SECOND LIFE

SECOND LIFE
Second Life Bab 14



Setengah jam sudah berlalu dengan cepat bagi Rayyan. Ia meraih sebotol air mineral yang sudah disiapkan untuknya sedari tadi. Sebelum meminum air yang ia pegang, tatapannya tertuju pada dua orang pria yang tadi mengajaknya ke tempat ini. Ghibran dan Arkhan, mereka berdua terkagum-kagum melihat Rayyan yang sangat hebat di mata mereka.


Rayyan duduk dan meminum air mineral yang sudah berada di tangannya. Membiarkan kedua pria itu menatapnya dengan kagum.


"Kenapa?" Karena merasa semakin tak nyaman Rayyan langsung bertanya pada keduanya.


Arkhan berdiri dan memberi tepukan tangan untuk Rayyan. "Hebat banget lu, cil," puji Arkhan seraya menepuk bahu Rayyan beberapa kali. Rayyan menatap tangan Arkhan yang berada di atas bahu nya.


Merasa bersalah karena telah memegang bahu Rayyan, Arkhan segera melepaskan tangannya dari bahu Rayyan. "Sekarang yok makan!" Ajak Arkhan yang memang sebenarnya tak terlalu berniat datang ke tempat gym milik Ghibran.


"Gak jadi?"


"Gak jadi apa?" Ulang Arkhan pura-pura lupa. Ia tak mungkin sanggup melakukan hal yang sama seperti yang Rayyan lakukan.


"Nggak" balas Rayyan yang tak terlalu peduli. Ia menatap ke arah lain dan melihat beberapa alat yang belum ia pakai.


Karena pakaian atas yang ia pakai sudah basah akibat keringatnya, Rayyan melepaskan begitu saja pakaian atasnya dan melemparkannya ke atas bangku yang terletak tak jauh dari tempatnya.


"Cil yok makan dulu!" Teriak Arkhan menyuruh Rayyan untuk berhenti nge-gym. Rayyan kembali berbalik dan menatap datar ke arah Arkhan. Ia tak suka dengan panggilan 'bocil' dari Arkhan untuknya yang nyatanya Arkhan lah yang bersifat lebih ke kanak-kanakan.


"Uwow, roti sobeknya keren banget" puji Arkhan takjub dengan tubuh atletis milik Rayyan. Rayyan sendiri terinspirasi dari sang Ayah yang sejak memasuki sekolah menengah akhir sudah sangat rajin berolahraga serta nge-gym supaya mendapatkan tubuh yang bagus.


Ghibran yang melihatnya ikut takjub. Ia semakin bersemangat ketika melihat pria yang baru berusia 18 tahun sudah memiliki tubuh yang sangat ideal. Karena tak mau kalah dari Rayyan, Ghibran ikut membuka pakaian nya bagian atas dan melempar ke sembarang arah. Menampilkan tubuh putih mulus yang posturnya tak jauh dari Rayyan.


"Bang, lo juga punya roti sobek? Gila lo Bang, kagak ngajak-ngajak gue buat bikin roti sobek" ucap Arkhan terlihat lebih lemah di antara mereka. Ucapan Arkhan seolah hanya angin lalu untuk Ghibran maupun Rayyan, membuat Arkhan mendengus kesal. Terpaksa ia mengikuti langkah kedua pria itu.


__________


Di sisi lain, Shasha serta Alma sedang membawa beberapa brownies yang sudah dihias menuju meja makan. Ternyata, Nadia meminta Alma datang untuk meminta tolong dibuatkan kue yang selalu menjadi topik pembicaraan para netizen setiap ada resep baru yang Alma buat.


Sudah tiga tahun berturut-turut resep kue buatan Alma menjadi trending topik. Hal itu yang membuat Nadia penasaran akan rasa unik dari resep yang Alma buat. Tapi sebelum membuat kuenya, Nadia mengajak keduanya menuju halaman belakang untuk mengambil beberapa buah-buahan sebagai toping kue mereka.


Shasha yang selalu bersama Alma juga mengetahui alat serta bahan yang mereka butuhkan. Ia juga membantu Alma membuat kue yang Nadia minta ajarkan kepada Alma.


Tapi menurut Shasha itulah yang cocok untuk Alma. Tak apa, semua jurusan sama saja, sama-sama menempuh ilmu pendidikan, bedanya hanya saat mereka belajar dan topik yang diajarkan berbeda-beda.


"Ayo kita coba!" Ajak Nadia yang paling bersemangat diantara mereka. Ia meraih piring kecil untuk menaruh potongan kue mereka. Shasha serta Alma mengangguk menuruti perkataan Nadia. Memotong menjadi beberapa bagian dan dipindahkan ke atas piring kecil.


Suapan pertama mendarat di mulut Nadia. Memakan secara perlahan supaya ia bisa menikmati kue itu lebih lama. "Eum… Alhamdulillah enak banget!" Puji Nadia merasa sangat senang.


"Alhamdulillah…" lirih keduanya dengan kompak bertos ria karena merasa berhasil membuat kue.


"Ghibra, Arkhan sama Rayyan harus coba juga!" Usul Nadia bersemangat.


Tiga buah piring kecil Nadia siapkan untuk ketiga pria muda tadi. Satu-persatu potongan kue Nadia pindahkan dari atas loyang ke atas piring kecil. Saat potongan kue terakhir, tiba-tiba ponsel milik Nadia berdering menandakan ada panggilan masuk ke dalam ponselnya itu.


"Ya?"


"Oke, saya berangkat sekarang juga." Ucap Nadia sebelum memutuskan panggilan telephonenya. Wajahnya terlihat sangat panik setelah selesai berbicara dengan orang yang berada di balik ponsel tersebut.


Shasha serta Alma yang melihat hal itupun saling berpandangan. Mereka tak tau apa yang terjadi hingga membuat raut wajah Nadia berubah.


"Ante kenapa?" Tanya Alma yang ikut khawatir.


"Ada korban kecelakaan di depan rumah sakit Ayah kamu. Saat ini beberapa dokter sulit dihubungi, jadinya Ante yang disuruh ke sana kerena jarak rumah Ante paling dekat dengan rumah sakitnya,"


Nadia adalah seorang dokter spesialis bagian dalam juga dokter pribadi keluarga Muzakki. Ia bekerja di rumah sakit swasta milik sahabat karib nya, yaitu Ghifari Ardi Muzakki, Ayah dari Alma yang juga merupakan sahabat anaknya.


"Udah, ya? Ante harus buru-buru. Tolong bilangin ke Ghibran ya kalau Ante keluar sebentar. Assalamualaikum." Lanjut Nadia langsung meninggalkan kedua wanita itu begitu saja setelah meraih kunci mobilnya.


"Waalaikumsalam, hati-hati di jalan Ante!" Balas keduanya serempak. Nadia mengacungkan ibu jarinya pertanda setuju dengan ucapan Shasha serta Alma.


Setelah tak lagi terlihat, Shasha dan Alma kembali berpandangan. Apa yang akan mereka lakukan lagi setelah ini? Pikirnya.


"Tempat gym!" Ajak Alma yang langsung berjalan meninggalkan Shasha dengan dua buah piring kecil di atas tangannya. Shasha memutar tubuhnya dan mengambil piring yang telah disiapkan untuk Rayyan dan berjalan mengikuti langkah Alma.