SECOND LIFE

SECOND LIFE
Episode 71



Setelah turun dari pesawat Keen segera mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, namun tiba tiba ia terjebak macet dan harus mengurangi kecepatannya, berkali kali ia membunyikan klakson secara emosional, pikirannya menjadi tidak normal karena terus menahan kesabaran yang sangat sulit ia lakukan, apalagi ketika ia mendapatkan kabar terbaru dari lys bahwa istrinya ditemukan dengan keadaan luka luka yang cukup parah.


Sekretaris lux yang duduk di sebelahnya hanya bisa terdiam dan memahami apa yang telah dilakukan oleh atasannya itu, namun keen yang telah kehabisan kesabaran terus membunyikan klaksonnya hingga membuat pengendara lain tersulut emosi karena kebisingan yang ditimbulkannya.


"Tolong tenanglah pak ceo, meskipun anda terus membunyikan klaksonnya macet tak bisa dihindari" ucap lux yang semakin khawatir karena pengendara lain beberapa kali mengetuk kaca mobilnya untuk memberi peringatan di tengah kemacetan yang semakin parah.


"Apa kau tak bisa diam saja!!" bentaknya.


"Hmmm" lux hanya bisa menutup mulutnya dan pasrah.


Setelah dicari tahu ternyata di depannya baru saja terjadi kecelakaan tunggal sepeda motor pengantar makanan, setelah petugas lalulintas datang seketika kemacetan mereda dan mobil mobil melaju dengan lancar.


Sampailah keen dirumah sakit, ia berlari dari tempat parkir sampai ruangan gawat darurat.


DUAAAKKKKK!!! Winter melayangkan tinjunya tepat ketika melihat keen datang ke hadapannya.


Keen mengusap pipinya yang memar "Kau gila!!!!" teriaknya, ia kemudian menyerang balik pria yang memukulnya namun di halangi oleh sekretaris lux yang baru saja tiba.


Lux menengahi mereka "Jika anda berdua seperti ini tidak lama lagi petugas keamanan akan mengusir anda!!" ucap tegas sekretaris lux.


Keen berjalan menghampiri lys "Ahh, bagaimana keadaan cassy, apa lukanya sangat parah?"


Winter menghampirinya kembali "Apa urusanmu menanyakannya, bukankah kau yang tidak becus menjaga istrimu!!"


"Diam kau!! pergi sana jika ingin membuat keributan!!" jawabnya membentak.


"Hei, kau yang seharusnya pergi!! untuk apa suami tidak berguna spertimu masih berada disini!!"


"Kau!!"


Mereka berhenti berdebat setelah dokter keluar dari ruangan, "Siapa walinya?"


"Saya" "Saya" ucap keen dan winter bersamaan, lalu mereka saling bertemu pandang. "Saya suaminya" ucap keen tegas sehingga membuat winter merasa ciut dan akhirnya mengalah. Dokter pun melirik ke arah dua orang pria yang saling berebutan secara bergantian.


"Bu cassandra sudah siuman tapi keadaannya masih sangat lemah, pengunjung boleh masuk saat telah dipindahkan keruangan rawat"


"Baik"


"Walinya mari ikut keruangan saya" ucap dokter, lalu keen mengangguk dan melangkahkan kakinya mengikuti dokter.


Setelah sampai diruangan dokter menjelaskan kepadanya tentang hasil pemeriksaannya, keen sangat shock karena istrinya sampai mengalami patah tulang rusuk hingga dehidrasi parah, ia keluar dari ruangan dengan wajah pucat. "Apa yang sebenarnya terjadi" gumamnya.


Setelah dipindahkan ke sebuah ruangan rawat vip lys, winter dan sekretaris lux masuk kedalam, cassy pun menoleh kearah mereka, ia tersenyum dengan keadaan yang masih lemah.


"Bagaimana keadaan anda sekarang?" tanya lys sembari memegang tangannya.


"Berkat kalian saya baik baik saja, terimakasih karena sudah datang mengeluarkanku dari sana" ucapnya lirih.


"Apa anda tahu betapa cemasnya kami, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya winter dari sisi kirinya.


"Keluarga pamanku" jawabnya.


Keen masuk kedalam ruangan, seketika suasana menjadi canggung, ia berjalan mendekati cassy, matanya merah melihatnya yang tampak lemah dan memar memar di tangan kaki dan dahinya yang di perbanĀ  "Pasti sakit sekali kan" ucapnya pelan.


Cassy menoleh ke arah lain "aku tidak apa apa, pergilah aku tidak ingin melihatmu" ucapnya tenang.


