SECOND LIFE

SECOND LIFE
Second Life Bab 31



Diperjalanan Shasha hanya berdiam diri, menatap ke arah luar jendela yang menampilkan pemandangan jalanan sekitar. Sesekali gadis itu menghapus air matanya yang masih mengalir. Melihat jalanan yang sudah sedikit berbeda dari yang sebelumnya. Tiga bulan sudah Shasha tak mendatangi kediaman Kakek dan Neneknya dari sang Ibu. Ini juga atas permintaan Ayahnya yang memintanya untuk tidak pulang ke rumah.


Tangis Shasha mereda. Tiba-tiba saja ia teringat Rayyan. Segera gadis itu mencari ponselnya, ingin menghubungi Rayyan dan menanyakan keadaan sekitar.


Me: Ray, gimana keadaan rumah?


Shasha menaruh ponselnya kembali setelah mengirimkan pesan ke Rayyan. Menunggu pria itu untuk segera membalasnya.


Nada dering ponsel kembali terdengar, buru-buru Shasha melihat layar ponselnya kembali. Benar saja, ia sudah mendapatkan balasan pesan dari Rayyan.


Rayyan: Gak tau


Shasha mengernyit bingung. Apa maksud dari pesan yang Rayyan kirimkan? Mengapa pria itu membalas pesan yang sangat singkat dan tidak jelas maksud dari pesannya?


Me: Maksudnya apa?


Rayyan: Gue di rumah Grandma


Shasha menepuk keningnya. Ternyata bukan hanya dirinya, tapi Rayyan juga di suruh untuk keluar dari rumah sementara waktu. Mungkin saja Nadhira dan Cyra juga seperti itu. Shasha semakin yakin jika masalah kedua orang tuanya ini tidak main-main.


"Mang Adi, tolong putar balik mobil, ya? Kita balik ke rumah. Saya rasa ada yang tertinggal di sana." Pinta Shasha pada sang supir yang dari tadi hanya fokus pada jalanan di depannya.


"Tapi, Non…"


"Gak papa, Mang. Cuma sebentar kok." Ucap Shasha meyakini sang supir.


"Ya udah kalau gitu."


Mobil Shasha berjalan ke arah kanan jalan, ingin memutar balikkan mobil yang supir itu bawa. Perlahan tapi pasti, mobil sudah berputar. Kembali ke jalan yang sebelumnya sudah mereka lalui. Dari arah belakang, kendaraan yang dibawa oleh para pengawal ikut memutar balik. Bingung karena mobil majikan mereka berputar arah.


"Mang, nanti ke toilet umum dulu, ya?" Pinta Shasha mengingat dirinya baru saja menangis.


"Siap, Non."


Segera sang supir mencari tempat pengisian bahan bakar kendaraan yang biasanya juga ada toilet umum.


Shasha turun dari dalam mobil ketika sang supir sudah menemukan toilet umum seperti yang ia pinta. Sembari menunggu Shasha kembali, supir itu juga mengisi bahan bakar kendaraan yang ia bawa hingga tangki bahan bakar penuh.


Di dalam toilet, Shasha mencuci wajahnya dengan air. Menghilangkan jejak tangisnya dan menghapus air dengan tisu yang memang selalu Shasha bawa kemanapun ia pergi. Menatap pantulan dirinya dari cermin yang berada di toilet wanita. Memoleskan sedikit bedak di area matanya yang sedikit sembab akibat menangis. Ia tak ingin kedua orang tuanya tau kalau dirinya baru saja menangis karena seorang pria yang tak bisa membalas perasaannya.


"Selesai!" Gumam Shasha di depan cermin. Melihat hasil riasannya yang baru saja ia betulkan.


Segera Shasha kembali keluar. Dengan menaruh tali tas selempangnya di salah satu bahunya. Memasukkan kembali alat make up miliknya ke dalam tas.


"Astaghfirullah!" Baru saja keluar toilet, Shasha sudah dikejutkan dengan kehadiran para pengawalnya yang berdiri tegak di depan pintu toilet.


"Maaf, Nona" ucap mereka semua serempak karena tidak sengaja membuat majikan mereka terkejut.


"Huft… Udah gak papa. Aku udah selesai, ayo balik!" Kembali berjalan ke arah kendaraan yang mereka naiki sebelumnya. Para pengawal langsung mengikuti langkah Shasha dari belakang.


Mobil kembali berjalan. Meninggalkan tempat pengisian bahan bakar dan menuju tempat yang Shasha inginkan, kembali ke rumahnya.


Selang beberapa menit, sampailah mereka di tujuan. Shasha turun dari mobil dan membuka gerbang masuk rumahnya. Meminta kepada para pengawal dan supir untuk tidak memasukkan kendaraan mereka karena Shasha hanya sebentar. Maka dari itu Shasha turun seorang diri. Berjalan lumayan jauh untuk bisa sampai ke bagunan utama, yaitu rumahnya.


Hampir dekat dengan bangunan yang ia tuju, sayup-sayup terdengar suara dari dalam rumah. Buru-buru Shasha berjalan memasuki rumah. Rumah sepi, tak ada maid yang biasanya berkeliling merapihkan rumah pagi itu.


Tangannya terangkat, ingin mengetuk pintu kamar tapi pergerakannya terhenti ketika namanya disebutkan. "Aku gak mau Shasha kayak kita, Mas!!" Protes sang Ibu yang suaranya dapat Shasha dengar. Karena penasaran, Shasha memutuskan untuk berdiam dan mendengarkan apa yang sedang mereka permasalahkan.


