
Cassy kembali ke kantornya setelah jam makan siang berakhir, ia pun kembali disibukkan dengan jadwal meeting dan janji temu dengan kliennya, ia juga sempat mengontrol ke pabrik makanan kemasannya diproduksi, ia memantau satu persatu bagian dari pabrik tersebut, ia melihat jam tangannya, sudah waktunya jam pulang kerja karyawan.
Cassy yang didampingi salah satu sekretarisnya itu keluar dari gedung pabrik, "Sekretaris lucy, kau boleh langsung pulang karena ini sudah waktunya jam pulang kerja, saya akan menyetir sendiri" ucapnya.
"Baik"
Cassy pun mengendarai mobilnya dan berhenti di depan rumah keen, ia turun dari mobilnya dan melangkah masuk ke dalam rumah, namun anehnya pintu depan tak biasanya terbuka lebar, ia berpikir seraya kakinya terus melangkah.
Sampai didepan pintu seorang wanita paruh baya yang tampak cantik dan elegan tengah duduk berhadapan dengan Keen di ruang tamu. "Kau ya yang dinikahi putraku?" ucapnya dengan mata sinis.
"Ahh.. anda ibu mertua saya ya, salam kenal nama saya--"
wanita itu menyela sehingga cassy menghentikan ucapannya "Saya sudah tahu"
"Sudahlah maa, apa yang mau anda lakukan disini? pergilah ke hotel tempat mama menginap" ucap keen yang tampak khawatir.
"Dasar anak tidak sopan, menikah tapi tak mengundang mama yang melahirkanmu!! Dan kau!!" ia melirik ke arah cassy yang masih berdiri disana.
"Mengapa kau mau menikah dengan putraku? jelas jelas dulu saya menawarkan pernikahan dengan orang tuamu mereka menolak mentah mentah putraku!"
Cassy merasa tertohok "Apaa??"
"Saya dengar kau mau menikahi putraku karena kau membutuhkan uangnya ya?"
"Cukup maa" ujar keen berusaha menghentikan mamanya.
"Kami melakukan pernikahan demi keuntungan bersama, meskipun pihak saya yang lebih diuntungkan" jawabnya tak gentar.
"Kau bahkan tak terlihat menyukai putraku!" gumamnya.
"Maaf?"
"Saya yang setuju menikah dengannya dengan kesepakatan seperti itu, mama tidak perlu ikut campur urusan kami" jawab keen lagi dengan nada yang lebih tinggi, sembari terus memperhatikan raut wajah cassy.
"Berani kamu membentak mama? kau mau menjadi anak durhaka?" teriaknya.
"Apa mau anda?" jawab cassy seraya memegangi dahinya.
"Berikan saham atas nama Keen wiliam hubert di perusahaanmu"
Cassy tersentak, "Apa sih yang mama pikirkan, aku tidak kekurangan harta!" tegas keen.
"Bukan masalah kekurangan atau tidak, tapi perjanjian yang tidak menguntungkan buatmu apa gunanya?"
"Baiklah, saya akan membagi saham yang saya punya kepada putra anda" tukasnya.
Keen tersentak mendengar jawaban tak terduga darinya, kaarena ia sama sekali tak rela menjual saham ayahnya meskipun ia sangat membutuhkannya.
"Lima pulus persen dari atas namamu?" kedua orang dihadapannya semakin terkejut.
"Dua puluh persen!"
"Tambah!"
"Cukup ma, jangan membuatku malu!"
"Heemm" wanita itu cukup merasa puas, namun berpura pura tetap tenang dan tak tertarik. "Baiklah, saya harus kembali ke hotel tempat saya menginap" ucapnya lagi, lalu ia bangkit dan keluar dari rumah dengan bibir yang menyeringai, Keen menutup pintu, cassy pun kembali melangkah, namun Keen menarik tangannya untuk menghentikannya.
"Tunggu, kita perlu bicara" ucapnya sembari memperhatikan wajahnya dari belakang.
Cassy pun menoleh dan menepis tangannya "Ada apa lagi?" ucapnya malas. lalu ia duduk di sofa, keen mengikutinya, mereka duduk berhadapan.
