha berteriak dan mengalungkan lengan nya di leher Ghibran yang tiba-tiba saja menggendongnya ala bridal style. Membawa Shasha untuk menjauh dari tempat tersebut dan masuk ke dalam rumah mereka.


"Mimpi apa gue semalem sampe harus ngeliat ke-uwuan mereka." Gumam Arkan dengan menghembuskan napasnya yang frustrasi.


__________


"Gimana? Kamu suka, yang?" Shasha langsung menoleh dan menatap sang suami. Dengan cepat ia mengangguk menandakan dirinya sangat menyukai pemberian dari suaminya.


"Makasih Mas, aku suka banget!" Seru wanita itu sangat bersemangat. Ia juga memeluk tubuh kekar Ghibran yang berada di sampingnya.


Setelah hampir setengah jam mereka memutari rumah baru yang terkesan mewah itu, akhirnya langkah mereka terhenti pada sebuah ruangan luas yang akan dijadikan sebagai kamar mereka.


"Mamah, Papah udah tau Mas?"


Ghibran menggeleng pelan. "Aku pernah kasih tau, tapi mereka belum liat kayak gimana rumahnya." Ucap Ghibran menjelaskan.


"Ayah sama Bunda?"


Pria itu kembali menggeleng. "Rayyan yang tau, dia juga yang ngasih tau ke aku kesukaan kamu. Maaf ya, aku belum tau banyak tentang kamu." Di akhir kata, suaranya memelan. Merasa bersalah pada wanita di hadapan nya. Shasha tersenyum haru, sampai segitunya Ghibran mencari tau tentangnya.


"Sekarang kita pulang, ya? Lusa kan kamu libur, kita beli kebutuhan rumah dulu, baru pindah ke sini." Ghibran kembali bersuara. Ia menggenggam jari-jemari sang istri dan mengajaknya untuk keluar ruangan.


Tanpa penolakan, keduanya berjalan keluar. "Kok kamu masih inget besok aku libur, Mas?" Ia tersenyum ke arah sang suami. Iseng bertanya hal seperti itu pada Ghibran.


"Aku kan mantan dosen kamu dulu."


"Aku bingung kenapa kamu bisa jadi salah satu dosen mata kuliah aku, ya? Kamu kan jurusan nya kedokteran, aku manajemen." Pada akhirnya rasa penasaran Shasha selama ini ia langsung tanyakan pada sang suami.


"Emm…" Ghibran menjentik-jentikkan jari telunjuknya di kening, sedang mengingat-ingat alasan utamanya.


"Ntahlah, aku juga gak paham kenapa aku disuruh jadi dosen pengganti sementara di jurusan manajemen. Tapi untungnya aku paham tentang itu." Balas Ghibran yang sama tak pahamnya seperti Shasha.


"Apa?"


"Karena Allah sudah mentakdirkan kita untuk bersama" Shasha mengeratkan pelukan tangan nya Ghibran dan terus tersenyum pada suaminya.


Cup!


"Pintarnya istriku." Ucapnya memberi pujian setelah mengecup singkat puncak kepala Shasha yg terbalut hijabnya.


__________


Di lain tempat, di dalam sebuah cafe nampak seorang pria seperti sedang menunggu kedatangan seseorang. Ia melirik jam tangan nya sekilas untuk melihat pukul berapa sudah.


"Assalamualaikum."


Pria itu mendengakkan kepalanya. Ia tersenyum ke arah orang yang sedari tadi ia tunggu kedatangan nya. Ia berdiri dan menarikkan kursi untuk orang tersebut. "Waalaikumsalam. Ayo duduk!" Serunya menyuruh orang tersebut.


Ia mengangguk dan langsung duduk sesuai arahan pria itu. "Lama ya?" Tanyanya merasa bersalah.


Lagi-lagi ia tersenyum dan menggeleng. "Gak papa kok. Pasti Aba sama Ane yang cegat kamu sama pertanyaan-pertanyaan, kan?" Tebaknya yang langsung dijawab dengan anggukan.


Wanita itu menyalakan ponselnya dan melihat jam di ponselnya. "30 menit dari sekarang, Aba udah nunggu aku di rumah." Ucapnya memberitau, bermaksud meminta untuk mempercepat apa yang ingin dikatakan oleh pria yang berada di depan nya.


Pria itu mengangguk. Menunduk menatap minuman nya yang sudah ia minum. "Minum kamu udah dipesen, mungkin bentar lagi jadi."


"Iya, makasih."


Keheningan terjadi beberapa saat sampai minuman yang dipesan telah tiba. "Jadi kamu mau bilang apa?" Tanya wanita itu merasa tak mendapat jawaban dari pria tersebut.


Pria yang umurnya terpaut satu tahun lebih tua darinya itu meronggoh sesuatu di saku jeans yang ia kenakan. Sebuah kotak berwarna merah ia keluarkan. Ia juga membuka dan memperlihatkan isi dari kotak tersebut.


"Maaf, aku gak tau gimana cara melamar seorang wanita. Tapi, Almasya Shahinaz Muzakki, maukah kamu menjadi pendamping hidupku kelak?" Alma, wanita itu menatap tak percaya pada pria yang di depan nya, kemudian tatapan nya beralih pada sebuah kotak berisikan dua buah cincin yang sangat indah ukiran nya.


Alma tercekat, ia bingung harus menjawab apa saat ini. "Abi… Aku…" ia menggantungkan ucapan nya. Ia butuh waktu untuk menjawab pertanyaan tersebut.


"Kenapa? Kamu senang lihat Bang Ghibran dan sahabat kamu bersama, kan?" Balasnya mengingat beberapa hari terakhir Alma selalu mengatakan iri secara terang-terangan ketika melihat Shasha dan Ghibran bersama.


"Memang benar, tapi-"


"Kalau begitu datanglah ke tempat tinggal kami, Vian. Bukan menyuruh Alma untuk datang menghampiri kamu." Keduanya terlonjak kaget melihat kedatangan pria tak diundang itu.


Vian bangun dari duduknya. "U-uncle?" Seakan tak percaya dengan pria yang berada di depan nya saat ini.


"Ya, ini Uncle. Kamu suka anak Uncle? Maka datanglah ke kediaman kami. Kami pamit." Setelah mengatakan hal itu Ghifari meraih lengan Alma dan membawa anak gadisnya keluar cafe. Setelah itu para bodyguard yang menjaga mereka dari jauh segera berkumpul menjadi satu setelah tuan mereka kembali keluar.


Sedangkan Vian sendiri masih sibuk berkutat dengan pikiran nya saat ini. Berpikir mengapa bisa bertemu dengan Ghifari secara kebetulan seperti ini. Kemudian pertanyaan di dalam benaknya terjawab setelah melihat pria yang berjalan ke arahnya dengan tatapan yang sedang meremehkan nya.


"You lose." Ucapnya dengan bangga. Renaldi-pria itu memutar-mutar kunci mobil di jari telunjuknya. Vian sangat yakin jika Renaldi lah orang yang memberitau tentang keberadaan nya dengan Alma kepada Ghifari.


"Not for later." Setelah itu Vian kembali memasukkan barang-barangnya. Ia berlalu dari meja cafe yang ia pesan dan berjalan menuju kasir, barulah ia keluar cafe setelah membayar pesanan nya.


Renaldi tersenyum sinis. Matanya terus memperhatikan pergerakan Vian hingga pria itu masuk ke dalam kendaraan nya. "We will see, bro."