SECOND LIFE

SECOND LIFE
Second Life Bab 57



Pagi menjelang siang di dalam bandara Soekarno-Hatta, Alma menaruh dagunya di atas tumpuan kedua tangannya. Menunggu kedatangan pesawat pribadi milik keluarga Malayeka yang akan menjemputnya.


"Ayo Nak, Aba akan mengantarkan kamu sampai pintu pesawat." Alma mendengak menatap sang ayah yang baru saja selesai melacak keberadaan pesawat pribadi milik keluarga sang ibu.


Ia beralih menatap Ane dan Aydan, ibu dan adiknya juga sudah menunggunya di bandara sebelum ia sampai. "Ane…" Ucap Alma pelan dengan melangkahkan kakinya menuju Lunara yang sedang berdiri tak jauh dari suaminya.


Ia merentangkan kedua tangannya, ingin memeluk wanita yang telah melahirkannya. Alma masuk ke dalam pelukan sang ibu, mencari posisi ternyamannya di dalam dekapan wanita itu. "Doakan Alma supaya berhasil, Ane," pinta Alma masih memeluk ibunya.


"Selalu, sayang. Doa Ane akan selalu menyertai hari-hari kamu di sana. Titip salam untuk mereka semua, ya?Jaga diri kamu baik-baik." Suara Lunara bergetar, menahan air matanya yang hampir turun begitu saja.


Ada sedikit rasa tak rela ketika membiarkan anaknya berada di negara kelahirannya tanpa dirinya. Sejak bayi, Alma selalu bersamanya bahkan ketika sang suami tak ada di sisinya untuk merawat Alma bayi. Baginya putrinya adalah segalanya, tapi karena masalah ini, mau tak mau Alma harus turun tangan ikut membantu.


"Makasih Ane." Balas putrinya disertai dengan senyumnya.


"Kak…" Pelukan antara anak dan ibu itu terlepas ketika sang adik memanggilnya.


Aydan-adik satu-satunya Alma berjalan mendekati kakaknya juga. Pria berumur 17 tahun itu tersenyum sangat manis ke arahnya. Ia beralih memeluk tubuh adiknya yang sudah jauh lebih besar darinya.


"Umarım işini çabuk bitirirsin, (semoga pekerjaan kakak cepet selesai,)" Alma hanya tersenyum setelah pelukan mereka terlepas.


"Kenapa cuma senyum? Jangan bilang lupa bahasa Turki!" Tuduh Aydan membuat Alma sedikit terhibur. Ia memukul pelan lengan adiknya dengan terkekeh.


"Enak aja! Jagoan kakak kali!" Ucap gadis itu tak terima. Ayden ikut tertawa ketika ia berhasil membuat senyum di wajah kakaknya kembali.


"Evet aamiin, teşekkürler Ayden. (Iya aamiin, makasih Ayden.)" Sambung Alma selanjutnya, ikut menggunakan bahasa Turki.


"Nona, pesawat telah mendarat sekitar dua menit yang lalu." Ilza datang dari arah pintu keluar bandara dan berjalan menuju kursi tunggu.


Alma mengangguk. Satu persatu ia menyalami keluarganya dan berpamitan, kemudian menitipkan salam pada keluarganya yang tak bisa datang ke bandara juga.


Aydan menoleh ke arah sang ibunda. "Ane, Aydan boleh ikut kakak?" Tanya pria remaja itu, tatapnnya kembali lurus ke depan, melihat kakaknya yang perlahan meninggalkan tempat semula.


Lunara tersenyum tipis dari balik niqabnya. "Selesaikan sekolah kamu, dek." Balasnya langsung mendapatkan tatapan kecewa dari anak bungsunya.


Ia menghela napasnya sebelum kembali membuka suaranya. "Seharusnya aku yang turun ke medan perang, Ane, bukan kakak," ucapnya kembali.


"Medan perang?"


"Iya, kak Alma akan berusaha mengembalikan posisi perusahaan keluarga kita. Berperang bukan?" Ujar pria blasteran Asia-Eropa itu.


"Aydan mau bantu kakak." Sambungnya kembali. Sekarang tatapan matanya menatap sang ibu karena punggung kakaknya yang sudah menghilang dari pandangannya ketika gadis itu berbelok bersama para bodyguardnya.


"Kamu masih kecil Aydan, lanjutkan sekolah kamu."


"Kenapa selalu umur yang dijadikan patokan seseorang untuk menjadi dewasa, Ane? Bahkan orang yang sudah dewasa pun banyak yang masih bersifat kekanak-kanakan. Ane tau? Dewasa bukan tentang seberapa tua dirinya, tapi seberapa bijak ia menangani masalah di kehidupannya."


Lunara terdiam mendengar perkataan bijak anak bungsunya. Aydan benar, dewasa bukan tentang umur, tapi seberapa hebat ia menyelesaikan misi di dunia ini dengan bijak. Wanita itu tersenyum mendengar perkataan salah satu anaknya.


"Kamu benar, Nak. Lalu, apa rencana kamu?"


Pria itu menyeringai licik. Menampilkan wajahnya yang menakutkan. Menarik masker hitam yang ia gunakan ke atas, memakaikannya kembali ke wajahnya. "Ane akan tau nanti." Ucapnya sedikit berbisik. Sikapnya yang seperti ini seringkali datang ketika sang kakak tak berada di depannya. Siapa sangka, seorang Ayden Zavier Muzakki yang memiliki sikap penurut dan sedikit manja kepada kakaknya itu akan terlihat sangat menyeramkan, apalagi ketika kehidupan kakaknya diganggu.