"Kau tak perlu melakukan kemauan mamaku"
"Kenapa? Padahal mamamu benar, kau tak boleh melakukan perjanjian yang tak menguntungkanmu! karena sejak awal ini memang kelalaianku yang hanya bisa menerima bantuan darimu"
"Aku melakukannya karena ingin membantumu"
"Kenapa kau ingin membantuku"
"Karena aku me---" ucapannya terhenti karena dering ponselnya. ia mengambil ponselnya di balik jas dan mematikannya.
"Kenapa tak diangkat?"
"Karena mengganggu"
"Hemmm, bukankah sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi? aku akan bersikap adil mengenai kontrak pernikahan, jadi tolong terima saja agar aku merasa lebih baik"
"Baiklah, terserah kau saja"
"Jika sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi aku akan masuk ke kamar, aku sangat lelah"
"Baiklah" ia merasa hampir saja mengungkapkan perasaan kepadanya, dadanya masih berdebar.
Cassy bangkit dari duduknya iaa melangkah melewatinya namun tiba tiba kakinya tersandung, "aahhhhhh" dengan sigap keen menangkapnya "Kau tak apa?"
"Ahhh.. sepertinya kakiku terkilir, sakit banget!" lirihnya sembari memegangi kakinya yang terkilir, keen memeriksanya ternyata bukan hanya terkilir, kedua tumitnya terluka karena memakai hills dan berjalan terlalu lama.
"Apa sakit sekali? kakimu terluka cukup parah apa kau tak menyadarinya dan hanya sibuk bekerja kesana kesini?". ucapnya keras.
"Apa disituasi seperti ini kau hanya bisa meneriakiku?" ia mencoba bangun namun kakinya lemas, tiba tiba keen menggendongnya. "Kyaaa... turunkan aku, turunkan" ucapnya sembari meronta.
"Diamlah, katanya jangan hanya meneriaki" ucapnya lembut, seketika cassy menutup mulutnya, Keen menggendongnya sampai di tempat tidur. "Ini sebenarnya adegan yang berbahaya" pikir keen dalam hati ketika sampai di ranjangnya, setelah itu ia beranjak pergi tanpa sepatah katapun. cassy pun segera memejamkan mata setelah punggungnya menempel di kasur.
Keen mengetuk pintunya, ia kembali membawakan kotak obat, "tok tok" namun tak ada respon, ia membuka pintu yang tak dikunci, lalu melihatnya telah tidur nyenyak tanpa membersihkan diri. Ia pun duduk di sampingnya dan mulai membersihkan dan mengobati tumitnya yang lecet, ia menempelkan plester di lukanya. kemudian kakinya yang terkilir ia kompres dengan air hangat karena itu sudah agak membiru. "Setelah dipikir pikir wanita ini sering sekali terkilir?" gumamnya, ia teringat kejadian di tempat parkir saat itu, setelah selesai ia membereskan obat dan air kompres lalu membawanya, tak lupa ia mematikan lampunya sebelum keluar dari kamar.
************
Esok harinya, cassy membuka mata saat sinar matahari mulai masuk melalui jendelanya yang terbuka, ia mengedipkan mata, menggerakkan kakinya "Ahhh.. ini masih sakit" ia bangun, menurunkan kedua kakinya, ia mendapati luka di tumitnya telah terpasang plester berwarna kecoklatan, ia tampak berpikir "Apa pria itu yang mengobati lukaku? itu mustahil tapi tidak ada orang lain dirumah ini selain dia, kenapa?" ia tampak bingung "pasti kebaikan antar manusia, pasti begitu" akhirnya ia mengambil kesimpulannya sendiri.
"Byuurrrr" Cassy mendengar bunyi seseorang menceburkan diri di kolam renang, ia berjalan perlahan membuka tirai jendelanya, dari sana pemandangan kolam renang terlihat jelas, ia melihat Keen yang sedang berenang, tanpa sadar pandangannya terpaku "Jago berenang juga rupanya, sayang sekali aku tak bisa" gumamnya.
"Apa yang harus kulakukan dengan kaki sialan ini" ia kesal karena kakinya sakit bahkan sampai bengkak, ia hanya bisa terduduk dan memandangi kolam renang. ia meraih hp nya lalu menghubungi sekretarisnya untuk memberitahukan bahwa ia tidak bisa masuk namun lucy berkata bahwa seperti ini "Maaf bu, saya sudah tahu karena suami anda sudah menghubungi kepala sekretaris" lalu mereka mengakhiri percakapan.
"Suami yaa" gumamnya sembari menoleh lagi ke arah pria yang tengah asik berenang itu.
Bersambung..................