SECOND LIFE

SECOND LIFE
Second Life Bab 53



Suara hembusan angin pantai di sore itu terasa sangat menyejukkan. Membuat gadis itu memejamkan matanya dan merasakan angin yang menerpanya. Seolah beban nya ikut pergi bersama dengan angin yang melewatinya. Seiring dengan hembusan angin yang perlahan memelan, air matanya keluar begitu saja melawati pipinya kemudian jatuh dan membasahi hijab yang ia kenakan.


"Ra?"


Ketika namanya dipanggil, dengan cepat tangan nya menghapus jejak air matanya. "Iya kenapa?" Seperti tak terjadi apa-apa, ia justru memberi senyuman pada pria di depan nya.


"Lo… Kenapa?"


"Kenapa? Cyra gak kenapa-napa kok." Cyra tersenyum dan tertawa pelan untuk meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja.


"Ra…" ia mendekat ke arah Cyra dan menangkupkan kedua tangan nya di pipi gadis remaja itu. "Liat Abang! Lo kenapa?" Rayyan menatap lekat adik bungsunya. Ia sangat yakin adiknya menyembunyikan sesuatu darinya.


Rayyan, ia adalah tipikal pria yang terlihat cuek, dingin dan hemat kata, namun di balik itu, ia adalah pria yang sangat perhatian pada keluarganya. Dan tentunya ia tak akan menyerah begitu saja ketika Cyra tak mengatakan yang sejujurnya kepada dirinya.


Gadis itu menelan ludahnya. Ia langsung berdiri dan menunduk menatap Rayyan yang masih duduk di tempat. "Udah Cyra bilang gak papa, Abang. Sekarang ayo kuta pulang, Cyra capek!" Pintanya langsung. Tentu saja Rayyan tak menolak, kalau ia menolak, maka sifat manja dan cengeng Cyra yang marah kepadanya akan keluar.


Rayyan ikut berdiri lalu merangkul bahu Cyra. "Makanan nya?"


"Bungkus atau kasih orang lain aja. Cyra capek mau istirahat."


Setelah mengatakan itu Cyra langsung merebut kunci mobil yang Rayyan pegang dan langsung berlari menuju parkiran kendaraan beroda empat. Meninggalkan Rayyan seorang diri yang menatap lekat Cyra yang perlahan menjauh darinya. "Gue tau ada yang lo sembunyiin, Dek." Gumam Rayyan sebelum menyusul Cyra.


__________


Rintik hujan masih terdengar deras dari dalam, Shasha hanya mampu melihatnya dari jendela yang berada di dalam kamar. Wanita itu menghela napasnya karena tak diperbolehkan keluar rumah untuk bermain hujan oleh Ghibran. Padahal di saat hujan seperti ini ia sangat ingin bermain di luar sana.


"Kamu kenapa, yang?"


Tubuh segera berbalik. Moodnya naik seketika karena kehadiran pria itu. "Aku mau keluar Mas!" Pinta Shasha dengan semangat.


Ghibran menggosok-gosokkan rambutnya yang masih basah menggunakan handuk kecil di tangan nya. Terlihat bahwa pria itu baru saja selesai membersihkan dirinya. Shasha yang masih belum terlalu terbiasa dengan keadaan seperti itu langsung menundukkan kepalanya.


Pria itu berjalan mendekati Shasha dan langsung duduk di sampungnya. Ghibran meraih dagu sang istri, membuat wajah Shasha kembali terangkat. "Kamu kenapa, hmm? Kenapa mau keluar? Sekarang lagi hujan, loh. Nanti kamu bisa sakit." Ucap Ghibran penuh kelembutan.


Dengan cepat Shasha menggeleng. "Iya oke, tapi kamu pake baju dulu sana!" Suruh Shasha.


"Kenapa? Kamu belum terbiasa?" Ghibran terkekeh melihat wajah Shasha yang merona karena malu. Wanita itu mengangguk membenarkan ucapan Ghibran.


"Ya udah. Aku ganti baju di dalem kamar mandi. Kamu juga ya, habis ini aku mau ngajak kamu ke toko furniture."


"Mandi hujan dulu boleh gak?" Shasha masih berusaha membujuk Ghibran. Entah mengapa ia sangat ingin bermain hujan saat ini.


Lagi-lagi Ghibran menggeleng sebagai jawaban. "Nanti kamu sakit. Sekarang kamu siap-siap." Setelah mengatakan itu Ghibran meraih pakaian yang telah disiapkan oleh Shasha di atas ranjang dan berlalu ke dalam kamar mandi.


Shasha mengerucutkan bibirnya. Dengan sedikit kecewa ia memilih asal pakaian yang akan ia gunakan nantinya.


__________


Setengah jam sudah mereka berdua memutari toko furniture yang berada di dalam salah satu mall di Ibu Kota. Dan baru beberapa pula barang yang mereka dapatkan di toko itu.