"Lets play the game." Gumamnya dengan berjalan menuju keluar bandara, diikuti oleh para bodyguardnya yang selalu mengikutinya juga keluarganya yang juga keluar dari dalam bandara.


___________


Sore menjelang tetapi Alma tak kunjung datang ke kediaman barunya. Ia menatap gelisah ke arah gerbang menjulang rumahnya. Shasha meremat ponsel yang berada dalam genggamannya. Menunggu sahabatnya untuk menghubunginya.


Para tamu juga sudah lama berhambur pulang setelah acara usai. Ghibran yang melihat wajah cemas sang istri langsung duduk dan mengusap punggung wanitanya.


"Kenapa, hmm?" Tanya Ghibran penuh perhatian.


"Oh ya, aku baru sadar Alma gak ada." Ucapnya baru teringat. Tamu-tamu yang berdatangan membuatnya melupakan kehadiran salah satu sahabat kecilnya juga.


"Mungkin Alma lagi sibuk, sayang." Mencoba meredakan kegelisahan hati sang istri. Mengusap punggung tangan wanita itu dan mengecupnya sekilas.


"Coba mas tanya kak Vian." Rupanya tak berhasil, Shasha tetap saja mengkhawatirkan keberadaan sahabatnya. Alma tak pernah pergi tanpa memberi kabar apapun kepada dirinya.


Tanpa menunggu lama-lama, Ghibran langsung meraih ponsel yang berada di saku pakaiannya. Mencari nomor telepon pria yang Shasha maksud. Salah satu sahabatnya itu sudah pulang dari rumahnya seiring dengan waktu acara yang sudah selesai.


Tak lama panggilannya diangkat oleh seberangnya.


'Alma udah sampe rumah lo? Gue denger Alma gak kasih kabar apapun ke istri lo.' Tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu, Vian sudah lebih dahulu menyela ucapannya yang bahkan suaranya saja belum keluar dari mulutnya.


"Karna itu gue telpon lo. Shasha nyariin, kirain gue lo tau di mana Alma." Balas Ghibran. Shasha menatap harap pada Ghibran yang masih menelepon Vian.


'Nomornya gak aktif dari tadi pagi, gue gak bisa lacak keberadaan Alma,' terdengar helaan napas gusar dari arah seberang telepon yang pastinya berasal dari Vian. Ghibran tau jelas apa yang dirasakan oleh Vian untuk Alma, karena itu ia tak terkejut.


"Kok bisa?"


Vian terdiam beberapa saat. Ia mencoba memikirkan alasan keberadaan Alma tak dapat diketahui. 'Apa mungkin Alma nyebrang pulau?' Ucapnya bertanya.


"Maksud lo?"


'Lo tau bang, melacak seseorang akan lebih sulit kalau udah nyebrang negara? Tapi Alma kemana?'


Shasha terkejut mendengar ucapan Vian yang dapat ia dengar karena panggilannya di loudspeaker oleh sang suami.


"Turki?" Tebaknya, karena Alma sangat sering bolak-balik ke negara tersebut.


'Sekarang bukan hari liburnya bang, gak mungkin.' Elak Vian cepat.


"Gimana kalau iya? Coba tanya Arkan, pasti dia tau sesuatu."


'Arkan juga gak bisa dihubungi. Kediaman mereka terkunci rapat, gue udah cek satu-satu tadi.'


"Lo yakin?"


Vian mengangguk pasti di seberang sana. 'Udah.'


Shasha teringat sesuatu sekarang. Ia kembali membuka ponselnya. Membaca ulang pesan singkat dari Alma untuknya.


Alma: Sha, kayaknya Alma bakal telat. Mobil Ren dari tadi halangi jalan Alma terus.


Begitulah isi pesan singkat dari sahabatnya. Ia menatap suaminya yang masih berbicara dengan lawan bicaranya. "Mas, tadi pagi Alma chat aku. Dia dihalangi Renaldi tadi di jalan. Apa Renaldi melakukan sesuatu sama sahabat aku, mas?" Tanya Shasha takut-takut.


Vian terdiam mendengar ucapan Shasha yang sangat kencang hingga terdengar sampai telinganya.


"Nazriel gak dateng?" Suara Ghibran bertanya pada Shasha, melupakan sejenak pembicaraan keduanya. Sedangkan Vian senantiasa mendengarkan pembicaraan itu.


"Aku gak liat mukanya di sini, apa ada hubungannya sama Alma yang gak bisa dihubungi, mas?"


Tangan Vian mengepal kuat meremas ponselnya dengan sangat kencang. Ia langsung mematikan panggilan tersebut secara sepihak.


Memukul-mukul setir mobil dan membentur-benturkan kepalanya disetir mobilnya. "Gue bodoh! Gue bodoh!!" Umpatnya berkali-kali. Menyalahkan dirinya sendiri karena tak berhasil menjaga Alma.


Vian memgangkat kembali kepalanya. "Renaldi…" menekankan ucapannya, menyalahkan pria itu karena kehilangan jejak Alma.


Kedua ibu jarinya bergerak cepat di atas kayar ponselnya. "Lacak semua keberadaan keluarga At-Thariq, cepat!!"


__________