
Setelah merasa cukup tenang cassy menatap keen yang duduk di sampingnya, "Kau sudah baikan?" tanya keen.
"Ya"
"Apa yang salah denganmu?"
"Justru seharusnya aku yang bertanya seperti itu, apa yang sedang kau lakukan dengan menyekap mereka seperti itu?" ucapnya dengan dahinya yang mengerut.
"Aku melakukan itu demi kau, aku pikir kau akan senang mereka merasakan penderitaan yang kau rasakan!" ucapnya terkekeh.
"Apa kau pikir aku sama dengan mereka?"
"Entahlah, intinya aku melakukan semua itu demi kau seorang"
"Akan lebih baik jika aku melihat mereka ditahan dikantor polisi!!"
"Yasudah aku minta maaf jika kau tak berkenan" ia berucap maaf namun raut wajahnya terlihat sangat kesal. ia kira apa yang dilakukannya selalu saja salah dimata wanita itu.
"Wajahmu menunjukkan bahwa disini kau masih merasa benar"
"Apah??" keen merasa cassy selalu menilainya dengan negatif dan ia merasa kecewa kepadanya.
"Lepaskan mereka dan biarkan mereka pergi!!"
"Semudah itu?"
"Jika sekarang kau menyerahkan mereka ke kantor polisi apa kau pikir orang seperti mereka tidak akan melaporkanmu balik atas apa yang telah kau lakukan kepada mereka selama ini?"
"Aku sama sekali tidak takut akan hal itu, aku bisa saja menyewa seorang pengacara hebat agar aku bisa terbebas dari hukuman"
Cassy terdiam sejenak menatap tajam pria dihadapannya itu "Apa kau selalu hidup dengan cara seperti itu? kau membuatku ngeri"
"Apaaa????!!!" keen merasa semakin kesal, ia bangun dari duduknya lalu mengambil kunci mobil dan pergi dari rumah seketika.
Setelah itu cassy bangun dan menuju pos petugas keamanan di depan rumah lalu ia meminta tolong kepada security untuk memasuki ruangan bawah tanah itu dan melepaskan mereka karena ia merasa tak sanggup kembali masuk ke dalam ruangan gelap dan lembab itu.
Pikirannya kacau hanya dengan ia mengetahui pria yang menjadi suaminya itu memiliki ruangan mengerikan seperti itu, entah apa saja yang telah ia lakukan diruang tersebut, pikiran pikiran seperti itu terus terlintas dipikirannya.
Mereka keluar dari ruangan itu sedangkan cassy menungu di ruang tamu, mereka segera menghampiri cassy yang duduk disana, cassy melihat keluarga pamannya tampak sehat untuk ukuran orang yang telah disekap berhari hari, ia tak menemukan luka lain selain bekas tali pengikat dikaki dan tangan mereka. "apa aku sudah salah sangka kepadanya?" pikirnya dalam hati seraya menilai orang orang dihadapannya.
"Maafkan paman cassy" ucap razak.
"Ya, tolong maafkan bibi dan adik adikmu juga" sahut shanet. sedangkan putra dan putri mereka tampak diam tertunduk.
"Aku bisa memaafkan bahwa kalian menyiksaku tapi aku tak bisa memaafkan Kalian yang sudah menjual rumah orang tuaku"
"Maafkan kami...." ia memohon dengan tangannya tak bisa beralasan lagi.
Cassy mengalihkan pandangannya lalu bangun "Pergilah dari hadapanku dan jangan pernah muncul kembali, jika diantara kalian berani muncul dihadapanku saya akan benar benar melakukan perhitungan kepada kalian"
"Baik baik" mereka langsung pergi secepat kilat meninggalkan rumah itu.
Cassy kembali duduk dan mengambil hp nya,ia merasa bersalah karena telah mengatakan hal hal yang menyakiti hatinya dan berfikiran buruk tentangnya, ia menghubungi keen namun sama sekali tak mendapat jawaban, ia terus menunggu sampai akhirnya hari telah gelap, panggilan panggilannya sama sekali tak mendapat respon dan beberapa kali ditolak, ia terus menunggu sampai akhirnya ia bersandar dan terlelap di sana.
Sedangkan Keen tengah menghabiskan harinya di sebuah bar yang sudah lama tak dikunjunginya, ia marah, ia kesal dan kecewa karena wanita yang selama ini diperjuangkannya menganggapnya menakutkan sampai ngeri, hingga seorang wanita datang menghampirinya setelah seorang kenalannya mengabari tentang keberadaan mantan kekasihnya itu.
Keen menoleh ke arahnya dengan keadaan yang telah mabuk berat "Kau?? ivana aku sudah bilang kau jangan menemuiku lagi apa kau tak menghiraukanku? apa kau juga meremehkanku haa???" ucapnya dengan suara yang lunglai.