Ia mengambil ponselnya, ingin merekam pembicaraan kedua orang tuanya. Mungkin saja ini bisa menjadi bukti kejahatan yang Pak Hilmi lakukan pada kedua orang tuanya.


"Mau gimana lagi? Proyek ini udah hampir berhasil, Nia. Kalau diberhentikan, yang paling rugi di sini aku!" Shasha semakin mendekatkan telinganya pada pintu kamar kedua orang tuanya. Bergerak dengan hati-hati agar tidak sampai terdengar oleh Ayah dan Bundanya.


"Mas, denger!! Shasha anak kita, dia bukan alat!!" Suara Kania kembali terdengar kencang, membentak Daffa yang saat ini sedang berdebat.


"GAK BISA, KANIA!! DIA UDAH BIKIN PERUSAHAAN-"


"TAPI BUKAN BERARTI KAMU BISA SEENAKNYA LEPASIN SHASHA UNTUK MEREKA!!!" Kania memotong ucapan Daffa yang belum selesai. Berteriak tak kalah kencang dari suara Daffa.


"Dengar! Satu langkah saja kamu berani bertindak lebih, aku bisa hancurkan hidup kamu saat itu juga!!!"


"NIA!!!"


"APA?!! Kamu mau Shasha dijodohkan? Bahkan kamu belum tanya ke Shasha dia mau atau nggak!!"


Mata Shasha memerah, menahan amarah sekaligus tangisnya. Ia membekap mulutnya menggunakan tangannya, tak ingin terdengar sampai ke telinga kedua orang tuanya.


Berikutnya di susul suara tangis Kania yang terdengar sampai luar. "Aku gak mau kejadian kayak kita terulang lagi, Mas…" Suara Kania melirih dengan tangis yang masih terdengar jelas di telinga Shasha.


"Terus aku harus gimana? Disatu sisi aku gak rela lepasin Shasha untuk orang yang bahkan dia gak suka… Tapi di sisi lain aku juga gak mungkin biarin perusahaan dari Papah hancur begitu aja…"


"Aku gak becus, aku bodoh!! Aku gak bisa terus pertahanin perusahaan Papah seorang diri…" sambung Daffa kembali.


"Ada aku, Mas… Aku bisa bantu kamu. Tapi jangan biarkan Shasha berada di tangan mereka… Jangan korbankan Shasha, Mas!"


"Aku gak mau Shasha dijodohin… Aku mau Shasha yang milih sendiri jodohnya, Mas…" Terdengar kembali lirihan Kania dan suara sesegukan.


Shasha memejamkan matanya. Berjalan ke arah tangga yang letaknya tak jauh dari kamar kedua orang tuanya. Kakinya lemas, ia butuh penyanggah untuk membantunya berdiri. Gadis itu duduk di atas anak tangga. Tangis tanpa suara masih berlangsung. Dari perdebatan kedua orang tuanya, Shasha dapat menyimpulkan rencana Pak Hilmi, yaitu memeras perusahaan Ayahnya dan memaksa Shasha untuk dijodohkan dengan salah satu anaknya.


"Nona Shasha, kenapa anda menangis?!" Dengan suara yang terdengar khawatir, pengawal wanita itu berlari kecil mendekati Shasha.


Tentu saja gadis itu langsung terperanjat kaget. Sudah pasti kedua orang tuanya mendengar ucapan salah satu pengawalnya. Buru-buru Shasha menghapus air matanya, berdiri dan merapihkan pakaiannya.


"Shasha?!" Mendengar namanya disebut, Shasha menoleh. Benar saja, kedua orang tuanya sudah berdiri di ambang pintu dengan wajah yang sama terkejutnya seperti Shasha.


"Kamu denger, Kak?" Lirih Kania berjalan mendekati Shasha.


Gadis itu menggeleng cepat. Langsung berlari meninggalkan kedua orang tuanya yang berjalan mendekatinya. Meninggalkan tempat sebelumnya dan berlari ke luar.


Grep!


"Sha, dengerin Ayah dulu!" Daffa meraih tangan Shasha. Menahan agar gadis itu tidak pergi kemana-mana.


Dengan cepat Shasha menepis tangan Ayahnya yang memegangi tangannya. Menatap tajam ke arah Ayahnya. "Jangan tahan Shasha, gak usah peduliin Shasha!!!" Teriak Shasha membentak Ayahnya. Kecewa karena merasa Daffa hanya peduli dengan perusahaan yang ia bangga-banggakan daripada anaknya.


Shasha kembali berbalik, berlari menuju gerbang untuk menghampiri mobil yang masih terparkir di depan gerbang. Berlari memutari mobil dan membuka pintu bagian kemudi. "Permisi, Shasha mau bawa mobil ini sendiri!" Pinta Shasha pada supir yang dari tadi menunggunya. Tanpa bantahan sedikitpun sang supir menurut, keluar dari mobil dan membiarkan Shasha masuk. Dengan amarah yang masih meluap dan kekecewaannya pada sang Ayah, Shasha pergi dengan membawa mobilnya. Melaju dengan kecepatan di atas rata-rata, meninggalkan rumah dengan rasa kesal yang menumpuk.


__________


Komen minimal 5 aku update lagi😉