Langkah keen terhenti, ia merasa tertohok namun ia kembali menghampirinya "Apa kau tak penasaran dengan apa yang ingin aku katakan sepulang dinas?"


"Tidak" suaranya mendingin.


"Pergilah, dia bilang tidak mau melihatmu!" ucap Winter.


"Kau tidak usah ikut campur!!" bentaknya.


"Bicaralah" ucap cassy menolehkan pandangannya ke arah keen.


Keen melihat ke sekelilingnya "Bisakah kalian meninggalkan kami sebentar?" ucapnya melirik ke arah winter. winter menatapnya tajam namun lys membujuknya agar keluar.


Seketika suasana menjadi hening ketika dalam ruangan hanya ada ada dua orang yang saling memandang.


"Siapa yang melakukan ini kepadamu?"


"Keluarga pamanku!"


"Apa sakit sekali?"


"Tidak"


"Iya"


"Hmm kau jujur sekali"


"Cukup basa basinya, apa yang ingin kau katakan?"


"Baiklah, pertama tama aku ingin minta maaf atas kejadian malam itu, aku sungguh tidak ada niat buruk aku hanya--"


Cassy memotong "Aku sudah melupakan kejadian itu"


Keen tersenyum"itu berarti kau telah memaafkanku?"


"Tidak, besok pengacaraku akan mengantarkan surat cerai kau hanya perlu menandatanganinya"


"Apa!!" ia tersentak.


"Aku sudah mengalihkan seluruh saham yang kupunya kepadamu"


"Bisakah kau mengurungkan niatmu itu"


Cassy menoleh kearahnya yang memperlihatkan ekspresi putus asa, "Kenapa aku harus?"


"Pernikahan kita baru berjalan satu bulan apa kau sadar, apa yang akan orang lain katakan nantinya"


"Sesuai dugaanku, kau hanya mementingkan reputasimu saja"


"Tidak bisakah kau memikirkannya terlebih dahulu sekali saja?"


"Untuk hidup denganmu? terkekang? kau bersikap sangat posesif hanya karena kita menikah, bahkan baru saja sebulan kau sering meneriakiku hingga akhirnya melecehkanku! aku tak mau lebih dari ini"


"Melecehkan?? apa kau mengartikan aku seperti pria mesum?"


"Lalu apa? kau menciumku karena kau mencintaiku?"


"Ya!"


Cassy tersentak mendengar jawaban satu kata darinya tanpa ragu ragu, mereka saling menatap, lalu cassy kembali menoleh ke arah lain, ia tak tahu apa lagi yang harus dikatakannya.


Keen duduk disampingnya, menggenggam tangannya, lalu cassy kembali melihat kearahnya "Aku mencintaimu, sejak lama aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu, bisakah kau memberiku kesempatan? aku akan memperlakukanmu dengan sangat baik mulai sekarang" ucapnya dengan sungguh sungguh.


Cassy hanya terdiam di ranjang rumah sakit, seharusnya ia merasa senang, karena ia juga pernah merasakan perasaan yang sama dengan pria dihadapannya, namun itu dulu sewaktu dia adalah Ariel, kini dia adalah cassy yang sama sekali tidak merasa senang atau berdebar mendengar sebuah pernyataan cinta dari pria itu.


"Ini yang mau kau bicarakan?"


"Ya"


"Jika sudah tidak ada lagi yang perlu kau katakan maka pergilah"


"Apa kau tak mau menjawab---"


"Pergilah.." ucapnya lirih.


Keen pun segera keluar dari ruangan itu dengan wajah muram.


"Kalian pulanglah, saya yang akan menemaninya" ucap lys kembali masuk kedalam ruangan, sedangkan winter keen dan sekretaris lux segera pergi dari sana.


"Polisikan keluarga pamannya, mereka harus menerima hukuman seberat beratnya, bilanglah polisi harus melakukannya secara diam diam!!" ucap keen sembari berjalan dengan cepat.


"Baik" ucap sekretaris lux yang segera mengambil ponselnya dan menghubungi kantor polisi.


Keen menunggu didalam mbil sementara menunggu sekretarisnya menyelesaikan panggilan televon, setelah selesai lux masuk ke mobil dan duduk di kursi kemudi " Kantor polisi bilang Tuan Winter telah memberikan laporan yang sama"


"Apaa!!" matanya membelalak "bocah itu benar benar ingin ikut campur rupanya!!" ucapnya dingin.


"Suruh orang untuk menangkap mereka sebelum polisi, apa kau mengerti?"


"Baik"


Bersambung.