"Apa istrimu yang telah membuatmu menjadi seperti ini kak?" ucapnya seraya menyentuh pipinya,
Keen menepis tangannya, lalu ia menempelkan kepalanya dimeja dan tak sadarkan diri "Sadarlah kak" ivana menggoyang goyangkan lengannya namun tak mendapatkan respon, lalu di pikirannya terfokus pada suatu hal dibenaknya, ia tersenyum lalu menariknya yang masih setengah sadar ke dalam mobilnya "Kau sungguh berat kak, untung saja kau tampan "ucapnya tersenyum dan mengagumi wajah yang selama ini ia rindukan.
Ivana teringat saat mereka berhubungan dan beberapa kali diberitakan di beberapa artikel scandal pengusaha J Group construction, namun ia merasa hanya dipermainkan oleh pria itu dan merasa hanya menjadi tempat pelampiasan, namun hanya sampai itu saja, pria itu terus menjaga batas dengannya apalagi dalam hubungannya ia selalu melihat sekretarisnya dimanapun mereka bertemu,ia memutuskan keen dan pergi keluar negri agar pria itu mencarinya dan merasa kehilangannya namun ternyata ia salah, beberapa hari kemudian berita skandalnya dengan wanita lain kembali bermunculan, ia sangat sakit hati dibuatnya dan semakin membuatnya ingin memiliki pria itu, sampai akhirnya ia mendengar kabar pernikahannya yang mendadak dan mengejutkan, ia terburu buru menyelesaikan urusannya di luar negri dan bergegas ingin kembali.
Ia pikir ia harus melakukan sesuatu karena saat ini sekretarisnya tak bersamanya dan inilah satu satunya kesempatannya "Dunia harus mengetahui bahwa hanya Ivana seorang yang pantas menjadi pendampingmu" ia tersenyum menyeringai.
Ivana masuk ke mobil dan duduk di kursi kemudinya, ia menjalankan mobilnya dan berhenti di sebuah hotel mewah, ia membuka kursi belakang dan mendudukkan keen "Kita sudah sampai Tuan keen, bangunlah" bisiknya di telinga pria itu.
Keen membuka setengah matanya "Cassy??? kau datang??" ucapnya lirih.
"Cassy?" ia bertanya tanya "Apa itu nama istrinya??" gumamnya, "Jadi kau benar benar menyukai istrimu ya?" ivana tampak kesal mendengar nama wanita lain disebut saat ia berada di keadaan tak sadar, ternyata ia mencintai pria yang sama sekali tak memikirkannya. "Baiklah, ayo kita bermain peran" gumanya.
"Kau bisa berjalan Tuan Keen?"
Keen bangun dan Ivana menopang tubuhnya, mereka berjalan perlahan memasuki hotel itu, sebuah kamera mengeluarkan suaranya memotret mereka berdua saat mereka melangkah masuk ke dalam hotel.
Setelah melakukan cek in secara terbuka Ivana membawanya masuk ke sebuah kamar yang telah dipesannya, ia melemparkan tubuh Keen di atas ranjang empuk bernuansa putih itu, ia melepaskan sepatunya lalu menuju ke kamar mandi, ia keluar dengan menggunakan jubah mandi berwarna putih,
Ivana menghampiri Keen yang tampak gelisah dalam tidurnya, ia melepaskan sepatunya dan membuka beberapa kancing kemejanya, Keen membuka setengah matanya kembali "Tidurlah dengan tenang tuan keen" ucapnya lirih dihadapannya.
"Cassy?" ucapnya lirih seraya menatapnya dengan mata sayu.
Ivana kesal karena lagi lagi pria itu menganggapnya wanita lain, ia menggigit bibirnya sendiri lalu Keen menariknya dan seketika tubuh ivana telah berada dibawah pria itu, kemudian ia mencium wanita yang ia anggap sebagai istrinya itu, ia mencium bibirnya lalu menyusuri lehernya dengan lembut, ivana yang sedikit bingung akhirnya membalas ciuman pria itu tanpa berpikir panjang, bukankah inilah tujuanku membawanya kesini?, begitu pikirnya menguatkan tekadnya yang masih ragu ragu.
.
Cassy terbangun, ia melihat ponselnya, disana terlihat jam tepat pukul sebelas malam, ia kembali menghubungi keen namun masih tak mendapat respon, cassy khawatir ia pun menghungi sekretaris lux.
"Halo Nyonya casandra ada yang bisa saya bantu?"
"Maaf saya mengganggu anda, Apa sekretaris lux tahu kira kira tuan keen pergi kemana?"
"Tuan ceo?"
"Iya, dia pergi sejak siang sampai sekarang tak bisa dihubungi, saya sangat khawatir karena dia pergi dengan keadaan marah"
"Maaf, apa kalian bertengkar?"
"Ya itu bisa dibilang pertengkaran"
"Baik, saya tahu kemana saya harus mencarinya, anda tenang saja saya akan segera menemukannya"
"Baiklah, terimakasih dan maaf sekretaris lux"
"Yaa"
Lux segera berganti pakaian dan mengambil kunci mobilnya...
Bersambung.............................