"Yang ini bagus, Mas kalau di taro kamar." Tunjuk Shasha pada sebuah barang yang berada di dalam toko.


"Nggak, nggak! Itu gak cocok!" Baik Shasha maupun Ghibran menoleh. Tiba-tiba saja ucapan Shasha dibalas oleh orang lain yang membuat keduanya terkejut.


"Kenapa?" Tanya orang itu tak merasa bersalah sedikitpun.


"Siapa?" Tatapan Ghibran berubah datar. Ia menggeserkan tubuh sang istri agar tidak terlalu dekat dengan pria tersebut.


Dengan kompak keduanya pun ikut mengangguk. Kemudian pria yang kehadiran nya tak di undang itu tersenyum yang membuat Ghibran dan Shasha makin heran.


Sekarang seorang wanita menghampiri ketiganya, membuat orang-orang itu kembali dibuat menoleh. "Kak Sadam, Akash cariin dari tadi taunya ada di sini!"


"Akasha Sania, ya?" Shasha langsung menoleh menatap sang suami ketika Ghibran mengenal wanita itu. Reflek Shasha memukul lengan Ghibran, menunjukkan bahwa saat ini ia sedang cemburu karena Ghibran mengenali wanita itu.


"Iya-"


"Nah itu tau, masa sama gue lupa Bang!" Protesnya langsung, memotong ucapan wanita yang bernama Akasha Sania itu.


"Oh Kak Sadam!" Shasha menjentikkan jarinya ketika mengingat pria yang di depan nya.


"Yang!" Kali ini Ghibran yang menunjukkan sikap tak sukanya. Pria itu langsung memeluk lengan wanitanya. Menunjukkan bahwa Shasha hanya miliknya.


"Kenapa?" Shasha menatap Ghibran dengan perasaan tak bersalah.


"Kok kamu inget sama Aldi?" Protesnya langsung.


"Kamu juga. Kenapa kamu kenal sama Kakak itu?" Balasnya langsung.


"Kan dia pemilik butik yang merancang baju pernikahan kita, yang." Shasha langsung mengangguk ingat. Wajar saja ia tak ingat, pertemuan keduanya sangat singkat waktu itu. Hanya di toko butik dan di acara resepsi pernikahan mereka, setelah itu mereka tak lagi pernah bertemu.


"Terus kok kamu inget Aldi?" Sambung Ghibran belum mendapatkan jawaban dari Shasha. Sedangkan Sadam dan Akash, keduanya terdiam melihat pertengkaran kecil pasangan suami-istri tersebut.


"Kan Kak Sadam… Kamu tau, Mas…" Rengeknya tak ingin mengingat-ingat kejadian saat itu. Mungkin karena itu juga ia lupa akan wajah Sadam, pria yang sangat ia benci dahulu. Lagipula yang selalu bertemu dengan nya adalah Renaldi, adiknya, bukan Sadam.


Melihat rengekan dari Shasha, pria itu terkekeh lalu mencubit kedua pipi Shasha karena merasa gemas.


"Ekkhem!"


Suami-istri itu kembali menoleh dan melihat ke arah dua orang itu. "Maaf." Ucap keduanya kompak.


"Oh iya, Kak Akash kok bisa sama cowok aneh ini?" Tanya Shasha pada Akash, matanya pun melirik ke arah Sadam.


"Gue iket lo di gudang pabrik gue!" Ancam Sadam merasa kesal. Setelah mengatakan itu pada Shasha, Sadam langsung mendapatkan lirikan maut dari Ghibran yang langsung membuat nyali pria itu menciut.


"Ya elah bercanda, Bang." Ucap Sadam mulai merasa takut.


Shasha tertawa. "Gak mungkin Kak, lo kan kalah dari gue waktu itu."


Jleb!


Benar! Ucapan Shasha membuatnya tak bisa berkata-kata. Jika diingat-ingat, Sadam pernah terbaring tak berdaya di atas tanah karena ulah Shasha yang menghajarnya. Jika saja orang suruhan sang ayah tak datang, mungkin saja ia sudah pingsan di tempat.


Ghibran pun ikut tertawa meremehkan. Sadam kalah dari Shasha? Yang benar saja, harga diri seorang Aldiansyah Sadam At-Thariq jatuh karena kalah telak dari seorang wanita. Bahkan karena Shasha pula, Sadam harus terbaring di atas ranjang rumah sakit selama dua hari penuh.


"Oh iya, back to the topic," ucap Shasha mengingat apa yang ia tanyakan tadi. "Kak Akasha kok bisa deket bahkan jalan berdua sama orang ini?" Shasha menunjuk ke arah Sadam kembali.


Sebelum menjawab, Akash tertawa dan tersenyum. "Dia tunangan aku."


"WHAT?!!!"


__________


Happy Kartini Day everyone. By the way, sorry for late update. Aku stuck di tempat, bingung lanjutan nya apa. Mau lanjut ke cerita Alma, gak? Siapa yg bakal menangin hatinya Alma nanti. Follow the storyline